Segmentasi Konsumen Pupuk Non-Subsidi Di Provinsi Nusa Tenggara Timur

BALANCE: Economic, Business, Management and Accounting Journal, Jul 2021

The main goal of the research is to assist market players in entering the fertilizer market in East Nusa Tenggara by identifying and forming a non-subsidized fertilizer consumer segmentation. It is expected to provide market insight for fertilizer producers and determine targets when entering the non-subsidized fertilizer market. This research is a quantitative type described descriptively. The data collection technique was an interview equipped with a questionnaire with a Likert scale of the score. Respondents were food crop and horticultural farmers who use or have used non-subsidized fertilizers. The data analysis technique was the K-Means cluster analysis method. Research succeeded in forming two segments of farmers using non-subsidized fertilizers, passive farmer segment and innovative farmer segment based on psychographics and consumer behavior segmentation variables. Geographic and demographic variable descriptors described the segment profile. Keywords                   : Fertilizer; Marketing; Non-subsidized; SegmentCorrespondence to       : [email protected] Tujuan penelitian ini untuk membantu pelaku pasar dalam memasuki pasar pupuk di Nusa Tenggara Timur dengan mengidentifikasi dan membentuk segmentasi konsumen pupuk non-subsidi. Dengan demikian diharapkan mampu memberikan pengetahuan pasar bagi produsen pupuk dalam menentukan target pasar. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang dideskripsikan secara deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara yang dilengkapi dengan kuesioner dengan skor menggunakan skala likert. Responden penelitian ini adalah petani tanaman pangan dan hortikultura yang menggunakan atau pernah menggunakan pupuk non-subsidi. Analisis data menggunakan metode Cluster Analysis K-Means. Penelitian ini berhasil membentuk dua segmen petani pemakai pupuk non-subsidi, yaitu segmen petani pasif dan segmen petani inovatif berdasarkan variabel segmentasi psikografis dan perilaku konsumen. Profil segmen dijelaskan oleh deskriptor variabel geografis dan demografis.Kata Kunci                 : Non-subsidi; Pemasaran; Pupuk; Segmen

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

https://journal.um-surabaya.ac.id/balance/article/download/7301/pdf

Segmentasi Konsumen Pupuk Non-Subsidi Di Provinsi Nusa Tenggara Timur

BALANCE : Economic, Business, Management, and Accounting Journal Vol. XVIII No. 2 | Bulan Juli Tahun 2021 P-ISSN 1693-9352 | E-ISSN 2614-820x SEGMENTASI KONSUMEN PUPUK NON-SUBSIDI DI PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR Irwan Hermantria Universitas Airlangga ABSTRACT The main goal of the research is to assist market players in entering the fertilizer market in East Nusa Tenggara by identifying and forming a non-subsidized fertilizer consumer segmentation. It is expected to provide market insight for fertilizer producers and determine targets when entering the non-subsidized fertilizer market. This research is a quantitative type described descriptively. The data collection technique was an interview equipped with a questionnaire with a Likert scale of the score. Respondents were food crop and horticultural farmers who use or have used non-subsidized fertilizers. The data analysis technique was the K-Means cluster analysis method. Research succeeded in forming two segments of farmers using non-subsidized fertilizers, passive farmer segment and innovative farmer segment based on psychographics and consumer behavior segmentation variables. Geographic and demographic variable descriptors described the segment profile. Keywords Correspondence to : Fertilizer; Marketing; Non-subsidized; Segment : ABSTRAK Tujuan penelitian ini untuk membantu pelaku pasar dalam memasuki pasar pupuk di Nusa Tenggara Timur dengan mengidentifikasi dan membentuk segmentasi konsumen pupuk non-subsidi. Dengan demikian diharapkan mampu memberikan pengetahuan pasar bagi produsen pupuk dalam menentukan target pasar. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang dideskripsikan secara deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara yang dilengkapi dengan kuesioner dengan skor menggunakan skala likert. Responden penelitian ini adalah petani tanaman pangan dan hortikultura yang menggunakan atau pernah menggunakan pupuk non-subsidi. Analisis data menggunakan metode Cluster Analysis K-Means. Penelitian ini berhasil membentuk dua segmen petani pemakai pupuk non-subsidi, yaitu segmen petani pasif dan segmen petani inovatif berdasarkan variabel segmentasi psikografis dan perilaku konsumen. Profil segmen dijelaskan oleh deskriptor variabel geografis dan demografis. Kata Kunci : Non-subsidi; Pemasaran; Pupuk; Segmen Riwayat Artikel: Received : 24 Februari 2021 Revised : 17 Mei 2021 Accepted : 4 Juni 2021 8 BALANCE : Economic, Business, Management, and Accounting Journal Vol. XVIII No. 2 | Bulan Juli Tahun 2021 P-ISSN 1693-9352 | E-ISSN 2614-820x memberikan devisa kepada negara, juga terdapat beberapa komoditas tanaman perkebunan lainnya seperti kakao, kopi, tebu, tembakau dan karet. Sementara untuk komoditas tanaman pangan seperti jagung dan padi. Irawan & Rochayati (2017), memproyeksikan kebutuhan pupuk anorganik saja pada tahun 2020 adalah 16 Juta ton, dimana perhitungan tersebut dilakukan dengan pendekatan simulasi sistem dinamik. Pasar pupuk merupakan market yang sangat besar, dimana berdasarkan Survei Pertanian Antar Sensus (SUTAS) BPS Tahun 2018, terdapat sebanyak 22,37 juta rumah tangga pertanian sebagai pengguna potensial pupuk (Tim Penyusun Badan Pusat Statistik, 2018). Ragimun et al. (2020), menjelaskan bahwa dengan seringnya terjadi kelangkaan pupuk yang hampir berulang setiap tahun, telah menyebabkan pergeseran pasar pupuk dari subsidi ke pasar non-subsidi. Petani tidak punya pilihan, karena tanaman mereka memerlukan pupuk untuk jaminan hasil yang lebih baik. Di sisi lain fenomena ini telah menjadi peluang baru bagi para produsen pupuk komersial untuk mampu memenuhi gap antara permintaan dan ketersediaan. Namun, dengan adanya program pupuk bersubsidi dari pemerintah, dimana dalam praktiknya mengarah pada kebijakan harga yang memiliki tujuan agar petani dapat mengakses pupuk dengan harga murah, telah menciptakan dampak terhadap pasar pupuk yang bersifat dualistik antara pasar pupuk bersubsidi dan pupuk non-subsidi. Menyikapi fenomena dimana terdapat bulan-bulan atau musim tanam pada wilayah tertentu yang mengalami kelangkaan pupuk seperti yang diutarakan oleh Ragimun et al. (2020), maka diperlukan kajian terhadap sektor pupuk terutama di wilayah Indonesia bagian timur untuk mendukung para produsen pupuk dalam hal memahami konsumen, sehingga mampu mengurangi dampak destruktif akibat dualistik pasar pupuk yang ada. Para produsen pupuk komersial perlu memahami siapa dan dimana pangsa pasar mereka, faktor-faktor apa saja yang membuat konsumen bersedia menggunakan pupuk komersial, serta pada segmen mana mereka harus bekerja agar terbebas dari dampak PENDAHULUAN Melansir pidato Presiden Republik Indonesia Bapak Joko Widodo di Istana Negara dalam sambutannya pada Rapat Kerja Nasional Pembangunan Pertanian Tahun 2021, Senin, 11 Januari 2021, dimana beliau mempertanyakan return bagi negara dari pengucuran anggaran untuk pupuk bersubsidi, yang setiap tahunnya kurang lebih sekitar 30 triliun rupiah. Beliau menegaskan perlunya evaluasi menyeluruh terkait output yang dihasilkan. Menurut Presiden Republik Indonesia Bapak Joko Widodo, mesti ada yang salah, karena subsidi pupuk yang disediakan oleh pemerintah tidak berbanding lurus dengan peningkatan produktivitas pertanian (Hidayat, 2021). Indonesia dikenal sebagai negara agraris dengan basis pertanian yang memiliki potensi sangat besar, telah menjadikan sektor pertanian menempatkan pada posisi dengan peranan yang sangat krusial, terutama dalam hal penyediaan lapangan pekerjaan informal sebagai sumber pendapatan bagi penduduknya. Selain itu pertanian di Indonesia juga menjadi elemen penting dalam mendukung sektor industri lainnya dari hulu ke hilir. Badan Pusat Statistik (BPS), pada tahun 2019 mencatat bahwa, Indonesia memiliki luas lahan panen (harvested area) seluas 44,178 juta hektar untuk tanaman utama yang dikategorikan ke dalam kelompok (1) tanaman pangan, (2) hortikultura, dan (3) tanaman perkebunan (Tim Penyusun Badan Pusat Statistik Indonesia, 2019). Dalam rangka pencapaian hasil yang optimal pemerintah negara Republik Indonesia berperan penting dalam menunjang sektor pertanian, salah satunya adalah dengan program pupuk bersubsidi. Pupuk merupakan salah satu faktor produksi yang sangat penting, dimana penggunaan pupuk secara tepat akan menentukan besaran maupun kualitas produk pertanian yang dihasilkan. Menurut Irawan & Rochayati (2017), sektor perkebunan kelapa sawit telah menjadi pendorong utama dalam meningkatknya kebutuhan terhadap pupuk, baik organik maupun anorganik di Indonesia. Sejalan dengan perkebunan kelapa sawit yang merupakan sektor pertanian yang paling besar 9 BALANCE : Economic, Business, Management, and Accounting Journal Vol. XVIII No. 2 | Bulan Juli Tahun 2021 P-ISSN 1693-9352 | E-ISSN 2614-820x dualistik pasar pupuk di Indonesia yang memberikan kesan seolah-olah pupuk komersial sangat mahal dibandingkan dengan pupuk bersubsidi. Fokus penelitian ini adalah di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang mana pasokan (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: https://journal.um-surabaya.ac.id/balance/article/download/7301/pdf
Article home page: https://journal.um-surabaya.ac.id/balance/article/view/7301/pdf

Irwan Hermantria. Segmentasi Konsumen Pupuk Non-Subsidi Di Provinsi Nusa Tenggara Timur, BALANCE: Economic, Business, Management and Accounting Journal, 2021, pp. 8 - 21,