MAKNA SYURA’ DALAM AL-QUR’AN DAN RELEVANSINYA TERHADAP PRINSIP–PRINSIP DEMOKRASI
MAKNA SYURA DALAM AL-QUR’AN DAN RELEVANSINYA
TERHADAP PRINSIP – PRINSIP DEMOKRASI
Muhammad Fajar Adyatama
Madrasah Aliyah Negeri 2 Samarinda
Email:
Abstrak
Syura as part of the face of Islamic democracy. Its position as a representation
of the Eastern civilization system has clashed with the dynamics of the times.
Democracy is a dynamic system while Syura is still struggling with its classic face.
The fact is that syura is considered a product of the past and cannot accept the
developments of the times, especially when compared to democracy today. Often
the meaning of syura is taken from classical interpretations that are considered
irrelevant to the principles of democracy today. So what is the true interpretation
of syura? Can the syura interpretations in the Qur'an give birth to a representative
concept? And what is the relevance of the syura interpretations to the principles of
democracy? Comparatively, the need for an in-depth process to find answers to this
problem. This study shows that syura is the activity of exchanging ideas and asking
for good opinions from fellow stakeholders or with more trustworthy parties. Syura
emphasizes the existence of maslahah and the obligation to carry out the duties of
each individual. When compared to syura in classical and contemporary
interpretation, the classical interpretation includes a broader understanding
because it is strengthened by other supporting evidence. It is necessary to trace
classical to contemporary interpretations in order to give birth to a complete
concept.
Kata Kunci: Syura’, Qur’an, and Democracy.
Pendahuluan
Perdebatan tentang Islam dan demokrasi tidak pernah berhenti. Keduanya
memiliki kutub peradaban yang berbeda. Islam dengan konsep musyawarah atau
syura dianggap telah final dan tak perlu mencari titik persamaan dengan demokrasi.
Berbeda dengan demokrasi, ia bersifat dinamis berkembang dan mengikuti zaman.
Demokrasi dianggap ‘bukan’ Islam sebab ia adalah warisan kebudayaan Barat. Di
dalam pandangan umat Islam bahwa agama menganut asas ketauhidan. Asas
tersebut dapat dipahami hanya Tuhan yang dapat mengatur segala tatanan
kehidupan manusia. Tuhan sebagai pemegang otoritas tertinggi dan manusia harus
mematuhi-Nya.1 Kontroversi demokrasi berada pada konsep pemimpin yang hanya
dipegang oleh manusia. Seperti pernyataan mantan Presiden Amerika Serikat
Abraham Lincoln bahwa pemerintah dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat.
1
Husein Muhammad, Islam Tradisional Yang Terus Bergerak, (Yogjakarta: IRCiSoD, 2019), 304.
p-ISSN:2722-1652, e-ISSN: 2721-1347
Al-I’jaz : Volume 5, No 1, Juni 2023 | 15
Muhammad Fajar Adyatama
Secara garis besar, Islam berpusat pada Tuhan sedangkan demokrasi berpusat pada
manusia. Dialektika ini, menurut Husein Muhammad berangkat dari ide dasar akan
kekuasaan hukum yang mengatur sendi kehidupan manusia.2
Dialektika Islam dan demokrasi mendapat berbagai respon dari kalangan
intelektual muslim.3 Mereka terbagi menjadi bebarapa kelompok, pertama
mayoritas umat Islam tidak memisahkan musyawarah (Islam) dan demokrasi.
Kelompok ini menggambarkan bahwa hubungan Islam dengan demokrasi adalah
hubungan baik dan saling menguntungkan. Demokrasi sangat menjunjung tinggi
hak asasi manusia sedangkan Islam dengan syura-nya mengakomodasi nilai-nilai
kemanusiaan. Kedua, beberapa kalangan umat Islam mengganggap bahwa terdapat
kesenjangan antara Islam dan demokrasi bahkan ada yang mengatakan bahwa Islam
bertentangan dengan demokrasi. Islam mempunyai garis batas tersendiri terhadap
konsep bermasyarakat dan bernegara. Kelompok ini menganggap bahwa demokrasi
sebagai produk Barat bertentangan dengan syura sebagai warisan tatanan
kehidupan umat Islam. Ketiga, kritis terhadap hubungan Islam dan demokrasi.
Kelompok ini menerima bahwa Islam dapat ‘rukun’ dengan demokrasi. Jika
demokrasi hadir dengan teori-teori pemimpin kerakyatan dan hak asasi maka ia
dapat diterima ke dalam sistem syura-nya Islam.
Diskursus Islam dan demokrasi telah menghasilkan berbagai produk akademik.
Dalam sebuah studi yang dilaksanakan oleh Kiki Muhammad Hakiki, ia
memaparkan relevansi dan tanggapan intelektual Muslim terhadap hubungan Islam
dan demokrasi. Kiki mengatakan bahwa Islam tidak seutuhnya berjalan sesuai
konsep demokrasi. Lebih jauh lagi, ia menggunakan istilah syura yang dapat
mendekati konsep demokrasi. Syura mempunyai prinsip menjunjung mufakat
semua individu layaknya demokrasi yang selalu mengedapankan kemajuan rakyat.
Selanjutnya, ia memaparkan respon intelektual Musliam terhadap dialektika
keduanya. Respon mereka beraneka ragam, terdapat kalangan intelektual yang
menerima demokrasi secara utuh, bersikap abu-abu bahkan menentangnya. Kiki
juga menyampaikan meskipun demokrasi menuai beragam respon dari sarjana
Muslim tetapi ia diterima oleh masyarakat Indonesia.4 Sistem bermasyarakat dan
bernegara masyarakat Indonesia telah lama menerapkan demokrasi. Ia menganggap
bahwa demokrasi dapat diterima oleh masyarakat dan pemerintah. Fokus studi Kiki
terhadap respon sarjana Muslim begitu memberikan pengaruh yang baik terhadap
cara pandang masyarakat akan demokrasi. Pandangan studinya yang tidak
didukung oleh konsep demokrasi Islam dalam tafsir al Qur’an menjadi nilai yang
perlu ditambahkan. Ia tidak mendukung konsep syura dengan penafsiran-
2
Husein Muhammad, Islam Tradisional Yang Terus Bergerak, 303
John L. Esposito (ed.), Ensiklopedi Oxford Dunia Islam Modern, terj. Eva Y.N. dkk. (Bandung:
Mizan, 2001), Jilid 1, 361.
4
Kiki Muhammad Hakiki. Islam dan Demokrasi: Pandagan Intelektual Muslim dan Penerapannya
di Indonesia. IAIN Raden Intan Lampung: Jurnal Ilmiah dan Agama dan Sosial Budaya. Vol 1 No 1,
2016, 1.
3
16 | Al-I’jaz : Volume 5, Nomor 1, Juni 2023
p-ISSN:2722-1652, e-ISSN: 2721-1347
Makna Syura dalam…
penafsiran ayat al Qur’an. Mengapa demikian, sebab al Qur’an sebagai sumber
utama ajaran Islam tentu menjadi pondasi kuat dalam memandang segala hal yang
berasal dari luar Islam.
Studi tentang perdebatan Islam dan demokrasi selalu menghidangkan solusisolusi normatif dan teoritis. Pelaku studi selalu memilih terminologi syura sebagai
wakil demokrasi Islam. Ia telah mengutip berbagai ayat al Qur’an yang
mengandung istilah syura namun tidak menelusuri penafsirannya. Penulis
kemudian bertanya bagaimana konsep syura menurut tafsir al Qur’an?. Menurut
penulis ini terasa pincang sebab arti al-Qur’an tidak dapat ditelan secara utuh. Ia
harus melalui proses penafsiran oleh para pakar tafsir. Konsep syura lazim
ditelusuri dari dua model penafsiran yaitu klasik dan kontemporer. Melalui dua
model tafsir tersebut, timbul pertanyaan bagaimana tafsir syura dalam kaidah tafsir
klasik dan kontemporer? Bagaimana komparasi tafsir syura perkspektif tafsir klasik
dan kontemporer?. Apabila hasil perbandingan tersebut dapat diakomodasi, lantas
bagaimana relevansinya dengan konsep demokrasi yang sangat dinamis?. Beberapa
persoalan di atas tentu membutuhkan penjelasan yang mendalam. Model tafsir
klasik membantu dalam membangun argument (...truncated)