Bentuk Kesantunan Berbahasa pada Tindak Tutur Anak di Kalibone Kelurahan Bonto Langkasa Kecamatan Minasate’ne Kabupaten Pangkep
Bentuk Kesantunan Berbahasa pada Tindak Tutur Anak
di Kalibone Kelurahan Bonto Langkasa Kecamatan Minasate’ne
Kabupaten Pangkep
Yulfina Febriyanti Yunus
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP Universitas Muslim Maros
Abstrak
Penelitian ini berfokus pada bentuk kesantunan berbahasa anak saat mereka betutur
kata. Adapun permasalahan yang di kaji (1) bagaimana bentuk tindak tutur anak
dikalibone kabupaten pangkep (2) bagaimana bentuk kesantunan berbahasa anak di
kalibone kab pangkep. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk
kesantunan berbahasa anak. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif.
Berdasarkan hasil analisis data tindak maka ditemukan, 3 (tiga) bentuk tindak tutur
yaitu, (1) tindak tutur representatif sebanyak tiga data, (2) tindak tutur direktif
sebanyak enam data, dan (3) tindak tutur ekspresif ditemukan lima data. Hasil
analisis data kesantunan berbahasa 3 (tiga) bentuk kesantunan yaitu, (1) maksim
kebijaksanaan tujuh data, (2) maksim kerendahan hati sebanyak empat data, dan
(4) maksim kecocokan sebanyak 3 data. Dari hasil penelitian ini terdapat data
bentuk kesantunan dan bentuk tindak tutur pada saat anak melakukan peristiwa
tutur.
Kata Kunci: Kesantunan, Tindak Tutur, dan Anak
mulai dari bahasa yang terkesan kasar oleh
A. PENDAHULUAN
Indonesia merupakan negara yang memiliki
pendegar dankata tersebut tidak bisa diartikan.
beragam suku, agama, ras, budaya, dan bahasa.
Sebab kata itu muncul begitu saja hingga saat
Bahasa daerah di Indonesia menurut Badan
ini, kata tersebut masih bertahan dan digunakan
Pengembangan
Bahasa,
di kalagan anak-anak dan bahkan orang dewasa.
Kementrian Pendidikan dan Kebudayan telah
Seorang anak memperoleh bahasa melalui orang
mencapai 668 Bahasa daerah, hingga oktober
tuanya dan secara tidak langsung anak tersebut
tahun 2018.
otomatis mengikuti logat-logat orang tuanya,
Berbagai
dan
macam
Pembinaan
bahasa
daerah
di
jika pengucapanya halus maka anak pun bertutur
Indonesia memiliki ciri khas masing-masing,
47
Yunus
Jurnal Idiomatik Vol. 3, No. 1, Juni 2020
kata halus namun jika tutur kata orang tuanya
sebab hal tersebut membutuhkan sebuah proses.
kasar maka anak itupun bertutur kata kasar.
Stimulus dari berbagai pihak perlu diupayakan
Pada masa pembentukan, seorang anak
biasanya dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan
di
lingkungan
itulah
anak
sebanyak dan sevariatif mungkin agar anak tidak
mudah menerima bahasa begitu saja.
membentuk
Penelitian ini berawal dari fenomena
kepribadiannya serta tuturannya. Dalam hal ini,
kurangnya aspek kesantunan berbahasa terhadap
anak akan meniru apa yang ia lihat dari
cara
lingkungan nya dan anak akan megikutinya
berkomunikasi
karena ia belum mengetahui batasan benar atau
disekitarnya cenderung bertutur kata tidak
salah, baik dan buruk serta pantas atau tidak
santun. Tanpa adanya pengawasan dari orang-
pantas bahasa yang ia ucapkan.
orang sekitarnya. Oleh karena itu dilakukan
bertutur
anak.
dengan
Terkadang
orang
yang
anak
ada
Oleh karena itu kesantunan berbahasa pada
penelitian yang berfokus pada bagaimana
anak perlu dilatih dan dikembangkan sedari dini
sebenarnya bentuk tindak tutur kesantunan
sebagai bentuk kebiasaan. Pada masa golden age
berbahasa terhadap beberapa anak .
anak (0-8 tahun) adalah masa di mana anak
Seorang anak cenderung bertutur kata apa
menerima bahasa. Untuk itu penelitian ini
adanya, contohnya seorang anak usia sekolah
berfokus pada anak usia sekolah dasar dan lebih
dasar kisaran usia 8 tahun yang berturur kata
difokuskan terhadap tutur katanya, apakah tutur
kepada teman sekelasnya, dengan mengatakan
kata
“Kamu ini gak tahu membaca, sana belajar
tersebut
terkesan
santun
ataukan
(suara keras) ”klu aku udah tahu jadi gak perlu
sebaliknya.
seseorang
belajar lagi”. Dari contoh tersebut dapat
ternyata bervariasi, setidaknya menguasai satu
disimpulkan seorang anak bertutur kata tanpa
bahasa ibu, dan yang lain mungkin menguasai,
mereka mengetahui santun atau tidak santun
selain bahasa ibu, juga sebuah bahasa lain atau
kata yang ia gunakan. Tetapi perlu diketahui
lebih, yang diperoleh sebagai hasil pendidikan
bahwa saat seseorang bertutur kata kepada mitra
bagi anak usia sekolah dasar atau pergaulan
tutur tidak dipungkiri bahwa mitra tutur dalam
dengan penutur bahasa di sekolahnya dan teman
menilai tutur kata dari lawan tuturnya oleh Yule
bermainnya
lingkungan
menjelaskan bahwa pragmatik adalah studi
sekolahnya. Secara garis besar seorang anak
tentang makna yang disampaikan oleh penutur
yang berusia usia sekolah dasar memperoleh
dan ditafsirkan oleh pendegar.
Kemampuan
dan
komunikatif
di
luar
dari
bahasa tidak santun dari lingkungannya atau
Penelitian
bahkan dari hasil ia mendengarkan. Namun
mendeskripsikan
perlu diingat Pertumbuhan dan perkembangan
kesantunan
bahasa tidak diperoleh seorang anak begitu saja
48
ini
bertujuan
bentuk
tindak
berbahasa
anak
di
untuk
tutur
dan
Kalibone
Bentuk Kesantunan Berbahasa pada Tindak Tutur Anak di Kalibone.....
Kelurahan
Bonto
Langkasa
Kecamatan
Minasate’ne Kabupaten Pangkep
Japing-Japing, Tahah Rajae, Banggae, Pare’ang
dan Kalibone. Oleh karena itu dari kelima dusun
Yule (2006:83-84) menyatakan bahwa pada
diatas ditarik satu dusun sebagai sampel dari
suatu saat, tindakan yang ditampilkan dengan
penelitian yaitu dusun kalibone penelitian ini
menghasilkan suatu tuturan akan mengandung 3
difokuskan kepada anak-anak usia 07-15 tahun.
tindak yang saling berhubungan. Yang pertama
Proses pengumpulan data dilakukan secara acak.
adalah tindak lokusi, yang merupakan tindak
Teknik pengumpulan data yang digunakan
dasar tuturan atau menghasilkan suatu ungkapan
dalam penelitian ini adalah perekaman dan
linguistik yang bermakna. sistem klasifikasi
pencatatan. Perekaman digunakan pada saat
umum mencantukan 5 jenis fungsi umum yang
seorang anak dan anak yang lain sedang
ditujukan
melakukan
oleh
tindak
tutur;
deklaratif,
representatif, ekspresif, direktif, dan komisif.
Beberapa
digunakan
bentuk-bentuk
untuk
ujaran
mengespresikan
yang
maksim
maksim . Bentuk-bentuk ujaran yang dimaksud
adalah
bentuk
ekspresif,
impositif,
komisif,
asektif
(wijana,
1996:56).
dan
ujaran
peristiwa
tutur,
sedangkan
pencatatan dilakukan apabila pengambilan data
dari dari proses perekaman tidak efektif atau
mengalami kendala
Dalam langkah analisis data, peneliti
pengumpulkan data dari hasil rekaman maupun
pencatatan.
Kemudian
mengurutkan
data
Beberapa bentuk-bentuk ujaran yang digunakan
berdasarkan jenisnya baik dari hasil perekaman
untuk mengespresikan maksim maksim. Bentuk-
maupun
bentuk ujaran yang dimaksud adalah bentuk
menginterpretasi bentuk kesantunan berbahasa
ujaran impositif, komisif, ekspresif, dan asektif
pada tindak tutur anak-anak di Kalibone
(wijana,
Kelurahan
Bonto
dimaksud ialah maksim kebijaksanaan, Maksim
Minasate’ne
Kabupaten
penerimaan, Maksim, kemurahan/ (...truncated)