Pengenalan Etnomatematika dan Etnolinguistik Banjar Melalui Siaran RRI Pro 4 Banjarmasin Kalimantan Selatan
AMMA : Jurnal Pengabdian Masyarakat
Volume 2, No.4 Mei (2023)
ISSN 2828-6634 (media online)
Hal 384-400
Pengenalan Etnomatematika dan Etnolinguistik Banjar
Melalui Siaran RRI Pro 4 Banjarmasin Kalimantan Selatan
Novia Winda1, Ida Komalasari1, Alimuddin A.Djdwad1, Abdul Jabar2, Noor Indah
Wulandari1, Akhmad Humaidi1*, Achmad Suwandi1, Rizky Amaliani1, Akhmad
Syawaluddin1
1Program
Studi PBSI, STKIP PGRI Banjarmasin, Banjarmasin, Indonesia
Studi Pendidikan Matematika, STKIP PGRI Banjarmasin, Banjarmasin, Indonesia
Email : , 2*, ,
, , ,
, @stkipbjm.ac.id,
2Program
Abstrak − Mengenal budaya Banjar sekaligus belajar matematika (etnomatematika) dan mengenal budaya
Banjar sekaligusbelajar bahasa (etnolinguistik) merupakan hal baru bagi masyarakat agar lebih mencintai
budaya Banjar. Pengabdian ini mengenalkan etnomatematika dan etnolinguistik kepada masyarakat luas
melalui Radio Republik Indonesia Banjarmasin. Siaran yang khusus membicarakan tentang budaya Banjar
adalah Acara Pandiran Baisukan yang dilaksanakan setiap hari Senin pukul 09.00-10.00 WITA. Kegiatan ini
dilaksanakan 4 kali berturut-turut mengenai: a) Etnomatematika Bangunan Mesjid Sultan Suriansyah, b)
Etnomatematika pada Seni Bela Diri Kuntau Kalimantan Selatan, c) Etnolinguistik Agama dan Kepercayaan
Masyarakat Banjar, dan d) Etnolinguistik Kesenian Tradisional Masyarakat Banjar.
Kata Kunci: Etnomatematika Banjar, Etnolinguistik Banjar
Abstract − Getting to know Banjar culture while learning mathematics (ethnomathematics) and getting toknow
Banjar culture as well as learning language (ethnolinguistics) is a new thing for people to love Banjar culture
more. This service introduced ethnomathematics and ethnolinguistics to the wider community through Radio
Republik Indonesia Banjarmasin. The broadcast that specifically talks about Banjar culture is the Baisukan
Pandiran Event which is held every Monday at 09.00-10.00 WITA. This activity was carried out 4 times in a
row regarding: a) ethnomathematics of Sultan Suriansyah Mosque, b)Ethnomathematics in Kuntau Martial
Arts in South Kalimantan, c) Ethnolinguistics of Religion and Beliefs of the Banjar People, and d)
Ethnolinguistics of Traditional Arts of the Banjar People.
Keywords: Banjar Ethnomathematics, Banjar Ethnolinguistics
1. PENDAHULUAN
Dengan kebudayaan hidup menjadi lebih bermakna dan manusia menjadi lebih arif.
Kebudayaan menurut Geertz (dalam Daeng, 2010:vi-viii) berhubungan dengan cara hidup manusia,
pengakuan social yang dibutuhkan individu dari kelompok, suatu cara berfikir, merasa, dan
berkeyakinan, suatu abstraksi tingkah laku, teori antropologi tentang cara kelompok bertingkah laku,
dan serangkaian orientasi hidup.
Pada abad 19-an sudah dikenal beragam istilah dengan kata awal ethno yang mengalami
perluasanmakna, Powell (Gerdes, 1997:343) ethno diatikan sebagai suatu konsep yang mengacu
padakelomok etnis, kelompok nasional, kelompok ras, kelompok professional, kelompok dengan
dasar filosofis atau ideologis, kelompok sosial dan budaya. Beragam kajian mengenai ethno telah
dikenal seperti ethnomusicology, ethnobotany, ethnopsychology. Jika ethnoscinece dimaknai
sebagai kajian scientific berkaitan dengan fenomena-fenomena teknologi yang berkaitan langsung
dengan latar belakang sosial, ekonomi, dan budaya. Ethnolanguage dimaknai kajian bahasa dalam
hubungannya dengan keseluruhan budaya dan kehidupan sosial, sehingga dengan analogi yang sama
ethnomathematics dimaknai sebagai kajian matematika (ide matematika) dalam hubungannya
dengan keseluruhan budaya dan kehidupan sosial (Gerdes, 1996:916).
Etnolinguistik merupakan interdisipliner yaitu kerjasama antara etnologi dan linguistik.
Etnologi atau antropologi mengkaji perihal kebudayaan, sedangkan linguistik menelaah bahasa
sebagai objek. Oleh karena itu, jika yang diperbincangkan etnolinguistik atau antropolinguistik,
maka yang dibahas adalah keterkaitan budaya dan bahasa (Baehaqie, 2013; Ibrahim dkk., 2021).
Berkenaan dengan penelaahan atau pengamatan terhadap bahasa yang berbasis budaya dapat
Novia Winda| https://journal.mediapublikasi.id/index.php/amma | Page 384
AMMA : Jurnal Pengabdian Masyarakat
Volume 2, No.4 Mei (2023)
ISSN 2828-6634 (media online)
Hal 384-400
dilakukan secara diakronis ataupun sinkronis (Anshori, 2017:72). Tentu saja tergantung tujuan
pengamatan. Selain itu, bahasa yang diamati bisa bahasa lisan atau pun bahasa tulisan.
Etnolinguistik menurut Foley adalah cabang linguistik yang menaruh perhatian terhadap
posisi bahasa dalam konteks sosial dan budaya yang lebih luas untuk memajukan dan
mempertahankan praktik-praktik budaya dan struktur sosial. Secara operasional etnolinguistik dapat
digunakan untuk memahami struktur bahasa atau kosa kata bahasa masyarakat etnis tertentu
berdasarkan cara pandang dan budaya yang dimiliki masyarakat penuturnya dalam rangka
mengungkap budaya tertentu.
Berkaitan dengan itu, pengamatan bahasa Banjar (BB) secara etnolonguistis hendaknya
difokuskan pada tujuh unsur universal budaya. Ketujuh unsur budaya itu meliputi bahasa, sistem
pengetahuan organisasi sosial, sistem peralatan hidup dan teknologi, sistem mata pencaharian hidup,
sistem religi, dan kesenian (Purwoko, 2014; Nuzwaty, 2019; Sudikan dan Indarti, 2021; Arran,
2021). Pengamatan atau pemeriksaan terhadap BB dengan menghubungkan budaya Banjar yang
melatarinya dari sudut pandang etnolinguistik dimaksudkan untuk memotret fakta kebudayaan
masyarakat Banjar yang merupakan masyarakat penutur BB. Atas dasar itulah pencermatan struktur
atau bentuk BB dapat dilakukan terkait dengan berbagai unsur budaya yang disebutkan sebelumnya,
misalnya saja terkait dengan penamaan kampung, makanan tradisional, motif kain sasirangan, dan
bagian-bagian rumah tradisional Banjar.
Telaah, kajian, penyelidikan, pemeriksaan, atau penelitian atas fenomena kebahasaan terkait
dengan unsur budaya tersebut; kajian ini adalah etnolinguistik. Ciri khas kajian etnolinguistik selain
tampak pada objek kajian atau telaahnya, juga pada metode telaahnya.Objek kajiannya adalah
kosakata atau struktur bahasa masyarakat etnis (keturunan, adat, suku bangsa, dan agama)
tertentu.Metodetelaahnya secara singkat dikatakan yaitu fakta-fakta kebahasaan melangkah menuju
fenomena kebudayaan (Baehaqie, 2013: 15-16).
Ethno-mathematika menurut D'Ambrosio (dalam Wahyuni, 2013:2) adalah studi tentang
matematika yang memperhitungkan pertimbangan budaya dimana matematika muncul dengan
memahami penalaran dan sistem matematika yang mereka gunakan. Kajian etnomatematika dalam
pembelajaran matematika mencakup segala bidang: arsitektur, tenun, jahit, pertanian, hubungan
kekerabata, ornamen, dan spiritual dan praktik keagamaan sering selaras dengan pola yang terjadi di
alamatau memerintahkan sistem ide-ide abstrak.
Penggunaan konsep-konsep matematika dalam budaya oleh suatu kelompok masyarakat
tertentu atau suku tertentu atau cara-cara khusus yang dipakai oleh suatu kelompok budaya atau
masyarakat tertentu dalam aktivitas matema-tika inilah yang dikenal sebaga (...truncated)