Eritema Induratum Bazin pada Pasien Tuberkulosis Paru

Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin, Mar 2016

Latar belakang: Eritema induratum Bazin (EIB) atau yang disebut dengan Nodular Vaskulitis merupakan tuberkulosis kutis jenis tuberkulid, ditandai dengan erupsi nodular kronik pada tungkai bawah terutama menyerang wanita usia pertengahan. Eritema Induratum Bazin merupakan bentuk panikulitis lobular dengan vaskulitis. Gambaran klinis berupa nodul, nyeri, yang akan membentuk ulkus dan skar, bersifat kronis dan rekuren. Penyakit ini jarang dijumpai. Tujuan: Memaparkan kasus EIB pada pasien tuberkulosis paru yang merupakan kasus yang jarang ditemukan. Kasus: Wanita, 24 tahun dirujuk oleh dokter spesialis paru dengan keluhan luka dan nyeri pada kedua tungkai sejak 4,5 tahun yang lalu yang hilang timbul. Pemeriksaan dermatologis terdapat nodul dan plak eritematus, multipel, ireguler, ulkus multipel tertutup krusta kehitaman, dan skar atrofi. Pemeriksaan histopatologis menunjukkan adanya epitel histiosit, radang granulomatus dan vaskulitis. Tes Mantoux positif dan foto Thorax menunjukkan gambaran tuberkulosis paru. Penatalaksanaan: Pasien diberikan regimen obat anti tuberkulosis kategori I, yaitu Rifampisin 600 mg/hari,Isoniazide 300 mg/hari, Pirazinamide 1500 mg/hari dan Etambutol 800 mg/hari selama 2 bulan, dilanjutkan dengan Rifampisin 600 mg/hari dan Isoniazide 300 mg/hari selama 4 bulan berikutnya. Simpulan: Diagnosis EIB ditegakkan berdasarkan anamnesis dan gambaran klinis ditunjang dengan pemeriksaan histopatologi. Sesuai hasil tes Mantoux dan foto thorax menunjukkan bahwa etiologi kasus ini berkaitan dengan tuberkulosis. Patogenesis EIB berkaitan dengan reaksi imun kompleks. Pasien diterapi dengan obat anti tuberkulosis dan memberikan hasil yang memuaskan setelah pengobatan selama 3 bulan. Kata kunci: Eritema induratum Bazin, panikulitis, tuberkulosis, obat anti tuberculosis.

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

https://e-journal.unair.ac.id/BIKK/article/download/1517/1169

Eritema Induratum Bazin pada Pasien Tuberkulosis Paru

 Eritema Induratum Bazin pada Pasien Tuberkulosis Paru (Erythema Induratum of Bazin in Patient with Lung Tuberculosis) Windy Miryana*, Sri Adila Nurainiwati**, Taufiq Hidayat**, Moedjiwijono*** *Departemen/Staf Medik Fungsional Kesehatan Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga/ Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Soetomo Surabaya ** Laboratorium/Staf Medik Fungsional Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin, *** Bagian/Staf Medik Fungsional Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya/Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Saiful Anwar Malang ABSTRAK Latar belakang: Eritema induratum Bazin (EIB) atau yang disebut dengan Nodular Vaskulitis merupakan tuberkulosis kutis jenis tuberkulid, ditandai dengan erupsi nodular kronik pada tungkai bawah terutama menyerang wanita usia pertengahan. Eritema Induratum Bazin merupakan bentuk panikulitis lobular dengan vaskulitis. Gambaran klinis berupa nodul, nyeri, yang akan membentuk ulkus dan skar, bersifat kronis dan rekuren. Penyakit ini jarang dijumpai. Tujuan: Memaparkan kasus EIB pada pasien tuberkulosis paru yang merupakan kasus yang jarang ditemukan. Kasus: Wanita, 24 tahun dirujuk oleh dokter spesialis paru dengan keluhan luka dan nyeri pada kedua tungkai sejak 4,5 tahun yang lalu yang hilang timbul. Pemeriksaan dermatologis terdapat nodul dan plak eritematus, multipel, ireguler, ulkus multipel tertutup krusta kehitaman, dan skar atrofi. Pemeriksaan histopatologis menunjukkan adanya epitel histiosit, radang granulomatus dan vaskulitis. Tes Mantoux positif dan foto Thorax menunjukkan gambaran tuberkulosis paru. Penatalaksanaan: Pasien diberikan regimen obat anti tuberkulosis kategori I, yaitu Rifampisin 600 mg/hari,Isoniazide 300 mg/hari, Pirazinamide 1500 mg/hari dan Etambutol 800 mg/hari selama 2 bulan, dilanjutkan dengan Rifampisin 600 mg/hari dan Isoniazide 300 mg/hari selama 4 bulan berikutnya. Simpulan: Diagnosis EIB ditegakkan berdasarkan anamnesis dan gambaran klinis ditunjang dengan pemeriksaan histopatologi. Sesuai hasil tes Mantoux dan foto thorax menunjukkan bahwa etiologi kasus ini berkaitan dengan tuberkulosis. Patogenesis EIB berkaitan dengan reaksi imun kompleks. Pasien diterapi dengan obat anti tuberkulosis dan memberikan hasil yang memuaskan setelah pengobatan selama 3 bulan. Kata kunci: Eritema induratum Bazin, panikulitis, tuberkulosis, obat anti tuberculosis. ABSTRACT Background: Erythema Induratum of Bazin (EIB) or nodular vasculitis is a tuberculid type of skin tuberculosis that characterized with chronic nodular eruption on lower legs, commonly in middle-aged woman. This is a lobular paniculitis with vasculitis. The clinical appearances are painful nodules that will form ulcers and scars. It is chronic and recurrent disease. Erythema Induratum of Bazin is a rare case. Purpose: To describe the rare case of EIB in patient with lung tuberculosis. Case: A woman, 24 years old, referred from pulmonologist with recurrent painful ulcer on her lower legs since 4,5 years ago. Dermatological examination showed irregular multiple erythematous nodules and plaques, ulcers that covered with blackish crusts, and atrophic scars. Histopathological examination revealed histyocytes epithelial, granulomatic inflammation and vasculitis. Mantoux test was positive and the Chest x-ray showed lung tuberculosis. Case Management: Patient received regiment of first-line anti tuberculous drug, Rifampicin 600 mg/day, Isoniazide 300 mg/day, Pirazinamide 1500 mg/day and Ethambutol 800 mg/day for 2 months, continue with Rifampicin 600 mg/day and Isoniazide 300 mg/day in next 4 months. Conclusion: the diagnosis of EIB was established from history and clinical appearance, supported with histopathological examination. According to Mantoux test and thorax roentgen showed that the etiology is related to tuberculosis Pathogenesis related with immune complex reaction. Patient was treated with first line anti tuberculous drug and give a good result after 3 months therapy. Key words: erythema induratum of Bazin, panniculitis, tuberculosis, anti tuberculous drugs.   79 Berkala Ilmu Kesehatan Kulit & Kelamin Vol. 26 No. 1 April 2014 Alamat korespondensi: Windy Miryana, Departemen/Staf Medik Fungsional Kesehatan Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Soetomo, Jl. Mayjen Prof Dr. Moestopo No. 6-8 Surabaya 60131, Indonesia. Telepon: +62315501609, Email: memberikan obat anti tuberkulosis kategori I selama 6 bulan (Rifampisin 600 mg/hari, Isoniazide 300 mg/hari, Pirazinamide 1500 mg/hari, dan Ethambutol 800 mg/hari yang diberikan selama 2 bulan, yang dilanjutkan dengan pemberian Rifampisin 600 mg/hari dan Isoniazide 300 mg/hari selama 4 bulan berikutnya). Prognosis dari penyakit ini yaitu kronis dan rekuren.2,4,7 Eritema Induratum Bazin merupakan kasus yang jarang ditemukan. Pada makalah ini dilaporkan sebuah kasus EIB pada pasien wanita 24 tahun dengan ulkus berulang di kedua tungkai yang disertai dengan adanya tuberkulosis paru. PENDAHULUAN Eritema induratum Bazin (EIB) yang sering disebut nodular vaskulitis merupakan kelompok tuberkulosis kutis jenis tuberkulid, yang disebabkan oleh reaksi hipersensitivitas terhadap Mycobacterium tuberculosis di ekstra kutis, biasanya terjadi pada individu dengan imunitas yang baik1. Eritema induratum Bazin merupakan bentuk panikulitis lobularis tersering yang disertai vaskulitis. Pemeriksaan menggunakan metode Polymerase Chain Reaction (PCR) menunjukkan pada sebagian besar kasus ditemukan DNA Mycobacterium tuberculosis. Hal itu menyokong pendapat yang menyatakan bahwa etiologi tersering dari jenis panikulitis ini adalah tuberkulosis. Patogenesis diduga berhubungan dengan reaksi imun kompleks dan studi terbaru menyatakan adanya keterlibatan reaksi hipersensitivitas tipe IV.2-4 Eritema induratum Bazin jarang ditemukan, lebih sering terjadi pada wanita usia pertengahan dengan kondisi fisik sehat. Lesi diawali dengan nodul subkutan dan plak eritematus pada kedua tungkai bawah bagian posterior, nyeri jika ditekan. Nodul subkutan tersebut melekat pada permukaan kulit dan mengalami ulserasi, yang mengalami penyembuhan dengan membentuk skar. Keadaan ini lebih sering ditemui pada wanita obesitas disertai dengan insufisiensi vena dan memburuk saat cuaca dingin.2,4-6 Pemeriksaan histopatologis EIB menunjukkan gambaran panikulitis lobularis disertai vaskulitis, terdapat nekrosis dari adiposit yang luas pada bagian tengah dari lobulus lemak. Pada lesi tahap lanjut dapat ditemukan epiteloid histiosit dan Multinucleated Giant Cells yang memberikan gambaran granulomatik pada infiltrat. Bagian tengah beberapa granuloma dapat ditemukan nekrosis kaseosa, yang merupakan gambaran khas dari tuberkulosis. Nekrosis kaseosa dapat meluas hingga mencapai dermis dan epidermis.2,4,5 Diagnosis EIB ditegakkan berdasarkan anamnesis, gambaran klinis, dan pemeriksaan laboratorium yang terdiri dari pemeriksaan histopatologis yang menunjukkan gambaran khas untuk tuberk (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: https://e-journal.unair.ac.id/BIKK/article/download/1517/1169
Article home page: https://e-journal.unair.ac.id/BIKK/article/view/1517/1169

Windy Miryana, Sri Adila Nurainiwati, Taufiq Hidayat, Moedjiwijono Moedjiwijono. Eritema Induratum Bazin pada Pasien Tuberkulosis Paru, Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin, 2016, pp. 1-5,