Perubahan Fonologis Protobahasa Minangkabau dalam Isolek Koto Tinggi
Terakreditasi Sinta 3 | Volume 6 | Nomor 2 | Tahun 2023 | Halaman 513—526
P-ISSN 2615-725X | E-ISSN 2615-8655
https://diglosiaunmul.com/index.php/diglosia/article/view/660
Perubahan Fonologis Protobahasa Minangkabau dalam Isolek Koto
Tinggi
Phonological changes of the Minangkabau protolanguage in Koto Tinggi isolect
Husni Mardhyatur Rahmi1,*, Nadra2, & Reniwati3
1,2,3Universitas Andalas
Limau Manis, Kec. Pauh, Kota Padang, Sumatra Barat, Indonesia
1,*Email: ; Orcid ID: https://orcid.org/0009-0006-4183-4847
2Email: ; Orcid ID: https://orcid.org/0000-0003-2404-6129
3Email: ; Orcid ID: https://orcid.org/0000-0002-4689-7736
Article History
Received 2 March 2023
Accepted 2 April 2023
Published 26 April 2023
Keywords
phonological; Koto Tinggi
isolect; types of change;
historical linguistics;
protolanguage.
Kata Kunci
fonologis; isolek Koto Tinggi;
jenis perubahan; linguistik
historis; protobahasa.
Read online
Scan this QR
code with your
smart phone or
mobile device
to read online.
Abstract
This study describes the types of phonological changes that occur from the Minangkabau
protolanguage in an isolect of Koto Tinggi. The research is conducted by applying listening and
speaking methods, as well as recording and note-taking techniques in the process of providing
data. Triangulation techniques are used to test the validity of the data. Furthermore, the data are
analyzed by using a top-down reconstruction approach and an articulatory phonetic method. After
being compared, the data are grouped based on the types of sound changes. The data analysis
results are presented descriptively using formal and informal methods. The result shows that
Minangkabau protolanguage undergoes phonological changes in the isolect of Koto Tinggi in the
form of (1) lenition; (2) fortition; (3) dissimilation; (4) sound loss, which includes apheresis,
syncope, apocope, and haplology; (5) sound addition, namely prothesis and paragoge; and (6)
diphthongization process. Phonological changes do not occur in all sounds and are incomplete in
all positions.
Abstrak
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mendeskripsikan jenis perubahan fonologis yang
terjadi dari protobahasa Minangkabau di dalam isolek Koto Tinggi. Penelitian dilakukan dengan
menerapkan metode simak dan metode cakap, serta teknik rekam dan teknik catat dalam proses
penyediaan data. Dilakukan pula teknik triangulasi untuk menguji keabsahan data. Selanjutnya,
data dianalisis menggunakan pendekatan top-down reconstruction dan metode padan
artikulatoris. Data yang telah diperbandingkan kemudian dikelompokkan berdasarkan jenis
perubahan bunyi yang terjadi. Hasil analisis data disajikan secara deskriptif menggunakan metode
formal dan informal. Analisis yang telah dilakukan menunjukkan bahwa protobahasa Minangkabau
mengalami perubahan fonologis dalam isolek Koto Tinggi berupa (1) perubahan lenisi; (2) fortisi;
(3) disimilasi; (4) penghilangan bunyi yang mencakup aferesis, sinkop, apokop, dan haplologi; (5)
penambahan bunyi, yaitu protesis dan paragog; serta (6) proses diftongisasi. Perubahan fonologi
tidak terjadi pada semua bunyi dan tidak lengkap dalam semua posisi.
Copyright © 2023, Husni Mardhyatur Rahmi, Nadra, & Reniwati.
How to cite this article with APA style 7th ed.
Rahmi, H. M., Nadra, N. & Reniwati, R. (2023). Perubahan Fonologis Protobahasa Minangkabau dalam Isolek Koto Tinggi. Diglosia:
Jurnal Kajian Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya, 6(2), 513—526. https://doi.org/10.30872/diglosia.v6i2.660
Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya is licensed under a Creative Commons Attribution-Share
Alike 4.0 International License (CC BY-SA 4.0)
Husni Mardhyatur Rahmi, Nadra, & Reniwati
A.
Pendahuluan
Bahasa bersifat dinamis. Artinya, bahasa akan selalu mengalami perubahan dan
perkembangan. Bahasa yang digunakan saat ini merupakan wujud perkembangan dari
bahasa purba atau protobahasanya. Dalam perkembangannya, protobahasa menurunkan
bentuk lingual seperti bunyi, fonem, morfem hingga leksikal yang mengalami perubahan
dalam bahasa atau isolek turunannya. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Campbell
(1998) yang menyatakan bahwa bahasa mengalami perubahan yang tidak dapat dicegah
atau dihindari. Perubahan yang terjadi pada protobahasa dalam isolek turunannya dapat
dilihat dengan cara membandingkan bentuk protobahasa dengan isolek turunannya
tersebut.
Bahasa Minangkabau merupakan salah satu bahasa daerah di Indonesia yang secara
historis merupakan turunan dari bentuk protobahasanya. Menurut Dyen (dalam Nothofer,
1975), bahasa Minangkabau merupakan turunan dari proto Melayic. Di sisi lain, Adelaar
(1992) menyatakan bahwa bahasa Minangkabau mempunyai kedekatan dengan bahasa
Melayu secara struktur dan kosakata. Oleh karena itu, kedekatan kedua bahasa tersebut
menunjukkan bahwa bahasa Minangkabau merupakan turunan langsung dari Malayan
subfamili. Sejalan dengan pendapat Adelaar, Nadra (2006) menyatakan bahwa bahasa
Minangkabau merupakan turunan dari Protoaustronesia dengan jalur: Protoaustronesia >
proto Melayu Polinesia > proto Melayu Polinesia Barat > proto Melayik > bahasa
Minangkabau. Meskipun bahasa Minangkabau merupakan turunan dari proto Melayik,
dalam tulisan ini bentuk protobahasa yang diperbandingkan adalah protobahasa
Minangkabau, yaitu prabahasa Minangkabau yang diperoleh melalui proses rekonstruksi
oleh Nadra (2006).
Bahasa Minangkabau mempunyai wilayah pemakaian yang cukup luas, khususnya di
wilayah Sumatra Barat. Wilayah pakai yang cukup luas ini memungkinkan adanya variasi
dalam bahasa Minangkabau. Kharisma et al. (2021) menyatakan bahwa penutur bahasa
Minangkabau di berbagai wilayah menggunakan bahasa yang sama, namun di setiap
daerah tentunya mempunyai keunikan dan ciri khas, khususnya ciri khas dari segi
fonologisnya. Salah satu daerah di Sumatra Barat yang penuturnya berbahasa
Minangkabau adalah Nagari Koto Tinggi yang berada di Kecamatan Gunuang Omeh,
Kabupaten Lima Puluh Kota.
Dari segi unsur fonologisnya, bahasa Minangkabau isolek Koto Tinggi (selanjutnya
disingkat IKT) mempunyai perbedaan dengan bahasa Minangkabau umum. Rahmi (2022)
menyatakan bahwa bahasa Minangkabau Isolek Koto Tinggi mempunyai 30 fonem, yaitu
lima fonem vokal, 17 fonem konsonan, dua fonem semivokal, dan 6 fonem diftong.
Perbedaannya dengan bahasa Minangkabau umum di antaranya pada fonem konsonan,
yaitu adanya fonem /R/. Kemudian, diftong dalam bahasa Minangkabau isolek Koto Tinggi
berbeda dengan bahasa Minangkabau umum. IKT mempunyai diftong /ue/ dan /ie/ tetapi
tidak mempunyai diftong [ea] dan [uy] seperti dalam bahasa Minangkabau umum yang
dikemukakan oleh Ayub et al. (1989). Adanya variasi bahasa Minangkabau dalam isolek
Koto Tinggi tersebut menjadikan isolek Koto Tinggi sebagai isolek turunan yang
diperbandingkan dengan protobahasa Minangkabau.
Penelitian ini termasuk dalam ruang lingkup linguistik historis yang mengkaji satu
bahasa secara historis, yaitu membandingkan bahasa purba pada tataran prabahasa (yang
diperoleh melal (...truncated)