Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kejadian Bayi Lahir Prematur di BLUD RSUD Kota Baubau Tahun 2017

Nov 2022

Faktor risiko penyebab terjadinya bayi lahir prematur diantaranya usia ibu yang ekstrim dan jarak kehamilan yang dekat. Untuk itu bayi-bayi yang lahir prematur perlu mendapat penanganan khusus dari petugas kesehatan dalam rangka mencegah kematian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian bayi lahir prematur di BLUD RSUD Kota Baubau tahun 2017. Metode penelitian yang digunakan adalah cross sectional yaitu untuk menganalisa faktor-faktor yang mempengaruhi seperti umur ibu dan jarak kehamilan ibu terhadap kejadian bayi lahir prematur dengan menggunakan sampel 69 dari populasi 227. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh faktor umur ibu terhadap kejadian bayi lahir prematur (ρ=0,017), ada pengaruh faktor jarak kehamilan ibu terhadap kejadian bayi lahir prematur (ρ=0,006). Simpulan faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian bayi lahir prematur di BLUD RSUD Kota Baubau tahun 2017 adalah umur ibu dan jarak kehamilan.

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

https://journal.formosapublisher.org/index.php/fjst/article/download/1676/1362

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kejadian Bayi Lahir Prematur di BLUD RSUD Kota Baubau Tahun 2017

Formosa Journal of Science and Technology (FJST) Vol. 1, No. 6, 2022: 767-776 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kejadian Bayi Lahir Prematur di BLUD RSUD Kota Baubau Tahun 2017 Sitti Aisyah Ansi1*, Wa Ode Hardiyanti2 Politeknik Baubau Corresponding Author: Sitti Aisyah Ansi ARTICLEINFO ABSTRAK Faktor risiko penyebab terjadinya bayi lahir Kata Kunci: Bayi Baru Lahir, Prematur prematur diantaranya usia ibu yang ekstrim dan jarak kehamilan yang dekat. Untuk itu bayi-bayi Received : 09, October yang lahir prematur perlu mendapat Revised : 19, October penanganan khusus dari petugas kesehatan Accepted: 28, October dalam rangka mencegah kematian. Penelitian ini ©2022 Ansi, Hardiyanti: This is an bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang open-access article distributed under the terms of the Creative Commons mempengaruhi kejadian bayi lahir prematur di BLUD RSUD Kota Baubau tahun 2017. Metode Atribusi 4.0 Internasional. penelitian yang digunakan adalah cross sectional yaitu untuk menganalisa faktor-faktor yang mempengaruhi seperti umur ibu dan jarak kehamilan ibu terhadap kejadian bayi lahir prematur dengan menggunakan sampel 69 dari populasi 227. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh faktor umur ibu terhadap kejadian bayi lahir prematur (ρ=0,017), ada pengaruh faktor jarak kehamilan ibu terhadap kejadian bayi lahir prematur (ρ=0,006). Simpulan faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian bayi lahir prematur di BLUD RSUD Kota Baubau tahun 2017 adalah umur ibu dan jarak kehamilan. DOI: https://10.55927/fjst.v1i6.1676 ( ISSN-E: 2828-1519 https://journal.formosapublisher.org/index.php/fjst 767 Ansi, Hardiyanti PENDAHULUAN Upaya pemerintah dalam pemeliharaan kesehatan anak ditujukan untuk mempersiapkan generasi yang sehat, cerdas, dan berkualitas serta menurunkan angka kematian anak, salah satunya yaitu melalui program sustainable development goals (SDG’s) atau pembangunan baru yang mendorong perubahan yang bergeser ke arah pembangunan berkelanjutan yang berdasarkan hak asasi manusia dan kesetaraan untuk mendorong pembangunan sosial, ekonomi dan lingkungan hidup. Salah satu tujuan dari SDG’s pada periode 2030 yang ke tiga yaitu menurunkan angka kematian neonatal sebesar 12 per 1.000 kelahiran hidup dan angka kematian balita sebesar 25 per 1.000 kelahiran hidup. Capaian penanganan neonatal dengan komplikasi mengalami penurunan dari tahun 2014 yang sebesar 59,68% menjadi 51,37% pada tahun 2015. Selain menurunnya capaian, masih terdapat disparitas yang cukup besar antar provinsi. Pada tahun 2015 capaian tertinggi diperoleh Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dengan angka sebesar 90,01% diikuti Jawa Tengah sebesar 89,23%, dan Jawa Timur sebesar 82,91%. Tiga provinsi dengan capaian terendah ialah Sulawesi Selatan sebesar 2,63%, Papua sebesar 5,19%, dan Maluku sebesar 8,86%. Sedangkan untuk di provinsi Sulawesi Tenggara pada tahun 2015 terdapat 61.691 jumlah bayi lahir hidup, dan neonatal yang mengalami komplikasi sebanyak 9.254, sedangkan cakupan penanganan neonatal yang mengalami komplikasi sebanyak 2.366 atau sebesar 25,57%. Berdasarkan pengambilan data awal yang telah dilakukan di BLUD RSUD Kota Baubau diperoleh data jumlah kejadian bayi lahir prematur selama tiga tahun berturut-turut menunjukkan bahwa pada tahun 2014 sebanyak 88 orang dan 4 orang diantaranya meninggal dunia, tahun 2015 sebanyak 629 orang dan 6 orang diantaranya meninggal dunia, tahun 2016 sebanyak 417 orang dan 12 orang diantaranya meninggal dunia, sedangkan tahun 2017 periode bulan Januari s.d. Juli terdapat 227 bayi baru lahir dan bayi baru lahir yang mengalami prematur sebanyak 139 orang. Persalinan prematur merupakan kelainan proses yang multifaktorial. Kombinasi keadaan obstetrik, sosiodemografi, dan faktor medik mempunyai pengaruh terjadinya persalinan prematur. Penyebab persalinan prematur yaitu iatrogenik (20%), infeksi (30%), ketuban pecah dini saat preterm (20 - 25%), dan persalinan preterm spontan (20 - 25%). Faktor resiko terhadap persalinan prematur dibagi menurut penelitian berbasis bukti, yaitu jarak persalinan yang pendek (<18 bulan) dan yang panjang (>60 bulan), riwayat persalinan prematur sebelumnya, ras/etnik, usia ibu yang ekstrim (<16 tahun dan > 40 tahun), malnutrisi ibu dan stress kronis, infeksi, sosioekonomi rendah, perokok (termasuk perokok pasif/peminum alkohol/pemakai kokain), faktor plasenta, kehamilan multipel (Sheliha, 2020). Selain itu berdasarkan hasil penelitian (Koniyo et al., 2012) menunjukkan hasil analisis bivariat pada faktor ibu didapatkan bahwa tidak ada hubungan antara jarak kehamilan dengan kejadian persalinan premature, ada hubungan antara paritas dengan kejadian persalinan premature dan ada hubungan antara penyakit yang diderita ibu bersalin dengan kejadian persalinan premature. 768 Formosa Journal of Science and Technology (FJST) Vol. 1, No. 6, 2022: 767-776 Pada faktor janin didapatkan bahwa ada hubungan antara gemeli dengan kejadian persalinan premature, dan tidak ada hubungan antara KJDR dengan kejadian persalinan premature, namun secara statistic tidak bermakna. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian bayi lahir prematur di BLUD RSUD Kota Baubau tahun 2017. TINJAUAN PUSTAKA Lamanya kehamilan yang normal adalah 280 hari atau 40 minggu dihitung dari hari pertama haid terakhir. Kadang-kadang kehamilan berakhir sebelum waktunya. Berakhirnya kehamilan menurut lamanya kehamilan dapat dibagi menjadi usia kehamilan 20 - 28 minggu (500 - 1000 gram) disebut partus imatur, kehamilan 28 - 37 minggu (1000 - 2500 gram) disebut partus prematur, 37 - 42 minggu (>2500) disebut partus matur, sedangkan usia kehamilan lebih dari 42 minggu disebut partus serotinus (Niswah, 2016). Dalam (Oroh et al., 2015)menjelaskan bahwa persalinan prematur adalah persalinan antara usia kehamilan 28 sampai 36 minggu, berat janin kurang dari 2499 gram. Sedangkan menurut (Samrida et al., 2022) menyatakan kelahiran prematur mengacu pada pelahiran bayi yang berlangsung antara usia kehamilan 24+0 dan 36+6 minggu. Dari beberapa pengertian yang telah disebutkan, prematuritas dapat didefinisikan sebagai persalinan yang terjadi antara usia kehamilan 20 minggu sampai dengan usia kehamilan kurang dari 37 minggu, dengan berat badan lahir < 2500 gram. Seperti halnya persalinan normal, persalinan prematur dapat ditandai dengan awitan spontan kontraksi uterus dan nyeri dengan atau disertai pecah ketuban ketuban spontan. Diagnosis persalinan prematur ditegakkan apabila ibu terbukti mengalami kontrasi teratur disertai penipisan dan pembukaan serviks sebelum usia kehamilan 37 minggu (Oroh et al., 2015). Menurut (Oroh et al., 2015) beberapa kriteria yang dapat dipakai sebagai diagnosis ancaman persalinan prematur adalah : 1) Kontraksi yang berulang sedikitnya 7 - 8 menit sekali, atau 2 – 3 kali dalam waktu 10 menit. 2) Adanya nyeri pada punggung bawah (low back pain). 3) Perdarahan bercak. 4) Perasaan menekan daerah serviks. 5) Pemeriksaan serviks menunjukkan t (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: https://journal.formosapublisher.org/index.php/fjst/article/download/1676/1362
Article home page: https://journal.formosapublisher.org/index.php/fjst/article/view/1676/1362

Ansi Sitti Aisyah, Wa Ode Hardiyanti. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kejadian Bayi Lahir Prematur di BLUD RSUD Kota Baubau Tahun 2017, 2022, pp. 767-776,