ANALISIS RISIKO DALAM PROSES PENGADAAN JASA DI RU III MENGGUNAKAN PENDEKATAN HOUSE OF RISK (HOR)
INFOTECH journal
ISSN : 2460-1861 (Print), 2615-4250 (Online)
Vol. 9 No. 1, pp. 270-278
ANALISIS RISIKO DALAM PROSES PENGADAAN JASA DI RU III
MENGGUNAKAN PENDEKATAN HOUSE OF RISK (HOR)
1,2
Dinda Tasya Salsabila1, Rahmad Inca Liperda2*
Dapartemen of Logistics Enginnering, Universitas Pertamina, South Jakarta 12220, Indonesia
1
ABSTRACT
This study analyzes risks in the procurement process of services in RU III using the House of Risk (HOR) approach
to enhance risk management effectiveness. Risk identification is conducted through observation, interviews, and
relevant literature review. The analysis of HOR phase 1 identifies three best risk mitigation strategies:
coordination with vendors/FPP before open registration (PA1), clarification of technical and administrative
documents (PA2), and maximum negotiation and tender reprocessing if below Pertamina's HPS (PA3). HOR phase
2 involves calculating the Total Effectiveness Value (TEk) and the Efficiency Difficulty Ratio (ETDk) to evaluate
the effectiveness and implementation difficulty of the mitigation strategies. This research provides
recommendations for implementing the identified mitigation strategies and periodic monitoring to enhance risk
control. The findings of this study contribute to the development of service procurement risk management in RU
III and serve as a reference for decision-makers in risk mitigation during the service procurement phase.
Keywords: Risk Management, Procurement, House of Risk, Mitigation Strategies
ABSTRAK
Penelitian ini menganalisis risiko dalam proses pengadaan jasa di RU III menggunakan pendekatan House of Risk
(HOR) untuk meningkatkan efektivitas manajemen risiko. Identifikasi risiko dilakukan melalui observasi,
wawancara, dan studi literatur terkait. Hasil analisis HOR fase 1 mengidentifikasi tiga strategi mitigasi risiko
terbaik: koordinasi dengan vendor/FPP sebelum pendaftaran terbuka (PA1), klarifikasi dokumen teknis dan
administrasi (PA2), serta negosiasi maksimal dan proses ulang tender jika di bawah HPS Pertamina (PA3). HOR
fase 2 melibatkan perhitungan Total Effectiveness Value (TEk) dan Efficiency Difficulty Ratio (ETDk) untuk
mengevaluasi efektivitas dan tingkat kesulitan implementasi strategi mitigasi. Penelitian ini memberikan
rekomendasi implementasi strategi mitigasi yang telah diidentifikasi dan pemantauan berkala untuk meningkatkan
pengendalian risiko. Hasil penelitian ini berkontribusi dalam pengembangan manajemen risiko pengadaan jasa di
RU III dan menjadi referensi bagi pengambil keputusan dalam mitigasi risiko pada tahap pengadaan jasa.
Kata Kunci: Manajemen Risiko, Pengadaan, House of Risk, Strategi Mitigasi
Riwayat Artikel :
Tanggal diterima : 30-05-2023
Tanggal revisi
: 09-06-2023
Tanggal terbit
: 10-06-2023
DOI
:
https://doi.org/10.31949/infotech.v9i1.5494
INFOTECH journal by Informatika UNMA is licensed under CC BY-SA 4.0
Copyright © 2023 By Author
INFOTECH journal
Vol (9) No, (1) 2023, 270-278
1. PENDAHULUAN
31 paket mengalami perubahan harga. Dalam total
keseluruhan pengadaan, terdapat 135 paket (sekitar
31%) yang tidak memenuhi persyaratan yang
ditetapkan.
1.1 Latar Belakang
Peran pengadaan dalam sebuah badan usaha
sangatlah kritikal, mengingat biaya pengadaan
dapat mencapai 40%-70% dari total biaya
(Rozudin & Mahbubah, 2021). Pengadaan barang
dan jasa merupakan kegiatan yang dilakukan oleh
perusahaan untuk memenuhi kebutuhannya
dengan memastikan standar kualitas yang
ditetapkan terpenuhi, sehingga tidak menyebabkan
kerugian finansial dan reputasi yang signifikan.
Mengingat besarnya pengaruh pengadaan terhadap
kelangsungan bisnis perusahaan, proses pengadaan
juga memerlukan pengendalian risiko yang baik
(Erlangga Adi & Susanto, 2017).
Jumlah Paket
Ketidakpatuhan pemasok terhadap kontrak
dikarenakan hubungan yang kurang baik dengan
perusahaan dapat mengakibatkan ketidaksesuaian
spesifikasi bahan baku yang disediakan. Pada
Pertamina RU III, rata-rata proses pengadaan
tahun 2022-2023 memakan waktu 115 Hari
Kalender. Pentingnya Service Level Agreement
(SLA) dalam memastikan standar dan layanan
yang sama bagi kedua belah pihak. Fungsi
Pengadaan harus mampu mengurangi dampak
risiko guna menjaga SLA mencapai target dan
memastikan kelancaran proses pengadaan. Saat
ini, RU III bekerja sama dengan 125 vendor, dan
terdapat sejumlah permasalahan yang terjadi
selama proses pengadaan yang berlangsung dari
tahun 2022 hingga 2023. Gambar 1
menggambarkan berbagai permasalahan yang
terjadi dalam proses pengadaan di RU III selama
periode tersebut.
300
250
200
150
100
50
0
57%
16%
8%
7%
Gambar 1 Grafik Pengadaan Jasa Periode
2022-2023
Berdasarkan informasi yang ditampilkan dalam
Gambar 1, dapat diamati bahwa perusahaan telah
melakukan pengadaan sebanyak 431 paket selama
periode tahun 2022-2023. Dari jumlah tersebut,
296 paket pengadaan (atau sekitar 69%) sesuai
dengan persyaratan yang ditetapkan, sementara 70
paket mengalami keterlambatan pekerjaan, 34
paket memiliki spesifikasi yang tidak sesuai, dan
Tingginya angka pengadaan yang tidak sesuai
memberikan risiko yang signifikan terhadap
kelangsungan bisnis perusahaan, seperti kenaikan
biaya proyek dan penambahan waktu pelaksanaan.
Hal ini dapat menyebabkan konflik antara pihakpihak terkait karena adanya proses pengulangan
tender, yang juga dipengaruhi oleh performa
vendor yang terlibat dalam pengadaan.
Permasalahan-permasalahan yang muncul dalam
proses pengadaan ini seringkali sulit untuk
diprediksi dengan tepat oleh perusahaan,
mengingat sifat yang tidak pasti. Risiko proyek
memiliki makna yang merujuk kepada
kemungkinan kerugian dan ketidakuntungan
dalam proyek tersebut. Ketidakpastian seringkali
dikaitkan dengan risiko karena keduanya memiliki
arti yang sama dan memberikan dampak negatif.
Oleh karena itu, diperlukan kajian risiko yang
komprehensif untuk merancang langkah-langkah
penanggulangan yang efektif terhadap risiko dan
dampak yang mungkin terjadi.
Salah satu pendekatan yang digunakan dalam
pengelolaan risiko rantai pasok adalah House of
Risk (HOR). HOR menggabungkan dua metode
(Tubagus, n.d.), yaitu Failure Mode Effect
Analysis (FMEA) yang digunakan untuk
mengukur risiko secara kuantitatif, dan House of
Quality (HOQ) yang digunakan untuk
memprioritaskan risiko berdasarkan agen atau
penyebab risiko, guna menentukan tindakan
mitigasi yang paling efektif. Melalui model HOR,
perusahaan dapat mengendalikan risiko secara
proaktif dengan mengembangkan aktivitas yang
berfokus pada penanggulangan risiko yang muncul
dari agen risiko (Safitri et al., 2019). Oleh karena
itu, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi
dan mengukur dampak risiko yang terkait dengan
aktivitas pengadaan, serta menemukan agen risiko
atau penyebab risiko yang terkait dengan risiko
yang muncul melalui penerapan model HOR.
Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk
mencegah dan memberikan rekomendasi mitigasi
risiko kepada RU III, sehingga perusahaan dapat
melakukan evaluasi proaktif terhadap proses
pengadaan jasa gun (...truncated)