STRUKTUR KEPRIBADIAN TOKOH UTAMA DALAM NOVEL HUJAN BULAN JUNI: TINJAUAN PSIKOLOGI SASTRA

Ilmu dan Budaya, Feb 2022

Novel Hujan Bulan Juni merupakan salah satu karya Sapardi Djoko Damono dengan nilai penjualan yang tinggi. Novel Hujan Bulan Juni ini menceritakan tokoh utama bernama Sarwono dan Pingkan yang digambarkan secara rinci melalui tingkah lakunya dalam menghadapi segala problematika yang ada dalam kehidupannya. Penelitian ini bertujuan untuk memaparkan aspek kepribadian tokoh dalam novel Hujan Bulan Juni karya Sapardi Djoko Damono dengan teori Sigmund Freud. Analisis kejiwaan tokoh utama dalam novel Hujan Bulan Juni dapat dipahami melalui teori Sigmund Freud, yaitu id, ego, superego yang mampu dipengaruhi oleh faktor dari luar maupun faktor dari dalam. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan psikologi sastra. Metode penyajian hasil analisis data yang dipakai menggunakan cara kerja induktif atau cara kerja ilmiah, yaitu observasi, berpikir, membaca, dan menulis. Data penelitian berupa konflik batin sang tokoh utama yang terdapat dalam paragraf-paragraf yang menjadi objek penelitian. Data penelitian kemudian dianalisis. Analisis data sifatnya menuturkan, memaparkan, dan menafsirkan. Hasil penelitian ini adalah gambaran kisah percintaan Sarwono dan Pingkan yang harus menghadapi berbagai masalah seperti perbedaan agama, suku, dan juga budaya. Hal tersebut dapat berpengaruh pada kepribadian tokoh Sarwono dan tokoh Pingkan yang dapat mengusik perasaan maupun pikirannya yang sering mengalami masalah yang tidak selaras. Kepergian tokoh Pingkan ke Jepang membuat guncangan batin Sarwono yang berakibat dirinya dikuasai oleh Id.

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

https://journal.unas.ac.id/ilmu-budaya/article/download/1506/1123

STRUKTUR KEPRIBADIAN TOKOH UTAMA DALAM NOVEL HUJAN BULAN JUNI: TINJAUAN PSIKOLOGI SASTRA

Ilmu dan Budaya pISSN : 0126-2602 eISSN : 2798-6160 Volume 43, Nomor 1, Tahun 2022 STRUKTUR KEPRIBADIAN TOKOH UTAMA DALAM NOVEL HUJAN BULAN JUNI: TINJAUAN PSIKOLOGI SASTRA Triananda Bunga Lestari1*, Wahyu Wibowo1, Kurnia Rachmawati1, Arju Susanto1 1 Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Sastra, Universitas Nasional. Email: , , , . *Korespondensi: (Submission 20-12-2021 , Revissions 05-01-2022 , Accepted 06-01-2021 ) Abstract The June Rain novel is one of Sapardi Djoko Damono’s high sales scores. This June rain novel describes the main character Sarwono and Pingkan described in detail by his actions in facing all the problems in his life. This research is meant to expounded aspects of character’s personality with the theory of Sigmund Freud in the June Rain novel by Sapardi Djoko Damono. The psychological analysis of the main character in the June Rain novel can be understood by Sigmund Freud theory (Id, Ego, Superego) capable of being affected by both external and internal factors. The approach used in this study is that of literary psychology. The method of presentation of data analysis used is inductive or scientific, it is observation, thought, read and write. Research data of the character’s inner conflict contained in the paragraphs that become an object of study. Research data was then analyzed. Data analysis of its nature relates, expound, and interpret. The result of this study are image of trhe romance Sarwono and Pingkan that have to deal with such problems as religious, tribal and cultural differences. It can affect the personality of the Sarwono and the Pingkan. That can stir up feelings nor his thoughts that are often in disharmony. The Pingkan’s leaving for Japan suffered a mental shock of Sarwono which resulted in him being dominated by Id. Keywords: the june rain, literary psychology, qualitative research, character personality, sigmund freud. Abstrak Novel Hujan Bulan Juni merupakan salah satu karya Sapardi Djoko Damono dengan nilai penjualan yang tinggi. Novel Hujan Bulan Juni ini menceritakan tokoh utama bernama Sarwono dan Pingkan yang digambarkan secara rinci melalui tingkah lakunya dalam menghadapi segala problematika yang ada dalam kehidupannya. Penelitian ini bertujuan untuk memaparkan aspek kepribadian tokoh dalam novel Hujan Bulan Juni karya Sapardi Djoko Damono dengan teori Sigmund Freud. Analisis kejiwaan tokoh utama dalam novel Hujan Bulan Juni dapat dipahami melalui teori Sigmund Freud, yaitu id, ego, superego yang ILMU DAN BUDAYA | 17 Ilmu dan Budaya pISSN : 0126-2602 eISSN : 2798-6160 Volume 43, Nomor 1, Tahun 2022 mampu dipengaruhi oleh faktor dari luar maupun faktor dari dalam. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan psikologi sastra. Metode penyajian hasil analisis data yang dipakai menggunakan cara kerja induktif atau cara kerja ilmiah, yaitu observasi, berpikir, membaca, dan menulis. Data penelitian berupa konflik batin sang tokoh utama yang terdapat dalam paragraf-paragraf yang menjadi objek penelitian. Data penelitian kemudian dianalisis. Analisis data sifatnya menuturkan, memaparkan, dan menafsirkan. Hasil penelitian ini adalah gambaran kisah percintaan Sarwono dan Pingkan yang harus menghadapi berbagai masalah seperti perbedaan agama, suku, dan juga budaya. Hal tersebut dapat berpengaruh pada kepribadian tokoh Sarwono dan tokoh Pingkan yang dapat mengusik perasaan maupun pikirannya yang sering mengalami masalah yang tidak selaras. Kepergian tokoh Pingkan ke Jepang membuat guncangan batin Sarwono yang berakibat dirinya dikuasai oleh Id. Kata Kunci: hujan bulan juni, psikologi sastra, penelitian kualitatif, kepribadian tokoh, sigmund freud. PENDAHULUAN Wellek & Warren (1989) menyatakan bahwa sastrawan harus dapat memindahkan (menyalin) suatu bahasa sastranya dalam sistem ilmu pengetahuan, dan juga harus menguraikan dalam keterangan yang nyata dan masuk akal. Kemungkinan penelitian ilmiah atas bahasa sastra yang tidak tentu, banyak memiliki unsur pertimbangan yang tidak logis. Dalam hal ini, kedudukan sastrawan tak lebih dari posisi seorang penulis sejarah seni rupa atau musik, atau-bahkan, seorang yang mahir atau ilmu urai. Menurut Endraswara (2008), hasil sastra baik berupa puisi, prosa maupun lakon ialah hasil kerja dari suatu perihal kerohanian dan proses pencipta yang berada dalam situasi setengah sadar setelah mendapat wujud nyata yang dituangkan ke dalam wujud tertentu secara sadar dalam proses pembuatan karya sastra. Jadi, proses pembuatan karya sastra terjadi dalam dua tahap, yaitu tahap pertama dalam bentuk mengumpulkan hasil pemikiran dalam situasi khayalan dan tidak berbentuk, lalu dipindahkan ke dalam tahap kedua, yaitu proses karya sastra yang sifatnya berbentuk nyata yang sebelumnya sifatnya tidak berbentuk. Abrams (1999) dalam Nurgiyantoro 1995) menyatakan, fiksi awalnya dipertimbangkan pada karangan yang bersifat narasi, dalam hal ini adalah novel dan cerpen, bahkan fiksi sering dianggap memiliki makna yang sama dengan novel. Unsur intrinsik adalah unsur-unsur yang mendirikan hasil sastra itu sendiri. Unsurunsur inilah yang menimbulkan suatu naskah hadir sebagai naskah sastra, unsurunsur yang berdasarkan kenyataan akan ditemukan jika orang membaca karya sastra (Nurgiyantoro, 1995). Semua itu walau bersifat tidak berdasarkan pada kehadiran, karena dengan sengaja menciptakan hasil daya cipta oleh pengarang, dibuat serupa, ditirukan dan atau disamakan karena kehidupan dunia nyata sempurna dengan kejadian-kejadian dan latar aktualnya sehingga dapat dilihat seperti memang ada dan terjadi terlihat berjalan dengan metode uraian atau pandangannya sendiri. Keadaan yang benar-benar dalam karya fiksi, dengan begitu, tidak harus sama (dan berarti) dengan kebenaran yang berlaku di dunia nyata. Hal itu disebabkan dunia fiksi yang menggunakan imajinasi dan dunia nyata yang berdasarkan kenyataan tersendiri memiliki sistem-hukumnya sendiri. ILMU DAN BUDAYA | 18 Ilmu dan Budaya pISSN : 0126-2602 eISSN : 2798-6160 Volume 43, Nomor 1, Tahun 2022 Sebuah teks sastra, fiksi dan puisi, menurut pendapat kaum strukturalisme merupakan suatu keutuhan yang dibangun secara keselarasan yang mandalam oleh macam-macam unsur (pembangun)-nya. Pada satu sisi, susunan karya sastra dapat dimaksud sebagai susunan, penjelasan, dan bayangan bersama menjadikan keutuhan yang sempurna. Menurut Nurgiyantoro (1995), pada sisi yang lain, karya sastra juga mengacu pada pengertian adanya ikatan antarunsur (intrinsik) yang mempunyai imbang, saling memastikan, saling berpengaruh, yang secara bersama menjadikan satu kesatuan yang utuh. Secara sendiri terasing dari keseutuhannya, bahan, unsur, atau bagian-bagian tersebut tidak penting, bahkan tidak ada artinya. Tiap bagian akan menjadi berguna bila berada di alam sadar dan bersifat logis Ia akan memerintahkan perilaku dan pikiran yang tidak logis menjadi logis. Psikoanalisis sendiri adalah salah satu bentuk teori yang paling intensif dari psikoterapi. Tida (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: https://journal.unas.ac.id/ilmu-budaya/article/download/1506/1123
Article home page: https://journal.unas.ac.id/ilmu-budaya/article/view/1506/1123

Lestari Triananda Bunga, Wahyu Wibowo, Kurnia Rachmawati, Arju Susanto. STRUKTUR KEPRIBADIAN TOKOH UTAMA DALAM NOVEL HUJAN BULAN JUNI: TINJAUAN PSIKOLOGI SASTRA, Ilmu dan Budaya, 2022, pp. 17-32,