Analisis Efisiensi Usaha dan Nilai Tambah Agroindustri Olahan di Kota Mataram

Elastisitas Jurnal Ekonomi Pembangunan, Jun 2020

Tujuan dari penelitian ini untuk menganalisis biaya produksi dan tingkat pendapatan, efisiensi usaha dan besarnya Nilai tambah atau Rasio Nilai Tambah (RNT). Penelitian ini dilakukan dengan mengambil tiga unit usaha yaitu usaha industri pengolahan kerupuk kulit,usaha industri pengolahan tempe dan usaha industri pengolahan tahu yang ditentukan secara purposive.Secara keseluruhan dari ketiga unit usaha agroindustri pengolahan dimana tingkat rasio usahanya (R/C Rasionya ) rata-rata diatas 1 atau R/C Rasio nya > 1 artinya bahwa baik usaha industri kerupuk kulit (R/C Rasio = 1,78 ) dan usaha industri tempe ( R/C Rasio = 1,43) , dan usaha industri tahu (R/C Rasio = 1,47 ) ketiganya menguntungkan untuk diusahakan , dengan pendapatan masing-masing diperoleh industri kerupuk kulit sebesar Rp 3.254.750,- dan industri tempe Rp 351.625,33 , dan industri tahu Rp 340.000,- dalam sekali proses produksi.Nilai Tambah usaha industri pengolahan kerupuk kulit sebesar Rp 54.641,79 dengan Rasio Nilai Tambah (RNT) sebesar 50,53 % hal ini berarti bahwa nilai tambahnya tergolong tinggi karena RNT > 50 %. Selanjutnya Nilai Tambah usaha industri pengolahan tempe sebesar Rp 346.625,- dengan tingka Rasio Nilai Tambah sebesar 30,15 % berarti bahwa usaha agroindustri pengolahan tempe nilai tambahnya tergolong rendah karena RNT < 50 %. Dan Nilai Tambah usaha industri pengolahan tahu sebesar Rp 440.083,31 dengan tingkat Rasio Nilai Tambah sebesar 41,49 % , berarti usaha agroindustri pengolahan tahu nilai tambahnya masih rendah ( RNT < 50 % ).Untuk lebih meningkatkan nilai tambah dari ketiga jenis usaha agroindustri pengolahan (usaha kerupuk kulit sapi, usaha tempe dan usaha tahu ) hendaknya lebih menekan biaya operasional seperti penggunaan bahan bakar, pemakaian listrik, pembelian bahan penolong. Selain itu perlu inovasi baru dalam menciptakan produk-produk baru yang lebih menarik daya beli konsumen.

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

https://elastisitas.unram.ac.id/index.php/elastisitas/article/download/18/26

Analisis Efisiensi Usaha dan Nilai Tambah Agroindustri Olahan di Kota Mataram

Elastisitas – Jurnal Ekonomi Pembangunan Vol. 2 No. 1, Maret 2020 Analisis Efisiensi Usaha dan Nilai Tambah Agroindustri Olahan di Kota Mataram Suprianto*, Lukman Hakim, dan Sujadi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mataram Corresponding email: Info Artikel Kata Kunci: Efisiensi Usaha, Nilai Tambah ABSTRAK Tujuan dari penelitian ini untuk menganalisis biaya produksi dan tingkat pendapatan, efisiensi usaha dan besarnya Nilai tambah atau Rasio Nilai Tambah (RNT). Penelitian ini dilakukan dengan mengambil tiga unit usaha yaitu usaha industri pengolahan kerupuk kulit,usaha industri pengolahan tempe dan usaha industri pengolahan tahu yang ditentukan secara purposive. Secara keseluruhan dari ketiga unit usaha agroindustri pengolahan dimana tingkat rasio usahanya (R/C Rasionya ) rata-rata diatas 1 atau R/C Rasio nya > 1 artinya bahwa baik usaha industri kerupuk kulit (R/C Rasio = 1,78 ) dan usaha industri tempe ( R/C Rasio = 1,43) , dan usaha industri tahu (R/C Rasio = 1,47 ) ketiganya menguntungkan untuk diusahakan , dengan pendapatan masing-masing diperoleh industri kerupuk kulit sebesar Rp 3.254.750,- dan industri tempe Rp 351.625,33 , dan industri tahu Rp 340.000,- dalam sekali proses produksi. Nilai Tambah usaha industri pengolahan kerupuk kulit sebesar Rp 54.641,79 dengan Rasio Nilai Tambah (RNT) sebesar 50,53 % hal ini berarti bahwa nilai tambahnya tergolong tinggi karena RNT > 50 %. Selanjutnya Nilai Tambah usaha industri pengolahan tempe sebesar Rp 346.625,- dengan tingka Rasio Nilai Tambah sebesar 30,15 % berarti bahwa usaha agroindustri pengolahan tempe nilai tambahnya tergolong rendah karena RNT < 50 %. Dan Nilai Tambah usaha industri pengolahan tahu sebesar Rp 440.083,31 dengan tingkat Rasio Nilai Tambah sebesar 41,49 % , berarti usaha agroindustri pengolahan tahu nilai tambahnya masih rendah ( RNT < 50 % ). Untuk lebih meningkatkan nilai tambah dari ketiga jenis usaha agroindustri pengolahan (usaha kerupuk kulit sapi, usaha tempe dan usaha tahu ) hendaknya lebih menekan biaya operasional seperti penggunaan bahan bakar, pemakaian listrik, pembelian bahan penolong. Selain itu perlu inovasi baru dalam menciptakan produk-produk baru yang lebih menarik daya beli konsumen. ABSTRACT 1. PENDAHULUAN a. Latar Belakang Pengembangan agroindustri merupakan keharusan dalam rangka menuju masyarakat industri yang berbasis pertanian , baik agroindustri berskala besar maupun agroindustri berskala kecil seperti agroindustri rumah tangga. Agribisnis dan Suprianto, dkk agroindustri dua kegiatan usaha dibidang pertanian yang mampu menaikkan pendapatan masyarakat baik dipedesaan maupun diperkotaan serta dapat menampung tenaga kerja non skill yang cukup besar. Menurut Midayanto (2014) mendifinisikan agroindustri dalam dua hal , yaitu pertama agroindustri sebagai industri yang berbahan baku utama 30 Elastisitas – Jurnal Ekonomi Pembangunan Vol. 2 No. 1, Maret 2020 dari produk pertanian dan kedua agroindustri sebagai suatu tahapan pembangunan sebagai kelanjutan dari pembangunan pertanian tetapi sebelum tahapan pembangunan tersebut mencapai tahapan tahapan pembangunan industri. Kegiatan agroindustri ini umumnya melibatkan usaha kecil dan menengah yang merupakan kegiatan ekonomi rakyat yang berskala kecil dengan berbagai kekurangan dan kendala yang dimilki oleh kelompok usaha kecil dan menengah ini. Namun pengalaman menunjukkan bahwa usaha kecil atau industri kecil dan menengah memiliki ketangguhan terhadap goncangan perekonomian global, disamping itu jugan industri kecil dan menengah memiloiki kemampuan yang cukup besr untuk menyediakan lapangan pekerjaan , membuka peluang usaha , menyerap tenaga kerja serta memberi pendapatan kepada masyarakat untuk menjamin kehidupan yang lebih sejahtera. Nusa Tenggara Barat sebagai salah satu daerah penyangga pangan nasional yang berbasis pada pengembangan sektor pertaanian khususnya tanaman padi, palawija,sayuran, umbi umbian dan hasil ternak memiliki potensi yang cukup besar dalam pengembangan agribisnis dan agroindustri pengolahan input pertanian. Hasil olahan dari input pertanian ini disamping dapat memenuhi kebutuhan masyarakat lokal dan juga untuk memenuhi permintaan dari daerah lain termasuk dalam menunjang kegiatan sektor pariwiswata dalam bentuk wisata kuliner dan oleh-oleh produk makanan khas NTB.Khususnya di kota Mataram sebagai pusat pemerintahan dan perdagangan terdapat berbagai industri kecil dan menengah yang bergerak diberbagai bidang pengolahan input pertanian salah satunya adalah industri pengolah bahan makanan. Data yang kami liris dari kantor Dinas Perindustrian kota Mataram memuat beberapa klaster industri kecil unggulan tersebar dI wilayah kota Mataram yaitu sebagai berikut : Tabel 1. Klaster industri unggulan di kota Mataram tahun 2017 No 1 2 3 Jenis Industri Kerajinan Mutiara Emas dan Perak Kerupuk Kulit Tahu dan Tempe 4 5 6 7 8 Industri Kerajinan Logam Kerajinan Kayu dan Cukli Konveksi dan Bordir Kerajinan Kulit kerang dan Tanduk Makanan Olahan Wilayah Pengembangan Sekabela dan Kamasan Seganteng AbianTubuh Kekalik Grisak Babakan Sayang-Sayang Pagutan Pagutan 6 Kecamatan Jumlah Usaha 224 9 66 227 8 25 17 990 Sumber : Dinas Perindustrian Kota Mataram Dari tampilan data di atas sebagian besar industri pengolahan bahan makanan yang berkembang di kota mataram kemudian industri tahu dan tempe yang berada diwilayah abian tubuh dan kekalik grisak sebagai sentra pengolahan bahan baku kedelai untuk diolah menjadi produk Tahu dan Tempe walaupun harga input kedelai mengalami kenaikan usaha ini masih tetap Suprianto, dkk berjalan. Selanjutnya usaha kerajinan mutiara emas dan perak sebagai produk oleh-oleh yang cukup dikenal masyarakat luar daerah NTB dengan mutiaranya yang ada di sekarbeloa, kemudia industri logam, konveksi danindustri kerupuk kulit yang jumlahnya masih sedikit dan perlu untuk dikembangkan kedepannya. 31 Elastisitas – Jurnal Ekonomi Pembangunan Vol. 2 No. 1, Maret 2020 Industri kecil dikota Mataram sebagian besar memiliki kedekatan secara ekonomi dan sosial dengan masyarakat petani karena input bahannya berasal dari hasil-hasil pertanian seperti kedelai untuk kebutuhan agroindustri tahu dan tempe, umbi-umbian untuk usaha keripik singkong , kerupuk kulit dan dodol nangka. Kebutuhan akan bahan baku untuk memenuhi usaha agroindustri cukup besar dan pasokannya harus tetap tersedia dipasaran. Sampai sejauhmana produk usaha agroindustri unggulan ini dapat memenurhi permintaan konsumen dengan semakin bertambahnya penduduk diperkotaan , maka perlu dilakukan penelitian tentang “ Analisis Efisiensi usaha Dan Nilai Tambah produk agroindustri olahan di Kota Mataram. b. Tujuan Penelitian 1) Menganalisis seberapa besar produk yang dihasilkan dapat memberi keuntungan bagi pengusaha agroindustri olahan di kota Mataram 2) Menganalisis apakah usaha agroindustri olahan ini layak untuk dikembangkan atau tidak jika dilihat dari B/C ratio nya. 3) Menganalisis tingkat nilai tambah dari produk agroindustri olahan dalam sek (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: https://elastisitas.unram.ac.id/index.php/elastisitas/article/download/18/26
Article home page: https://elastisitas.unram.ac.id/index.php/elastisitas/article/view/18/26

Suprianto Suprianto, Hakim Lukman, Sujadi Sujadi. Analisis Efisiensi Usaha dan Nilai Tambah Agroindustri Olahan di Kota Mataram, Elastisitas Jurnal Ekonomi Pembangunan, 2020, pp. 30 - 42,