Reproduction pattern of “gading starling” (Turdus sp.) at Mount Lawu, Central Java
BIODIVERSITAS
Volume 6, Nomor 4
Halaman: 272-275
ISSN: 1412-033X
Oktober 2005
DOI: 10.13057/biodiv/d060412
Pola Reproduksi Burung Jalak Gading (Turdus sp.) di Gunung
Lawu, Jawa Tengah
Reproduction pattern of “gading starling” (Turdus sp.) at Mount Lawu, Central Java
AGUNG BUDIHARJO♥
Jurusan Biologi FMIPA Universitas Sebelas Maret (UNS), Surakarta 57126
Diterima: 7 Juli 2005. Disetujui: 11 September 2005.
ABSTRACT
The aim of the research was to know reproduction pattern of “gading starling” (Turdus sp.) in natural habitat, namely Mount Lawu. This
research was expected to give accurate information that can be used as base of conservation effort. Research had been done alongside of
Cemoro Sewu tracking line. Data was collected at 2600, 2800, 3000, 3100, and 3200 m. asl., in March, April, May, and October 2004.
Nesting observation was concerning with nest place at tree, height of ground surface, apart from tracking line, nest materials, size and
shape of nest. Egg observation was concerning with the amount of egg per nest, time lay eggs, and amount of infant. Environmental data
was concerning with air temperature and humidity. The result indicated that nest location had similar type, i.e. located among ramification
encircled by some small stick and shaded by leaves. Height of nest about 0.2-7 m above ground surface. About 90% nest was laid in radius
less than 40 m of tracking line. Nest materials predominated by grasses mixtured with dry leaf and small stick. Shape of nest was bowl-like
with external diameter 16-19 cm and internal diameter 8-12 cm, and deepness of nest 5-7 cm. Breeding season was around March-April.
Shape of egg was oval with mean of length 2.4 cm and diameter 1.5 cm. Egg color was pale blue with small pock of pale brown. Mean of
egg amount 2-3 items per nest. Mean of efficacy hatch 1-2 individual per nest, but infant which living on generally only 1 individual. During
o
o
research noted that lowest temperature 80 C, highest temperature 20 C, and mean of air humidity 70-90%. This research concluded that
“gading starling” had typical reproduction behavior, especially in selecting nest location and nest materials.
© 2005 Jurusan Biologi FMIPA UNS Surakarta
Key words: “gading starling”, Turdus sp., mount Lawu, reproduction.
PENDAHULUAN
Burung jalak gading (Turdus sp.) atau populer dikenal
masyarakat dengan nama jalak lawu, hidup di Gunung
Lawu dan mulai banyak ditemukan pada ketinggian 2.000
m dpl sampai puncak gunung dengan ketinggian 3.265 m
dpl. Sampai saat ini, diketahui burung jenis ini hanya dapat
ditemui di puncak-puncak gunung. Dari penelitian
sebelumnya yang dilakukan pada bulan Mei 2003, populasi
burung jalak gading di Gunung Lawu diperkirakan sekitar
90-110 ekor (Budiharjo, 2003). Kecilnya populasi ini
dipengaruhi oleh beberapa hal, antara lain tekanan kondisi
lingkungan, ketersediaan pakan, dan keberhasilan
reproduksi (Narris et al, 2004).
Gunung Lawu merupakan kawasan yang saat ini mulai
dirintis untuk dijadikan kawasan konservasi. Sebagai salah
satu komponen fauna yang hidup di kawasan tersebut,
burung jalak gading merupakan salah satu jenis yang perlu
diperhatikan kelestariannya. Salah satu aspek yang perlu
diteliti sebagai dasar upaya melestarikan burung jalak
gading adalah perilaku atau sifat-sifat yang terkait dengan
reproduksinya. Diharapkan dari informasi ini, upaya-upaya
pelestarian atau penangkaran dapat lebih optimal.
♥ Alamat korespondensi:
Jl. Ir. Sutami 36A, Surakarta 57126
Tel. & Fax.: +62-271-663375.
e-mail:
Penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui pola
perkembangbiakan burung jalak gading (Turdus sp.) di
habitat aslinya, yaitu di Gunung Lawu.
BAHAN DAN METODE
Penelitian ini dilakukan di sepanjang jalur pendakian di
Gunung Lawu melalui pos Cemoro Sewu sampai puncak
gunung. Pengamatan dilakukan pada stasiun pengamatan
yang terletak pada ketinggian, yaitu 2.600, 2.800, 3.000,
3,100, dan 3.200 m dpl. Penelitian dilakukan pada bulan
Maret, April, Mei, dan Oktober 2004. Lokasi ini dipilih
berdasarkan survei sebelumnya, yang dilakukan pada
bulan Mei 2003, yang menunjukkan bahwa pada lokasi
tersebut banyak terdapat burung jalak gading (Budiharjo,
2003).
Penelitian mencakup perilaku bersarang, perteluran,
dan kondisi lingkungan. Pengamatan dilakukan dengan
penjelajahan di sekitar stasiun pengamatan dengan radius
hingga 100 m dari jalur pendakian. Pengamatan mengenai
sarang berupa lokasi bersarang meliputi: ketinggian dari
tanah, tempat meletakkan sarang pada pohon, dan jarak
posisi sarang dari jalur pendakian. Selain itu, juga diamati
bahan penyusun sarang, ukuran sarang, dan bentuk
sarang. Data mengenai telur meliputi jumlah telur, waktu
bertelur, dan jumlah penetasan. Data lingkungan meliputi
kelembaban dan suhu.
BUDIHARJO – Pola reproduksi burung Turdus sp. di Gunung Lawu
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pola reproduksi burung sangat mempengaruhi
keberhasilan perkembangbiakan. Pada akhirnya hal ini juga
akan berpengaruh terhadap besar kecilnya populasi dan
kelestariannya dalam jangka panjang. Beberapa pola
reproduksi tersebut, antara lain terkait dengan habitat,
perilaku bersarang, waktu yang tepat untuk berkembang
biak, jumlah telur per sarang, dan keberhasilan
perkembangbiakan (Cramp dan Perrins, 1993).
Perilaku bersarang
Sarang burung jalak gading (Turdus sp.) yang diamati
selama penelitian ini sebanyak 18 buah, dengan lokasi dari
ketinggian 2.600, 2.800, 3.000, 3.100, dan 3.200 m dpl.
Dari ketinggian tersebut masing-masing secara berturutturut ditemukan 2, 2, 3, 4, dan 7 buah sarang. Dari data
tersebut terlihat bahwa ada kecenderungan pada tempat
yang lebih tinggi lebih banyak ditemukan sarang. Hal juga
ini mengindikasikan bahwa burung tersebut lebih menyukai
habitat pada tempat yang lebih tinggi. Sarang-sarang
tersebut semuanya berada pada bagian pohon yang
tipenya hampir sama. Sarang dibuat dan diletakkan pada
percabangan dengan posisi dikelilingi oleh ranting-ranting
pohon. Sarang tersebut juga terlindungi oleh daun-daunan
di sisi atas serta samping.
Posisi sarang yang terletak di tengah percabangan
tersebut sangat menguntungkan bagi burung jalak gading,
karena lingkungan di Gunung Lawu memiliki kondisi suhu
yang dingin, angin yang cukup kencang, kelembaban yang
tinggi, serta kondisi cuaca yang sering berubah-ubah.
Sarang yang berada pada posisi terlindung oleh bagianbagian pohon, sangat membantu terciptanya kondisi yang
nyaman di dalam sarang, dan dapat mendukung
keberhasilan bertahan hidup anak burung. Mengingat
sarang berfungsi untuk membantu menstabilkan kondisi
suhu dan kelembaban di dalamnya, pelindung dari angin
dan curah hujan, pelindung terhadap predator, dan antiparasit effect (Alabrudzinska et al., 2003).
Pohon yang dipilih untuk bersarang selalu memiliki
beberapa kesamaan tipe, yaitu memiliki percabangan dan
ranting-ranting kecil cukup banyak, serta adanya daundaunan yang menutupi bagian yang dipilih untuk bersarang
tersebut. Pohon yang dipilih untuk bersarang antara lain
Vaccinium varingiaefolium, Albizia lopantha, (...truncated)