MANFAAT KAGHATI ROO KOLOPE BAGI MASYARAKAT MUNA MASA KINI
ETNOREFLIKA
VOLUME 6
No. 1. Februari 2017
Halaman 44 - 48
MANFAAT KAGHATI ROO KOLOPE BAGI MASYARAKAT MUNA
MASA KINI1
Wa Ode Sifatu2
ABSTRAK
Tujuan artikel ini untuk mengungkapkan manfaat Kaghati roo kolope kekinian pada
masyarakat Muna. Teori yang melandasinya adalah pemikiran Clifford Geertz (1973) tentang
from the native point of view dengan metode etnografi. Hasil penelitian: seseorang dihargai karena
kemampuannya merakit dan memengudarakan Kaghati roo kolope selama tujuh hari tujuh malam.
Di masa lalu, Kaghati roo kolope menjadi alat dalam menyeleksi pemimpin. Dewasa ini, Kaghati
roo kolope telah berubah hanya menjadi hiburan. Kesimpulan, Geertz, pemain Kaghati roo kolope
dan pelaku upacara beragama Islam, namun dianggap tidak bertentangan dengan ke-Islaman
mereka. Seharusnya Pemerintah Daerah Kabupaten Muna dapat menangkap berbagai peluang
bisnis berkenaan dengan popularitas Kaghati pada masyarakat internasional.
Kata kunci: kaghati roo kolope, masyarakat Muna, kekinian
ABSTRAK
The purpose of this article is to reveal the benefits of the present Kaghati roo kolope to the
people of Muna. This article is based on the theory stated by Clifford Geertz (1973) on the native
point of view with the ethnography method. The results of the study: a person is appreciated for his
ability to assemble and blow the Kaghati roo kolope away for seven days and seven nights. In the
past, Kaghati roo kolope became a tool in selecting leaders. Today, Kaghati roo kolope has
changed its function into entertainment only. The conclusion of this article related to Geertz theory,
Kaghati roo kolope players and perpetrators of Islamic ceremonies are considered not against
their Islamization. In addition, The Government of Muna Regency should be able to take various
business opportunities regarding Kaghati's popularity to the international community.
Keywords: kaghati roo kolope, the people of Muna, the present
A. PENDAHULUAN
Wilayah Indonesia yang terdiri atas +
17.000 buah pulau, 1.922.570 km persegi
luas daratan, 3.257.483 km persegi luas
laut, dengan jumlah penduduk sekitar 250
juta jiwa, berimplikasi pada masyarakatnya
majemuk dari segi suku bangsa, bahasa
daerah, agama, golongan, kepercayaan, dan
berbagai jenis permainan tradisional. Per-
mainan tradisional kaghati roo kolope (layang-layang) di Muna, misalnya berbeda
dengan layang-layang di wilayah lain di Indonesia, bahkan di dunia. Dalam konteks
ilmu pengetahuan, kaghati roo kolope telah
dikaji dari berbagai aspek, baik dari dalam
negeri Indonesia, maupun dari luar Indonesia. Mereka yang mengkaji Kaghati roo
kolope dari dalam negeri di antaranya: La
Kandi (2013: 124-135) dalam tesisnya telah
1
Hasil penelitian
Dosen pada Jurusan Antropologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Halu Oleo, Jl. H.E.A. Mokodompit
Kampus Hijau Bumi Tridharma Kendari, Pos-el:
2
44
Etnoreflika, Vol. 6, No. 1, Februari 2017
mengkaji Kaghati dari segi bentuk, makna
dan nilai, yang dibaca dengan Teori Semiotik. Wa Ode Husna (2016) juga telah
mengkaji Mitos Asal-Usul Kaghati Roo Kolope (Layang-Layang) Pada Etnis Muna, La
Ode Ali Basri, dkk. (2017: 33) dalam penelitian mereka telah mengkaji “The Values
Of Multicultural Education In Munanese
Traditional Culture”.
Selain itu, berbagai sumber di luar
Indonesia juga telah telah mengkaji kaghati
, di antaranya: Elaine (2015: 2) yang memberikan sambutan dalam event “Kite Trade
International Assocoation 27th Annual
Trade Show and Convention, Orlando,
Florida 10-12, January 2015, mempersembahkan himbauan kepada para peminat
layang-layang dari seluruh dunia agar berkunjung ke event mereka di Orlando, Florida dalam rangka berhibur, berlibur, dan
berbisnis. Fabre, Pierre, et al. (2003: 15-16)
dalam artikel mereka yang berjudul, “Time
Will Give More Answers’ Muna Cave
Painting Is Hard to Date.” menjelaskan
bahwa masalah penentuan berapa usia
lukisan kaghati di atas batu di Liang Kobhori, Muna, Indonisia, dapat membuka cakrawala masyarakat tentang betapa terampilnya masyarakat masa lampau.
Tempat gua tidak hanya tersembunyi
di hutan di pulau Muna, tetapi juga betapa
sulit medan untuk mencapainya. Fabre berharap kondisi ini dapat menjadi inspirasi
bagi masyarakat global sesuai dengan
kepentingannya. Planet Kite Matrix (2002:
tanpa halaman) menjelaskan pandangan
yang berbeda sesuai dengan keahlian dan
minat masing-masing mengenai pulau
Muna. Semua bersepakat bahwa Kaghati
(layang-layang dari Muna) sebagai “the
early ancient cave-kiteman” a story about
possible prehistoric cavepaintings showing
a man flying a kite. Berkaitan dengan hal
tersebut, beberapa tokoh yang mengulas
tentang eksistensi kaghati di Muna, antara
lain: a) Planet Kite Matrix ditulis oleh Ruhe
Drachen Foundation-Journal; b) Mr. Tinton dari Kuala Lumpur Malaysia; c)
Wolfgang Biecks dari Jerman; d) Robert
Bednarik dari Convener; e) President and
Editor, International Federation of Rock Art
Organisations (IFRAO); f) Bart van Assen
dari Belanda; g) Yusuf Susilo Hartono dari
Jakarta Post; h) David Wagner dari The
Drachen Foundation; i) Peter Lynn ahli
ethnology and luinguistics; j) Ralph Stepp
dari Bukit Kentucky, dan sebagainya.
B. METODE PENELITIAN
Penelitian ini adalah penelitian antropologi, yang dilandasi oleh pemikiran
Clifford Geertz tentang from the native
point of view, dengan metode etnografi.
Teknik penjaringan data adalah wawancara
mendalam dan pengamatan berpartisipasi.
Informasi dijaring dari masyarakat Muna di
Kabupaten Muna. Penentuan informan dilakukan secara purposive yaitu para pemain
Kaghati dan mereka memiliki banyak
pengetahuan dan pengalaman tentang Kaghati. Analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif sehingga menemukan manfaat kaghati roo kolope pada masyarakat
Muna kekinian.
C. HASIL DAN PEMBAHASAN
Terdapat perbedaan manfaat dan
bahan baku kaghati roo kolope dengan
layanglayan lainnya di dunia. Selanjutnya,
pembahasan dari segi bahan baku kaghati
roo kolope diuraikan sebagai berikut:
1. Bahan Baku Kaghati Roo Kolope
Dari segi bahan baku Kaghati, seluruhnya terbuat dari bahan alami, yaitu: (1)
wulu (Bambu Buluh); (2) patu (betung); (3)
towulambe (tebu hutan); (4) bhontu (kulit
waru); (5) roo kolope (daun gadung; (6) nanasi (daun nenas hutan); (7) bhale (daun
palma) atau ghue (rotan), roo kaopi atau
roo sela atau kulit jagung. Bahan baku
Kaghati roo kolope kekinian hanya dipahami oleh kalangan tua yang berusia 70 tahun
ke atas karena tidak lagi disosialisasikan
kepada generasinya.
Terdapat sejumlah pantangan bagi
perakit kaghati roo kolope, diantaranya:
45
Wa Ode Sifatu: Manfaat Kaghati Roo Kolope bagi Masyarakat Muna Masa Kini
selama merakitnya tidak boleh makan, minum, berbohong, dilangkahi, bahan baku
bertukar posisi, dan sebagainya. Sementara
itu, hanya menjadi hiburan, maka pemain
dan perakit kaghati roo kolope cukup melaksanakan sejumlah pantangan saja, seperti: tidak boleh berbohong, tidak boleh
makan dan minum selama merakitnya.
Pembuat dan pemain kaghati roo kolope
harus memahami mekanisme pengelolaan,
terampi (...truncated)