Analisis Efisiensi Usaha dan Nilai Tambah Agroindustri Olahan di Kota Mataram
Elastisitas – Jurnal Ekonomi Pembangunan
Vol. 2 No. 1, Maret 2020
Analisis Efisiensi Usaha dan Nilai Tambah Agroindustri Olahan
di Kota Mataram
Suprianto*, Lukman Hakim, dan Sujadi
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mataram
Corresponding email:
Info Artikel
Kata Kunci:
Efisiensi Usaha, Nilai
Tambah
ABSTRAK
Tujuan dari penelitian ini untuk menganalisis biaya produksi dan tingkat
pendapatan, efisiensi usaha dan besarnya Nilai tambah atau Rasio Nilai Tambah
(RNT). Penelitian ini dilakukan dengan mengambil tiga unit usaha yaitu usaha
industri pengolahan kerupuk kulit,usaha industri pengolahan tempe dan usaha
industri pengolahan tahu yang ditentukan secara purposive.
Secara keseluruhan dari ketiga unit usaha agroindustri pengolahan dimana
tingkat rasio usahanya (R/C Rasionya ) rata-rata diatas 1 atau R/C Rasio nya > 1
artinya bahwa baik usaha industri kerupuk kulit (R/C Rasio = 1,78 ) dan usaha
industri tempe ( R/C Rasio = 1,43) , dan usaha industri tahu (R/C Rasio = 1,47 )
ketiganya menguntungkan untuk diusahakan , dengan pendapatan masing-masing
diperoleh industri kerupuk kulit sebesar Rp 3.254.750,- dan industri tempe Rp
351.625,33 , dan industri tahu Rp 340.000,- dalam sekali proses produksi.
Nilai Tambah usaha industri pengolahan kerupuk kulit sebesar Rp
54.641,79 dengan Rasio Nilai Tambah (RNT) sebesar 50,53 % hal ini berarti
bahwa nilai tambahnya tergolong tinggi karena RNT > 50 %. Selanjutnya Nilai
Tambah usaha industri pengolahan tempe sebesar Rp 346.625,- dengan tingka
Rasio Nilai Tambah sebesar 30,15 % berarti bahwa usaha agroindustri pengolahan
tempe nilai tambahnya tergolong rendah karena RNT < 50 %. Dan Nilai Tambah
usaha industri pengolahan tahu sebesar Rp 440.083,31 dengan tingkat Rasio Nilai
Tambah sebesar 41,49 % , berarti usaha agroindustri pengolahan tahu nilai
tambahnya masih rendah ( RNT < 50 % ).
Untuk lebih meningkatkan nilai tambah dari ketiga jenis usaha agroindustri
pengolahan (usaha kerupuk kulit sapi, usaha tempe dan usaha tahu ) hendaknya
lebih menekan biaya operasional seperti penggunaan bahan bakar, pemakaian
listrik, pembelian bahan penolong. Selain itu perlu inovasi baru dalam menciptakan
produk-produk baru yang lebih menarik daya beli konsumen.
ABSTRACT
1. PENDAHULUAN
a. Latar Belakang
Pengembangan
agroindustri
merupakan
keharusan dalam rangka menuju masyarakat
industri yang berbasis pertanian , baik
agroindustri
berskala
besar
maupun
agroindustri
berskala
kecil
seperti
agroindustri rumah tangga. Agribisnis dan
Suprianto, dkk
agroindustri dua kegiatan usaha dibidang
pertanian yang mampu menaikkan pendapatan
masyarakat
baik
dipedesaan
maupun
diperkotaan serta dapat menampung tenaga
kerja non skill yang cukup besar. Menurut
Midayanto (2014) mendifinisikan agroindustri
dalam dua hal , yaitu pertama agroindustri
sebagai industri yang berbahan baku utama
30
Elastisitas – Jurnal Ekonomi Pembangunan
Vol. 2 No. 1, Maret 2020
dari produk pertanian dan kedua agroindustri
sebagai suatu tahapan pembangunan sebagai
kelanjutan dari pembangunan pertanian tetapi
sebelum tahapan pembangunan tersebut
mencapai tahapan tahapan pembangunan
industri.
Kegiatan agroindustri ini umumnya
melibatkan usaha kecil dan menengah yang
merupakan kegiatan ekonomi rakyat yang
berskala kecil dengan berbagai kekurangan
dan kendala yang dimilki oleh kelompok
usaha kecil dan menengah ini. Namun
pengalaman menunjukkan bahwa usaha kecil
atau industri kecil dan menengah memiliki
ketangguhan
terhadap
goncangan
perekonomian global, disamping itu jugan
industri kecil dan menengah memiloiki
kemampuan yang cukup besr untuk
menyediakan lapangan pekerjaan , membuka
peluang usaha , menyerap tenaga kerja serta
memberi pendapatan kepada masyarakat
untuk menjamin kehidupan yang lebih
sejahtera.
Nusa Tenggara Barat sebagai
salah satu
daerah penyangga pangan
nasional
yang
berbasis
pada
pengembangan
sektor
pertaanian
khususnya tanaman padi, palawija,sayuran,
umbi umbian dan hasil ternak memiliki
potensi yang cukup besar dalam
pengembangan agribisnis dan agroindustri
pengolahan input pertanian. Hasil olahan
dari input pertanian ini disamping dapat
memenuhi kebutuhan masyarakat lokal dan
juga untuk memenuhi permintaan dari
daerah lain termasuk dalam menunjang
kegiatan sektor pariwiswata dalam bentuk
wisata kuliner dan oleh-oleh produk
makanan khas NTB.Khususnya di kota
Mataram sebagai pusat pemerintahan dan
perdagangan terdapat berbagai industri
kecil dan menengah yang bergerak
diberbagai bidang pengolahan input
pertanian salah satunya adalah industri
pengolah bahan makanan. Data yang kami
liris dari kantor Dinas Perindustrian kota
Mataram memuat beberapa klaster industri
kecil unggulan tersebar dI wilayah kota
Mataram yaitu sebagai berikut :
Tabel 1. Klaster industri unggulan di kota Mataram tahun 2017
No
1
2
3
Jenis Industri
Kerajinan Mutiara Emas dan Perak
Kerupuk Kulit
Tahu dan Tempe
4
5
6
7
8
Industri Kerajinan Logam
Kerajinan Kayu dan Cukli
Konveksi dan Bordir
Kerajinan Kulit kerang dan Tanduk
Makanan Olahan
Wilayah Pengembangan
Sekabela dan Kamasan
Seganteng
AbianTubuh
Kekalik Grisak
Babakan
Sayang-Sayang
Pagutan
Pagutan
6 Kecamatan
Jumlah Usaha
224
9
66
227
8
25
17
990
Sumber : Dinas Perindustrian Kota Mataram
Dari tampilan data di atas sebagian
besar industri pengolahan bahan makanan
yang berkembang di kota mataram kemudian
industri tahu dan tempe yang berada
diwilayah abian tubuh dan kekalik grisak
sebagai sentra pengolahan bahan baku kedelai
untuk diolah menjadi produk Tahu dan
Tempe walaupun harga input kedelai
mengalami kenaikan usaha ini masih tetap
Suprianto, dkk
berjalan. Selanjutnya usaha kerajinan mutiara
emas dan perak sebagai produk oleh-oleh
yang cukup dikenal masyarakat luar daerah
NTB dengan mutiaranya yang ada di
sekarbeloa, kemudia industri logam, konveksi
danindustri kerupuk kulit yang jumlahnya
masih sedikit dan perlu untuk dikembangkan
kedepannya.
31
Elastisitas – Jurnal Ekonomi Pembangunan
Vol. 2 No. 1, Maret 2020
Industri kecil dikota Mataram
sebagian besar memiliki kedekatan secara
ekonomi dan sosial dengan masyarakat petani
karena input bahannya berasal dari hasil-hasil
pertanian seperti kedelai untuk kebutuhan
agroindustri tahu dan tempe, umbi-umbian
untuk usaha keripik singkong , kerupuk kulit
dan dodol nangka. Kebutuhan akan bahan
baku untuk memenuhi usaha agroindustri
cukup besar dan pasokannya harus tetap
tersedia dipasaran. Sampai sejauhmana
produk usaha agroindustri unggulan ini dapat
memenurhi permintaan konsumen dengan
semakin bertambahnya penduduk diperkotaan
, maka perlu dilakukan penelitian tentang “
Analisis Efisiensi usaha Dan Nilai Tambah
produk agroindustri olahan di Kota Mataram.
b. Tujuan Penelitian
1) Menganalisis seberapa besar produk yang
dihasilkan dapat memberi keuntungan
bagi pengusaha agroindustri olahan di
kota Mataram
2) Menganalisis apakah usaha agroindustri
olahan ini layak untuk dikembangkan atau
tidak jika dilihat dari B/C ratio nya.
3) Menganalisis tingkat nilai tambah dari
produk agroindustri olahan dalam sek (...truncated)