“MENJADI INDONESIA” DI TAHUN 1950-AN: SAUTI, TARI SERAMPANG XII, DAN KEBANGKITAN MELAYU DI SUMATRA UTARA
“MENJADI INDONESIA” DI TAHUN 1950-AN:
SAUTI, TARI SERAMPANG XII, DAN KEBANGKITAN
MELAYU DI SUMATRA UTARA1
“BECOMING INDONESIA” IN 1950s:
SAUTI, SERAMPANG XII DANCE,
AND MALAY’S AWAKENING IN NORTH SUMATRA
Nasrul Hamdani
Balai Pelestarian Nilai Budaya Aceh
Jln. Twk. Hasyim Banta Muda No. 17 Mulia, Banda Aceh 23123, Indonesia
Diterima tanggal 27 Februari 2020
Disetujui tanggal 18 Mei 2020
ABSTRACT
In Indonesian history, 1950-1963 was labeled the most dynamic period. At the time, the
national integration that was represented by the term of Berdikari (acronym from berdiri di
atas kaki sendiri) as an “ideology” for forming national economic, nationalizing foreign
company, and subdueing local rebellions took shape. In this process, the role of cultural
activists even became more important, especially in their efforts to represent local culture
at the national level, while they were challenged by central and local conflict of interests at
the same time. By taking Sauti, one of these Malay cutural activists, as a case study, this
research aims to understand Sauti’s struggle in representing Malay culture, especially the
dance of Serampang XII as a product of “national culture”. By implementing historical
method, data were acquired mainly by documentary sources and in-depth interviews. This
research indicates that the role and contribution of Sauti were decisive in promulgating
Serampang XII. Nevertheless, he faced some challenges from Malay people and the Malay
Sultanate which claimed itself as the owner of Malay great tradition.
Keywords: Malay, Sauti, Malay performing arts, and ‘becoming Indonesia’.
ABSTRAK
Dalam sejarah Indonesia, tahun 1950-1963 disebut sebagai periode paling dinamis. Pada
masa ini, integrasi nasional yang dilandasi asas Berdikari (akronim dari berdiri di atas kaki
sendiri) sebagai “ideologi” utama dalam pembentukan ekonomi nasional, menasionalisasi
perusahaan asing, dan menumpas pemberontakan daerah mulai terbentuk dengan jelas. Dalam
proses ini, peran penggiat kebudayaan daerah menjadi penting terutama dalam usaha-usaha
merepresentasikan daerah di tingkat nasional, sementara pada saat yang sama berhadapan
dengan konflik kepentingan antara pusat dengan daerah. Dengan mengambil Sauti, tokoh
penggiat kebudayaan Melayu, penelitian ini bertujuan memahami perjuangan Sauti dalam
1
Risalah ini pernah disampaikan dalam Seminar Nasional Hasil Penelitian Balai Pelestarian Sejarah
dan Nilai Tradisional (BPSNT) se-Indonesia, Bandung, 9-12 Juli 2012; belum pernah diterbitkan.
147
DOI: 10.33652/handep.v3i2.111
Handep Jurnal Sejarah dan Budaya
148
Vol. 3, No. 2, Juni 2020, hlm. 147-172
merepresentasikan kebudayaan Melayu sebagai produk “Kebudayaan Nasional”. Dengan
pendekatan sejarah, sebagian besar data diperoleh melalui sumber-sumber dokumentasi dan
wawancara mendalam. Penelitian ini ingin menunjukkan peran dan kontribusi Sauti yang
menentukan dalam penyebarluasan Serampang XII. Namun dalam upaya itu, ia menghadapi
tantangan dari sesama orang Melayu dan kesultanan Melayu yang menganggap dirinya
sebagai pemilik kebudayaan besar Melayu.
Kata kunci: Melayu, Sauti, seni pertunjukan Melayu, dan ‘menjadi Indonesia’.
A. PENDAHULUAN
Integrasi nasional, diiringi penguatan
semangat untuk mandiri dengan jargon
Berdikari (berdiri di atas kaki sendiri),
menjadi ciri penting kebijakan
Indonesia selama periode 1945-1949.
Jargon penuh semangat ini kelak
mendorong kesadaran baru dan
mendasari kebijakan nasional
sepanjang 1950-1965, mulai dari
program
Ekonomi
Benteng,
nasionalisasi perusahaan Belanda yang
oleh Sutter dalam Kerkhof 2005:181
disebut Indonesianisasi, operasi
penumpasan pemberontakan daerah,
inisiasi New Emerging Forces bagi
dunia, serta gagasan pembentukan
Kebudajaan Nasional. Rangkaian
kebijakan nasional itu terhubung dan
kelak menjadi kata kunci untuk
merekonstruksi rentetan peristiwa pada
periode paling dinamis dalam sejarah
Indonesia (Vickers 2008:67-68).
Satu peristiwa penting dan
berdampak luas bagi kegiatan
kebudayaan hingga kini ialah wacana
pembentukan dan aktualisasi wacana
Kebudajaan Nasional. Wacana yang
diinisiasi sastrawan lintas ideologi
yang kelak dikenal sebagai Angkatan
‘45 ini melalui “Surat Kepercayaan
Gelanggang” (SKG) menjadi landasan
sejarah, politik, sekaligus ideologis
dalam proses perumusan Kebudayaan
Nasional (Lindsay dan Liem 2011).
Pandangan teoretik dan empirik
mengenai wacana pembentukan dan
aktualisasi Kebudayaan Nasional ini
cenderung direpresentasikan pada
dinamika di Jakarta serta “pertarungan”
antara Lembaga Kebudajaan Rakjat
(Lekra) yang berpaham realismesosialis dan condong pada Partai
Komunis Indonesia (PKI) dengan
sastrawan dan seniman di luar Lekra
yang menandatangani risalah Manifes
Kebudajaan (Moeljanto 1995;
Supartono 2000). Oleh penggiat Lekra,
nama Manifes Kebudajaan ini disingkat
secara agitatif sebagai Manikebu
atau manikebo yang merujuk pada
“air mani kerbau” .
Pertarungan Lekra dengan
Manikebu ini entah mengapa telanjur
jadi representasi utama dalam narasi
sejarah kebudayaan dalam periode
1950-1965. Padahal “pertarungan” itu
baru benar-benar terjadi pada 1963,
tidak lama setelah risalah Manifes
Kebudayaan dimuat dalam Berita
Republik dan Sastra pada Oktober 1963
(Moeljanto 1995) atau sekira tiga belas
tahun setelah pernyataan SKG.
Pemuatan empat poin Manifes penggiat
DOI: 10.33652/handep.v3i2.111
“Menjadi Indonesia” di Tahun 1950-an”: Sauti (Nasrul Hamdani)
kebudayaan non-Lekra itu langsung
membelah seniman dan sastrawan atau
siapapun penggiat kebudayaan masa itu
secara vis-à-vis.
Penting untuk diketahui, bahwa
para penandatangan SKG yang
dipandang monumental oleh kalimat
“Kami adalah ahli waris yang sah dari
kebudayaan dunia dan kebudayaan
ini akan kami teruskan dengan cara
kami sendiri” adalah Asrul Sani (kelak
mendirikan Lembaga Seniman
Budayawan Muslim Indonesia
atau Lesbumi pada 1962), Sitor
Situmorang (kelak mendirikan
Lembaga Kebudajaan Nasional/LKN),
Rivai Apin, Basuki Resobowo, dan
Pramoedya Ananta Toer. Tiga orang
terakhir ini kemudian menjadi tokohtokoh Lekra yang berpengaruh besar
(Lindsay 2011a:6,12-14). Namun
setelah Oktober 1963, Asrul Sani dan
Sitor Situmorang bersimpang jalan
dengan Rivai Apin, Basuki Resobowo,
dan Pramoedya Ananta Toer.
Perhatian pada pertarungan LekraManifes Kebudayaan serta polarisasi
akibat pertarungan itu membuat
peristiwa kebudayaan lain terutama
perkembangan budaya pop yang
berlangsung antara 1950-1963 luput
dari perhatian. Satu alasan mengapa
perkembangan kebudayaan masa itu
berpusar pada satu poros ialah karena
tokoh-tokoh dua kelompok penggiat
kebudayaan itu menaruh perhatian dan
berkonsentrasi pada dua bidang yang
sama, yaitu sastra dan seni rupa. Dua
bidang ini (lebih) dipandang sebagai
arena budaya tinggi (Lindsay 2011a:6).
149
Hal ini menjelaskan mengapa seranganserangan Lekra yang disokong
penguasa tertuju para sastrawan,
seniman dan/atau para penulis dari
kelompok Manifes Kebudayaan seperti
H.B. Jassin, Hamka, Taufik Ismail,
Sutan Takdir Alisjahbana, dan Id (...truncated)