Proses Morfofonemik pada Pembentukan Verba dengan Sufiks “-i” dalam Bahasa Jawa

Anuva: Jurnal Kajian Budaya, Perpustakaan, dan Informasi, May 2023

Penelitian ini yang merupakan penelitian deskriptif kualitiatif dengan pendekatan fonologi generatif, penulis bertujuan untuk membuat kaidah perubahan bunyi yang terjadi pada proses pembentukan verba Bahasa Jawa dengan sufiks –i yang kompleks. Data dalam penelitian ini diperoleh dari tuturan langsung dalam kehidupan sehari-hari dari penutur asli Bahasa Jawa di wilayah Semarang, Jawa Tengah. Data tersebut kemudian dianalisis menggunakan teori fitur distingtif. Berdasarkan proses analisis data yang telah dilakukan, ditemukan bahwa sufiks /i/ yang membentuk sebuah verba menybabkan terjadinya: a.) Proses struktur silabel berupa penyisipan konsonan [n] di antara vokal akhir bentuk dasar dan sufiks [i] sehigga memunculkan alofon berupa sufiks [-ni]. Kemudian pelesapan konsonan [h] yang berada pada posisi akhir kata dasar akibat bersebelahan dengan sufiks [i]; b.) Asimilasi vokal yang dipengaruhi vokal lain berupa perubahan vokal [ɔ] → [a], [ʊ] → [u], dan [ɪ] → [i] akibat pengaruh dari fitur-fitur vokal [i] sebagai sufiks; c.) Penguatan dan pelemahan berupa pergeseran vokal [e] → [ɛ], [o] → [ɔ], [i] → [ɛ], [u] → [ɔ], dan [ɪ] → [ɛ] akibat kesamaan fitur yang dimiliki oleh vokal-vokal yang saling berdekatan.

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

https://ejournal2.undip.ac.id/index.php/anuva/article/download/16648/8819

Proses Morfofonemik pada Pembentukan Verba dengan Sufiks “-i” dalam Bahasa Jawa

ANUVA Volume 7 (1): 14-28, 2023 Copyright © 2023, ISSN: 2598-3040 online Available Online at: http://ejournal.undip.ac.id/index.php/anuva Proses Morfofonemik pada Pembentukan Verba dengan Sufiks “-i” dalam Bahasa Jawa Adrianus Rio Hintono1*), Agus Subiyanto2 1,2 Magister Ilmu Linguistik, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro Jl. Prof. Soedarto, SH, Kampus Undip Tembalang, Semarang, Indonesia *) Korespondensi: Abstract [Title: Morphophonemic Process of The Javanese Verbs with “-i” Suffix] This research is descriptive qualitative research with a generative phonological approach. The aim of this research is to describe the phonological rules in the morphophonemic process of Javanese verbs with “-i” suffixes. The data in this research was obtained from daily utterances of native Javanese speakers in Semarang, Central Java Region. The data were analyzed with distinctive feature theory. Based on the analyzing process in this research we found that /-i/ suffix in Javanese verbs causes several phonological processes that occurred to its root form. Those phonological processes are: a.) Syllable structure process: insertion of [n] consonant between the last vowel of the root form and the [i] as the suffix. Making [i] and [ni] allophone for the suffix. Deletion of [h] consonant in the final position of the root form that is adjacent to [i] as the suffix; b.) Vowel assimilation: [ɔ] → [a], [ʊ] → [u], and [ɪ] → [i] influenced by the features of the [i] vowels as the suffix; c.) Weakening and Strengthening: vowel shift [e] → [ɛ], [o] → [ɔ], [i] → [ɛ], [u] → [ɔ], and [ɪ] → [ɛ] influenced by the similarity of the features of the neighboring vowels. Keywords: “-i” suffix; generative phonology; Javanese language; morphophonemic Abstrak Penelitian ini yang merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan fonologi generatif, penulis bertujuan untuk membuat kaidah perubahan bunyi yang terjadi pada proses pembentukan verba Bahasa Jawa dengan sufiks –i yang kompleks. Data dalam penelitian ini diperoleh dari tuturan langsung dalam kehidupan sehari-hari dari penutur asli Bahasa Jawa di wilayah Semarang, Jawa Tengah. Data tersebut kemudian dianalisis menggunakan teori fitur distingtif. Berdasarkan proses analisis data yang telah dilakukan, ditemukan bahwa sufiks /i/ yang membentuk sebuah verba menyebabkan terjadinya: a.) Proses struktur silabel berupa penyisipan konsonan [n] di antara vokal akhir bentuk dasar dan sufiks [i] sehingga memunculkan alofon berupa sufiks [-ni]. Kemudian pelesapan konsonan [h] yang berada pada posisi akhir kata dasar akibat bersebelahan dengan sufiks [i]; b.) Asimilasi vokal yang dipengaruhi vokal lain berupa perubahan vokal [ɔ] → [a], [ʊ] → [u], dan [ɪ] → [i] akibat pengaruh dari fitur-fitur vokal [i] sebagai sufiks; c.) Penguatan dan pelemahan berupa pergeseran vokal [e] → [ɛ], [o] → [ɔ], [i] → [ɛ], [u] → [ɔ], dan [ɪ] → [ɛ] akibat kesamaan fitur yang dimiliki oleh vokal-vokal yang saling berdekatan. Kata kunci: bahasa Jawa; fonologi generatif; morfofonemik; sufiks –i 1. Pendahuluan Bahasa Jawa (BJ) merupakan bahasa yang dituturkan oleh sebanyak kurang lebih 90 juta orang. Angka tersebut termasuk membuat BJ sebagai salah satu bahasa dengan penutur paling banyak di dunia. BJ pada umumnya dituturkan di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur, namun tidak menutup kemungkinan dituturkan pula di sepanjang daerah pesisir utara Jawa Barat (Comrie, 2018). BJ memiliki variasi gramatikal dari sebuah kata dasar yang dapat dibentuk melalui proses afiksasi, reduplikasi, atau kombinasi. Hasil dari proses afiksasi tersebut dapat membentuk verba maupun nomina, dan BJ sangat 14 15 kaya dalam hal itu (Comrie, 2018). Sebagai contoh adalah dengan ditambahkannya nasal [ŋ] pada kata dasar, akan mengakibatkan terbentuknya verba aktif (Subiyanto, 2010), lalu dari penyisipan nasal tersebut pun akan menimbulkan penyisipan vokal [ə] pada kata kerja yang hanya memiliki satu suku kata. Dalam proses pembentukan kata tersebut terdapat pula bunyi pada bentuk dasar yang akan terpengaruh oleh afiks tertentu. Proses perubahan bunyi tersebut dikenal dengan istilah proses morfofonemik. Proses morfofonemik adalah interaksi antara morfologi dan fonologi (Aronoff dan Fudeman, 2011). Dalam tulisannya, Rumilah dan Cahyani (2020) menyebut bahwa proses morfofonemik adalah proses terjadinya perubahan bunyi akibat adanya proses morfologis. Perubahan-perubahan bunyi dalam BJ yang disebabkan oleh proses afiksasi tersebut terjadi pula dalam proses pembentukan verba menggunakan sufiks –i. Sufiks –i berfungsi untuk membentuk verba aktif transitif yang bermakna melakukan tindakan yang dinyatakan dalam bentuk dasar secara berulangulang (Wedhawati, dkk., 2001), seperti yang dapat dilihat pada (1): (1) Nanduri (nandur ‘menanam’ + -i) ‘menanami’ Njupuki (njupuk ‘mengambil + -i) ‘mengambili’ Ngguntingi (nggunting ‘menggunting’ + -i) ‘mengguntingi’ Selain itu verba bentuk –i juga dipakai dalam kalimat imperatif dengan bentuk dasar monomorfemis yang berkategori nomina, verba, atau adjektiva (Wedhawati, dkk., 2001), seperti yang dapat dilihat pada (2): (2) Kembange pethiki! ‘Petikilah bunga itu!’ Kunceni lawange! ‘Kuncilah pintu-pintu itu!’ Resiki mejane! ‘Bersihkanlah meja itu!’ Dari hasil pengamatan penulis didapati bahwa kemunculan sufiks –i pada pembentukan verba BJ akan mengakibatkan perubahan bunyi pada bentuk dasar yang diberi sufiks “-i”, seperti yang dapat dilihat pada (3). (3) [pati] ‘kematian’ + [i] → [patɛni] ‘matikan!’ [gɔwɔ] ‘bawa’ + [i] → [gawani] ‘beri bawaan!’ [tuku] ‘beli’ + [i] → [tukɔni] ‘belilah padanya!’ [keproɁ] ‘hantam’ + [i] → [kepruɁi] ‘hantamlah!’ [pisoh] ‘umpat’ + [i] → [pisui] ‘makilah!’ Dari contoh data tersebut sudah dapat diamati adanya perubahan bunyi vokal akhir pada bentuk dasar suatu kata seperti [i] → [ɛ], [ɔ] → [a], dan [ɔ] → [u]. Selain perubahan vokal, terdapat pula perubahan struktur silabel berupa pelesapan konsonan akhir pada kata dasar yang diakhiri dengan konsonan [h]. Dan masih banyak proses fonologis yang terjadi selain yang terdapat pada (3) yang akan penulis buat kaidah perubahannya dalam penelitian ini. Melalui penelitian ini penulis bertujuan untuk memolakan perubahan bunyi yang terjadi, mengkategorikan perubahan bunyi yang terjadi dan mendefinisikan bagaimana proses perubahan bunyi tersebut dapat terjadi melalui teori fonologi generatif. Copyright ©2023, ISSN: 2598-3040 online 16 2. Landasan Teori Teori fonologi generatif adalah teori fonologi dalam aliran transformasi generatif yang menolak konsep fonem dan memperlakukan ciri pembeda sebagai satuan terkecil dan menghubungkan ciri pembeda dan leksikon dengan kaidah-kaidah fonologis (Kridalaksana, 2008). Pokok bahasan yang terdapat pada fonologi generatif adalah mengenai sistem pengkaidahan atau aturan yang berkaitan erat dengan suara serta maknanya, representasi fonetik pada sebuah bahasa, proses pembentukan perubahan bunyi, dan asumsi atas perubahan bunyi yang terjadi (Nafisah, 2017). Sebagai (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: https://ejournal2.undip.ac.id/index.php/anuva/article/download/16648/8819
Article home page: https://ejournal2.undip.ac.id/index.php/anuva/article/view/16648/8819

Hintono Adrianus Rio, Agus Subiyanto. Proses Morfofonemik pada Pembentukan Verba dengan Sufiks “-i” dalam Bahasa Jawa, Anuva: Jurnal Kajian Budaya, Perpustakaan, dan Informasi, 2023, pp. 14-28,