ANALISIS ALTERASI DAN MINERALISASI BERDASARKAN PENGAMATAN MEGASKOPIK DAN MIKROSKOPIK PADA DAERAH PROSPEK X KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW, SULAWESI UTARA: ALTERATION AND MINERALIZATION ANALYSIS BASED ON OBSERVATION OF MEGASCOPIC AND MICROSCOPIC ON PROSPECT "X" IN BOLAANG MONGONDOW REGENCY AT NORTH SULAWESI
MAKALAH ILMIAH
ANALISIS ALTERASI DAN MINERALISASI BERDASARKAN PENGAMATAN
MEGASKOPIK DAN MIKROSKOPIK PADA DAERAH PROSPEK X
KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW, SULAWESI UTARA
ALTERATION AND MINERALIZATION ANALYSIS BASED ON OBSERVATION OF
MEGASCOPIC AND MICROSCOPIC ON PROSPECT "X" IN BOLAANG MONGONDOW
REGENCY AT NORTH SULAWESI
Gita Dela Christi1, Sulistiyono1, Tatik Handayani2 dan Denni Widhiyatna2
1
Politeknik Energi dan Pertambangan Bandung,
2
Pusat Sumber Daya Mineral Batubara dan Panas Bumi
DOI: https://doi.org/10.47599/bsdg.v19i1.436
ABSTRAK
Lengan Utara Pulau Sulawesi merupakan jalur metalogenik yang kaya emas. Daerah
penelitian berada di Desa Bakan, Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara pada
wilayah IUP PT J. Resources Bolaang Mongondow. Eksplorasi untuk mendapatkan daerah
prospek baru masih terus dilakukan, sehingga penelitian tentang karakteristik alterasi dan
mineralisasi, diharapkan dapat menjadi acuan untuk ditemukannya daerah prospek baru.
Identifikasi data permukaan dan bawah permukaan dilakukan secara megaskopik dan
mikroskopik. Pengamatan mikroskopik dengan petrografi dan mineragrafi, untuk mendapatkan
data permukaan dilakukan pengamatan alterasi, channel sampling dan grab sampling,
sedangkan data bawah permukaan diperoleh dari pengeboran inti. Tujuan dari penelitian ini
untuk mengetahui alterasi, mineralisasi, oksidasi, dan tipe cebakan. Daerah penelitian memiliki
litologi breksi hidrotermal, breksi diatrem, breksi sesar, dan breksi tuf. Alterasi yang
berkembang berupa silika vuggy, silika masif, argilik lanjut, dan argilik. Mineralisasi berupa
emas dan perak, serta dijumpai mineral sulfida berupa pirit, kalkopirit, sfalerit, enargit, kovelit,
serta mineral oksida seperti gutit, jarosit, dan hematit. Tipe cebakan daerah penelitian berupa
epitermal sulfidasi tinggi yang terbentuk pada kedalaman menengah, dengan bijih tipe oksida.
Kata kunci: epitermal, sulfidasi tinggi, litologi, alterasi, mineralisasi
ABSTRACT
The North Arm of Sulawesi Island is a gold-rich metallogenic belt. The study area is located in
Bakan Village, Bolaang Mongondow Regency, North Sulawesi in the IUP area of PT J
Resources Bolaang Mongondow. Exploration to obtain new prospect areas is still being carried
out. Therefore, research on alteration and mineralisation characteristics is expected to be a
reference for the discovery of new prospects. The research was conducted by identifying
surface and subsurface data megascopically and microscopically. Microscopic observations
with petrography and mineragraphy. To obtain surface data, alteration observations, channel
sampling and grab sampling were carried out, while subsurface data were obtained from core
drilling. The purpose of the study was to determine the alteration, mineralisation, oxidation,
and deposits type. The study area has lithologies of hydrothermal breccia, diatreme breccia,
fault breccia, and tuff breccia. Alteration developed in the form of vuggy sillica, massive sillica,
advanced argillic, and argillic. Mineralisation includes gold and silver and sulphide minerals
such as pyrite, chalcopyrite, sphalerite, enargite, covellite, and oxide minerals such as
goethite, jarosite and hematite. The epithermal high sulphidation deposit type was formed at
medium depth, with oxide-type ore.
Keywords: epithermal, high sulphidation, lithology, alteration, mineralization
Buletin Sumber Daya Geologi Volume 19 Nomor 1 - 2024
1
MAKALAH ILMIAH
PENDAHULUAN
Indonesia memiliki beberapa busur
magmatik, menurut Carlille dan Mitchell
tahun 1994, terdapat 15 busur magmatik
yang teridentifikasi, dan terbentuk pada
akhir
Mesozoik
sampai
Kenozoik,
pelamparan berupa daratan memanjang
sekitar 15.000 km. Kondisi ini menjadikan
Indonesia kaya akan sumber daya mineral,
salah satunya adalah emas. Salah satu di
antara busur magmatik tersebut yaitu
Busur Sulawesi Utara (Kavalieris et al,
1992).
Pearson dan Caira (1999) menunjukkan
bahwa daerah busur Sulawesi Utara
merupakan daerah yang memiliki potensi
besar terbentuknya mineralisasi, yakni
pada masa Miosen Awal terbentuk di
bawah regime regional dextral wrench-
tectonic dan pada masa Pliosen terbentuk
di bawah regime sinistral wrench-tectonic.
Busur normal utara hingga barat laut dan
busur sesar paralel timur hingga tenggara,
terbentuk
pada
masa
Miosen,
mendominasi
bentukan
struktur.
Perpotongan antara beberapa sesar utama
umumnya merupakan daerah mineralisasi
porfiri Cu-Au berkadar rendah yang
terbentuk pada masa Miosen. Pengaktifan
kembali sinistral dari struktur utama Miosen
pada akhir masa Miosen dan Pliosen
menyebabkan terjadinya pemekaran dan
dilasi yang berarah timur sampai timur laut.
Busur ini diyakini menjadi lebih tebal dan
batuan dasarnya adalah batuan kerak
samudra (Gambar 1). Busur ini terbentuk
selama pembentukan Laut Sulawesi pada
masa Eosen (van Leeuwen and Muharjo,
2005).
Gambar 1. Peta Tektonik Regional Sulawesi dan Lokasi Penelitian
(Modifikasi dari Wilson and Moss, 1999, dalam Umbal, dkk., 2007)
2
Buletin Sumber Daya Geologi Volume 19 Nomor 1 - 2024 : 1 - 10
MAKALAH ILMIAH
Hedenquist dkk., (2000) membuat kriteria
karakteristik cebakan epitermal sulfidasi
tinggi yang didasarkan pada kedalaman,
batuan induk, bentuk endapan, tekstur
bijih, alterasi, mineral gangue, serta
mineral sulfida. Pada penelitian ini,
karakteristik cebakan ditentukan dengan
mengacu pada klasifikasi tersebut.
Kegiatan eksplorasi untuk mendapatkan
daerah prospek baru masih terus
dilakukan. Pada eksplorasi emas litologi
perlu diperhatikan untuk memahami
karakteristik alterasi dan mineralisasi serta
tipe deposit. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui alterasi, mineralisasi, oksidasi,
dan tipe cebakan.
METODOLOGI
Penelitian
dilakukan
dengan
mengidentifikasi data permukaan dan data
bawah permukaan secara megaskopik,
analisis petrografi dan analisis mineragrafi.
Untuk mendapatkan data permukaan
dilakukan pemetaan alterasi, channel
sampling, dan grab sampling, sedangkan
data bawah permukaan diperoleh dari
pengeboran inti. Pengamatan permukaan
dilakukan untuk mendapatkan informasiinformasi geologi di permukaan sehingga
dapat memberikan gambaran mengenai
litologi, alterasi, dan mineralisasi yang
berkembang di daerah penelitian.
Pengamatan inti bor dilakukan untuk
mengetahui karakteristik batuan bawah
permukaan berupa perubahan litologi,
mineral alterasi, mineral sufida, dan
oksidasi. Analisis petrografi dilakukan
untuk mendeskripsi dan mengklasifikasi
batuan dengan menggunakan mikroskop
polarisasi. Pada analisis petrografi, hal
yang
penting
diperhatikan
adalah
identifikasi tekstur, struktur, dan komposisi
mineral. Analisis mineragrafi bertujuan
untuk mengetahui tekstur dan kumpulan
mineral logam dengan menggunakan
mikroskop refleksi, baik pada batuan
samping maupun bijih.
HASIL DAN PEMBAHASAN
HASIL
Dari hasil pengamatan litologi, daerah
penelitian disusun oleh breksi hidrotermal,
breksi diatrem, breksi sesar, tufa andesitik,
tufa dasitik, breksi tufa dasitik. Berdasarkan
hasil pengamatan megaskopis, alterasi
ya (...truncated)