Keunikan Gaya Lieder Franz Scubert
Vol. 16 No. 2, Agustus 2015: 84-94
Keunikan Gaya Lieder Franz Scubert
A. Gathut Bintarto1
Jurusan Musik, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Yogyakarta
ABSTRAK
Franz Peter Schubert adalah seorang komponis terkenal kelahiran Vienna karena karya lagu seni
(art song) berbahasa Jerman yaitu lieder. Pembawaan karya lieder-nya sering disalah interpretasikan
selain karena masa hidupnya yang singkat dan berada pada era transisi Klasik menuju Romantik,
juga karena minimnya informasi mengenai pembawaan lagu karyanya sendiri. Pendekatan historis
dan musikologis digunakan untuk menemukan gaya pembawaan lieder berdasarkan semangat yang
dibangun saat pengkomposisiannya. Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan bahwa keunikan
lieder Schubert merupakan hasil dari pengaruh komponis sebelumnya yaitu Beethoven, Mozart, dan
Haydn. Kondisi ekonomi membuatnya dekat dengan lingkaran temannya dan mengembangkan gaya
yang intim dalam karya lagunya. Gayanya tercermin dalam penggunaan melodi yang bergaya folksong
yang sederhana, perpaduan yang seimbang antara piano dan vocal, serta beberapa ciri pemilihan sukat
yang variatif, tempo yang cenderung sedang, penggunaan caesura, modulasi, dan harmonisasi serta
pola ritmis iringan yang menyesuaikan dengan gambaran puisinya. Berdasarkan ciri khas tersebut
ia lebih tepat disebut sebagai komponis Era Klasik daripada anggapan yang beredar luas sebagai
komponis Era Romantik.
Kata kunci: lieder, keunikan gaya, Schubert
ABSTRACT
The Unique Style of Franz Schubert’s Lieder. Franz Peter Schubert, one of the well-known Vienna’s
composer, is recognized by his greatest number and melodious Germany art songs called lieder. His short
life-span (from 1797 until 1828) was expanded in the transition era from Classic to Romantic and by
then his lieder is frequently being misinterpreted by the reason of the transition of that musical era and
because of the lack of performance information from him. Based on historical and musicological approach,
this research tried to figure out the former style of Schubertlieder. The characteristic of Schubert’s lieder is
the result of many influences from the well-known composer such as Beethoven, Mozart and Haydn. The
economic situation made him closed to his circle of friend and formed his intimate style of composing. He
used the simple melodious folksong style, perfect balance between piano and voice, the medium tempo and
various meter, caesura, modulation,simple harmonization and particular rhythmical pattern to build his
lieder style. His composition is actually closer to Classical style than the Romantic one and he is more precisely
known as the Classical composer.
Keywords: lieder, style, Schubert
Pendahuluan
Sepanjang sejarah, menyanyi telah menjadi
kegiatan yang paling umum dikenal dalam produksi musik. Keunikan kemampuan suara untuk memadukan suatu kata dengan suatu nada menjadi
1
84
sebuah alasan bahwa penggunaan puisi dalam
nyanyian yang tak dapat dipisahkan satu sama lain
pada berbagai budaya (Kamien, 1976:10). Bentuk
penyajian musik yang menggunakan perpaduan
antara lagu dan puisi ini dikenal dengan istilah art
song atau lagu seni. Sejumlah lagu seni mempunyai
Alamat korespondensi: Jurusan Seni Musik, ISI Yogyakarta, Jln. Parangtritis Km. 6,5 Sewon, Yogyakarta.
E-mail: ; Tlp: 0274375380
Naskah diterima: 10 Mei 2015; Revisi akhir: 6 Juli 2015
Vol. 16 No. 2, Agustus 2015
istilah lain yang disesuaikan dengan wilayah geografis kemunculannya di Eropa sekitar abad ke-18
yang mengikuti penggunaan bahasa yang dipakai
dalam syairnya seperti aria antiche (Italia), chanson
(Perancis), art song (Inggris) dan lieder (Jerman).
Stephen Varcoe (2000: 111), seorang penyanyi opera dan konser ternama dengan pengalaman menyanyikan karya-karya dari gaya Barok
awal hingga kontemporer sekaligus sebagai pengajar dalam berbagai master class lagu seni terutama
lieder, menggambarkan art song tersebut dalam 3
unsur yang menjadi ciri khasnya yaitu: (1) Lagu
seni diciptakan dengan tujuan untuk diiringi dengan sebuah instrument papan tuts atau kibor,
pada awalnya menggunakan sebuah harpsichord
atau piano, namun belakangan dengan piano; (2)
Puisi (atau kadang-kadang teks prosa) dipilih sebagai syair karena kecocokannya sebagai suatu lagu.
Pemilihannya bergantung pula pada kemampuan
komponis untuk mengenalinya dan mengekspresikan maknanya sesuai dengan karakter individualnya; (3) Penciptaannya mempertimbangkan
pula maksud komponis, pemilihan puisi, dan cita
rasanya musikal terhadap syair dan melodi.
Dari penelusuran yang dilakukannya pada
lagu seni Eropa ditemukan bahwa lagu seni (lieder)
pada dasarnya adalah penemuan orang Jerman
yang dimulai dari mahzab lagu seni Berlin yang
diawali oleh Glück (1714-1787), Zelter (17581832) dan Reichardt (1752-1814). Kata lieder itu
sendiri berarti “lagu” yang secara khusus merujuk
pada lagu seni era Romantik.
Komponis lieder itu sendiri banyak dan
beragam. Beberapa nama komponis era Romantik
yang ikut mengambil bagian dalam penciptaan
karya musik tersebut diantaranya adalah Ludwig
van Beethoven, Robert Schumann, Hugo Wolf
dan Franz Schubert. Berdasarkan kekhasan gaya
komposisi seorang komponis dalam membuat
komposisinya membuat nama Franz Schubert
identik dengan lieder.
With Schubert, the development of the lied, or
Romantic art song, was a personal expression.
With the excellence of the new Romantic poetry, he
was able to fuse text, melody, and accompaniment
to a unified creation that expressed the extremes of
human emotion. It perhaps helped pave the way
for the short piano pieces (the Harvard Dictionary
of Music calls them “character pieces”) that were
so much part of this epoch (Rossi dan Rafferty,
1963:167).
Franz Schubert (1797-1828) adalah seorang
komponis yang berasal dari keluarga bersahaja.
Ayahnya adalah seorang kepala sekolah terhormat
di Wina. Karya musik Schubert meliputi 9 simfoni,
22 sonata piano dan sejumlah besar karya piano
pendek untuk 2 tangan dan 4 tangan, sekitar
35 komposisi musik kamar, 6 misa, 17 karya
operatik dan sekitar 600-an lieder (Grout &
Palisca, 1980: 561). Perhatiannya yang khas dalam
mengkomposisi lagu lieder dan banyaknya jumlah
karya yang masih dilestarikan dan dikenal hingga
sekarang membuatnya dijuluki sebagai “Father of
the Lied”
Tantangan yang dihadapi oleh para penyaji
musik klasik Barat khususnya lieder pada saat ini
adalah menyajikan musik secara aktual berdasarkan
informasi yang lebih bersifat verbal. Pemahaman
mengenai latar belakang komponis musik dan
kehidupannya secara menyeluruh merupakan
kebutuhan yang tak terelakkan. Kesenjangan
era dan informasi yang terjadi saat ini tak jarang
menimbulkan kebingungan untuk menemukan
apa yang dimaksudkan oleh komponis dalam
karyanya seperti ungkapan Sporre (1992: x) berikut
ini :… many people find the situation so frustrating
that they literally beg for guidance. Penelusuran
terhadap sebuah karya musik mempertimbangkan
pula adanya kenyataan bahwa gaya musik dan
kecenderungan-kecenderungan bermusik maupun (...truncated)