Proses Morfofonemik pada Pembentukan Verba dengan Sufiks “-i” dalam Bahasa Jawa
ANUVA Volume 7 (1): 14-28, 2023
Copyright © 2023, ISSN: 2598-3040 online
Available Online at: http://ejournal.undip.ac.id/index.php/anuva
Proses Morfofonemik pada Pembentukan Verba dengan Sufiks “-i”
dalam Bahasa Jawa
Adrianus Rio Hintono1*), Agus Subiyanto2
1,2
Magister Ilmu Linguistik, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro
Jl. Prof. Soedarto, SH, Kampus Undip Tembalang, Semarang, Indonesia
*)
Korespondensi:
Abstract
[Title: Morphophonemic Process of The Javanese Verbs with “-i” Suffix] This research is descriptive qualitative
research with a generative phonological approach. The aim of this research is to describe the phonological rules
in the morphophonemic process of Javanese verbs with “-i” suffixes. The data in this research was obtained from
daily utterances of native Javanese speakers in Semarang, Central Java Region. The data were analyzed with
distinctive feature theory. Based on the analyzing process in this research we found that /-i/ suffix in Javanese verbs
causes several phonological processes that occurred to its root form. Those phonological processes are: a.) Syllable
structure process: insertion of [n] consonant between the last vowel of the root form and the [i] as the suffix. Making
[i] and [ni] allophone for the suffix. Deletion of [h] consonant in the final position of the root form that is adjacent
to [i] as the suffix; b.) Vowel assimilation: [ɔ] → [a], [ʊ] → [u], and [ɪ] → [i] influenced by the features of the [i]
vowels as the suffix; c.) Weakening and Strengthening: vowel shift [e] → [ɛ], [o] → [ɔ], [i] → [ɛ], [u] → [ɔ], and
[ɪ] → [ɛ] influenced by the similarity of the features of the neighboring vowels.
Keywords: “-i” suffix; generative phonology; Javanese language; morphophonemic
Abstrak
Penelitian ini yang merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan fonologi generatif, penulis
bertujuan untuk membuat kaidah perubahan bunyi yang terjadi pada proses pembentukan verba Bahasa Jawa dengan
sufiks –i yang kompleks. Data dalam penelitian ini diperoleh dari tuturan langsung dalam kehidupan sehari-hari dari
penutur asli Bahasa Jawa di wilayah Semarang, Jawa Tengah. Data tersebut kemudian dianalisis menggunakan teori
fitur distingtif. Berdasarkan proses analisis data yang telah dilakukan, ditemukan bahwa sufiks /i/ yang membentuk
sebuah verba menyebabkan terjadinya: a.) Proses struktur silabel berupa penyisipan konsonan [n] di antara vokal
akhir bentuk dasar dan sufiks [i] sehingga memunculkan alofon berupa sufiks [-ni]. Kemudian pelesapan konsonan
[h] yang berada pada posisi akhir kata dasar akibat bersebelahan dengan sufiks [i]; b.) Asimilasi vokal yang
dipengaruhi vokal lain berupa perubahan vokal [ɔ] → [a], [ʊ] → [u], dan [ɪ] → [i] akibat pengaruh dari fitur-fitur
vokal [i] sebagai sufiks; c.) Penguatan dan pelemahan berupa pergeseran vokal [e] → [ɛ], [o] → [ɔ], [i] → [ɛ], [u]
→ [ɔ], dan [ɪ] → [ɛ] akibat kesamaan fitur yang dimiliki oleh vokal-vokal yang saling berdekatan.
Kata kunci: bahasa Jawa; fonologi generatif; morfofonemik; sufiks –i
1. Pendahuluan
Bahasa Jawa (BJ) merupakan bahasa yang dituturkan oleh sebanyak kurang lebih 90 juta orang.
Angka tersebut termasuk membuat BJ sebagai salah satu bahasa dengan penutur paling banyak di dunia.
BJ pada umumnya dituturkan di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur, namun tidak menutup
kemungkinan dituturkan pula di sepanjang daerah pesisir utara Jawa Barat (Comrie, 2018). BJ memiliki
variasi gramatikal dari sebuah kata dasar yang dapat dibentuk melalui proses afiksasi, reduplikasi, atau
kombinasi. Hasil dari proses afiksasi tersebut dapat membentuk verba maupun nomina, dan BJ sangat
14
15
kaya dalam hal itu (Comrie, 2018). Sebagai contoh adalah dengan ditambahkannya nasal [ŋ] pada kata
dasar, akan mengakibatkan terbentuknya verba aktif (Subiyanto, 2010), lalu dari penyisipan nasal
tersebut pun akan menimbulkan penyisipan vokal [ə] pada kata kerja yang hanya memiliki satu suku
kata. Dalam proses pembentukan kata tersebut terdapat pula bunyi pada bentuk dasar yang akan
terpengaruh oleh afiks tertentu. Proses perubahan bunyi tersebut dikenal dengan istilah proses
morfofonemik. Proses morfofonemik adalah interaksi antara morfologi dan fonologi (Aronoff dan
Fudeman, 2011). Dalam tulisannya, Rumilah dan Cahyani (2020) menyebut bahwa proses
morfofonemik adalah proses terjadinya perubahan bunyi akibat adanya proses morfologis.
Perubahan-perubahan bunyi dalam BJ yang disebabkan oleh proses afiksasi tersebut terjadi pula
dalam proses pembentukan verba menggunakan sufiks –i. Sufiks –i berfungsi untuk membentuk verba
aktif transitif yang bermakna melakukan tindakan yang dinyatakan dalam bentuk dasar secara berulangulang (Wedhawati, dkk., 2001), seperti yang dapat dilihat pada (1):
(1) Nanduri (nandur ‘menanam’ + -i) ‘menanami’
Njupuki (njupuk ‘mengambil + -i) ‘mengambili’
Ngguntingi (nggunting ‘menggunting’ + -i) ‘mengguntingi’
Selain itu verba bentuk –i juga dipakai dalam kalimat imperatif dengan bentuk dasar monomorfemis
yang berkategori nomina, verba, atau adjektiva (Wedhawati, dkk., 2001), seperti yang dapat dilihat pada
(2):
(2) Kembange pethiki! ‘Petikilah bunga itu!’
Kunceni lawange! ‘Kuncilah pintu-pintu itu!’
Resiki mejane! ‘Bersihkanlah meja itu!’
Dari hasil pengamatan penulis didapati bahwa kemunculan sufiks –i pada pembentukan verba BJ
akan mengakibatkan perubahan bunyi pada bentuk dasar yang diberi sufiks “-i”, seperti yang dapat
dilihat pada (3).
(3) [pati] ‘kematian’ + [i] → [patɛni] ‘matikan!’
[gɔwɔ] ‘bawa’ + [i] → [gawani] ‘beri bawaan!’
[tuku] ‘beli’ + [i] → [tukɔni] ‘belilah padanya!’
[keproɁ] ‘hantam’ + [i] → [kepruɁi] ‘hantamlah!’
[pisoh] ‘umpat’ + [i] → [pisui] ‘makilah!’
Dari contoh data tersebut sudah dapat diamati adanya perubahan bunyi vokal akhir pada bentuk
dasar suatu kata seperti [i] → [ɛ], [ɔ] → [a], dan [ɔ] → [u]. Selain perubahan vokal, terdapat pula
perubahan struktur silabel berupa pelesapan konsonan akhir pada kata dasar yang diakhiri dengan
konsonan [h]. Dan masih banyak proses fonologis yang terjadi selain yang terdapat pada (3) yang akan
penulis buat kaidah perubahannya dalam penelitian ini. Melalui penelitian ini penulis bertujuan untuk
memolakan perubahan bunyi yang terjadi, mengkategorikan perubahan bunyi yang terjadi dan
mendefinisikan bagaimana proses perubahan bunyi tersebut dapat terjadi melalui teori fonologi generatif.
Copyright ©2023, ISSN: 2598-3040 online
16
2. Landasan Teori
Teori fonologi generatif adalah teori fonologi dalam aliran transformasi generatif yang menolak
konsep fonem dan memperlakukan ciri pembeda sebagai satuan terkecil dan menghubungkan ciri
pembeda dan leksikon dengan kaidah-kaidah fonologis (Kridalaksana, 2008). Pokok bahasan yang
terdapat pada fonologi generatif adalah mengenai sistem pengkaidahan atau aturan yang berkaitan erat
dengan suara serta maknanya, representasi fonetik pada sebuah bahasa, proses pembentukan perubahan
bunyi, dan asumsi atas perubahan bunyi yang terjadi (Nafisah, 2017). Sebagai (...truncated)