ISLAMISASI BUDAYA DALAM TRADISI TUJUH BULANAN (MITONI) DENGAN PEMBACAAN SURAT YŪSUF DAN MARYAM PADA JAMAAH SIMA’AN AL-QUR`AN DI DESA JURUG KECAMATAN MOJOSONGO KABUPATEN BOYOLALI

AL ITQAN: Jurnal Studi Al-Qur\'an, Aug 2018

Acculturation is a social process arising from a particular culture which is confronted with other cultural elements, so that these elements can be accepted without losing their own cultural character. This study focuses on the interaction of the Qurʻan with Javanese culture, especially on the procession of traditions that undergoes Islamization, where Al-Qurʻan is involved in it. This occurs during the recitation of Surah of Yūsuf and Maryam in the seventh-month tradition (mitoni) in Jurug village, Mojosongo District, Boyolali Regency. The research problems discussed in this study are the causes which arises the factors of the emergence of a new culture, the factors that indicate the recitation of the Surah of Yūsuf and Maryam of Jurug village people. This study uses a qualitative research method. Data collection of this study uses participatory observation, including; interviews, observation, and documentation. With this acculturation concept, the researcher sees how the Qur'an began to infiltrate the daily lives of Jurug village people, and then uses it in the implementation of mitoni tradition by reciting the Surah of Yūsuf and Maryam in the procession of it. From the available data, as well as from the concept of acculturation, the researcher comes to a conclusion that the recitation of surah of Yūsuf and Maryam in Jurug village disseminates and grows as a norm that is believed to bring goodness and blessings to the mother and the baby she is carrying.

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

https://jurnal.staialanwar.ac.id/index.php/itqon/article/download/686/74

ISLAMISASI BUDAYA DALAM TRADISI TUJUH BULANAN (MITONI) DENGAN PEMBACAAN SURAT YŪSUF DAN MARYAM PADA JAMAAH SIMA’AN AL-QUR`AN DI DESA JURUG KECAMATAN MOJOSONGO KABUPATEN BOYOLALI

ISLAMISASI BUDAYA DALAM TRADISI TUJUH BULANAN (MITONI) DENGAN PEMBACAAN SURAT YŪSUF DAN MARYAM PADA JAMAAH SIMA’AN AL-QUR`AN DI DESA JURUG KECAMATAN MOJOSONGO KABUPATEN BOYOLALI Laili Choirul Ummah STAI Al-Anwar Gondanrojo Kalipang Sarang Rembang Abstract Acculturation is a social process arising from a particular culture which is confronted with other cultural elements, so that these elements can be accepted without losing their own cultural character. This study focuses on the interaction of the Qurʻan with Javanese culture, especially on the procession of traditions that undergoes Islamization, where Al-Qurʻan is involved in it. This occurs during the recitation of Surah of Yūsuf and Maryam in the seventhmonth tradition (mitoni) in Jurug village, Mojosongo District, Boyolali Regency. The research problems discussed in this study are the causes which arises the factors of the emergence of a new culture, the factors that indicate the recitation of the Surah of Yūsuf and Maryam of Jurug village people. This study uses a qualitative research method. Data collection of this study uses participatory observation, including; interviews, observation, and documentation. With this acculturation concept, the researcher sees how the Qur'an began to infiltrate the daily lives of Jurug village people, and then uses it in the implementation of mitoni tradition by reciting the Surah of Yūsuf and Maryam in the procession of it. From the available data, as well as from the concept of acculturation, the researcher comes to a conclusion that the recitation of surah of Yūsuf and Maryam in Jurug village disseminates and grows as a norm that is believed to bring goodness and blessings to the mother and the baby she is carrying. Keywords: Acculturation, culture, Islamization, mitoni, recitation of Surah of Yūsuf and Maryam Abstrak Akulturasi adalah proses sosial yang timbul dari suatu kebudayaan tertentu, kemudian dihadapkan dengan unsur-unsur budaya lain, sehingga unsur-unsur tersebut dapat diterima tanpa menghilangkan kepribadian budaya sendiri. Penelitian ini difokuskan pada interaksi al-Qur`an dengan budaya Jawa, terutama pada prosesi tradisi yang mengalami Islamisasi, yakni tradisi mitoni di Desa Jurug, Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, di mana al-Qur`an dilibatkan di dalam ritual pelaksanaannya dalam bentuk pembacaan surah Yusuf dan Maryam. Dengan konsep akulturasi ini, akan dilihat bagaimana al-Qur`an masuk dan berinteraksi secara langsung di kehidupan sehari-hari masyarakat Desa Jurug. Konteks masyarakat Desa Jurung adalah masyarakat terbuka dan ramah akan ragam tradisi termasuk mitoni, sebuah tradisi yang dilestarikan secara turun temurun dengan maksud AL-ITQAN, Volume 4, No. 2, 2018 105 Islamisasi Budaya dalam Tradisi Tujuh Bulanan ….. Laili Choirul Ummah Doi: doi.org/10.47454/itqan.v4i2.686 mendoakan janin yang dikandung ketika sudah berusia tujuh bulan. Bagi masyarakat Desa Jurung, pembacaan surah Yusuf dan Maryam pada tradisi mitoni diyakini sebagai penyambung doa yang akan mendatangkan kebaikan dan keberkahan bagi calon ibu dan bayi yang dikandungnya. Kata kunci: Akulturasi Budaya, Islamisasi, Mitoni, Pembacaan Surat Yusuf dan Maryam A. Pendahuluan Al-Qur`an diturunkan bukan tanpa nilai kebudayaan, melainkan sarat dengan nilai kebudayaan dalam masyarakat. Di dalamnya memuat tema-tema yang mencakup seluruh aspek relasi manusia dengan Tuhan, relasi sesama manusia, dan relasi manusia dengan alam sekitarnya.1Al-Qur`an datang dengan sarat nilai di dalamnya, dan Indonesia berkembang dengan tradisi-tradisi yang melingkupinya, sehingga benturan antar keduanya dinilai tidak akan didapati titik temu bersama. Pribumisasi Islam (baca: al-Qur`an), usaha mengadaptasikan tradisi-tradisi lokal dengan ajaran Islam tanpa merusak esensi nilai subtansinya membuktikan bahwa antara Islam dan budaya-budaya lokal dapat berjalan secara beriringan tanpa saling menjatuhkan, sehingga tercipta harmoni bersama. Letak geografis Negara Indonesia yang strategis, sangat menguntungkan bagi bangsa Indonesia, karena letaknya bisa dijadikan lalu lintas perdagangan dunia.Sehingga sangat memungkinkan bagi bangsa Indonesia untuk berinteraksi dengan bangsa-bangsa besar dunia tersebut, termasuk wiraniagawan bangsa Arab 2 yang kemudian secara berlahan mengubah alur sejarah teologi bangsa Indonesia.Beragam teori dicetuskan untuk menjawab kapan tepatnya bangsa Arab mulai memasuki wilayah Indonesia dengan membawa misi Islam. Ibrahim Buchari dalam risetnya pada sebuah nisan Syaikh Mukaiddin yang terletak di Baros, Tapanuli yang tertulis penanggalan tahun 48 Hijriyah atau 670 Masehi berkesimpulan bahwa Islam masuk di Indonesiapada abad ke-7 Masehi.3 Teori ini selaras dengan sebuah tulisan dalam catatan berita Cina, Dinasti Tang, yang menuturkan bahwa ditemuinya daerah hunian wirausahawan Arab Islam di pantai barat Sumatra pada tahun 674 M.4 Dari data tersebut asumsi kuat bahwa Islam masuk di Indonesia sejak abad 1 Hijriyah. Teori tersebut juga dikuatkan oleh exterbal source, dalam kitab Nukhbat al-Dahr fi „Ajāib al-Barr wa al1 M. Quraish Shihab, dkk, Sejarah dan Ulum al-Qur`an (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2001), hlm. 1. Faizah Amin & Rifki Abror Ananda “Kedatangan dan Penyebarana Islam di Asia Tenggara: Tela‟ah Teoritik Tentang Proses Islamisasi Nusantara”, Analisis: Jurnal Studi Keislaman, vol. 18, no. 2 (2018), hlm.74. 3 Ahmad Mansur Surya Negara, Api Sejarah Jilid I (Bandung: Surya Dinasti: 2016), hlm.108. 4 Ibid., hlm. 108. 2 106 AL-ITQAN, Volume 4, No. 2, 2018 Islamisasi Budaya dalam Tradisi Tujuh Bulanan ….. Laili Choirul Ummah Doi: doi.org/10.47454/itqan.v4i2.686 Baḥr yang ditulis oleh Syaikh al-Rabwah5.al-Rabwah menyatakan bahwa wirausahawan Indonesia telah melakukan kontak perdagangan dengan bangsa Arab pada masa Khalifah Uthmān bin „Affān (24-36 H./644-656M.). Kontak tersebut dimulai saat niagawan muslim Arab melakukan kunjungan niaga ke Cina. Kesempatan inilah yang kemudian dimanfaatkan untuk mengadakan kontak dagang dengan wirausahawan di Indonesia. Demikian pula dengan J.C Van Leur dalam Indonesian Trade and Society, ia menulis pernyataan yang sama dengan catatan berita Cina, Dinasti Tang. Sehingga, Islam menjadi agama mayoritas rakyat Indonesia, dulu hingga sekarang berkat usaha para pendakwah dan ulama tanpa adanya tindak kekerasan pada penyebarannya. Islam berkembang di Indonesia adalah hasil perbincangannya dengan budaya setempat.Pada masa pra-Islam masyarakat Indonesia telah menganut kepercayaan dan mempunyai budaya yang beragam. Islam masuk di Indonesia, khususnya di Jawa dengan cara damai sehingga mudah menyesuaikan diri dengan keadaan masyarakat Jawa guna menyeimbangan antara nilai tradisional Jawa dan nilai agama Islam. Penyebaran ajaran Islam di Jawa didominasi oleh bentuk akulturasi, dimana kekuasaan politik kerajaan Islam Jawa yang mempertemukan Islam Jawa dengan kosmologi Hinduisme dan Budhisme. 6Dari sini tergambar wajah Islam Jawa yang akulturatif terlihat le (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: https://jurnal.staialanwar.ac.id/index.php/itqon/article/download/686/74
Article home page: https://jurnal.staialanwar.ac.id/index.php/itqon/article/view/686/74

Laili Choirul Ummah. ISLAMISASI BUDAYA DALAM TRADISI TUJUH BULANAN (MITONI) DENGAN PEMBACAAN SURAT YŪSUF DAN MARYAM PADA JAMAAH SIMA’AN AL-QUR`AN DI DESA JURUG KECAMATAN MOJOSONGO KABUPATEN BOYOLALI, AL ITQAN: Jurnal Studi Al-Qur\'an, 2018, pp. 105-126, Volume 4, Issue 2,