Analisis Kinerja Sistem Internet Of Things (iot) Terhadap Pertumbuhan Tanaman Selada (lactuca Sativa L.) Dalam Sistem Akuaponik
ISSN : 2355-9365
e-Proceeding of Engineering : Vol.8, No.5 Oktober 2021 | Page 9932
Analisis Kinerja Sistem Internet of Things (IoT) terhadap Pertumbuhan Tanaman
Selada (Lactuca sativa L.) dalam Sistem Akuaponik
Alvin Syahfril Nurfaiz1, Aji Gautama Putrada2, Rizka Reza Pahlevi3
1
1,2,3
Fakultas Informatika, Universitas Telkom, Bandung
, ,
3
Abstrak
Akuaponik merupakan salah satu budidaya pada bidang pertanian dengan menggabungkan budidaya ikan
dan budidaya tanaman sayuran. Namun pada akuaponik sistem konvensional, pengetesan suhu kolam,
suhu udara dan kelembapan masih belum efektif sehingga dapat menyebabkan tipburn dan bolting pada
tanaman selada. Adanya teknologi seperti internet of things (IoT) dapat membuat sistem konvensional
menjadi sistem automasi. Sebelum teknologi tersebut diterapkan diperlukan adanya analisis terhadap
kinerja dari teknologi tersebut. Tujuan penelitian ini yaitu untuk menganalisis kinerja sistem IoT pada
akuaponik terhadap pertumbuhan tanaman selada dengan cara membandingkan beberapa parameter
menggunakan dua instalasi akuaponik yaitu menggunakan IoT dan konvensional. Parameter yang diteliti
yaitu tinggi, lebar daun, kenaikan berat dan lebar tanaman selada. Hasil pengujian menunjukkan selada
pada sistem akuaponik konvensional mengalami gejala etiolasi lebih tinggi daripada tanaman selada
akuaponik menggunakan IoT. Tinggi tanaman selada akuaponik konvensional lebih tinggi dari tanaman
selada akuaponik menggunakan IoT dengan selisih tinggi 0,8 – 2,8 cm. Lebar tanaman selada akuaponik
konvensional lebih lebar dari tanaman selada akuaponik menggunakan IoT dengan selisih lebar 3,5 cm.
Lebar daun tanaman selada akuaponik konvensional lebih kecil dari selada akuaponik menggunakan IoT
dengan selisih 0,6 cm. Kenaikan berat tanaman selada akuaponik menggunakan IoT sebesar satu gram
sedangkan tanaman selada akuaponik konvensional tidak mengalami kenaikan berat.
Kata kunci : Internet of Things (IoT), Akuaponik, Selada (Lactuca sativa L.)
Abstract
Aquaponics is one of the cultivation in agriculture by combining fish cultivation and vegetable crop
cultivation. However, in conventional aquaponics systems, testing pond temperature, air temperature and
humidity is still not effective so that it can cause tipburn and bolting in lettuce plants. The existence of
technology such as the internet of things (IoT) can make conventional systems into automation systems.
Before the technology is applied, it is necessary to analyze the performance of the technology. The purpose
of this study is to analyze the performance of the IoT system in aquaponics on lettuce growth by comparing
several parameters using two aquaponics installations, namely using IoT and conventional. The parameters
studied were height, leaf width, weight gain and lettuce plant width. The test results showed that lettuce in
conventional aquaponic systems experienced higher etiolation symptoms than lettuce in aquaponics using
IoT. The height of conventional aquaponic lettuce is higher than that of aquaponic lettuce using IoT with a
height difference of 0.8 – 2.8 cm. The width of conventional aquaponic lettuce plants is wider than that of
aquaponic lettuce plants using IoT with a width difference of 3.5 cm. The leaf width of conventional
aquaponic lettuce is smaller than that of aquaponic lettuce using IoT with a difference of 0.6 cm. The weight
gain of aquaponic lettuce using IoT was one gram while conventional aquaponic lettuce did not increase in
weight.
Keywords: Internet of Things (IoT), Aquaponics, Lettuce (Lactuca sativa L.)
1.
Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
Akuaponik merupakan gabungan budidaya ikan dan tanaman dalam satu instalasi dengan memanfaatkan
kotoran ikan sebagai sumber nutrisi untuk tanaman melalui proses nitrifikasi [1]. Dengan akuaponik, tanaman
dan ikan dapat dipanen secara bersamaan sehingga memiliki keuntungan yang lebih banyak dibandingkan
dengan budidaya aquakultur dan hidroponik secara terpisah. Akuaponik memiliki beberapa model jenis
instalasi yang umum digunakan seperti nutrient film technique (NFT), deep flow technique (DFT), deep water
culture (DWC) dan media bed [2,3]. Dari beragam jenis model tersebut, NFT merupakan model instalasi
akuaponik yang sering digunakan pada skala industri dimana prinsip kerja dari sistem NFT tersebut yaitu
mengalirkan air secara tipis pada gully atau pipa PVC sehingga sebaran nutrisi dapat seragam dan tanaman
1
ISSN : 2355-9365
e-Proceeding of Engineering : Vol.8, No.5 Oktober 2021 | Page 9933
dapat tumbuh dengan lebih cepat [4]. Tanaman yang dapat diaplikasikan ke dalam instalasi NFT salah satunya
yaitu tanaman selada (Lactuca sativa L.) karena memiliki masa usia panen yang singkat [3].
Namun pada akuaponik konvensional, pengetesan suhu air, suhu udara dan kelembapan masih belum
efektif sehingga dapat menyebabkan tipburn dan bolting pada tanaman selada [5,6]. Adanya teknologi dapat
menjadikan sistem konvensional menjadi sistem automasi yang dapat meningkatkan produktivitas hasil tani
karena lebih efisien dan efektif [7]. Salah satu inovasi dari teknologi tersebut yaitu internet of things (IoT).
IoT merupakan gabungan dari beberapa objek-objek cerdas seperti mikrokontroller, sensor, aktuator yang
dapat berkomunikasi satu sama lain dengan tujuan terciptanya sistem automasi yang terhubung ke internet
[8,9]. IoT juga telah banyak diterapkan di berbagai bidang pertanian khususnya pada sistem akuaponik dimana
penerapan IoT memiliki tujuan tertentu seperti pengendalian hama, sistem kontrol dan monitoring ataupun
yang lainnya.
Salah satu penerapan IoT pada sistem akuaponik pernah dilakukan oleh Lean Karlo S. Tolentino dengan
membandingkan akuaponik menggunakan IoT dan akuaponik konvensional yang memanfaatkan beberapa
sensor dan aktuator [10]. Pada penelitian tersebut menggunakan satu variabel yaitu luas daun dan beberapa
tanaman yang diamati sehingga belum mengetahui kondisi tanaman selada yang lebih lengkap seperti salah
satunya gejala etiolasi yang menyebabkan harga jual menjadi rendah. Dengan latar belakang diatas, penulis
akan mengkaji lebih lanjut terkait kinerja sistem IoT dengan konsep yang sama tetapi dengan jumlah tanaman
dan variabel yang diteliti lebih banyak seperti tinggi, lebar, lebar daun dan kenaikan berat sehingga dapat
mengetahui kondisi tanaman selada yang lebih lengkap.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah pada penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana cara mengimplementasikan sistem IoT pada sistem akuaponik dengan tanaman selada
2. Bagaimana analisis kinerja sistem IoT terhadap pertumbuhan tanaman selada dalam sistem akuaponik
1.3 Batasan Masalah
Adapun batasan masalah pada penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Penelitian ini menggunakan sistem akuaponik nutrient film technique (NFT).
2. Selada yang digunakan merupakan varietas jenis grand rapids.
3. Sistem akuaponik NFT memiliki 12 lubang tanam.
4. Penelitian ini membandingkan akuaponik menggunakan IoT dan akuaponik konvensional meliputi
tinggi, leb (...truncated)