Teologi Inklusif Kehidupan Pesantren

Eduprof : Islamic Education Journal, Sep 2021

“The presence of Islamic boarding schools in Indonesia is a display case for the distinctive face of Islam, with social, cultural, religious and political arrangements for civil society. Pesantren becomes an educational institution as well as a house of wisdom, where students and the pesantren community learn to be good individuals. The strengths of the educational, ethical and socio-religious principles of Islamic boarding schools need to be discussed more deeply, in order to explore the richness of inclusiveness in Islamic boarding schools. Inclusiveness is a result of pesantren cultural education, and inclusiveness is the result of pesantren curriculum education. The principle of inclusiveness in Islamic boarding schools can be seen in the realm of social interaction, not in the realm of ideas. Education carried out in Islamic boarding schools is education that is integrated in three intelligences at once; intellectual, spiritual and emotional. The educational culture of this pesantren is unique. Where the value of education forms the value in a santri from the formation of classical book studies with a Sufism or Sufism pattern. Education in Islamic boarding schools prioritizes the theological-philosophical goals of Islamic education. In addition to seeking knowledge (li talab al-ilm) also seeking blessings (li talab al-barakah). Tasamuh, gentle, calm attitude, respect, respect for others, open thinking (inclusive), are authentic social ethics of Islamic boarding school products. Tasamuh, Islamic boarding schools are not only theoretical, but become a way of life (al-'amal al-hayah). The social ethics of Islamic education in Islamic boarding schools lies in the ability to optimize -spiritual- tarbiyah, ta'lim -intellectual-, ta'dib -emotional- education which is the spirit of Islamic education. Pesantren has an exclusive and inclusive attitude that is well harmonized.”. ABSTRAK “Kehadiran pondok pesantren di Indonesi menjadi etalase wajah beragama Islam yang khas, dengan tatatan sosial, budaya, agama dan politik masyarakat madani. Pesantren mejadi lembaga pendidikan sekaligus rumah kearifan, dimana santri dan masyarakat pesantren belajar menjadi pribadi yang baik. Kekuatan prinsip pendidikan, etika dan sosial-religius pesantren perlu diwacanan lebih dalam, guna menggali kekayan khazanah inklusifitas di pondok pesantren. Inklusifitas merupakan sebuah hasil dari pendidikan kultur pesantren, dan sikap inklusif merupakan hasil dari pendidikan kurikulum pesantren. Prinsip inklusif di pondok pesantren dapat dilihat dalam ranah interaksi sosial, bukan pada dataran ide. Pendidikan yang dilaksanakan di pesantren adalah pendidikan yang digabungkan (integrated) dalam tiga kecerdasan sekaligus; intelektual, spiritual dan emosional. Kultural edukatif pesantren ini menjadi khas. Dimana nilai kendidikan membentuk nilai dalam diri seorang santri dari bentukan kajian kitab klasik yang bercorakan tasawwuf atau sufistik. Pendidikan di pondok pesantren mengendepankan tujuan teologis-filosofis pendidikan Islam. Selain mencari ilmu (li thalab al-ilm) juga mencari keberkahan (li thalab al-barakah). Tasamuh, sikap lembut, teduh, menghargai, menghormai orang lain, berfikir tebuka (inklusif), merupakan etika sosial otentik produk pondok pesantren. Tasamuh, pondok pesantren tidak hanya teoritis, melainkan menjadi sebuah laku hidup (al-‘amal al-hayah). Etika sosial pendidikan Islam pondok pesantren terletak pada kemampuan dalam mengoptimalkan Pendidikan tarbiyah ¬-spritual- , ta’lim -intelektual-, ta’dib -emosional- yang menjadi ruh pendidikan Islam. Pesantren memiliki sikap eksklusif serta inklusif yang diharmonisasikan dengan baik.”.

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

https://iaibbc.e-journal.id/xx/article/download/87/93

Teologi Inklusif Kehidupan Pesantren

Teologi Inklusif Kehidupan Pesantren Akmal R.G. Hsb 1 Syamsul Wathani2 Yoyo Hanbali3 Muhammad Roni4 1 Universitas Islam 45 Bekasi, 2STAI Darul Kamal NW Kembang Kerang Lombok Timur, NTB, 3Universitas Islam 45 Bekasi, 4IAIN Langsa Email :. 1, [email protected],[email protected] .id4 , Received: 2021-08-19; Accepted: 2021-09-29; Published: 2021-09-30 ABSTRACT “The presence of Islamic boarding schools in Indonesia is a display case for the distinctive face of Islam, with social, cultural, religious and political arrangements for civil society. Pesantren becomes an educational institution as well as a house of wisdom, where students and the pesantren community learn to be good individuals. The strengths of the educational, ethical and socio-religious principles of Islamic boarding schools need to be discussed more deeply, in order to explore the richness of inclusiveness in Islamic boarding schools. Inclusiveness is a result of pesantren cultural education, and inclusiveness is the result of pesantren curriculum education. The principle of inclusiveness in Islamic boarding schools can be seen in the realm of social interaction, not in the realm of ideas. Education carried out in Islamic boarding schools is education that is integrated in three intelligences at once; intellectual, spiritual and emotional. The educational culture of this pesantren is unique. Where the value of education forms the value in a santri from the formation of classical book studies with a Sufism or Sufism pattern. Education in Islamic boarding schools prioritizes the theological-philosophical goals of Islamic education. In addition to seeking knowledge (li talab al-ilm) also seeking blessings (li talab albarakah). Tasamuh, gentle, calm attitude, respect, respect for others, open thinking (inclusive), are authentic social ethics of Islamic boarding school products. Tasamuh, Islamic boarding schools are not only theoretical, but become a way of life (al-'amal al-hayah). The social ethics of Islamic education in Islamic boarding schools lies in the ability to optimize -spiritual- tarbiyah, ta'lim -intellectual-, ta'dib -emotional- education which is the spirit of Islamic education. Pesantren has an exclusive and inclusive attitude that is well harmonized.”. Eduprof : Islamic Education Journal Volume3Nomor 2,September 2021|P-ISSN : 2723-2034| E-ISSN: 2723-2034 DOI: https://doi.org/ 10.47453/eduprof.v3i2.87 131 | Teologi Inklusif Kehidupan Pesantren (130-150) Available at :https://iaibbc.e-journal.id/xx/article/view/37 Keywords: Social Ethics, Tasamuh, Islamic Boarding School, Islamic Education, Classical Books. ABSTRAK “Kehadiran pondok pesantren di Indonesi menjadi etalase wajah beragama Islam yang khas, dengan tatatan sosial, budaya, agama dan politik masyarakat madani. Pesantren mejadi lembaga pendidikan sekaligus rumah kearifan, dimana santri dan masyarakat pesantren belajar menjadi pribadi yang baik. Kekuatan prinsip pendidikan, etika dan sosial-religius pesantren perlu diwacanan lebih dalam, guna menggali kekayan khazanah inklusifitas di pondok pesantren. Inklusifitas merupakan sebuah hasil dari pendidikan kultur pesantren, dan sikap inklusif merupakan hasil dari pendidikan kurikulum pesantren. Prinsip inklusif di pondok pesantren dapat dilihat dalam ranah interaksi sosial, bukan pada dataran ide. Pendidikan yang dilaksanakan di pesantren adalah pendidikan yang digabungkan (integrated) dalam tiga kecerdasan sekaligus; intelektual, spiritual dan emosional. Kultural edukatif pesantren ini menjadi khas. Dimana nilai kendidikan membentuk nilai dalam diri seorang santri dari bentukan kajian kitab klasik yang bercorakan tasawwuf atau sufistik. Pendidikan di pondok pesantren mengendepankan tujuan teologis-filosofis pendidikan Islam. Selain mencari ilmu (li thalab al-ilm) juga mencari keberkahan (li thalab al-barakah). Tasamuh, sikap lembut, teduh, menghargai, menghormai orang lain, berfikir tebuka (inklusif), merupakan etika sosial otentik produk pondok pesantren. Tasamuh, pondok pesantren tidak hanya teoritis, melainkan menjadi sebuah laku hidup (al-‘amal al-hayah). Etika sosial pendidikan Islam pondok pesantren terletak pada kemampuan dalam mengoptimalkan Pendidikan tarbiyah ¬spritual- , ta’lim -intelektual-, ta’dib -emosional- yang menjadi ruh pendidikan Islam. Pesantren memiliki sikap eksklusif serta inklusif yang diharmonisasikan dengan baik.”. Kata Kunci: Etika Sosial, Tasamuh, Pondok Pesantren, Pendidikan Islam, Kitab Klasik. Copyright © 2021Eduprof : Islamic Education Journal Journal Email : / jurnaleduprof.bungabangsacirebon.ac.id Eduprof : Islamic Education Journal Volume3Nomor 2,September 2021|P-ISSN : 2723-2034| E-ISSN: 2723-2034 DOI: https://doi.org/ 10.47453/eduprof.v3i2.87 132 | Teologi Inklusif Kehidupan Pesantren (130-150) Available at :https://iaibbc.e-journal.id/xx/article/view/37 PENDAHULUAN Di Indonesia, terdapat kehidupan yang menarik yang dapat dibaca sebagai sebuah anugrah lahirnya Islam di bumi Nusantara, yakni, kehidupan Pesantren. Sebuah kehidupan yang dalam latar historisnya menjadi kekuatan Islam kultural di bilik-bilik desa, 1 yang tersebat di pelosok Indonesia. Bahkan, hari ini, Pesantren menjadi model dan wadah Pendidikan yang tidak hanya memiliki tugas secara sosial, melainkan jugasecara spiritual. Pondok Pesantren telah meluluskan santri sebagai seorang siswa, namun di sisi lain, juga meluluskan seorang santri yang memiliki karakter keagamaan yang khas dan kuat. Jika merujuk pada data Direktorat Pondok Pesantren Kemenag RI 2002, jumlah Pondok Pesantren di Indonesia mencapai 14.067, dengan rincian: 8.905 Pondok Pesantren salaf, 878 Pondok modern dan 4.284 Pondok Pesantren campuran, jumlah santri seluruhnya mencapai 3.200.000 orang.2 Pencapain jumlah ini barangtentu berbeda dengan hari ini, dimana Pondok Pesantren semakin berkembang dengan segala bentuk kemajuan dan platform perkembangannya. Dengan kemajuan ini, Pondok Pensatren seolah menjadi model dan ruh Pendidikan Islam di Indonesia, terutama dalam kajian pendidikan keagamaan dan pembentukan karakter (character building). Kehidupan di Pesantren dipandang sebagai kehidupan yang khidmat, ketentrama,sebab di Pesantren, kehidupan dijalankan dalam bimbingan murabbi -dalam istilah sufi- atau Kiyai/Tuan Guru.3 Pandangan yang ditelisik secara sosiologis ini barangkali dapat dipandang sebagai sebuah parameter, bahwa Pesantren memilki ciri yang khas yang berbeda dengan Lembaga Pendidikan lain. Realitas kehidupan dan keberagamaan di Pesantren telah menjadi salah satu etalase wajah beragama di Indonesia. Pola dan laku keberagamaan-kehidupan masayarakat Pesantren, para santri-guru dan Kiyai yang secara sosial memiliki sikap yang inklusif (terbuka). Dalam Bahasa teologis-sufistik akhalqi, inklusif ini difahami sebagai sikap tasamuh, sikap berlaku baik, Nurcholis Madjid, Bilik – Bilik Pesantren: Sebuah Potret Perjalanan (Jakarta: Paramadina,1997), 2. 2 Munawiroh, Pergeseran Literatur Pesantren Salafiyyah, (Jak (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: https://iaibbc.e-journal.id/xx/article/download/87/93
Article home page: https://iaibbc.e-journal.id/xx/article/view/87/93

Gunawan Akmal Rizki, Wathani Syamsul, Yoyo Hanbali, Roni Muhammad. Teologi Inklusif Kehidupan Pesantren, Eduprof : Islamic Education Journal, 2021, pp. 130-150,