Urgensi Makna Kontekstual (Dalālah Siyāqiyyah) dan Teori Kontekstual (Naẓariyyah al-Siyāq) dalam Penelitian Semantik: The Urgency of Contextual Meaning (Dalālah Siyāqiyyah) and Contextual Theory (Naẓariyyah al-Siyāq) in Semantic Research

Insyirah: Jurnal Ilmu Bahasa Arab dan Studi Islam, Jun 2022

This article aims to reveal the urgency of contextual meaning (dalālah siyāqiyyah) and contextual theory (naẓariyyah al-siyāq) in Arabic semantic research. The study of contextual meaning is important to reveal because lexical meaning is not sufficient to understand an utterance or text. This research is library research that uses a qualitative descriptive method. The results of the study indicate that context is an element of the meaning referred to in the structure of the text or speech because the context does not only pay attention to words and sentences but also to written and spoken texts and the whole through the relationship between vocabularies in a context. Contextual theory in semantic research is very useful in revealing the contextual meaning of an utterance. The contextual theory does not pay attention to the types of context except the context of language or context of pronunciation so this theory explains a collection of words that are neatly arranged with the word that is the object of study. This theory also focuses on explaining the syntactic and morphological characteristics of an utterance.

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

http://journal2.uad.ac.id/index.php/insyirah/article/download/5156/2842

Urgensi Makna Kontekstual (Dalālah Siyāqiyyah) dan Teori Kontekstual (Naẓariyyah al-Siyāq) dalam Penelitian Semantik: The Urgency of Contextual Meaning (Dalālah Siyāqiyyah) and Contextual Theory (Naẓariyyah al-Siyāq) in Semantic Research

Insyirah: Jurnal Ilmu Bahasa Arab dan Studi Islam Vol. 5, No. 1, June 2022, 26-38 Urgensi Makna Kontekstual (Dalālah Siyāqiyyah) dan Teori Kontekstual (Naẓariyyah al-Siyāq) dalam Penelitian Semantik The Urgency of Contextual Meaning (Dalālah Siyāqiyyah) and Contextual Theory (Naẓariyyah al-Siyāq) in Semantic Research 1Mohammad Yusuf Setyawan Email : 1 1UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ARTICLE INFO Article history Received: 21 November 2021 Revised: 26 February 2022 Accepted: 3 June 2022 Keywords Contextual Meaning, Contextual Theory, Semantics. A B ST R A C T This article aims to reveal the urgency of contextual meaning (dalālah siyāqiyyah) and contextual theory (naẓariyyah al-siyāq) in Arabic semantic research. The study of contextual meaning is important to reveal because lexical meaning is not sufficient to understand an utterance or text. This research is library research that uses a qualitative descriptive method. The results of the study indicate that context is an element of the meaning referred to in the structure of the text or speech because the context does not only pay attention to words and sentences but also to written and spoken texts and the whole through the relationship between vocabularies in a context. Contextual theory in semantic research is very useful in revealing the contextual meaning of an utterance. The contextual theory does not pay attention to the types of context except the context of language or context of pronunciation so this theory explains a collection of words that are neatly arranged with the word that is the object of study. This theory also focuses on explaining the syntactic and morphological characteristics of an utterance. This is an open access article under the CC–BY-SA license. Pendahuluan Makna merupakan kajian penting dalam bahasa karena tujuan dari berbahasa sendiri adalah untuk menyampaikan makna. Makna merupakan tujuan akhir antara pembicara dan pendengar, dan antara penulis dan pembaca (’Amayirah, 1987, hlm. 13). Makna dalam bahasa Arab dikaji dalam ‘Ilm al-Dilālah atau ‘Ilm al-Dalālah. Keduanya merupakan sinonim, hanya saja istilah yang kedua jarang digunakan. Dalam bahasa Indonesia, ilmu ini dikenal dengan “semantik” yang berasal dari bahasa Inggris, semantics. Mengingat bahwa semantik berusaha untuk menggapai kepada makna yang dimaksud dari sebuah kata atau kalimat, maka pencapaian makna ini adalah tujuan 26 Insyirah Vol 5. No. 1, June 2022, p. 26-38 yang yang diharapkan oleh para ahli tafsir, pensyarah hadis, ahli ushul fikih, ahli ilmu kalam, dan ulama balagah. Kajian makna adalah puncak dari kajian bahasa secara umum (al-Akrat, 2018, hlm. 19–20). Hamsa mengutip pendapat Fatimah Djajasudarma yang mengatakan bahwa pengertian makna dibedakan dengan arti dalam semantik. Makna adalah pertautan yang ada di antara unsur-unsur bahasa itu sendiri (terutama kata-kata). Makna menyangkut intrabahasa. Mengkaji dan memberi makna suatu kata adalah memahami kajian kata tersebut yang berkenaan dengan hubunganhubungan makna yang membuat kata tersebut berbeda dari kata lain. Sementara itu, arti menyangkut makna leksikal dari kata-kata itu sendiri yang terdapat dalam kamus (Hamsa dkk., 2021, hlm. 87). Persoalan makna ada pada semua tataran linguistik, kecuali fonetik. Fonologi, morfologi, dan siktaksis selalu terkait dengan makna. Dari sisi ini semantik kurang tepat dikatakan sebagai bagian dari tataran linguistik. Karena semantik berada berada pada semua tataran itu. Bahkan dapat dikatakan semantik bagaikan ruh pada semua tataran linguistik. Tetapi dari sisi lain, persoalan makna (semantik) menjadi bagian dari pembahasan linguistik. Dengan demikian, tepatnya dikatakan bahwa semantik adalah bagian dari linguistik tetapi posisinya di atas semua tataran linguistik (Nasution, 2017, hlm. 149). Jauh sebelum lahirnya semantik modern oleh Breal, bangsa Arab telah lebih dulu melakukan penelitian terkait makna. Penelitian semantik oleh orang-orang Arab dimulai sejak mereka memberikan perhatian pada bahasa karena penelitian semantik mengandung arti penelitian terhadap makna segala lafaz dalam bahasa. Perhatian terhadap makna merupakan suatu hal yang menjadi kesibukan dan orientasi para linguis Arab klasik. Hal ini dilatarbelakangi oleh kekayaan lafaz yang menjadi keistimewaan bahasa Arab. Kekayaan lafaz ini telah melalui perkembangan dalam jangka panjang sehingga memunculkan keanekaragaman makna yang dipengaruhi oleh situasi dan kondisi yang meliputinya (al-Akrat, 2018, hlm. 77). Semantik merupakan ilmu yang banyak dikaji oleh para ilmuan dari berbagai disiplin ilmu termasuk para linguis Arab. Hal ini karena bahasa Arab memiliki kekayaan bahasa yang sangat luas di samping juga adanya fenomena sebagian kata yang mengalami perkembangan dan perubahan makna akibat keanekaragaman kelas masyarakat Arab. Pada era modern, semantik berkaitan dengan ilmu balagah Arab klasik dan baru dipisahkan setelah menculnya istilah “semantik” dalam perspektif Perancis oleh pakar linguis bernama Michael Breal. Breal merupakan orang pertama yang mengenalkan metodologi ilmu yang khusus mengkaji makna melalui bukunya “Essai Desemantique” pada tahun 1897. Breal menggunakan istilah “Semantique” untuk membedakan kajiannya dari kajian-kajian linguistik lainnya. Istilah ini berasal dari bahasa Yunani “Semantike” (Haidar, 2005, hlm. 12). Urgensi Makna Kontekstual (Dalālah Siyāqiyyah) 27 Insyirah Vol. 5, No. 1, June 2022, p. 26-38 ISSN: 2338-5367 Istilah Perancis ini kemudian dibawa oleh para linguis ke dalam bahasa Inggris “Semantics”. Baik istilah Arab “’Ilm al-Dalālah” ataupun istilah Inggris “Semantics”, keduanya menunjukkan hakikat yang sama bahwa ilmu ini adalah ilmu yang mempelajari makna atau cabang linguistik yang mengulas teori makna (Umar, 1992, hlm. 11). Para linguis Arab klasik telah melakukan pengklasifikasian makna jauh sebelum kemunculan semantik Barat. Ini bisa ditelusuri dalam pemikiran al-Jahizh pada buku al-Bayān wa al-Tabyīn dan Ibn Jinni pada buku al-Khaṣāiṣ. Menurut al-Jahizh, makna dibagi menjadi 5, yaitu (1) lafaz (allafẓ), (2) isyarat (al-isyārah), (3) akad (al-‘aqd), (4) tulisan (khaṭṭ), dan (5) penunjuk (niṣbah). Lafaz ialah unsur yang mengungkap makna dalam kalimat dan hakikat penafsirannya. al-Jahizh telah menjadikan makna lafaz sebagai salah satu bagian dari lima jenis makna yang kesemuanya berperan dalam mengungkapkan makna. Dengan demikian ia menjadikan semantik bahasa (‘ilm al-dalālah al-lugawī) sebagai bagian dari semantik umum (‘ilm al-dalālah al-‘ām), dimana urgensi pendapatnya ini belum pernah diperhatikan kecuali setelah masa modern melalui pemikiran Ferdinand de Saussure. Inilah yang kemudian dalam semiotika (‘ilm al-isyārāt) disebut dengan penanda (al-dāllah) (al-Barkawi, 1991, hlm. 15). Akad ialah membentuk bilangan dengan ujung jari sebagai penggambaran dari hitungan. Tulisan merupakan penggambaran dari lafaz. Penunjuk ialah kondisi petuntuk tanpa melibatkan ungkapan yang merupakan fenomena yang ada dalam penciptaan l (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: http://journal2.uad.ac.id/index.php/insyirah/article/download/5156/2842
Article home page: http://journal2.uad.ac.id/index.php/insyirah/article/view/5156/2842

Setyawan Mohammad Yusuf. Urgensi Makna Kontekstual (Dalālah Siyāqiyyah) dan Teori Kontekstual (Naẓariyyah al-Siyāq) dalam Penelitian Semantik: The Urgency of Contextual Meaning (Dalālah Siyāqiyyah) and Contextual Theory (Naẓariyyah al-Siyāq) in Semantic Research, Insyirah: Jurnal Ilmu Bahasa Arab dan Studi Islam, 2022, pp. 26-38,