ANALISIS ALTERASI DAN MINERALISASI BERDASARKAN PENGAMATAN MEGASKOPIK DAN MIKROSKOPIK PADA DAERAH PROSPEK X KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW, SULAWESI UTARA: ALTERATION AND MINERALIZATION ANALYSIS BASED ON OBSERVATION OF MEGASCOPIC AND MICROSCOPIC ON PROSPECT "X" IN BOLAANG MONGONDOW REGENCY AT NORTH SULAWESI

Buletin Sumber Daya Geologi, May 2024

The North Arm of Sulawesi Island is a gold-rich metallogenic belt. The study area is located in Bakan Village, Bolaang Mongondow Regency, North Sulawesi in the IUP area of PT J Resources Bolaang Mongondow. Exploration to obtain new prospect areas is still being carried out. Therefore, research on alteration and mineralisation characteristics is expected to be a reference for the discovery of new prospects. The research was conducted by identifying surface and subsurface data megascopically and microscopically. Microscopic observations with petrography and mineragraphy. To obtain surface data, alteration observations, channel sampling and grab sampling were carried out, while subsurface data were obtained from core drilling. The purpose of the study was to determine the alteration, mineralisation, oxidation, and deposits type. The study area has lithologies of hydrothermal breccia, diatreme breccia, fault breccia, and tuff breccia. Alteration developed in the form of vuggy sillica, massive sillica, advanced argillic, and argillic. Mineralisation includes gold and silver and sulphide minerals such as pyrite, chalcopyrite, sphalerite, enargite, covellite, and oxide minerals such as goethite, jarosite and hematite. The epithermal high sulphidation deposit type was formed at medium depth, with oxide-type ore.

ANALISIS ALTERASI DAN MINERALISASI BERDASARKAN PENGAMATAN MEGASKOPIK DAN MIKROSKOPIK PADA DAERAH PROSPEK X KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW, SULAWESI UTARA: ALTERATION AND MINERALIZATION ANALYSIS BASED ON OBSERVATION OF MEGASCOPIC AND MICROSCOPIC ON PROSPECT "X" IN BOLAANG MONGONDOW REGENCY AT NORTH SULAWESI

MAKALAH ILMIAH ANALISIS ALTERASI DAN MINERALISASI BERDASARKAN PENGAMATAN MEGASKOPIK DAN MIKROSKOPIK PADA DAERAH PROSPEK X KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW, SULAWESI UTARA ALTERATION AND MINERALIZATION ANALYSIS BASED ON OBSERVATION OF MEGASCOPIC AND MICROSCOPIC ON PROSPECT "X" IN BOLAANG MONGONDOW REGENCY AT NORTH SULAWESI Gita Dela Christi1, Sulistiyono1, Tatik Handayani2 dan Denni Widhiyatna2 1 Politeknik Energi dan Pertambangan Bandung, 2 Pusat Sumber Daya Mineral Batubara dan Panas Bumi DOI: https://doi.org/10.47599/bsdg.v19i1.436 ABSTRAK Lengan Utara Pulau Sulawesi merupakan jalur metalogenik yang kaya emas. Daerah penelitian berada di Desa Bakan, Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara pada wilayah IUP PT J. Resources Bolaang Mongondow. Eksplorasi untuk mendapatkan daerah prospek baru masih terus dilakukan, sehingga penelitian tentang karakteristik alterasi dan mineralisasi, diharapkan dapat menjadi acuan untuk ditemukannya daerah prospek baru. Identifikasi data permukaan dan bawah permukaan dilakukan secara megaskopik dan mikroskopik. Pengamatan mikroskopik dengan petrografi dan mineragrafi, untuk mendapatkan data permukaan dilakukan pengamatan alterasi, channel sampling dan grab sampling, sedangkan data bawah permukaan diperoleh dari pengeboran inti. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui alterasi, mineralisasi, oksidasi, dan tipe cebakan. Daerah penelitian memiliki litologi breksi hidrotermal, breksi diatrem, breksi sesar, dan breksi tuf. Alterasi yang berkembang berupa silika vuggy, silika masif, argilik lanjut, dan argilik. Mineralisasi berupa emas dan perak, serta dijumpai mineral sulfida berupa pirit, kalkopirit, sfalerit, enargit, kovelit, serta mineral oksida seperti gutit, jarosit, dan hematit. Tipe cebakan daerah penelitian berupa epitermal sulfidasi tinggi yang terbentuk pada kedalaman menengah, dengan bijih tipe oksida. Kata kunci: epitermal, sulfidasi tinggi, litologi, alterasi, mineralisasi ABSTRACT The North Arm of Sulawesi Island is a gold-rich metallogenic belt. The study area is located in Bakan Village, Bolaang Mongondow Regency, North Sulawesi in the IUP area of PT J Resources Bolaang Mongondow. Exploration to obtain new prospect areas is still being carried out. Therefore, research on alteration and mineralisation characteristics is expected to be a reference for the discovery of new prospects. The research was conducted by identifying surface and subsurface data megascopically and microscopically. Microscopic observations with petrography and mineragraphy. To obtain surface data, alteration observations, channel sampling and grab sampling were carried out, while subsurface data were obtained from core drilling. The purpose of the study was to determine the alteration, mineralisation, oxidation, and deposits type. The study area has lithologies of hydrothermal breccia, diatreme breccia, fault breccia, and tuff breccia. Alteration developed in the form of vuggy sillica, massive sillica, advanced argillic, and argillic. Mineralisation includes gold and silver and sulphide minerals such as pyrite, chalcopyrite, sphalerite, enargite, covellite, and oxide minerals such as goethite, jarosite and hematite. The epithermal high sulphidation deposit type was formed at medium depth, with oxide-type ore. Keywords: epithermal, high sulphidation, lithology, alteration, mineralization Buletin Sumber Daya Geologi Volume 19 Nomor 1 - 2024 1 MAKALAH ILMIAH PENDAHULUAN Indonesia memiliki beberapa busur magmatik, menurut Carlille dan Mitchell tahun 1994, terdapat 15 busur magmatik yang teridentifikasi, dan terbentuk pada akhir Mesozoik sampai Kenozoik, pelamparan berupa daratan memanjang sekitar 15.000 km. Kondisi ini menjadikan Indonesia kaya akan sumber daya mineral, salah satunya adalah emas. Salah satu di antara busur magmatik tersebut yaitu Busur Sulawesi Utara (Kavalieris et al, 1992). Pearson dan Caira (1999) menunjukkan bahwa daerah busur Sulawesi Utara merupakan daerah yang memiliki potensi besar terbentuknya mineralisasi, yakni pada masa Miosen Awal terbentuk di bawah regime regional dextral wrench- tectonic dan pada masa Pliosen terbentuk di bawah regime sinistral wrench-tectonic. Busur normal utara hingga barat laut dan busur sesar paralel timur hingga tenggara, terbentuk pada masa Miosen, mendominasi bentukan struktur. Perpotongan antara beberapa sesar utama umumnya merupakan daerah mineralisasi porfiri Cu-Au berkadar rendah yang terbentuk pada masa Miosen. Pengaktifan kembali sinistral dari struktur utama Miosen pada akhir masa Miosen dan Pliosen menyebabkan terjadinya pemekaran dan dilasi yang berarah timur sampai timur laut. Busur ini diyakini menjadi lebih tebal dan batuan dasarnya adalah batuan kerak samudra (Gambar 1). Busur ini terbentuk selama pembentukan Laut Sulawesi pada masa Eosen (van Leeuwen and Muharjo, 2005). Gambar 1. Peta Tektonik Regional Sulawesi dan Lokasi Penelitian (Modifikasi dari Wilson and Moss, 1999, dalam Umbal, dkk., 2007) 2 Buletin Sumber Daya Geologi Volume 19 Nomor 1 - 2024 : 1 - 10 MAKALAH ILMIAH Hedenquist dkk., (2000) membuat kriteria karakteristik cebakan epitermal sulfidasi tinggi yang didasarkan pada kedalaman, batuan induk, bentuk endapan, tekstur bijih, alterasi, mineral gangue, serta mineral sulfida. Pada penelitian ini, karakteristik cebakan ditentukan dengan mengacu pada klasifikasi tersebut. Kegiatan eksplorasi untuk mendapatkan daerah prospek baru masih terus dilakukan. Pada eksplorasi emas litologi perlu diperhatikan untuk memahami karakteristik alterasi dan mineralisasi serta tipe deposit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui alterasi, mineralisasi, oksidasi, dan tipe cebakan. METODOLOGI Penelitian dilakukan dengan mengidentifikasi data permukaan dan data bawah permukaan secara megaskopik, analisis petrografi dan analisis mineragrafi. Untuk mendapatkan data permukaan dilakukan pemetaan alterasi, channel sampling, dan grab sampling, sedangkan data bawah permukaan diperoleh dari pengeboran inti. Pengamatan permukaan dilakukan untuk mendapatkan informasiinformasi geologi di permukaan sehingga dapat memberikan gambaran mengenai litologi, alterasi, dan mineralisasi yang berkembang di daerah penelitian. Pengamatan inti bor dilakukan untuk mengetahui karakteristik batuan bawah permukaan berupa perubahan litologi, mineral alterasi, mineral sufida, dan oksidasi. Analisis petrografi dilakukan untuk mendeskripsi dan mengklasifikasi batuan dengan menggunakan mikroskop polarisasi. Pada analisis petrografi, hal yang penting diperhatikan adalah identifikasi tekstur, struktur, dan komposisi mineral. Analisis mineragrafi bertujuan untuk mengetahui tekstur dan kumpulan mineral logam dengan menggunakan mikroskop refleksi, baik pada batuan samping maupun bijih. HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL Dari hasil pengamatan litologi, daerah penelitian disusun oleh breksi hidrotermal, breksi diatrem, breksi sesar, tufa andesitik, tufa dasitik, breksi tufa dasitik. Berdasarkan hasil pengamatan megaskopis, alterasi ya (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: http://buletinsdg.geologi.esdm.go.id/index.php/bsdg/article/download/BSDG_VOL_19_NO_1_2024_1/333
Article home page: http://buletinsdg.geologi.esdm.go.id/index.php/bsdg/article/view/BSDG_VOL_19_NO_1_2024_1/333

Christi Gita Dela, Sulistiyono Sulistiyono, Tatik Handayani, Denni Widhiyatna. ANALISIS ALTERASI DAN MINERALISASI BERDASARKAN PENGAMATAN MEGASKOPIK DAN MIKROSKOPIK PADA DAERAH PROSPEK X KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW, SULAWESI UTARA: ALTERATION AND MINERALIZATION ANALYSIS BASED ON OBSERVATION OF MEGASCOPIC AND MICROSCOPIC ON PROSPECT "X" IN BOLAANG MONGONDOW REGENCY AT NORTH SULAWESI, Buletin Sumber Daya Geologi, 2024, pp. 1 - 10,