MAKNA SYURA’ DALAM AL-QUR’AN DAN RELEVANSINYA TERHADAP PRINSIP–PRINSIP DEMOKRASI

AL-I'Jaz : Jurnal Studi Al-Qur’an, Falsafah dan Isu Keislaman, Jul 2023

Syura as part of the face of Islamic democracy. Its position as a representation of the Eastern civilization system has clashed with the dynamics of the times. Democracy is a dynamic system while Syura is still struggling with its classic face. The fact is that syura is considered a product of the past and cannot accept the developments of the times, especially when compared to democracy today. Often the meaning of syura is taken from classical interpretations that are considered irrelevant to the principles of democracy today. So what is the true interpretation of syura? Can the syura interpretations in the Qur'an give birth to a representative concept? And what is the relevance of the syura interpretations to the principles of democracy? Comparatively, the need for an in-depth process to find answers to this problem. This study shows that syura is the activity of exchanging ideas and asking for good opinions from fellow stakeholders or with more trustworthy parties. Syura emphasizes the existence of maslahah and the obligation to carry out the duties of each individual. When compared to syura in classical and contemporary interpretation, the classical interpretation includes a broader understanding because it is strengthened by other supporting evidence. It is necessary to trace classical to contemporary interpretations in order to give birth to a complete concept.

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

https://jurnal.stiqsi.ac.id/index.php/AlIJaz/article/download/93/86

MAKNA SYURA’ DALAM AL-QUR’AN DAN RELEVANSINYA TERHADAP PRINSIP–PRINSIP DEMOKRASI

MAKNA SYURA DALAM AL-QUR’AN DAN RELEVANSINYA TERHADAP PRINSIP – PRINSIP DEMOKRASI Muhammad Fajar Adyatama Madrasah Aliyah Negeri 2 Samarinda Email: Abstrak Syura as part of the face of Islamic democracy. Its position as a representation of the Eastern civilization system has clashed with the dynamics of the times. Democracy is a dynamic system while Syura is still struggling with its classic face. The fact is that syura is considered a product of the past and cannot accept the developments of the times, especially when compared to democracy today. Often the meaning of syura is taken from classical interpretations that are considered irrelevant to the principles of democracy today. So what is the true interpretation of syura? Can the syura interpretations in the Qur'an give birth to a representative concept? And what is the relevance of the syura interpretations to the principles of democracy? Comparatively, the need for an in-depth process to find answers to this problem. This study shows that syura is the activity of exchanging ideas and asking for good opinions from fellow stakeholders or with more trustworthy parties. Syura emphasizes the existence of maslahah and the obligation to carry out the duties of each individual. When compared to syura in classical and contemporary interpretation, the classical interpretation includes a broader understanding because it is strengthened by other supporting evidence. It is necessary to trace classical to contemporary interpretations in order to give birth to a complete concept. Kata Kunci: Syura’, Qur’an, and Democracy. Pendahuluan Perdebatan tentang Islam dan demokrasi tidak pernah berhenti. Keduanya memiliki kutub peradaban yang berbeda. Islam dengan konsep musyawarah atau syura dianggap telah final dan tak perlu mencari titik persamaan dengan demokrasi. Berbeda dengan demokrasi, ia bersifat dinamis berkembang dan mengikuti zaman. Demokrasi dianggap ‘bukan’ Islam sebab ia adalah warisan kebudayaan Barat. Di dalam pandangan umat Islam bahwa agama menganut asas ketauhidan. Asas tersebut dapat dipahami hanya Tuhan yang dapat mengatur segala tatanan kehidupan manusia. Tuhan sebagai pemegang otoritas tertinggi dan manusia harus mematuhi-Nya.1 Kontroversi demokrasi berada pada konsep pemimpin yang hanya dipegang oleh manusia. Seperti pernyataan mantan Presiden Amerika Serikat Abraham Lincoln bahwa pemerintah dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat. 1 Husein Muhammad, Islam Tradisional Yang Terus Bergerak, (Yogjakarta: IRCiSoD, 2019), 304. p-ISSN:2722-1652, e-ISSN: 2721-1347 Al-I’jaz : Volume 5, No 1, Juni 2023 | 15 Muhammad Fajar Adyatama Secara garis besar, Islam berpusat pada Tuhan sedangkan demokrasi berpusat pada manusia. Dialektika ini, menurut Husein Muhammad berangkat dari ide dasar akan kekuasaan hukum yang mengatur sendi kehidupan manusia.2 Dialektika Islam dan demokrasi mendapat berbagai respon dari kalangan intelektual muslim.3 Mereka terbagi menjadi bebarapa kelompok, pertama mayoritas umat Islam tidak memisahkan musyawarah (Islam) dan demokrasi. Kelompok ini menggambarkan bahwa hubungan Islam dengan demokrasi adalah hubungan baik dan saling menguntungkan. Demokrasi sangat menjunjung tinggi hak asasi manusia sedangkan Islam dengan syura-nya mengakomodasi nilai-nilai kemanusiaan. Kedua, beberapa kalangan umat Islam mengganggap bahwa terdapat kesenjangan antara Islam dan demokrasi bahkan ada yang mengatakan bahwa Islam bertentangan dengan demokrasi. Islam mempunyai garis batas tersendiri terhadap konsep bermasyarakat dan bernegara. Kelompok ini menganggap bahwa demokrasi sebagai produk Barat bertentangan dengan syura sebagai warisan tatanan kehidupan umat Islam. Ketiga, kritis terhadap hubungan Islam dan demokrasi. Kelompok ini menerima bahwa Islam dapat ‘rukun’ dengan demokrasi. Jika demokrasi hadir dengan teori-teori pemimpin kerakyatan dan hak asasi maka ia dapat diterima ke dalam sistem syura-nya Islam. Diskursus Islam dan demokrasi telah menghasilkan berbagai produk akademik. Dalam sebuah studi yang dilaksanakan oleh Kiki Muhammad Hakiki, ia memaparkan relevansi dan tanggapan intelektual Muslim terhadap hubungan Islam dan demokrasi. Kiki mengatakan bahwa Islam tidak seutuhnya berjalan sesuai konsep demokrasi. Lebih jauh lagi, ia menggunakan istilah syura yang dapat mendekati konsep demokrasi. Syura mempunyai prinsip menjunjung mufakat semua individu layaknya demokrasi yang selalu mengedapankan kemajuan rakyat. Selanjutnya, ia memaparkan respon intelektual Musliam terhadap dialektika keduanya. Respon mereka beraneka ragam, terdapat kalangan intelektual yang menerima demokrasi secara utuh, bersikap abu-abu bahkan menentangnya. Kiki juga menyampaikan meskipun demokrasi menuai beragam respon dari sarjana Muslim tetapi ia diterima oleh masyarakat Indonesia.4 Sistem bermasyarakat dan bernegara masyarakat Indonesia telah lama menerapkan demokrasi. Ia menganggap bahwa demokrasi dapat diterima oleh masyarakat dan pemerintah. Fokus studi Kiki terhadap respon sarjana Muslim begitu memberikan pengaruh yang baik terhadap cara pandang masyarakat akan demokrasi. Pandangan studinya yang tidak didukung oleh konsep demokrasi Islam dalam tafsir al Qur’an menjadi nilai yang perlu ditambahkan. Ia tidak mendukung konsep syura dengan penafsiran- 2 Husein Muhammad, Islam Tradisional Yang Terus Bergerak, 303 John L. Esposito (ed.), Ensiklopedi Oxford Dunia Islam Modern, terj. Eva Y.N. dkk. (Bandung: Mizan, 2001), Jilid 1, 361. 4 Kiki Muhammad Hakiki. Islam dan Demokrasi: Pandagan Intelektual Muslim dan Penerapannya di Indonesia. IAIN Raden Intan Lampung: Jurnal Ilmiah dan Agama dan Sosial Budaya. Vol 1 No 1, 2016, 1. 3 16 | Al-I’jaz : Volume 5, Nomor 1, Juni 2023 p-ISSN:2722-1652, e-ISSN: 2721-1347 Makna Syura dalam… penafsiran ayat al Qur’an. Mengapa demikian, sebab al Qur’an sebagai sumber utama ajaran Islam tentu menjadi pondasi kuat dalam memandang segala hal yang berasal dari luar Islam. Studi tentang perdebatan Islam dan demokrasi selalu menghidangkan solusisolusi normatif dan teoritis. Pelaku studi selalu memilih terminologi syura sebagai wakil demokrasi Islam. Ia telah mengutip berbagai ayat al Qur’an yang mengandung istilah syura namun tidak menelusuri penafsirannya. Penulis kemudian bertanya bagaimana konsep syura menurut tafsir al Qur’an?. Menurut penulis ini terasa pincang sebab arti al-Qur’an tidak dapat ditelan secara utuh. Ia harus melalui proses penafsiran oleh para pakar tafsir. Konsep syura lazim ditelusuri dari dua model penafsiran yaitu klasik dan kontemporer. Melalui dua model tafsir tersebut, timbul pertanyaan bagaimana tafsir syura dalam kaidah tafsir klasik dan kontemporer? Bagaimana komparasi tafsir syura perkspektif tafsir klasik dan kontemporer?. Apabila hasil perbandingan tersebut dapat diakomodasi, lantas bagaimana relevansinya dengan konsep demokrasi yang sangat dinamis?. Beberapa persoalan di atas tentu membutuhkan penjelasan yang mendalam. Model tafsir klasik membantu dalam membangun argument (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: https://jurnal.stiqsi.ac.id/index.php/AlIJaz/article/download/93/86
Article home page: https://jurnal.stiqsi.ac.id/index.php/AlIJaz/article/view/93/86

Sumini Adyatama Fajar, Sumini Adyatama Fajar. MAKNA SYURA’ DALAM AL-QUR’AN DAN RELEVANSINYA TERHADAP PRINSIP–PRINSIP DEMOKRASI, AL-I'Jaz : Jurnal Studi Al-Qur’an, Falsafah dan Isu Keislaman, 2023, pp. 15-32,