Novel Grafis: Studi Awal Tentang Istilah dan Bentuk
Novel Grafis:
Studi Awal tentang
Istilah dan Bentuk
Mohammad Hadid
Abstract
This article would like to begin a short study
on the term ‘graphic novel’. As we can see, the term
is problematic. Most arguments shaped around
‘graphic novel’ clearly show that the works have
been regarded as a part of literature, while the
others have been considered the term as a form
of sequential art which has lengthened story. The
aim of this article, then, is to deconstruct the term
‘graphic novel’ by pointing out the weaknesses, both
through the meaning of the term and also by means
of the discourses that have been strengthened with
some episteme built with the essence to justify the
meaning of graphic novel amidst the discourses of
sequential art.
Keywords: graphic novel, sequential art,
literature, episteme.
Pengantar
Tahun lalu di sebuah forum internet, saya
menemukan sebuah tempat diskusi di mana
seorang komikus mempromosikan komik
ciptaannya yang berjudul The Lance Cane
dengan sebutan ‘novel grafis’. Sang komikus
tidak memakai nama asli di forum tersebut,
melainkan mamakai sebuah inisial; namun
perihal karyanya itu, ia sempat menulis kalimat
yang berbunyi begini: “sebuah novel grafis
adalah sebuah karya naratif di mana cerita ini
disampaikan kepada pembaca menggunakan
seni sekuensial baik dalam desain eksperimental
atau secara tradisional komik format.”1 Apa yang
saya mulai melalui artikel ini bukanlah dalam
rangka untuk mempromosikan komik tersebut,
melainkan ketertarikan saya kepada istilah ‘novel
grafis’ itu sendiri.
Sebagian dari mereka yang akrab dengan
dunia komik, atau berkarya menghidupi
dunia seni dengan membuat komik mungkin
mengenal istilah ‘novel grafis’. Istilah ini cukup
populer di kalangan komikus yang memiliki
ambisi untuk menciptakan komik berkualitas,
populer juga bagi pembaca yang menilai bahwa
sebuah komik yang sedang mereka pegang
memiliki kualitas yang luar biasa, dan sebuah
istilah yang digunakan oleh penerbit untuk
mempromosikan komoditas mereka (lewat
pencantuman kata-kata ‘novel grafis’ di bagianbagain tertentu dari fisik sebuah buku) dengan
maksud untuk menambah nilai simbolik: bahwa
produk yang mereka terbitkan berbeda dengan
komik lain.
Meskipun istilah ini cukup populer, namun
bukan berarti tidak ada yang bisa dipertanyakan
atasnya. Tulisan ini adalah sebuah studi awal
untuk mendekati masalah yang ditimbulkan
oleh istilah ‘novel grafis’ itu sendiri. Masalah
yang saya maksud berkisar pada istilah itu
sendiri yang walaupun hakikatnya tidak jelas,
namun masih sering dipakai dalam kebanyakan
wacana tentang komik yang digagas di
Indonesia. Lebih jauh lagi, menurut saya ada
beberapa hal yang memang patut dipertanyakan
ulang di seputar istilah tersebut, terutama
yang diwakili oleh beberapa pertanyaan: 1)
kalau memang benar bahwa ‘novel grafis’
lebih berkualitas dibandingkan dengan komik
biasa, maka apa yang membuatnya berbeda?
2) bisa ditambahkan pula, bentuk-bentuk
A
R
S
Jurnal Seni Rupa & Desain
6
visual macam apa yang bisa dilahirkan oleh
novel grafis? Dan 3) Apakah bentuk-bentuk
visual tersebut berbeda jika dibandingkan
dengan komik biasa? Guna memberi gambaran
mengenai ‘novel grafis’, saya akan sedikit
menjabarkan segi historis kemunculan istilah
ini dan esensi dari istilah ‘novel grafis’, untuk
kemudian memasuki komplesitas dan problem
yang dimunculkan oleh istilah tersebut. Setelah
itu, sebuah perbandingan singkat antara satu
judul ‘novel grafis’ (Mantra karya Azisa Noor)
dengan komik biasa (Bengal karya Bayu Indie)
juga akan dilakukan di sini. Tulisan ini saya
tutup dengan sebuah kesimpulan yang bernada
menggugat, yakni apakah istilah tersebut patut
untuk terus dipakai untuk menyebut komik
yang “berkualitas” (yang berarti berbeda dengan
komik biasa) atau tidak mesti dipakai lagi.
Apa itu Novel Grafis?
‘Novel grafis’ merupakan istilah yang
problematis dalam arti bisa menimbulkan
debat di seputarnya, terutama di wilayah pro
dan kontra atas istilah tersebut. Saya sendiri
termasuk orang yang kontra dengan istilah
tersebut. Saya akan memulai keberatan saya
dengan meminjam ujaran seorang komikus
yang saya kutip di atas, di mana meskipun ia
melekatkan istilah tersebut pada karyanya,
namun sesungguhnya tidak ada jarak yang
dibuat untuk menegaskan perbedaan antara
‘novel grafis’ dengan komik biasa. Bahwa antara
‘novel grafis’ dengan komik menyajikan hal yang
sama, yaitu narasi.
Selanjutnya, meskipun menggunakan
istilah ‘novel grafis’, namun dugaan saya
terhadap sang komikus adalah dia ingin
menegaskan bahwa tidak ada distansiasi antara
keduanya. Hal ini tersurat dalam ujarannya
sebagaimana telah saya kutip di atas, yakni
‘novel grafis’ bisa menggunakan format komik
tradisional atau menggunakan eksperimen
tertentu untuk menghasilkan bentuk baru.
Novel Grafis: Studi Awal
tentang Istilah dan Bentuk
Tentu saja sebuah komik pun bisa diciptakan
berdasarkan eksperimen bentuk yang dilakukan
oleh komikusnya, dan hal ini merupakan
sebuah fenomena umum yang bisa dengan
mudah ditemukan di dunia penciptaan seni.
Maksudnya, semua komikus bisa melakukannya
dan ini bukan merupakan fenomena baru. Jika
tidak ada perbedaan mendasar antara keduanya,
lalu untuk apa menciptakan distansiasi dengan
menggunakan istilah ‘novel grafis’ untuk
kemudian melekatkannya dalam sebuah karya
sequential?
Dilihat secara harfiah, istilah ‘novel grafis’
pun terdengar memiliki definisi yang begi kabur.
Kekaburan istilah itu bisa dilacak pertama-tama
dari konteks makna yang dilekatkan kepadanya:
‘novel grafis’ yang didefinisikan sebagai
terminologi yang memiliki makna leksikal
sebagai ‘buku komik berformat panjang’, dan
atau ‘buku-buku komik yang setebal buku yang
dimaksudkan untuk dibaca sebagai sebuah
cerita’. Sementara di sisi lain, istilah ini mesti
dipahami dari konteks di mana ia merupakan
istilah ciptaan dunia komik Barat atau lebih
tepatnya Amerika Serikat. Istilah ini kemudian
mulai dikenal di belahan dunia lain, dan dipakai
untuk membuat distingsi antara komik yang
disebut sebagai ‘novel grafis’ dengan komik
biasa.
Segi historis tentang kelahiran ‘novel grafis’
pernah dibahas oleh Hikmat Darmawan dengan
menyebut bahwa pada November 1964, istilah
tersebut dipakai pertama kali oleh Richard
Kyle melalui sebuah Newsletter untuk para
anggota Amateur Press Asssociation. Ia menulis
bahwa istilah itu pertama kali disematkan pada
1976 dalam halaman judul dan bagian sampul
lipat Beyond Time and Again karya George
Metzger.2 Yang juga menarik dalam tulisan
Hikmat Darmawan adalah ia sepakat dengan
istilah ‘novel grafis’ karena menurutnya istilah
‘komik’ sudah mengalami peyorasi sedemikian
rupa sehingga perlu ada kesegaran untuk
Nomor : XVI / Mei - Agustus 2012
A
R
S
Jurnal Seni Rupa & Desain
7
membuat yang disebut terakhir itu menjadi
lebih bergengsi. Jadi rupanya kebutuhan akan
gengsi karya jauh lebih penting dibandingkan
memberi pemahaman tentang ‘novel grafis’ yang
komprehensif, bertanggung jawab, dan yang
terpenting intelektual!
Tentu dari penjelasan Darmawan seperti
yang saya kut (...truncated)