Integrasi Budidaya Tanaman Kangkung (Ipomea Aquatica Forsk) dan Ikan Nila Menggunakan Internet of Things

Infotekmesin, Jan 2024

Aquaponics is an application of a sustainable agricultural system by integrating the cultivation of plants and fish at one time. Water availability in plant commodities and water is optimized in aquaponic cultivation systems. Several parameters that can determine the level of success of cultivating an aquaponic system include water pH, water temperature, TDS, and water level. The process of monitoring and controlling several important parameters in cultivation can be done conventionally, but it is less effective and efficient because the cultivator has to check and measure the parameters every time. Therefore, as time goes by, and technology becomes more sophisticated, a control and monitoring system is designed. several parameters such as water pH, water temperature, TDS, and water level based on the Internet of Things (IoT) to support the success of the aquaponics system by monitoring environmental conditions using a laptop/smartphone at that time. Based on the test results, it was found that aquaponics in an indoor environment is successful - the air conditioner has a water temperature below 250C, the water pH shows 7pH and the average nutrient in the water shows 214.5 ppm. Based on this, kale plants in the stem grow quickly while leaf growth is very stunted. At temperatures smaller than 25 0C pomfret fish only survive for 2 weeks but tilapia fish can survive and not die in these environmental conditions. The length of the tilapia fish for 6 weeks has increased by 5 cm from its original length

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

https://ejournal.pnc.ac.id/index.php/infotekmesin/article/download/2160/697

Integrasi Budidaya Tanaman Kangkung (Ipomea Aquatica Forsk) dan Ikan Nila Menggunakan Internet of Things

Infotekmesin Vol.15, No.01, Januari 2024 p-ISSN: 2087-1627, e-ISSN: 2685-9858 DOI: 10.35970/infotekmesin.v15i1.2160, pp.135-141 Integrasi Budidaya Tanaman Kangkung (Ipomea Aquatica Forsk) dan Ikan Nila Menggunakan Internet of Things Murni Handayani1, Arif Sumardiono2*, Khoeruddin Witriansyah3, Fadillah4 1,3,4 Program Studi Teknik Produk Agro Industri, Politeknik Negeri Cilacap 2Program Studi Teknik Elektronika, Politeknik Negeri Cilacap 1,2,3,4Jln. Dr. Soetomo No.1 Karangcengis Sidakaya, Kabupaten Cilacap, 53212, Indonesia E-mail: .id1, .id2, .id3 Abstrak Info Naskah: Naskah masuk: 4 Desember 2023 Direvisi: 4 Januari 2024 Diterima: 5 Januari 2024 Beberapa parameter yang dapat menentukan tingkat keberhasilan budidaya sistem akuaponik meliputi pH air, suhu air, TDS dan ketinggian air. Proses pemantauan dan pengendalian terhadap beberapa parameter penting dalam budidaya tanaman kangkung dan ikan bawal dapat dilakukan secara konvensional, akan tetapi kurang efektif dan efisien karena pembudidaya harus mengecek dan mengukur parameter setiap waktu.. Oleh karena itu seiring berjalannya waktu, dan teknologi semakin canggih maka dirancang sebuah sistem kontrol dan monitoring beberapa parameter seperti pH air, suhu air, dan TDS berbasis Internet of Things (IoT) untuk menunjang keberhasilan dalam sistem akuaponik dengan memantau keadaan lingkungan menggunakan laptop/smartphone. Hasil uji coba didapatkan bahwa aquaponik pada lingkungan di dalam ruangan ber- ac mempunyai suhu air dibawah 25 0C, pH air menunjukan 7pH dan rata – rata nutrisi pada air menunjukan 214,5 ppm. Berdasarkan hal tersebut tanaman kangkung pada bagian batang tumbuh dengan cepat sedangkan pertumbuhan daun sangat terhambat. Pada suhu lebih kecil dari 25 0C ikan bawal hanya bertahan hidup selama 2 minggu tetapi ikan nila dapat bertahan hidup dan tidak mengalami kematian pada kondisi lingkungan tersebut. Panjang ikan nila selama 6 minggu bertambah 5 cm dari Panjang semula. Abstract Keywords: aquaponic; internet of things; environmental condition; kale plants Aquaponics is an application of a sustainable agricultural system by integrating the cultivation of plants and fish at one time. Water availability in plant commodities and water is optimized in aquaponic cultivation systems. Several parameters that can determine the level of success of cultivating an aquaponic system include water pH, water temperature, TDS, and water level. The process of monitoring and controlling several important parameters in cultivation can be done conventionally, but it is less effective and efficient because the cultivator has to check and measure the parameters every time. Therefore, as time goes by, and technology becomes more sophisticated, a control and monitoring system is designed. several parameters such as water pH, water temperature, TDS, and water level based on the Internet of Things (IoT) to support the success of the aquaponics system by monitoring environmental conditions using a laptop/smartphone at that time. Based on the test results, it was found that aquaponics in an indoor environment is successful - the air conditioner has a water temperature below 250C, the water pH shows 7pH and the average nutrient in the water shows 214.5 ppm. Based on this, kale plants in the stem grow quickly while leaf growth is very stunted. At temperatures smaller than 25 0C pomfret fish only survive for 2 weeks but tilapia fish can survive and not die in these environmental conditions. The length of the tilapia fish for 6 weeks has increased by 5 cm from its original length *Penulis korespondensi: Arif Sumardiono E-mail: 135 p-ISSN: 2087-1627, e-ISSN: 2685-9858 1. Pendahuluan Budidaya sistem akuaponik merupakan salah satu penerapan sistem pertanian berkelanjutan dengan mengintegrasikan budidaya tanaman dan ikan dalam satu waktu. Budidaya sistem akuaponik dapat berfungsi sebagai cara pemenuhan kebutuhan pangan di Indonesia dengan seiring bertambahnya jumlah penduduk, bahwa semakin bertambah jumlah penduduk, kebutuhan akan tempat tinggal semakin banyak, hal ini secara otomatis akan mengurangi lahan-lahan pertanian yang masih produktif untuk dijadikan bangunan tempat tinggal, sehingga untuk memenuhi kebutuhan dengan keterbatasan lahan maka akuaponik dapat menjadi salah satu solusinya [1]. Ketersediaan air pada komoditas tanaman dan air dioptimalkan pada budidaya sistem akuaponik [2]. Keseimbangan antara ekosistem kolam dan nutrisi tanaman sangat dibutuhkan dalam budidaya sistem akuaponik [3]. Nutrisi untuk pertumbuhan tanaman pada sistem akuaponik ini diperoleh dari kotoran ikan. Kotoran ikan mengandung amonia apabila terakumulasi banyak di dalam kolam akan menjadikan racun untuk ikan, sehingga amonia pada sistem ini akan dipecah menjadi nitrat maupun nitrit oleh tanaman secara alami dan aman untuk ikan dan dimanfaatkan untuk sumber nutrisi oleh tanaman tersebut [4] tanaman menyumbangkan oksigen sehingga air memiliki kualitas yang baik untuk kolam budidaya [5]. Jenis tanaman yang sering dibudidayakan untuk budidaya sistem akuaponik berupa sayur-sayuran di antaranya bayam, selada, kangkung, pakcoy, sedangkan untuk jenis ikan yang dibudidayakan seperti ikan nila, gurame, nila, bawal [6]. Pemantauan dan pengendalian media tanam dan kondisi lingkungan budidaya sangat penting dilakukan untuk keberhasilan dalam kegiatan budidaya [7] , beberapa parameter yang dapat menentukan tingkat keberhasilan budidaya sistem akuaponik meliputi pH air, suhu air, TDS dan ketinggian air. Proses pemantauan dan pengendalian terhadap beberapa parameter penting dalam budidaya dapat dilakukan secara konvensional, akan tetapi kurang efektif dan efisien karena pembudidaya harus mengecek dan mengukur parameter setiap waktu. Oleh karena itu seiring berjalannya waktu, dan teknologi semakin canggih maka dirancang sebuah sistem kontrol dan monitoring beberapa parameter seperti pH air, suhu air, TDS dan ketinggian air berbasis Internet of Things (IoT) untuk menunjang keberhasilan dalam sistem akuaponik. Internet of Things (IoT) bukanlah teknologi tunggal, tetapi merupakan campuran yang berbeda antar perangkat. Internet of Things (IoT) memberikan solusi berdasarkan integrasi teknologi informasi untuk menyimpan, mengambil, dan memproses data dan teknologi komunikasi yang menggunakan sistem elektronik [8]. pH yang dibutuhkan oleh ikan bawal berkisar antara 6,5-8,5, sedangkan pada pertumbuhan ikan bawal berada pada suhu air 250 - 300C. Padat tebar ikan bawal 100-150 ekor per meter dengan ukuran 5-12 cm. Tanaman kangkung (Ipomoea aquatica Forsk.) memiliki ciri daunnya panjang dan memiliki ujung daun yang tumpul, daun hijau tua dan bunga berwarna keunguan [9]. Tujuan penelitian yaitu 1) merancang sistem kontrol budidaya akuaponik dan monitoring (integrasi budidaya tanaman kangkung dan ikan bawal) meliputi pH air, suhu air, TDS dan ketinggian air dengan, 2) mewujudkan budidaya sistem akuaponik yang terotomatisasi dengan Internet of Things (IoT), 3) mengevaluasi alat da (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: https://ejournal.pnc.ac.id/index.php/infotekmesin/article/download/2160/697
Article home page: https://ejournal.pnc.ac.id/index.php/infotekmesin/article/view/2160/697

Murni Handayani, Arif Sumardiono, Khoeruddin Witriansyah, Fadillah. Integrasi Budidaya Tanaman Kangkung (Ipomea Aquatica Forsk) dan Ikan Nila Menggunakan Internet of Things, Infotekmesin, 2024, pp. 135-141,