Segmentasi Konsumen Pupuk Non-Subsidi Di Provinsi Nusa Tenggara Timur
BALANCE : Economic, Business, Management, and Accounting Journal
Vol. XVIII No. 2 | Bulan Juli Tahun 2021
P-ISSN 1693-9352 | E-ISSN 2614-820x
SEGMENTASI KONSUMEN PUPUK NON-SUBSIDI
DI PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR
Irwan Hermantria
Universitas Airlangga
ABSTRACT
The main goal of the research is to assist market players in entering the fertilizer market in
East Nusa Tenggara by identifying and forming a non-subsidized fertilizer consumer segmentation.
It is expected to provide market insight for fertilizer producers and determine targets when entering
the non-subsidized fertilizer market. This research is a quantitative type described descriptively. The
data collection technique was an interview equipped with a questionnaire with a Likert scale of the
score. Respondents were food crop and horticultural farmers who use or have used non-subsidized
fertilizers. The data analysis technique was the K-Means cluster analysis method. Research
succeeded in forming two segments of farmers using non-subsidized fertilizers, passive farmer
segment and innovative farmer segment based on psychographics and consumer behavior
segmentation variables. Geographic and demographic variable descriptors described the segment
profile.
Keywords
Correspondence to
: Fertilizer; Marketing; Non-subsidized; Segment
:
ABSTRAK
Tujuan penelitian ini untuk membantu pelaku pasar dalam memasuki pasar pupuk di Nusa
Tenggara Timur dengan mengidentifikasi dan membentuk segmentasi konsumen pupuk non-subsidi.
Dengan demikian diharapkan mampu memberikan pengetahuan pasar bagi produsen pupuk dalam
menentukan target pasar. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang dideskripsikan secara
deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara yang dilengkapi dengan
kuesioner dengan skor menggunakan skala likert. Responden penelitian ini adalah petani tanaman
pangan dan hortikultura yang menggunakan atau pernah menggunakan pupuk non-subsidi. Analisis
data menggunakan metode Cluster Analysis K-Means. Penelitian ini berhasil membentuk dua segmen
petani pemakai pupuk non-subsidi, yaitu segmen petani pasif dan segmen petani inovatif berdasarkan
variabel segmentasi psikografis dan perilaku konsumen. Profil segmen dijelaskan oleh deskriptor
variabel geografis dan demografis.
Kata Kunci
: Non-subsidi; Pemasaran; Pupuk; Segmen
Riwayat Artikel:
Received : 24 Februari 2021
Revised : 17 Mei 2021
Accepted : 4 Juni 2021
8
BALANCE : Economic, Business, Management, and Accounting Journal
Vol. XVIII No. 2 | Bulan Juli Tahun 2021
P-ISSN 1693-9352 | E-ISSN 2614-820x
memberikan devisa kepada negara, juga
terdapat beberapa komoditas tanaman
perkebunan lainnya seperti kakao, kopi, tebu,
tembakau dan karet. Sementara untuk
komoditas tanaman pangan seperti jagung dan
padi. Irawan & Rochayati (2017),
memproyeksikan kebutuhan pupuk anorganik
saja pada tahun 2020 adalah 16 Juta ton,
dimana perhitungan tersebut dilakukan dengan
pendekatan simulasi sistem dinamik.
Pasar pupuk merupakan market yang
sangat besar, dimana berdasarkan Survei
Pertanian Antar Sensus (SUTAS) BPS Tahun
2018, terdapat sebanyak 22,37 juta rumah
tangga pertanian sebagai pengguna potensial
pupuk (Tim Penyusun Badan Pusat Statistik,
2018).
Ragimun et al. (2020), menjelaskan
bahwa dengan seringnya terjadi kelangkaan
pupuk yang hampir berulang setiap tahun,
telah menyebabkan pergeseran pasar pupuk
dari subsidi ke pasar non-subsidi. Petani tidak
punya pilihan, karena tanaman mereka
memerlukan pupuk untuk jaminan hasil yang
lebih baik. Di sisi lain fenomena ini telah
menjadi peluang baru bagi para produsen
pupuk komersial untuk mampu memenuhi gap
antara permintaan dan ketersediaan. Namun,
dengan adanya program pupuk bersubsidi dari
pemerintah, dimana dalam praktiknya
mengarah pada kebijakan harga yang memiliki
tujuan agar petani dapat mengakses pupuk
dengan harga murah, telah menciptakan
dampak terhadap pasar pupuk yang bersifat
dualistik antara pasar pupuk bersubsidi dan
pupuk non-subsidi.
Menyikapi fenomena dimana terdapat
bulan-bulan atau musim tanam pada wilayah
tertentu yang mengalami kelangkaan pupuk
seperti yang diutarakan oleh Ragimun et al.
(2020), maka diperlukan kajian terhadap
sektor pupuk terutama di wilayah Indonesia
bagian timur untuk mendukung para produsen
pupuk dalam hal memahami konsumen,
sehingga mampu mengurangi dampak
destruktif akibat dualistik pasar pupuk yang
ada. Para produsen pupuk komersial perlu
memahami siapa dan dimana pangsa pasar
mereka, faktor-faktor apa saja yang membuat
konsumen bersedia menggunakan pupuk
komersial, serta pada segmen mana mereka
harus bekerja agar terbebas dari dampak
PENDAHULUAN
Melansir pidato Presiden Republik
Indonesia Bapak Joko Widodo di Istana
Negara dalam sambutannya pada Rapat Kerja
Nasional Pembangunan Pertanian Tahun
2021, Senin, 11 Januari 2021, dimana beliau
mempertanyakan return bagi negara dari
pengucuran anggaran untuk pupuk bersubsidi,
yang setiap tahunnya kurang lebih sekitar 30
triliun rupiah. Beliau menegaskan perlunya
evaluasi menyeluruh terkait output yang
dihasilkan. Menurut Presiden Republik
Indonesia Bapak Joko Widodo, mesti ada yang
salah, karena subsidi pupuk yang disediakan
oleh pemerintah tidak berbanding lurus
dengan peningkatan produktivitas pertanian
(Hidayat, 2021).
Indonesia dikenal sebagai negara
agraris dengan basis pertanian yang memiliki
potensi sangat besar, telah menjadikan sektor
pertanian menempatkan pada posisi dengan
peranan yang sangat krusial, terutama dalam
hal penyediaan lapangan pekerjaan informal
sebagai
sumber
pendapatan
bagi
penduduknya. Selain itu pertanian di
Indonesia juga menjadi elemen penting dalam
mendukung sektor industri lainnya dari hulu
ke hilir. Badan Pusat Statistik (BPS), pada
tahun 2019 mencatat bahwa, Indonesia
memiliki luas lahan panen (harvested area)
seluas 44,178 juta hektar untuk tanaman utama
yang dikategorikan ke dalam kelompok (1)
tanaman pangan, (2) hortikultura, dan (3)
tanaman perkebunan (Tim Penyusun Badan
Pusat Statistik Indonesia, 2019).
Dalam rangka pencapaian hasil yang
optimal
pemerintah
negara
Republik
Indonesia berperan penting dalam menunjang
sektor pertanian, salah satunya adalah dengan
program pupuk bersubsidi. Pupuk merupakan
salah satu faktor produksi yang sangat penting,
dimana penggunaan pupuk secara tepat akan
menentukan besaran maupun kualitas produk
pertanian yang dihasilkan.
Menurut Irawan & Rochayati (2017),
sektor perkebunan kelapa sawit telah menjadi
pendorong utama dalam meningkatknya
kebutuhan terhadap pupuk, baik organik
maupun anorganik di Indonesia. Sejalan
dengan perkebunan kelapa sawit yang
merupakan sektor pertanian yang paling besar
9
BALANCE : Economic, Business, Management, and Accounting Journal
Vol. XVIII No. 2 | Bulan Juli Tahun 2021
P-ISSN 1693-9352 | E-ISSN 2614-820x
dualistik pasar pupuk di Indonesia yang
memberikan kesan seolah-olah pupuk
komersial sangat mahal dibandingkan dengan
pupuk bersubsidi.
Fokus penelitian ini adalah di Provinsi
Nusa Tenggara Timur (NTT) yang mana
pasokan (...truncated)