MANFAAT KAGHATI ROO KOLOPE BAGI MASYARAKAT MUNA MASA KINI

ETNOREFLIKA: Jurnal Sosial dan Budaya, Feb 2017

The purpose of this article is to reveal the benefits of the present Kaghati roo kolope to the people of Muna. This article is based on the theory stated by Clifford Geertz (1973) on the native point of view with the ethnography method. The results of the study: a person is appreciated for his ability to assemble and blow the Kaghati roo kolope away for seven days and seven nights. In the past, Kaghati roo kolope became a tool in selecting leaders. Today, Kaghati roo kolope has changed its function into entertainment only. The conclusion of this article related to Geertz theory, Kaghati roo kolope players and perpetrators of Islamic ceremonies are considered not against their Islamization. In addition, The Government of Muna Regency should be able to take various business opportunities regarding Kaghati's popularity to the international community.

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

http://journal.fib.uho.ac.id/index.php/etnoreflika/article/download/387/307

MANFAAT KAGHATI ROO KOLOPE BAGI MASYARAKAT MUNA MASA KINI

ETNOREFLIKA VOLUME 6 No. 1. Februari 2017 Halaman 44 - 48 MANFAAT KAGHATI ROO KOLOPE BAGI MASYARAKAT MUNA MASA KINI1 Wa Ode Sifatu2 ABSTRAK Tujuan artikel ini untuk mengungkapkan manfaat Kaghati roo kolope kekinian pada masyarakat Muna. Teori yang melandasinya adalah pemikiran Clifford Geertz (1973) tentang from the native point of view dengan metode etnografi. Hasil penelitian: seseorang dihargai karena kemampuannya merakit dan memengudarakan Kaghati roo kolope selama tujuh hari tujuh malam. Di masa lalu, Kaghati roo kolope menjadi alat dalam menyeleksi pemimpin. Dewasa ini, Kaghati roo kolope telah berubah hanya menjadi hiburan. Kesimpulan, Geertz, pemain Kaghati roo kolope dan pelaku upacara beragama Islam, namun dianggap tidak bertentangan dengan ke-Islaman mereka. Seharusnya Pemerintah Daerah Kabupaten Muna dapat menangkap berbagai peluang bisnis berkenaan dengan popularitas Kaghati pada masyarakat internasional. Kata kunci: kaghati roo kolope, masyarakat Muna, kekinian ABSTRAK The purpose of this article is to reveal the benefits of the present Kaghati roo kolope to the people of Muna. This article is based on the theory stated by Clifford Geertz (1973) on the native point of view with the ethnography method. The results of the study: a person is appreciated for his ability to assemble and blow the Kaghati roo kolope away for seven days and seven nights. In the past, Kaghati roo kolope became a tool in selecting leaders. Today, Kaghati roo kolope has changed its function into entertainment only. The conclusion of this article related to Geertz theory, Kaghati roo kolope players and perpetrators of Islamic ceremonies are considered not against their Islamization. In addition, The Government of Muna Regency should be able to take various business opportunities regarding Kaghati's popularity to the international community. Keywords: kaghati roo kolope, the people of Muna, the present A. PENDAHULUAN Wilayah Indonesia yang terdiri atas + 17.000 buah pulau, 1.922.570 km persegi luas daratan, 3.257.483 km persegi luas laut, dengan jumlah penduduk sekitar 250 juta jiwa, berimplikasi pada masyarakatnya majemuk dari segi suku bangsa, bahasa daerah, agama, golongan, kepercayaan, dan berbagai jenis permainan tradisional. Per- mainan tradisional kaghati roo kolope (layang-layang) di Muna, misalnya berbeda dengan layang-layang di wilayah lain di Indonesia, bahkan di dunia. Dalam konteks ilmu pengetahuan, kaghati roo kolope telah dikaji dari berbagai aspek, baik dari dalam negeri Indonesia, maupun dari luar Indonesia. Mereka yang mengkaji Kaghati roo kolope dari dalam negeri di antaranya: La Kandi (2013: 124-135) dalam tesisnya telah 1 Hasil penelitian Dosen pada Jurusan Antropologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Halu Oleo, Jl. H.E.A. Mokodompit Kampus Hijau Bumi Tridharma Kendari, Pos-el: 2 44 Etnoreflika, Vol. 6, No. 1, Februari 2017 mengkaji Kaghati dari segi bentuk, makna dan nilai, yang dibaca dengan Teori Semiotik. Wa Ode Husna (2016) juga telah mengkaji Mitos Asal-Usul Kaghati Roo Kolope (Layang-Layang) Pada Etnis Muna, La Ode Ali Basri, dkk. (2017: 33) dalam penelitian mereka telah mengkaji “The Values Of Multicultural Education In Munanese Traditional Culture”. Selain itu, berbagai sumber di luar Indonesia juga telah telah mengkaji kaghati , di antaranya: Elaine (2015: 2) yang memberikan sambutan dalam event “Kite Trade International Assocoation 27th Annual Trade Show and Convention, Orlando, Florida 10-12, January 2015, mempersembahkan himbauan kepada para peminat layang-layang dari seluruh dunia agar berkunjung ke event mereka di Orlando, Florida dalam rangka berhibur, berlibur, dan berbisnis. Fabre, Pierre, et al. (2003: 15-16) dalam artikel mereka yang berjudul, “Time Will Give More Answers’ Muna Cave Painting Is Hard to Date.” menjelaskan bahwa masalah penentuan berapa usia lukisan kaghati di atas batu di Liang Kobhori, Muna, Indonisia, dapat membuka cakrawala masyarakat tentang betapa terampilnya masyarakat masa lampau. Tempat gua tidak hanya tersembunyi di hutan di pulau Muna, tetapi juga betapa sulit medan untuk mencapainya. Fabre berharap kondisi ini dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat global sesuai dengan kepentingannya. Planet Kite Matrix (2002: tanpa halaman) menjelaskan pandangan yang berbeda sesuai dengan keahlian dan minat masing-masing mengenai pulau Muna. Semua bersepakat bahwa Kaghati (layang-layang dari Muna) sebagai “the early ancient cave-kiteman” a story about possible prehistoric cavepaintings showing a man flying a kite. Berkaitan dengan hal tersebut, beberapa tokoh yang mengulas tentang eksistensi kaghati di Muna, antara lain: a) Planet Kite Matrix ditulis oleh Ruhe Drachen Foundation-Journal; b) Mr. Tinton dari Kuala Lumpur Malaysia; c) Wolfgang Biecks dari Jerman; d) Robert Bednarik dari Convener; e) President and Editor, International Federation of Rock Art Organisations (IFRAO); f) Bart van Assen dari Belanda; g) Yusuf Susilo Hartono dari Jakarta Post; h) David Wagner dari The Drachen Foundation; i) Peter Lynn ahli ethnology and luinguistics; j) Ralph Stepp dari Bukit Kentucky, dan sebagainya. B. METODE PENELITIAN Penelitian ini adalah penelitian antropologi, yang dilandasi oleh pemikiran Clifford Geertz tentang from the native point of view, dengan metode etnografi. Teknik penjaringan data adalah wawancara mendalam dan pengamatan berpartisipasi. Informasi dijaring dari masyarakat Muna di Kabupaten Muna. Penentuan informan dilakukan secara purposive yaitu para pemain Kaghati dan mereka memiliki banyak pengetahuan dan pengalaman tentang Kaghati. Analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif sehingga menemukan manfaat kaghati roo kolope pada masyarakat Muna kekinian. C. HASIL DAN PEMBAHASAN Terdapat perbedaan manfaat dan bahan baku kaghati roo kolope dengan layanglayan lainnya di dunia. Selanjutnya, pembahasan dari segi bahan baku kaghati roo kolope diuraikan sebagai berikut: 1. Bahan Baku Kaghati Roo Kolope Dari segi bahan baku Kaghati, seluruhnya terbuat dari bahan alami, yaitu: (1) wulu (Bambu Buluh); (2) patu (betung); (3) towulambe (tebu hutan); (4) bhontu (kulit waru); (5) roo kolope (daun gadung; (6) nanasi (daun nenas hutan); (7) bhale (daun palma) atau ghue (rotan), roo kaopi atau roo sela atau kulit jagung. Bahan baku Kaghati roo kolope kekinian hanya dipahami oleh kalangan tua yang berusia 70 tahun ke atas karena tidak lagi disosialisasikan kepada generasinya. Terdapat sejumlah pantangan bagi perakit kaghati roo kolope, diantaranya: 45 Wa Ode Sifatu: Manfaat Kaghati Roo Kolope bagi Masyarakat Muna Masa Kini selama merakitnya tidak boleh makan, minum, berbohong, dilangkahi, bahan baku bertukar posisi, dan sebagainya. Sementara itu, hanya menjadi hiburan, maka pemain dan perakit kaghati roo kolope cukup melaksanakan sejumlah pantangan saja, seperti: tidak boleh berbohong, tidak boleh makan dan minum selama merakitnya. Pembuat dan pemain kaghati roo kolope harus memahami mekanisme pengelolaan, terampi (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: http://journal.fib.uho.ac.id/index.php/etnoreflika/article/download/387/307
Article home page: http://journal.fib.uho.ac.id/index.php/etnoreflika/article/view/387/307

Sifatu Wa Ode. MANFAAT KAGHATI ROO KOLOPE BAGI MASYARAKAT MUNA MASA KINI, ETNOREFLIKA: Jurnal Sosial dan Budaya, 2017, pp. 44 - 48,