Pengaruh Workplace Incivility terhadap Kepuasan Kerja Karyawan Milenial dengan Kelelahan Emosional sebagai Variabel Mediator
BRPKM
Buletin Riset Psikologi dan Kesehatan Mental
http://e-journal.unair.ac.id/index.php/BRPKM
e-ISSN: 2776-1851
ARTIKEL PENELITIAN
Pengaruh Workplace Incivility terhadap Kepuasan Kerja Karyawan
Milenial dengan Kelelahan Emosional sebagai Variabel Mediator
KANIA AGITA RACHMANADYA & SEGER HANDOYO*
Fakultas Psikologi Universitas Airlangga
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perilaku ketidaksantunan di tempat kerja
terhadap kepuasan kerja karyawan generasi Y dengan kelelahan emosional sebagai variabel mediator.
Penelitian ini dilakukan kepada 120 karyawan generasi Y berusia 21- 41 tahun yang bekerja fulltime.
Alat ukur yang digunakan, yaitu Facet Satisfaction Scale, Indonesia Incivility Behavior Scale, dan Maslach
Burnout Inventory. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji sobel test dan uji mediasi Baron
dan Kenny. Hasil dari penelitian ini didapatkan bahwa perilaku ketidaksantunan di tempat kerja
berkorelasi langsung dengan kepuasan kerja p=.000 dengan nilai koefisien (β= -.520). Selanjutnya,
pengaruh mediasi dari kelelahan emosional terhadap perilaku ketidaksantunan di tempat kerja dan
kepuasan kerja dari uji sobel test p=.000 memiliki nilai koefisien beta pengaruh tidak langsung (β=.274). Hasil penelitian tersebut menunjukkan adanya pengaruh perilaku ketidaksantunan di tempat
kerja terhadap kepuasan kerja dimediasi oleh kelelahan emosional dan mediasi bersifat parsial.
Kata kunci: karyawan generasi Y, kelelahan emosional, kepuasan kerja, perilaku ketidaksantunan di
tempat kerja
ABSTRACT
This study aims to examine the effect of workplace incivility behavior on job satisfaction with
emotional exhaustion as a mediator among millennial employees. The numbers of samples in this
research was 120 ranging from the age 21-41 years old millenial full time employees. The data were
obtained using Facet Satisfaction Scale, Indonesia Incivility Behavior Scale, and Maslach Burnout
Inventory. This research used the Calculation for Sobel Test and Mediation Test by Baron and Kenny.
The result of this study is workplace incivility behavior has a direct negative and significant effect on
job satisfaction p=.000 and beta coefficients (β= -.520). The influences of mediation from emotional
exhaustion on workplace incivility behavior towards job satisfaction as the significance from sobel test
is [p=.000] and indirect beta coefficients (β= -.274). This research indicates a significant influence on
workplace incivility behavior and job satisfaction mediated by emotional exhaustion, and the
mediation is partial.
Keywords: emotional exhaustion, job satisfaction, workplace incivility behavior, Y generation employees
Buletin Penelitian Psikologi dan Kesehatan Mental (BRPKM), 2022, Vol. 2(1), 280-291
*Alamat korespondensi: Fakultas Psikologi Universitas Airlangga, Kampus B Universitas Airlangga Jalan
Airlangga 4-6 Surabaya 60286. Surel:
Naskah ini merupakan naskah dengan akses terbuka dibawah ketentuan the Creative
Common Attribution License (CC-BY-4.0) (http://creativecommons.org/licenses/by/4.0),
Workplace Incivility terhadap Kepuasan Kerja Millenial
281
sehingga penggunaan, distribusi, reproduksi dalam media apapun atas artikel ini tidak
dibatasi, selama sumber aslinya disitir dengan baik.
PENDAHULUAN
Gott (n.d.) memperkirakan bahwa ju2022, Vol. 2(1), 280-291
mlah generasi Y di dunia akan meningkat dan mencapai lebih dari setengah populasi global, dan
sebanyak 75% diantaranya termasuk dalam angkatan kerja pada tahun 2025. Generasi Y atau milenial
merupakan individu yang lahir pada rentang tahun 1980 – 2000 (Meier & Crocker, 2010). Besarnya
populasi milenial memunculkan fenomena dimana generasi Y dianggap sebagai generasi dengan tingkat
perputaran (turnover) yang tinggi. Di Indonesia, survei mengenai Employee Engagement Millenial
memperlihatkan hanya sebesar 25% saja karyawan milenial yang terikat penuh dengan perusahaan,
66% sisanya terikat sebagian dengan perusahaan. Sebesar 60% dari karyawan milenial akan memilih
untuk meninggalkan tempat kerja apabila merasa tidak terikat (“Hanya 25 Persen Millennials Yang Setia
Kepada Perusahaan,” 2017). Tingginya tingkat turnover milenial menimbulkan keluhan dalam Deloitte
(2019) yang menyatakan bahwa banyak perusahaan mengeluhkan tingginya angka turnover karyawan
generasi Y dan menjadi tantangan bagi para HRD untuk dapat membuat karyawan generasi Y bertahan.
Randhawa (2007) menunjukkan bahwa kepuasan kerja merupakan faktor utama yang mendorong
intensi karyawan untuk berpindah kerja. Campione (2015 dalam Tschantz, 2016) menyatakan bahwa
generasi Y yang telah sampai pada ketidakpuasan terhadap pekerjaan akan bergerak lebih cepat
mengambil keputusan untuk memilih meninggalkan perusahaan dibandingkan dengan generasi
sebelumnya. Berbagai penelitian telah menyetujui betapa pentingnya hubungan interpersonal sebagai
faktor penting untuk memengaruhi kepuasan kerja yang utamanya berfokus pada kualitas hubungan
baik dalam komunikasi, kontak, pertemuan dan interaksi karyawan dengan rekan kerja ataupun atasan
(Sypniewska, 2013). Devina & Dwikardana (2019) melakukan penelitian studi kasus kualitatif pada 4
karyawan yang sudah resign menemukan bahwa tiga orang diantaranya membutuhkan hubungan
interpersonal yang harmonis antar rekan kerja menjadi salah satu kebutuhan teratas dari 3 kebutuhan
utama yang dicari karyawan generasi Y di tempat kerja. Semakin besar faktor ketidakpuasan kerja yang
dihapuskan dari lingkungan kerja, maka karyawan akan menjadi lebih bahagia dan menunjukkan
pencapaian yang semakin besar (Herzberg, 1959 dalam Calecas, 2019). Pemenuhan kepuasan kerja
karyawan merupakan langkah utama untuk memenuhi kebutuhan dasar suatu pekerjaan. Satu dari
beberapa faktor penyebab penurunan kepuasan kerja karyawan diakibatkan oleh workplace incivility
behavior (Cortina dkk., 2001).
Cortina dkk., (2001) menunjukkan bahwa workplace incivility behavior menunjukkan pengaruh
signifikan terhadap kepuasan kerja. Penurunan kepuasan kerja akan terus terjadi apabila perilaku
ketidaksantunan kerja meningkat. Perilaku ketidaksantunan di tempat kerja berpengaruh pada
berkurangnya kepuasan kerja pada kelima facet kepuasan kerja, yaitu pekerjaan itu sendiri, supervisor,
rekan kerja, pay and benefit, dan kesempatan promosi. Andersson & Pearson, (1999) merujuk perilaku
ketidaksantunan di tempat kerja termasuk dalam perlakuan tidak sopan atau kasar, mengalihkan
perhatian terhadap pelanggaran norma yang berlaku pada perusahaan guna saling menghormati dalam
proses menjalin interaksi sosial. Penelitian mengenai ketidaksantunan di tempat kerja di Indonesia
pertama kali dilakukan oleh Handoyo dkk., (2018) menunjukkan bahwa 88% partisipan dalam
penelitian menjadi korban dari perilaku ketidaksantunan di tempat kerja. Dalam penelitian ini perilaku
ketidaksantunan di tempat kerja berfokus pada generasi Y. Generasi Y memiliki perbedaan
karakteristik, preferensi, ekspektasi, dan kebutuhan daripada generasi sebelumnya (Tschantz, 2016).
Buletin Riset Psikol (...truncated)