STRUKTUR KEPRIBADIAN TOKOH UTAMA DALAM NOVEL HUJAN BULAN JUNI: TINJAUAN PSIKOLOGI SASTRA
Ilmu dan Budaya
pISSN : 0126-2602
eISSN : 2798-6160
Volume 43, Nomor 1, Tahun 2022
STRUKTUR KEPRIBADIAN TOKOH UTAMA DALAM
NOVEL HUJAN BULAN JUNI: TINJAUAN PSIKOLOGI
SASTRA
Triananda Bunga Lestari1*, Wahyu Wibowo1, Kurnia Rachmawati1,
Arju Susanto1
1
Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Sastra,
Universitas Nasional.
Email: , ,
, .
*Korespondensi:
(Submission 20-12-2021 , Revissions 05-01-2022 , Accepted 06-01-2021 )
Abstract
The June Rain novel is one of Sapardi Djoko Damono’s high sales scores. This June rain
novel describes the main character Sarwono and Pingkan described in detail by his actions
in facing all the problems in his life. This research is meant to expounded aspects of
character’s personality with the theory of Sigmund Freud in the June Rain novel by Sapardi
Djoko Damono. The psychological analysis of the main character in the June Rain novel can
be understood by Sigmund Freud theory (Id, Ego, Superego) capable of being affected by
both external and internal factors. The approach used in this study is that of literary
psychology. The method of presentation of data analysis used is inductive or scientific, it is
observation, thought, read and write. Research data of the character’s inner conflict
contained in the paragraphs that become an object of study. Research data was then
analyzed. Data analysis of its nature relates, expound, and interpret. The result of this study
are image of trhe romance Sarwono and Pingkan that have to deal with such problems as
religious, tribal and cultural differences. It can affect the personality of the Sarwono and the
Pingkan. That can stir up feelings nor his thoughts that are often in disharmony. The
Pingkan’s leaving for Japan suffered a mental shock of Sarwono which resulted in him being
dominated by Id.
Keywords: the june rain, literary psychology, qualitative research, character
personality, sigmund freud.
Abstrak
Novel Hujan Bulan Juni merupakan salah satu karya Sapardi Djoko Damono dengan nilai
penjualan yang tinggi. Novel Hujan Bulan Juni ini menceritakan tokoh utama bernama
Sarwono dan Pingkan yang digambarkan secara rinci melalui tingkah lakunya dalam
menghadapi segala problematika yang ada dalam kehidupannya. Penelitian ini bertujuan
untuk memaparkan aspek kepribadian tokoh dalam novel Hujan Bulan Juni karya Sapardi
Djoko Damono dengan teori Sigmund Freud. Analisis kejiwaan tokoh utama dalam novel
Hujan Bulan Juni dapat dipahami melalui teori Sigmund Freud, yaitu id, ego, superego yang
ILMU DAN BUDAYA | 17
Ilmu dan Budaya
pISSN : 0126-2602
eISSN : 2798-6160
Volume 43, Nomor 1, Tahun 2022
mampu dipengaruhi oleh faktor dari luar maupun faktor dari dalam. Pendekatan yang
digunakan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan psikologi sastra. Metode penyajian
hasil analisis data yang dipakai menggunakan cara kerja induktif atau cara kerja ilmiah, yaitu
observasi, berpikir, membaca, dan menulis. Data penelitian berupa konflik batin sang tokoh
utama yang terdapat dalam paragraf-paragraf yang menjadi objek penelitian. Data penelitian
kemudian dianalisis. Analisis data sifatnya menuturkan, memaparkan, dan menafsirkan.
Hasil penelitian ini adalah gambaran kisah percintaan Sarwono dan Pingkan yang harus
menghadapi berbagai masalah seperti perbedaan agama, suku, dan juga budaya. Hal tersebut
dapat berpengaruh pada kepribadian tokoh Sarwono dan tokoh Pingkan yang dapat
mengusik perasaan maupun pikirannya yang sering mengalami masalah yang tidak selaras.
Kepergian tokoh Pingkan ke Jepang membuat guncangan batin Sarwono yang berakibat
dirinya dikuasai oleh Id.
Kata Kunci: hujan bulan juni, psikologi sastra, penelitian kualitatif, kepribadian
tokoh, sigmund freud.
PENDAHULUAN
Wellek & Warren (1989) menyatakan bahwa sastrawan harus dapat
memindahkan (menyalin) suatu bahasa sastranya dalam sistem ilmu pengetahuan,
dan juga harus menguraikan dalam keterangan yang nyata dan masuk akal.
Kemungkinan penelitian ilmiah atas bahasa sastra yang tidak tentu, banyak memiliki
unsur pertimbangan yang tidak logis. Dalam hal ini, kedudukan sastrawan tak lebih
dari posisi seorang penulis sejarah seni rupa atau musik, atau-bahkan, seorang yang
mahir atau ilmu urai. Menurut Endraswara (2008), hasil sastra baik berupa puisi,
prosa maupun lakon ialah hasil kerja dari suatu perihal kerohanian dan proses
pencipta yang berada dalam situasi setengah sadar setelah mendapat wujud nyata
yang dituangkan ke dalam wujud tertentu secara sadar dalam proses pembuatan
karya sastra. Jadi, proses pembuatan karya sastra terjadi dalam dua tahap, yaitu
tahap pertama dalam bentuk mengumpulkan hasil pemikiran dalam situasi khayalan
dan tidak berbentuk, lalu dipindahkan ke dalam tahap kedua, yaitu proses karya
sastra yang sifatnya berbentuk nyata yang sebelumnya sifatnya tidak berbentuk.
Abrams (1999) dalam Nurgiyantoro 1995) menyatakan, fiksi awalnya
dipertimbangkan pada karangan yang bersifat narasi, dalam hal ini adalah novel dan
cerpen, bahkan fiksi sering dianggap memiliki makna yang sama dengan novel.
Unsur intrinsik adalah unsur-unsur yang mendirikan hasil sastra itu sendiri. Unsurunsur inilah yang menimbulkan suatu naskah hadir sebagai naskah sastra, unsurunsur yang berdasarkan kenyataan akan ditemukan jika orang membaca karya sastra
(Nurgiyantoro, 1995). Semua itu walau bersifat tidak berdasarkan pada kehadiran,
karena dengan sengaja menciptakan hasil daya cipta oleh pengarang, dibuat serupa,
ditirukan dan atau disamakan karena kehidupan dunia nyata sempurna dengan
kejadian-kejadian dan latar aktualnya sehingga dapat dilihat seperti memang ada
dan terjadi terlihat berjalan dengan metode uraian atau pandangannya sendiri.
Keadaan yang benar-benar dalam karya fiksi, dengan begitu, tidak harus sama (dan
berarti) dengan kebenaran yang berlaku di dunia nyata. Hal itu disebabkan dunia
fiksi yang menggunakan imajinasi dan dunia nyata yang berdasarkan kenyataan
tersendiri memiliki sistem-hukumnya sendiri.
ILMU DAN BUDAYA | 18
Ilmu dan Budaya
pISSN : 0126-2602
eISSN : 2798-6160
Volume 43, Nomor 1, Tahun 2022
Sebuah teks sastra, fiksi dan puisi, menurut pendapat kaum strukturalisme
merupakan suatu keutuhan yang dibangun secara keselarasan yang mandalam oleh
macam-macam unsur (pembangun)-nya. Pada satu sisi, susunan karya sastra dapat
dimaksud sebagai susunan, penjelasan, dan bayangan bersama menjadikan keutuhan
yang sempurna. Menurut Nurgiyantoro (1995), pada sisi yang lain, karya sastra juga
mengacu pada pengertian adanya ikatan antarunsur (intrinsik) yang mempunyai
imbang, saling memastikan, saling berpengaruh, yang secara bersama menjadikan
satu kesatuan yang utuh. Secara sendiri terasing dari keseutuhannya, bahan, unsur,
atau bagian-bagian tersebut tidak penting, bahkan tidak ada artinya. Tiap bagian
akan menjadi berguna bila berada di alam sadar dan bersifat logis Ia akan
memerintahkan perilaku dan pikiran yang tidak logis menjadi logis. Psikoanalisis
sendiri adalah salah satu bentuk teori yang paling intensif dari psikoterapi. Tida (...truncated)