Reproduction pattern of “gading starling” (Turdus sp.) at Mount Lawu, Central Java

Biodiversitas, Oct 2005

The aim of the research was to know reproduction pattern of “gading starling” (Turdus sp.) in natural habitat, namely Mount Lawu. This research was expected to give accurate information that can be used as base of conservation effort. Research had been done alongside of Cemoro Sewu tracking line. Data was collected at 2600, 2800, 3000, 3100, and 3200 m. asl., in March, April, May, and October 2004. Nesting observation was concerning with nest place at tree, height of ground surface, apart from tracking line, nest materials, size and shape of nest. Egg observation was concerning with the amount of egg per nest, time lay eggs, and amount of infant. Environmental data was concerning with air temperature and humidity. The result indicated that nest location had similar type, i.e. located among ramification encircled by some small stick and shaded by leaves. Height of nest about 0.2-7 m above ground surface. About 90% nest was laid in radius less than 40 m of tracking line. Nest materials predominated by grasses mixtured with dry leaf and small stick. Shape of nest was bowl-like with external diameter 16-19 cm and internal diameter 8-12 cm, and deepness of nest 5-7 cm. Breeding season was around March-April. Shape of egg was oval with mean of length 2.4 cm and diameter 1.5 cm. Egg color was pale blue with small pock of pale brown. Mean of egg amount 2-3 items per nest. Mean of efficacy hatch 1-2 individual per nest, but infant which living on generally only 1 individual. During research noted that lowest temperature 80oC, highest temperature 20oC, and mean of air humidity 70-90%. This research concluded that “gading starling” had typical reproduction behavior, especially in selecting nest location and nest materials.

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

http://biodiversitas.mipa.uns.ac.id/D/D0604/D060412.pdf

Reproduction pattern of “gading starling” (Turdus sp.) at Mount Lawu, Central Java

BIODIVERSITAS Volume 6, Nomor 4 Halaman: 272-275 ISSN: 1412-033X Oktober 2005 DOI: 10.13057/biodiv/d060412 Pola Reproduksi Burung Jalak Gading (Turdus sp.) di Gunung Lawu, Jawa Tengah Reproduction pattern of “gading starling” (Turdus sp.) at Mount Lawu, Central Java AGUNG BUDIHARJO♥ Jurusan Biologi FMIPA Universitas Sebelas Maret (UNS), Surakarta 57126 Diterima: 7 Juli 2005. Disetujui: 11 September 2005. ABSTRACT The aim of the research was to know reproduction pattern of “gading starling” (Turdus sp.) in natural habitat, namely Mount Lawu. This research was expected to give accurate information that can be used as base of conservation effort. Research had been done alongside of Cemoro Sewu tracking line. Data was collected at 2600, 2800, 3000, 3100, and 3200 m. asl., in March, April, May, and October 2004. Nesting observation was concerning with nest place at tree, height of ground surface, apart from tracking line, nest materials, size and shape of nest. Egg observation was concerning with the amount of egg per nest, time lay eggs, and amount of infant. Environmental data was concerning with air temperature and humidity. The result indicated that nest location had similar type, i.e. located among ramification encircled by some small stick and shaded by leaves. Height of nest about 0.2-7 m above ground surface. About 90% nest was laid in radius less than 40 m of tracking line. Nest materials predominated by grasses mixtured with dry leaf and small stick. Shape of nest was bowl-like with external diameter 16-19 cm and internal diameter 8-12 cm, and deepness of nest 5-7 cm. Breeding season was around March-April. Shape of egg was oval with mean of length 2.4 cm and diameter 1.5 cm. Egg color was pale blue with small pock of pale brown. Mean of egg amount 2-3 items per nest. Mean of efficacy hatch 1-2 individual per nest, but infant which living on generally only 1 individual. During o o research noted that lowest temperature 80 C, highest temperature 20 C, and mean of air humidity 70-90%. This research concluded that “gading starling” had typical reproduction behavior, especially in selecting nest location and nest materials. © 2005 Jurusan Biologi FMIPA UNS Surakarta Key words: “gading starling”, Turdus sp., mount Lawu, reproduction. PENDAHULUAN Burung jalak gading (Turdus sp.) atau populer dikenal masyarakat dengan nama jalak lawu, hidup di Gunung Lawu dan mulai banyak ditemukan pada ketinggian 2.000 m dpl sampai puncak gunung dengan ketinggian 3.265 m dpl. Sampai saat ini, diketahui burung jenis ini hanya dapat ditemui di puncak-puncak gunung. Dari penelitian sebelumnya yang dilakukan pada bulan Mei 2003, populasi burung jalak gading di Gunung Lawu diperkirakan sekitar 90-110 ekor (Budiharjo, 2003). Kecilnya populasi ini dipengaruhi oleh beberapa hal, antara lain tekanan kondisi lingkungan, ketersediaan pakan, dan keberhasilan reproduksi (Narris et al, 2004). Gunung Lawu merupakan kawasan yang saat ini mulai dirintis untuk dijadikan kawasan konservasi. Sebagai salah satu komponen fauna yang hidup di kawasan tersebut, burung jalak gading merupakan salah satu jenis yang perlu diperhatikan kelestariannya. Salah satu aspek yang perlu diteliti sebagai dasar upaya melestarikan burung jalak gading adalah perilaku atau sifat-sifat yang terkait dengan reproduksinya. Diharapkan dari informasi ini, upaya-upaya pelestarian atau penangkaran dapat lebih optimal. ♥ Alamat korespondensi: Jl. Ir. Sutami 36A, Surakarta 57126 Tel. & Fax.: +62-271-663375. e-mail: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola perkembangbiakan burung jalak gading (Turdus sp.) di habitat aslinya, yaitu di Gunung Lawu. BAHAN DAN METODE Penelitian ini dilakukan di sepanjang jalur pendakian di Gunung Lawu melalui pos Cemoro Sewu sampai puncak gunung. Pengamatan dilakukan pada stasiun pengamatan yang terletak pada ketinggian, yaitu 2.600, 2.800, 3.000, 3,100, dan 3.200 m dpl. Penelitian dilakukan pada bulan Maret, April, Mei, dan Oktober 2004. Lokasi ini dipilih berdasarkan survei sebelumnya, yang dilakukan pada bulan Mei 2003, yang menunjukkan bahwa pada lokasi tersebut banyak terdapat burung jalak gading (Budiharjo, 2003). Penelitian mencakup perilaku bersarang, perteluran, dan kondisi lingkungan. Pengamatan dilakukan dengan penjelajahan di sekitar stasiun pengamatan dengan radius hingga 100 m dari jalur pendakian. Pengamatan mengenai sarang berupa lokasi bersarang meliputi: ketinggian dari tanah, tempat meletakkan sarang pada pohon, dan jarak posisi sarang dari jalur pendakian. Selain itu, juga diamati bahan penyusun sarang, ukuran sarang, dan bentuk sarang. Data mengenai telur meliputi jumlah telur, waktu bertelur, dan jumlah penetasan. Data lingkungan meliputi kelembaban dan suhu. BUDIHARJO – Pola reproduksi burung Turdus sp. di Gunung Lawu HASIL DAN PEMBAHASAN Pola reproduksi burung sangat mempengaruhi keberhasilan perkembangbiakan. Pada akhirnya hal ini juga akan berpengaruh terhadap besar kecilnya populasi dan kelestariannya dalam jangka panjang. Beberapa pola reproduksi tersebut, antara lain terkait dengan habitat, perilaku bersarang, waktu yang tepat untuk berkembang biak, jumlah telur per sarang, dan keberhasilan perkembangbiakan (Cramp dan Perrins, 1993). Perilaku bersarang Sarang burung jalak gading (Turdus sp.) yang diamati selama penelitian ini sebanyak 18 buah, dengan lokasi dari ketinggian 2.600, 2.800, 3.000, 3.100, dan 3.200 m dpl. Dari ketinggian tersebut masing-masing secara berturutturut ditemukan 2, 2, 3, 4, dan 7 buah sarang. Dari data tersebut terlihat bahwa ada kecenderungan pada tempat yang lebih tinggi lebih banyak ditemukan sarang. Hal juga ini mengindikasikan bahwa burung tersebut lebih menyukai habitat pada tempat yang lebih tinggi. Sarang-sarang tersebut semuanya berada pada bagian pohon yang tipenya hampir sama. Sarang dibuat dan diletakkan pada percabangan dengan posisi dikelilingi oleh ranting-ranting pohon. Sarang tersebut juga terlindungi oleh daun-daunan di sisi atas serta samping. Posisi sarang yang terletak di tengah percabangan tersebut sangat menguntungkan bagi burung jalak gading, karena lingkungan di Gunung Lawu memiliki kondisi suhu yang dingin, angin yang cukup kencang, kelembaban yang tinggi, serta kondisi cuaca yang sering berubah-ubah. Sarang yang berada pada posisi terlindung oleh bagianbagian pohon, sangat membantu terciptanya kondisi yang nyaman di dalam sarang, dan dapat mendukung keberhasilan bertahan hidup anak burung. Mengingat sarang berfungsi untuk membantu menstabilkan kondisi suhu dan kelembaban di dalamnya, pelindung dari angin dan curah hujan, pelindung terhadap predator, dan antiparasit effect (Alabrudzinska et al., 2003). Pohon yang dipilih untuk bersarang selalu memiliki beberapa kesamaan tipe, yaitu memiliki percabangan dan ranting-ranting kecil cukup banyak, serta adanya daundaunan yang menutupi bagian yang dipilih untuk bersarang tersebut. Pohon yang dipilih untuk bersarang antara lain Vaccinium varingiaefolium, Albizia lopantha, (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: http://biodiversitas.mipa.uns.ac.id/D/D0604/D060412.pdf
Article home page: https://doaj.org/article/fefe1b5a91e346daac1e7de82d32a65e

AGUNG BUDIHARJO. Reproduction pattern of “gading starling” (Turdus sp.) at Mount Lawu, Central Java, Biodiversitas, 2005, pp. 272-275, Volume 4,