Novel Grafis: Studi Awal Tentang Istilah dan Bentuk

ARS: Jurnal Seni Rupa Dan Desain, Aug 2012

This article would like to begin a short studyon the term ‘graphic novel’. As we can see, the termis problematic. Most arguments shaped around‘graphic novel’ clearly show that the works havebeen regarded as a part of literature, while theothers have been considered the term as a formof sequential art which has lengthened story. Theaim of this article, then, is to deconstruct the term‘graphic novel’ by pointing out the weaknesses, boththrough the meaning of the term and also by meansof the discourses that have been strengthened withsome episteme built with the essence to justify themeaning of graphic novel amidst the discourses ofsequential art

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

https://journal.isi.ac.id/index.php/ars/article/download/2826/1114

Novel Grafis: Studi Awal Tentang Istilah dan Bentuk

Novel Grafis: Studi Awal tentang Istilah dan Bentuk Mohammad Hadid Abstract This article would like to begin a short study on the term ‘graphic novel’. As we can see, the term is problematic. Most arguments shaped around ‘graphic novel’ clearly show that the works have been regarded as a part of literature, while the others have been considered the term as a form of sequential art which has lengthened story. The aim of this article, then, is to deconstruct the term ‘graphic novel’ by pointing out the weaknesses, both through the meaning of the term and also by means of the discourses that have been strengthened with some episteme built with the essence to justify the meaning of graphic novel amidst the discourses of sequential art. Keywords: graphic novel, sequential art, literature, episteme. Pengantar Tahun lalu di sebuah forum internet, saya menemukan sebuah tempat diskusi di mana seorang komikus mempromosikan komik ciptaannya yang berjudul The Lance Cane dengan sebutan ‘novel grafis’. Sang komikus tidak memakai nama asli di forum tersebut, melainkan mamakai sebuah inisial; namun perihal karyanya itu, ia sempat menulis kalimat yang berbunyi begini: “sebuah novel grafis adalah sebuah karya naratif di mana cerita ini disampaikan kepada pembaca menggunakan seni sekuensial baik dalam desain eksperimental atau secara tradisional komik format.”1 Apa yang saya mulai melalui artikel ini bukanlah dalam rangka untuk mempromosikan komik tersebut, melainkan ketertarikan saya kepada istilah ‘novel grafis’ itu sendiri. Sebagian dari mereka yang akrab dengan dunia komik, atau berkarya menghidupi dunia seni dengan membuat komik mungkin mengenal istilah ‘novel grafis’. Istilah ini cukup populer di kalangan komikus yang memiliki ambisi untuk menciptakan komik berkualitas, populer juga bagi pembaca yang menilai bahwa sebuah komik yang sedang mereka pegang memiliki kualitas yang luar biasa, dan sebuah istilah yang digunakan oleh penerbit untuk mempromosikan komoditas mereka (lewat pencantuman kata-kata ‘novel grafis’ di bagianbagain tertentu dari fisik sebuah buku) dengan maksud untuk menambah nilai simbolik: bahwa produk yang mereka terbitkan berbeda dengan komik lain. Meskipun istilah ini cukup populer, namun bukan berarti tidak ada yang bisa dipertanyakan atasnya. Tulisan ini adalah sebuah studi awal untuk mendekati masalah yang ditimbulkan oleh istilah ‘novel grafis’ itu sendiri. Masalah yang saya maksud berkisar pada istilah itu sendiri yang walaupun hakikatnya tidak jelas, namun masih sering dipakai dalam kebanyakan wacana tentang komik yang digagas di Indonesia. Lebih jauh lagi, menurut saya ada beberapa hal yang memang patut dipertanyakan ulang di seputar istilah tersebut, terutama yang diwakili oleh beberapa pertanyaan: 1) kalau memang benar bahwa ‘novel grafis’ lebih berkualitas dibandingkan dengan komik biasa, maka apa yang membuatnya berbeda? 2) bisa ditambahkan pula, bentuk-bentuk A R S Jurnal Seni Rupa & Desain 6 visual macam apa yang bisa dilahirkan oleh novel grafis? Dan 3) Apakah bentuk-bentuk visual tersebut berbeda jika dibandingkan dengan komik biasa? Guna memberi gambaran mengenai ‘novel grafis’, saya akan sedikit menjabarkan segi historis kemunculan istilah ini dan esensi dari istilah ‘novel grafis’, untuk kemudian memasuki komplesitas dan problem yang dimunculkan oleh istilah tersebut. Setelah itu, sebuah perbandingan singkat antara satu judul ‘novel grafis’ (Mantra karya Azisa Noor) dengan komik biasa (Bengal karya Bayu Indie) juga akan dilakukan di sini. Tulisan ini saya tutup dengan sebuah kesimpulan yang bernada menggugat, yakni apakah istilah tersebut patut untuk terus dipakai untuk menyebut komik yang “berkualitas” (yang berarti berbeda dengan komik biasa) atau tidak mesti dipakai lagi. Apa itu Novel Grafis? ‘Novel grafis’ merupakan istilah yang problematis dalam arti bisa menimbulkan debat di seputarnya, terutama di wilayah pro dan kontra atas istilah tersebut. Saya sendiri termasuk orang yang kontra dengan istilah tersebut. Saya akan memulai keberatan saya dengan meminjam ujaran seorang komikus yang saya kutip di atas, di mana meskipun ia melekatkan istilah tersebut pada karyanya, namun sesungguhnya tidak ada jarak yang dibuat untuk menegaskan perbedaan antara ‘novel grafis’ dengan komik biasa. Bahwa antara ‘novel grafis’ dengan komik menyajikan hal yang sama, yaitu narasi. Selanjutnya, meskipun menggunakan istilah ‘novel grafis’, namun dugaan saya terhadap sang komikus adalah dia ingin menegaskan bahwa tidak ada distansiasi antara keduanya. Hal ini tersurat dalam ujarannya sebagaimana telah saya kutip di atas, yakni ‘novel grafis’ bisa menggunakan format komik tradisional atau menggunakan eksperimen tertentu untuk menghasilkan bentuk baru. Novel Grafis: Studi Awal tentang Istilah dan Bentuk Tentu saja sebuah komik pun bisa diciptakan berdasarkan eksperimen bentuk yang dilakukan oleh komikusnya, dan hal ini merupakan sebuah fenomena umum yang bisa dengan mudah ditemukan di dunia penciptaan seni. Maksudnya, semua komikus bisa melakukannya dan ini bukan merupakan fenomena baru. Jika tidak ada perbedaan mendasar antara keduanya, lalu untuk apa menciptakan distansiasi dengan menggunakan istilah ‘novel grafis’ untuk kemudian melekatkannya dalam sebuah karya sequential? Dilihat secara harfiah, istilah ‘novel grafis’ pun terdengar memiliki definisi yang begi kabur. Kekaburan istilah itu bisa dilacak pertama-tama dari konteks makna yang dilekatkan kepadanya: ‘novel grafis’ yang didefinisikan sebagai terminologi yang memiliki makna leksikal sebagai ‘buku komik berformat panjang’, dan atau ‘buku-buku komik yang setebal buku yang dimaksudkan untuk dibaca sebagai sebuah cerita’. Sementara di sisi lain, istilah ini mesti dipahami dari konteks di mana ia merupakan istilah ciptaan dunia komik Barat atau lebih tepatnya Amerika Serikat. Istilah ini kemudian mulai dikenal di belahan dunia lain, dan dipakai untuk membuat distingsi antara komik yang disebut sebagai ‘novel grafis’ dengan komik biasa. Segi historis tentang kelahiran ‘novel grafis’ pernah dibahas oleh Hikmat Darmawan dengan menyebut bahwa pada November 1964, istilah tersebut dipakai pertama kali oleh Richard Kyle melalui sebuah Newsletter untuk para anggota Amateur Press Asssociation. Ia menulis bahwa istilah itu pertama kali disematkan pada 1976 dalam halaman judul dan bagian sampul lipat Beyond Time and Again karya George Metzger.2 Yang juga menarik dalam tulisan Hikmat Darmawan adalah ia sepakat dengan istilah ‘novel grafis’ karena menurutnya istilah ‘komik’ sudah mengalami peyorasi sedemikian rupa sehingga perlu ada kesegaran untuk Nomor : XVI / Mei - Agustus 2012 A R S Jurnal Seni Rupa & Desain 7 membuat yang disebut terakhir itu menjadi lebih bergengsi. Jadi rupanya kebutuhan akan gengsi karya jauh lebih penting dibandingkan memberi pemahaman tentang ‘novel grafis’ yang komprehensif, bertanggung jawab, dan yang terpenting intelektual! Tentu dari penjelasan Darmawan seperti yang saya kut (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: https://journal.isi.ac.id/index.php/ars/article/download/2826/1114
Article home page: https://journal.isi.ac.id/index.php/ars/article/view/2826/1114

Hadid Mohammad. Novel Grafis: Studi Awal Tentang Istilah dan Bentuk, ARS: Jurnal Seni Rupa Dan Desain, 2012,