Perubahan Fonologis Protobahasa Minangkabau dalam Isolek Koto Tinggi

Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya, Apr 2023

This study describes the types of phonological changes that occur from the Minangkabau protolanguage in an isolect of Koto Tinggi. The research is conducted by applying listening and speaking methods, as well as recording and note-taking techniques in the process of providing data. Triangulation techniques are used to test the validity of the data. Furthermore, the data are analyzed by using a top-down reconstruction approach and an articulatory phonetic method. After being compared, the data are grouped based on the types of sound changes. The data analysis results are presented descriptively using formal and informal methods. The result shows that Minangkabau protolanguage undergoes phonological changes in the isolect of Koto Tinggi in the form of (1) lenition; (2) fortition; (3) dissimilation; (4) sound loss, which includes apheresis, syncope, apocope, and haplology; (5) sound addition, namely prothesis and paragoge; and (6) diphthongization process. Phonological changes do not occur in all sounds and are incomplete in all positions.

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

https://diglosiaunmul.com/index.php/diglosia/article/download/660/283

Perubahan Fonologis Protobahasa Minangkabau dalam Isolek Koto Tinggi

Terakreditasi Sinta 3 | Volume 6 | Nomor 2 | Tahun 2023 | Halaman 513—526 P-ISSN 2615-725X | E-ISSN 2615-8655 https://diglosiaunmul.com/index.php/diglosia/article/view/660 Perubahan Fonologis Protobahasa Minangkabau dalam Isolek Koto Tinggi Phonological changes of the Minangkabau protolanguage in Koto Tinggi isolect Husni Mardhyatur Rahmi1,*, Nadra2, & Reniwati3 1,2,3Universitas Andalas Limau Manis, Kec. Pauh, Kota Padang, Sumatra Barat, Indonesia 1,*Email: ; Orcid ID: https://orcid.org/0009-0006-4183-4847 2Email: ; Orcid ID: https://orcid.org/0000-0003-2404-6129 3Email: ; Orcid ID: https://orcid.org/0000-0002-4689-7736 Article History Received 2 March 2023 Accepted 2 April 2023 Published 26 April 2023 Keywords phonological; Koto Tinggi isolect; types of change; historical linguistics; protolanguage. Kata Kunci fonologis; isolek Koto Tinggi; jenis perubahan; linguistik historis; protobahasa. Read online Scan this QR code with your smart phone or mobile device to read online. Abstract This study describes the types of phonological changes that occur from the Minangkabau protolanguage in an isolect of Koto Tinggi. The research is conducted by applying listening and speaking methods, as well as recording and note-taking techniques in the process of providing data. Triangulation techniques are used to test the validity of the data. Furthermore, the data are analyzed by using a top-down reconstruction approach and an articulatory phonetic method. After being compared, the data are grouped based on the types of sound changes. The data analysis results are presented descriptively using formal and informal methods. The result shows that Minangkabau protolanguage undergoes phonological changes in the isolect of Koto Tinggi in the form of (1) lenition; (2) fortition; (3) dissimilation; (4) sound loss, which includes apheresis, syncope, apocope, and haplology; (5) sound addition, namely prothesis and paragoge; and (6) diphthongization process. Phonological changes do not occur in all sounds and are incomplete in all positions. Abstrak Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mendeskripsikan jenis perubahan fonologis yang terjadi dari protobahasa Minangkabau di dalam isolek Koto Tinggi. Penelitian dilakukan dengan menerapkan metode simak dan metode cakap, serta teknik rekam dan teknik catat dalam proses penyediaan data. Dilakukan pula teknik triangulasi untuk menguji keabsahan data. Selanjutnya, data dianalisis menggunakan pendekatan top-down reconstruction dan metode padan artikulatoris. Data yang telah diperbandingkan kemudian dikelompokkan berdasarkan jenis perubahan bunyi yang terjadi. Hasil analisis data disajikan secara deskriptif menggunakan metode formal dan informal. Analisis yang telah dilakukan menunjukkan bahwa protobahasa Minangkabau mengalami perubahan fonologis dalam isolek Koto Tinggi berupa (1) perubahan lenisi; (2) fortisi; (3) disimilasi; (4) penghilangan bunyi yang mencakup aferesis, sinkop, apokop, dan haplologi; (5) penambahan bunyi, yaitu protesis dan paragog; serta (6) proses diftongisasi. Perubahan fonologi tidak terjadi pada semua bunyi dan tidak lengkap dalam semua posisi. Copyright © 2023, Husni Mardhyatur Rahmi, Nadra, & Reniwati. How to cite this article with APA style 7th ed. Rahmi, H. M., Nadra, N. & Reniwati, R. (2023). Perubahan Fonologis Protobahasa Minangkabau dalam Isolek Koto Tinggi. Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya, 6(2), 513—526. https://doi.org/10.30872/diglosia.v6i2.660 Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya is licensed under a Creative Commons Attribution-Share Alike 4.0 International License (CC BY-SA 4.0) Husni Mardhyatur Rahmi, Nadra, & Reniwati A. Pendahuluan Bahasa bersifat dinamis. Artinya, bahasa akan selalu mengalami perubahan dan perkembangan. Bahasa yang digunakan saat ini merupakan wujud perkembangan dari bahasa purba atau protobahasanya. Dalam perkembangannya, protobahasa menurunkan bentuk lingual seperti bunyi, fonem, morfem hingga leksikal yang mengalami perubahan dalam bahasa atau isolek turunannya. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Campbell (1998) yang menyatakan bahwa bahasa mengalami perubahan yang tidak dapat dicegah atau dihindari. Perubahan yang terjadi pada protobahasa dalam isolek turunannya dapat dilihat dengan cara membandingkan bentuk protobahasa dengan isolek turunannya tersebut. Bahasa Minangkabau merupakan salah satu bahasa daerah di Indonesia yang secara historis merupakan turunan dari bentuk protobahasanya. Menurut Dyen (dalam Nothofer, 1975), bahasa Minangkabau merupakan turunan dari proto Melayic. Di sisi lain, Adelaar (1992) menyatakan bahwa bahasa Minangkabau mempunyai kedekatan dengan bahasa Melayu secara struktur dan kosakata. Oleh karena itu, kedekatan kedua bahasa tersebut menunjukkan bahwa bahasa Minangkabau merupakan turunan langsung dari Malayan subfamili. Sejalan dengan pendapat Adelaar, Nadra (2006) menyatakan bahwa bahasa Minangkabau merupakan turunan dari Protoaustronesia dengan jalur: Protoaustronesia > proto Melayu Polinesia > proto Melayu Polinesia Barat > proto Melayik > bahasa Minangkabau. Meskipun bahasa Minangkabau merupakan turunan dari proto Melayik, dalam tulisan ini bentuk protobahasa yang diperbandingkan adalah protobahasa Minangkabau, yaitu prabahasa Minangkabau yang diperoleh melalui proses rekonstruksi oleh Nadra (2006). Bahasa Minangkabau mempunyai wilayah pemakaian yang cukup luas, khususnya di wilayah Sumatra Barat. Wilayah pakai yang cukup luas ini memungkinkan adanya variasi dalam bahasa Minangkabau. Kharisma et al. (2021) menyatakan bahwa penutur bahasa Minangkabau di berbagai wilayah menggunakan bahasa yang sama, namun di setiap daerah tentunya mempunyai keunikan dan ciri khas, khususnya ciri khas dari segi fonologisnya. Salah satu daerah di Sumatra Barat yang penuturnya berbahasa Minangkabau adalah Nagari Koto Tinggi yang berada di Kecamatan Gunuang Omeh, Kabupaten Lima Puluh Kota. Dari segi unsur fonologisnya, bahasa Minangkabau isolek Koto Tinggi (selanjutnya disingkat IKT) mempunyai perbedaan dengan bahasa Minangkabau umum. Rahmi (2022) menyatakan bahwa bahasa Minangkabau Isolek Koto Tinggi mempunyai 30 fonem, yaitu lima fonem vokal, 17 fonem konsonan, dua fonem semivokal, dan 6 fonem diftong. Perbedaannya dengan bahasa Minangkabau umum di antaranya pada fonem konsonan, yaitu adanya fonem /R/. Kemudian, diftong dalam bahasa Minangkabau isolek Koto Tinggi berbeda dengan bahasa Minangkabau umum. IKT mempunyai diftong /ue/ dan /ie/ tetapi tidak mempunyai diftong [ea] dan [uy] seperti dalam bahasa Minangkabau umum yang dikemukakan oleh Ayub et al. (1989). Adanya variasi bahasa Minangkabau dalam isolek Koto Tinggi tersebut menjadikan isolek Koto Tinggi sebagai isolek turunan yang diperbandingkan dengan protobahasa Minangkabau. Penelitian ini termasuk dalam ruang lingkup linguistik historis yang mengkaji satu bahasa secara historis, yaitu membandingkan bahasa purba pada tataran prabahasa (yang diperoleh melal (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: https://diglosiaunmul.com/index.php/diglosia/article/download/660/283
Article home page: https://diglosiaunmul.com/index.php/diglosia/article/view/660/283

Rahmi Husni Mardhyatur, Nadra Nadra, Reniwati Reniwati. Perubahan Fonologis Protobahasa Minangkabau dalam Isolek Koto Tinggi, Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya, 2023, pp. 513-526,