ANALISIS PENGARUH KOMPONEN IPM DAN KESEMPATAN KERJA TERHADAP TINGKAT KEMISKINAN DI KABUPATEN/KOTA PROVINSI BALI PERIODE 2010-2019
E-Jurnal EP Unud, 10 [9] : 3528 - 3555
ISSN: 2303-017
ANALISIS PENGARUH KOMPONEN IPM DAN KESEMPATAN KERJA
TERHADAP TINGKAT KEMISKINAN DI KABUPATEN/KOTA
PROVINSI BALI PERIODE 2010-2019
I Gusti Agung Ayu Pradnyawati1
Made Kembar Sri Budhi2
1,2
Program Studi Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unversitas
Udayana (Unud), Bali, Indonesia
e-mail:
ABSTRAK
Kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasarnya seperti
kebutuhan akan sandang, pangan, dan papan. Kemiskinan dianggap masalah sosial yang sangat sulit
untuk diatasi khususnya di negara-negara berkembang. Maka dari itu, setiap negara fokus untuk
menanggulangi kemiskinan, termasuk Indonesia. Provinsi Bali merupakan salah satu provinsi di
Indonesia yang memiliki masalah kemiskinan. Penelitian ini memiliki tujuan untuk menganalisis
pengaruh angka harapan hidup, rata-rata lama sekolah, pengeluaran per kapita, dan kesempatan kerja
secara simultan dan parsial terhadap tingkat kemiskinan di Provinsi Bali. Jumlah observasi pada
penelitian ini yaitu sebanyak 100 observasi yang terdiri dari 10 cross section yaitu 1 provinsi dan 9
kabupaten/kota serta time series selama 10 tahun pada periode 2010-2019. Penelitian ini diuji
menggunakan data panel metode Estimated Generalied Least Square (EGLS), yang meliputi uji F
dan uji t, serta uji ketepatan model dengan menggunakan program Eviews. Berdasarkan hasil
analisis, diperoleh bahwa angka harapan hidup, rata-rata lama sekolah, pengeluaran per kapita, dan
kesempatan kerja secara simultan berpengaruh signifikan terhadap kemiskinan di Provinsi Bali.
Hasil analisis dengan uji parsial diperoleh bahwa rata-rata lama sekolah, pengeluaran per kapita, dan
kesempatan kerja berpengaruh negatif dan signifikan terhadap kemiskinan sedangkan angka harapan
hidup tidak berpengaruh signifikan terhadap kemiskinan di Provinsi Bali.
Kata kunci: kemiskinan, Indeks Pembangunan Manusia, kesempatan kerja
ABSTRACT
Poverty is seen as an inability to meet the needs of clothing, food and shelter. Poverty is a very
difficult social problem to overcome, especially in developing countries. Therefore, every country
focuses on reducing poverty, including Indonesia. Bali Province is one of the provinces in Indonesia
which has a poverty problem. This study aims to analyze the effect of life expectancy, average length
of schooling, per capita expenditure, and job opportunities simultaneously and partially on poverty
levels in Bali Province. The number of observations in this study was 100 observations consisting
of 10 sections, namely 1 province and 9 districts / cities and a time series for 10 years in the 20102019 period. This research was tested using the Estimated Generalied Least Square (EGLS) data
panel method, which includes the F test and t test, as well as the model accuracy test using the
Eviews program. Based on the analysis, it is found that the life expectancy rate, average length of
schooling, per capita expenditure, and job opportunities simultaneously have a significant effect on
poverty in Bali Province. The results of the analysis using the partial test show that the average
length of schooling, per capita expenditure, and have a negative and significant effect on poverty,
while life expectancy has no significant effect on poverty in Bali Province.
Keywords: poverty, Human Development Index, job opportunities
3528
E-JURNAL EKONOMI PEMBANGUNAN UNIVERSITAS UDAYANA Vol. 10 No 9
SEPTEMBER
PENDAHULUAN
Isu-isu mengenai kemiskinan merupakan fokus pembangunan di setiap
negara di dunia terutama di negara-negara yang berkembang, termasuk Indonesia
sendiri. Penanganan kemiskinan haruslah dimengerti dan dipahami sebagai
persoalan dunia, maka seharusnya ditangani secara global. Hal ini dilakukan untuk
memahami secara menyeluruh setiap program penanggulangan kemiskinan. Dalam
Sustainable Development Goals (SDGs) dinyatakan “no poverty” sebagai poin
pertama prioritas. Hal ini berarti bahwa dunia bersepakat untuk meniadakan
kemiskinan dalam bentuk apapun di dunia ini (Ishartono & Santoso TR, 2016).
Salah satu tujuan Bank Dunia adalah mengurangi kemiskinan ekstrem atau
extreme poverty. Kemiskinan ekstrem merupakan kemiskinan yang dipandang dari
sisi pendapatan. Menurut World Poverty Clock (2019), negara-negara Asia
Tenggara dengan tingkat kemiskinan ekstrem di atas tiga persen dan tertinggi
adalah Laos, Filipina, dan Indonesia. Persentase kemiskinan ekstrem di Laos
merupakan yang paling tinggi yaitu sebesar 13 persen atau sebesar 895,3 ribu jiwa
dari jumlah populasi penduduknya sebanyak 7,06 juta jiwa. Persentase kemiskinan
ekstrem tertinggi kedua yaitu Filipina sebesar 4,5 persen atau sebesar 4,8 juta jiwa
dari jumlah populasi penduduknya sebanyak 107,9 juta jiwa. Indonesia menduduki
peringkat ketiga dengan persentase penduduk kemiskinan ekstrem sebesar 4 persen
atau sebesar 10,5 juta jiwa dari jumlah populasi penduduknya sebanyak 269,1 juta
jiwa. Jika dilihat dari besar persentasenya, Laos menjadi negara di Asia Tenggara
yang memiliki tingkat kemiskinan ekstrem tertinggi. Namun, jumlah penduduk
dalam status kemiskinan ekstrem tertinggi yaitu Indonesia.
3529
Analisis Pengaruh Komponen IPM...[I Gst. A.A. Pradnyawati, Made Kembar Sri Budhi]
Provinsi Bali merupakan salah satu provinsi yang terdapat di Indonesia yang
sangat populer sebagai tujuan wisata juga memiliki masalah kemiskinan. Walaupun
Bali merupakan destinasi pariwisata dengan pendapatan triliunan rupiah per tahun
dan merupakan penyumbang devisa sektor pariwisata terbesar, namun masih
banyak terjadi kemiskinan dan ketidakmerataan antardaerahnya.
Persentase Kemiskinan Provinsi Bali menurut Kab/Kota
2010-2019
9
8
7
6
5
4
3
2
1
0
2010
2011
Jembrana
2013
2014
Tabanan
2015
Badung
Bangli
Karangasem
Buleleng
2016
2017
Gianyar
Denpasar
2018
2019
Klungkung
Bali
Sumber : Badan Pusat Statistik, 2020.
Gambar 1 Persentase Kemiskinan Provinsi Bali menurut Kab/Kota 2010-2019
Tingkat presentase kemiskinan di Provinsi Bali dari tahun ke tahun
mengalami fluktuasi dan cenderung menurun. Persentase kemiskinan pada tahun
2019 merupakan persentase kemiskinan yang paling rendah dalam kurun waktu
sepuluh tahun terakhir. Hal ini menunjukkan bahwa kinerja pemerintah, dunia
usaha, dan masyarakat berkontribusi dalam menurunkan angka kemiskinan. Meski
terjadi penurunan angka kemiskinan, penurunan tersebut belum merata di setiap
daerahnya. Rata-rata persentase kemiskinan yang paling tinggi yaitu di Kabupaten
Karangasem. Sebaliknya, persentase kemiskinan yang paling kecil adalah di
3530
E-JURNAL EKONOMI PEMBANGUNAN UNIVERSITAS UDAYANA Vol. 10 No 9
SEPTEMBER
Kabupaten Badung dan Kota Denpasar yang jauh di bawah persentase kemiskinan
Provinsi Bali. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi ketidakmerataan persebaran
penduduk miskin di Provinsi Bali. Sasaran dari pembangunan ialah membenahi
kondisi ekonomi masyarakat menuju peningkatan lebih baik agar jumlah
masyarakat yang tergolong miskin dapat berkurang (Ningsih dan Mohd. Nur S.,
2016).
Sa (...truncated)