Integrasi Budidaya Tanaman Kangkung (Ipomea Aquatica Forsk) dan Ikan Nila Menggunakan Internet of Things
Infotekmesin
Vol.15, No.01, Januari 2024
p-ISSN: 2087-1627, e-ISSN: 2685-9858
DOI: 10.35970/infotekmesin.v15i1.2160, pp.135-141
Integrasi Budidaya Tanaman Kangkung (Ipomea
Aquatica Forsk) dan Ikan Nila Menggunakan
Internet of Things
Murni Handayani1, Arif Sumardiono2*, Khoeruddin Witriansyah3, Fadillah4
1,3,4 Program Studi Teknik Produk Agro Industri, Politeknik Negeri Cilacap
2Program Studi Teknik Elektronika, Politeknik Negeri Cilacap
1,2,3,4Jln. Dr. Soetomo No.1 Karangcengis Sidakaya, Kabupaten Cilacap, 53212, Indonesia
E-mail: .id1, .id2, .id3
Abstrak
Info Naskah:
Naskah masuk: 4 Desember 2023
Direvisi: 4 Januari 2024
Diterima: 5 Januari 2024
Beberapa parameter yang dapat menentukan tingkat keberhasilan budidaya sistem
akuaponik meliputi pH air, suhu air, TDS dan ketinggian air. Proses pemantauan
dan pengendalian terhadap beberapa parameter penting dalam budidaya tanaman
kangkung dan ikan bawal dapat dilakukan secara konvensional, akan tetapi kurang
efektif dan efisien karena pembudidaya harus mengecek dan mengukur parameter
setiap waktu.. Oleh karena itu seiring berjalannya waktu, dan teknologi semakin
canggih maka dirancang sebuah sistem kontrol dan monitoring beberapa parameter
seperti pH air, suhu air, dan TDS berbasis Internet of Things (IoT) untuk menunjang
keberhasilan dalam sistem akuaponik dengan memantau keadaan lingkungan
menggunakan laptop/smartphone. Hasil uji coba didapatkan bahwa aquaponik pada
lingkungan di dalam ruangan ber- ac mempunyai suhu air dibawah 25 0C, pH air
menunjukan 7pH dan rata – rata nutrisi pada air menunjukan 214,5 ppm.
Berdasarkan hal tersebut tanaman kangkung pada bagian batang tumbuh dengan
cepat sedangkan pertumbuhan daun sangat terhambat. Pada suhu lebih kecil dari 25
0C ikan bawal hanya bertahan hidup selama 2 minggu tetapi ikan nila dapat
bertahan hidup dan tidak mengalami kematian pada kondisi lingkungan tersebut.
Panjang ikan nila selama 6 minggu bertambah 5 cm dari Panjang semula.
Abstract
Keywords:
aquaponic;
internet of things;
environmental condition;
kale plants
Aquaponics is an application of a sustainable agricultural system by integrating the
cultivation of plants and fish at one time. Water availability in plant commodities
and water is optimized in aquaponic cultivation systems. Several parameters that can
determine the level of success of cultivating an aquaponic system include water pH,
water temperature, TDS, and water level. The process of monitoring and controlling
several important parameters in cultivation can be done conventionally, but it is less
effective and efficient because the cultivator has to check and measure the
parameters every time. Therefore, as time goes by, and technology becomes more
sophisticated, a control and monitoring system is designed. several parameters such
as water pH, water temperature, TDS, and water level based on the Internet of Things
(IoT) to support the success of the aquaponics system by monitoring environmental
conditions using a laptop/smartphone at that time. Based on the test results, it was
found that aquaponics in an indoor environment is successful - the air conditioner
has a water temperature below 250C, the water pH shows 7pH and the average
nutrient in the water shows 214.5 ppm. Based on this, kale plants in the stem grow
quickly while leaf growth is very stunted. At temperatures smaller than 25 0C
pomfret fish only survive for 2 weeks but tilapia fish can survive and not die in these
environmental conditions. The length of the tilapia fish for 6 weeks has increased
by 5 cm from its original length
*Penulis korespondensi:
Arif Sumardiono
E-mail:
135
p-ISSN: 2087-1627, e-ISSN: 2685-9858
1.
Pendahuluan
Budidaya sistem akuaponik merupakan salah satu
penerapan sistem pertanian berkelanjutan dengan
mengintegrasikan budidaya tanaman dan ikan dalam satu
waktu. Budidaya sistem akuaponik dapat berfungsi sebagai
cara pemenuhan kebutuhan pangan di Indonesia dengan
seiring bertambahnya jumlah penduduk, bahwa semakin
bertambah jumlah penduduk, kebutuhan akan tempat tinggal
semakin banyak, hal ini secara otomatis akan mengurangi
lahan-lahan pertanian yang masih produktif untuk dijadikan
bangunan tempat tinggal, sehingga untuk memenuhi
kebutuhan dengan keterbatasan lahan maka akuaponik dapat
menjadi salah satu solusinya [1].
Ketersediaan air pada komoditas tanaman dan air
dioptimalkan pada budidaya sistem akuaponik [2].
Keseimbangan antara ekosistem kolam dan nutrisi tanaman
sangat dibutuhkan dalam budidaya sistem akuaponik [3].
Nutrisi untuk pertumbuhan tanaman pada sistem akuaponik
ini diperoleh dari kotoran ikan. Kotoran ikan mengandung
amonia apabila terakumulasi banyak di dalam kolam akan
menjadikan racun untuk ikan, sehingga amonia pada sistem
ini akan dipecah menjadi nitrat maupun nitrit oleh tanaman
secara alami dan aman untuk ikan dan dimanfaatkan untuk
sumber nutrisi oleh tanaman tersebut [4] tanaman
menyumbangkan oksigen sehingga air memiliki kualitas
yang baik untuk kolam budidaya [5].
Jenis tanaman yang sering dibudidayakan untuk
budidaya sistem akuaponik berupa sayur-sayuran di
antaranya bayam, selada, kangkung, pakcoy, sedangkan
untuk jenis ikan yang dibudidayakan seperti ikan nila,
gurame, nila, bawal [6]. Pemantauan dan pengendalian
media tanam dan kondisi lingkungan budidaya sangat
penting dilakukan untuk keberhasilan dalam kegiatan
budidaya [7] , beberapa parameter yang dapat menentukan
tingkat keberhasilan budidaya sistem akuaponik meliputi pH
air, suhu air, TDS dan ketinggian air.
Proses pemantauan dan pengendalian terhadap
beberapa parameter penting dalam budidaya dapat dilakukan
secara konvensional, akan tetapi kurang efektif dan efisien
karena pembudidaya harus mengecek dan mengukur
parameter setiap waktu. Oleh karena itu seiring berjalannya
waktu, dan teknologi semakin canggih maka dirancang
sebuah sistem kontrol dan monitoring beberapa parameter
seperti pH air, suhu air, TDS dan ketinggian air berbasis
Internet of Things (IoT) untuk menunjang keberhasilan
dalam sistem akuaponik. Internet of Things (IoT) bukanlah
teknologi tunggal, tetapi merupakan campuran yang berbeda
antar perangkat. Internet of Things (IoT) memberikan solusi
berdasarkan integrasi teknologi informasi untuk menyimpan,
mengambil, dan memproses data dan teknologi komunikasi
yang menggunakan sistem elektronik [8]. pH yang
dibutuhkan oleh ikan bawal berkisar antara 6,5-8,5,
sedangkan pada pertumbuhan ikan bawal berada pada suhu
air 250 - 300C. Padat tebar ikan bawal 100-150 ekor per meter
dengan ukuran 5-12 cm.
Tanaman kangkung (Ipomoea aquatica Forsk.)
memiliki ciri daunnya panjang dan memiliki ujung daun
yang tumpul, daun hijau tua dan bunga berwarna keunguan
[9]. Tujuan penelitian yaitu 1) merancang sistem kontrol
budidaya akuaponik dan monitoring (integrasi budidaya
tanaman kangkung dan ikan bawal) meliputi pH air, suhu air,
TDS dan ketinggian air dengan, 2) mewujudkan budidaya
sistem akuaponik yang terotomatisasi dengan Internet of
Things (IoT), 3) mengevaluasi alat da (...truncated)