AD-DAKHIL SUMBER RIWAYAT AHLI KITAB; ISRA’ILIYAT DALAM TAFSIR IBN KATSIR

DESANTA (Indonesian of Interdisciplinary Journal), May 2024

Tafsir merupakan kajian kritis dalam pemahaman Al-Qur’an, dimana pendekatan terhadap Israiliyyat menjadi subjek diskusi penting. Dalam konteks ini, penelitian ini mengeksplorasi pandangin Ad-Dakhil terhadap Israiliyyat dalam tafsir Ibnu Katsir. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis bagaimana Ad-Dakhil mengelola dan menafsirkan narasi Israiliyyat dalam karyanya secara kualitatif, dengan memahami pendekatan dan kebermanaknaan yang diberikannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis teks dan literature, merujuk pada sumber-sumber primer dan sekunder yang relevan. Data dikumpulkan melalui studi pustaka dan analisis isi tafsir Ibnu Katsir, dengan pendekatan hermeneutik. Untuk memahami konteks dan interpretasi. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa Ad-Dakhil dalam Ibnu Katsir mengadopsi pendekatan kritis terhadap Israiliyyat, memilahnya berdasarkan keakuratan dan kesesuaian dengan ajaran Islam serta memberikan penekanan pada apek-aspek yang mendukung dan menguatkan pesan Al-Qur’an. Penelitian ini juga menghasilkan sebelas riwayat Israiliyyat dalam enam kisah dalam Al-Qur’an yang masyhur, diantaranya: Dua riwayat dalam kisah penciptaan Khalifah dibumi, tiga riwayat dalam kisah Sapi Betina, satu riwayat dalam kisah Harut dan Marut, dua riwayat dalam kisah Bani Israil yang tersesat selama empat puluh tahun, satu riwayat dalam kisah tipu daya saudara-saudara Yusuf as, serta dua riwayat yang terdapat pada kisah Dzul Qarnain.

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

https://jurnal.desantapublisher.com/index.php/desanta/article/download/249/215

AD-DAKHIL SUMBER RIWAYAT AHLI KITAB; ISRA’ILIYAT DALAM TAFSIR IBN KATSIR

Volume 4, Nomor 2Maret 2024 AD-DAKHIL SUMBER RIWAYAT AHLI KITAB; ISRA’ILIYAT DALAM TAFSIR IBN KATSIR Mujiburrohman1), Suadi Sa’ad2), Andi Rosa3), Iffan Ahmad Ghufron4) Mahasiswa Pascasarjana UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten E-mail: , , , 1,2,3,4 ABSTRAK Tafsir merupakan kajian kritis dalam pemahaman Al-Qur’an, dimana pendekatan terhadap Israiliyyat menjadi subjek diskusi penting. Dalam konteks ini, penelitian ini mengeksplorasi pandangin Ad-Dakhil terhadap Israiliyyat dalam tafsir Ibnu Katsir. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis bagaimana Ad-Dakhil mengelola dan menafsirkan narasi Israiliyyat dalam karyanya secara kualitatif, dengan memahami pendekatan dan kebermanaknaan yang diberikannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis teks dan literature, merujuk pada sumber-sumber primer dan sekunder yang relevan. Data dikumpulkan melalui studi pustaka dan analisis isi tafsir Ibnu Katsir, dengan pendekatan hermeneutik. Untuk memahami konteks dan interpretasi. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa Ad-Dakhil dalam Ibnu Katsir mengadopsi pendekatan kritis terhadap Israiliyyat, memilahnya berdasarkan keakuratan dan kesesuaian dengan ajaran Islam serta memberikan penekanan pada apek-aspek yang mendukung dan menguatkan pesan Al-Qur’an. Penelitian ini juga menghasilkan sebelas riwayat Israiliyyat dalam enam kisah dalam Al-Qur’an yang masyhur, diantaranya: Dua riwayat dalam kisah penciptaan Khalifah dibumi, tiga riwayat dalam kisah Sapi Betina, satu riwayat dalam kisah Harut dan Marut, dua riwayat dalam kisah Bani Israil yang tersesat selama empat puluh tahun, satu riwayat dalam kisah tipu daya saudara-saudara Yusuf as, serta dua riwayat yang terdapat pada kisah Dzul Qarnain. Keywords: Al-Qur’an, Tafsir, Ad-Dakhil, Israiliyyat, Ibn Katsir, Ahli Kitab. 249 Volume 4, Nomor 2 Maret 2024 PENDAHULUAN Al-Qur’an ialah suatu kitab yang berisikan kalam-kalam Allah Swt, yang diturunkan oleh Tuhan yang Maha segalanya; Allah Swt, diberikan pada Malaikat yang paling Mulia; Jibril As, lalu di sampaikan kepada Nabi sekaligus Rasul yang Agung keberadaannya; Muhammad Saw, untuk Umat pilihan sebelum umat-umat terdahulunya; Umat Islam.1 Al-Qur’an merupakan kitab penyempurna bagi kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya –Zabur, Taurat, dan Inzil serta Shuhuf-shuhuf yang diberikan kepada Nabi dan Rasul sebelum nabi Muhammad Saw–, diturunkan pada bulan yang mulia; Ramadhan, dan waktu yang amat agung waktu turunnya; Lailatul Qadar. Pada malam itu, Al-Qur’an diturunkan secara keseluruhan sekaligus pada langit Dunia. Lalu diturunkan secara berangsur-angsur ke bumi kepada Nabi Muhammad Saw., dalam bahasa Arab agar umat Islam dapat memahaminya.2 Hal ini selaras dengan Firman-Nya: ْ‫ن‬ ْ ‫انْع ََربِيْْ ُّمبِي‬ ْ ‫س‬ َْ ‫انْالَّذِيْْيلحِ دو‬ ْ ‫س‬ َْ ‫َولَقَدْْنَعلَمْْاَنَّهمْْيَقولو‬ َ ‫نْاِلَي ِْهْاَعجَمِ يْْ َّو ٰهذَاْ ِل‬ َ ‫نْاِنَّ َماْيعَلِمهْْبَشَرْْ ِل‬ “Sungguh, Kami benar-benar mengetahui bahwa mereka berkata, “Sesungguhnya AlQur’an hanyalah diajarkan kepada Nabi Muhammad oleh seorang manusia.” Bahasa orang yang mereka tuduh (bahwa Nabi Muhammad belajar kepadanya) adalah bahasa ajam (bukan bahasa Arab). Padahal, ini (Al-Qur’an) adalah bahasa Arab yang jelas”. An-Naḥl [16]:103 Pada redaksi ayat di atas mengandung suatu penekanan (ta’kid), manakala di lihat dari sudut pandang para pengkaji sastra Arab, kata laqad tersebut berfaidah mempertegas kepastian (tahqiq) akan Al-Qur’an. Hal tersebut mengindikasikan bahwa Al-Qur’an juga berfungsi sebagai teks-teks dalam membantah tuduhan yang tidak sejalan dengan ketentuan-Nya.3 Karenanya, Al-Qur’an yang agung tak ada satupun wahyu Allah selain dia setelah lenyap atau tercampurnya kitabkitab terdahulu yang di miliki oleh agama Samawi dengan ilmu-ilmu lain yang di ciptakan manusia merupakan intisari ajaran yang bersifat spesifik dan universal.4 Allah Swt, berfirman: 1 Usman bin Hasan bin Ahmad As-Syakir Al-Khaubawi, penerjemah: Moh. Syamsyi Hasan, Durratun Nashihin Fi Al-Wa’dzhi wal Irsyad, Surabaya: Penerbit Amelia: , p. 19. 2 Sebagaimana dalam Kalam-Nya: ‫ن‬ َْ ‫اِنَّا ْٓاَنزَل ٰنهْقر ٰانًاْع ََربِيًّاْلَّعَلَّكمْتَعقِلو‬ Artinya: Sesungguhnya Kami menurunkannya (Kitab Suci) berupa Al-Qur’an berbahasa Arab agar kamu mengerti. Yusuf [12]:2. 3 Wahbah Az-Zuhaili, Tafsir Al-Munir; Aqidah, Syari’ah, Manhaj, Jilid 7, Jakarta: Gema Insan, 2018, p. 474. 4 Wahbah Az-Zuhaili, Tafsir Al-Munir; Aqidah, Syari’ah, Manhaj, Jilid 1, Jakarta: Gema Insan, 2018, p. 1. 250 Volume 4, Nomor 2 Maret 2024 ْ‫ن‬ َْ ‫نْشَيءْْث َّْمْا ِٰلىْ َر ِب ِهمْْيحشَرو‬ ْ ِ‫بْم‬ ِْ ‫َماْفَ َّرطنَاْفِىْال ِك ٰت‬ “Tidak ada sesuatu pun yang Kami luputkan di dalam kitab, kemudian kepada Tuhannya mereka dikumpulkan”. QS. Al-An’am [6]:38. Jadi, tidak ada satu sisi kehidupan pun baik secara spesifik maupun yang bersifat universal kecuali Al-Qur’an telah memberikan norma, nilai, tatanan, arah, dan bimbingan dalam hal yang demikian. Karena Al-Qur’an memang di turunkan oleh Allah untuk menjadi petunjuk bagi semua umat manusia. Untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai kitab Hidayah, umat Islam di himbau untuk berusaha memahami Al-Qur’an sehingga bisa menangkap pesan-pesannya dengan baik. Pesan-pesan yang bersifat spesifik maupun global yang terdapat di balik redaksi Al-Qur’an tersebut amatlah simple, yakni bagaimana menjaga hubungan harmonis manusia dengan Allah, manusia dengan manusia lainnya, dan manusia dengan makhluk alam semesta. Walaupun demikian simple, namun tidak jarang Al-Qur’an meredaksikan teks-teksnya dengan berbagai ungkapan dalam bahasa Arab yang bernilai sastra tinggi. Sehingga pesan-pesan Al-Qur’an yang bisa di pahami dengan mudah, tentu memerlukan adanya penafsiran.5 Secara umum penafsiran terhadap Al-Qur’an terjadi dalam empat fase; Pertama, masa Pertumbuhan (Abad I-IV H), di mulai pada masa Nabi, sahabat, tabi’in, tabi’it tabi’in, dan setelahnya. Dekade ini penafsiran dilakukan secara sederhana, dimana para Ulama amat hati-hati dalam menginterpretasikan Al-Qur’an yakni penafsiran dilakuan hanya pada kosa kata yang sulit (gharib), sebab turunnya Al-Qur’an, serta hadits-hadits yang terkait dengan satu ayat. Kedua, masa Gold (IV-VIII H), yakni setelah tafsir menjadi salah satu cabang studi Islam yang di dukung oleh cabang ilmu lainnya yang sedang tumbuh pesat, masa ini menjadikan produk tafsir menjadi ensiklopedis, sehingga orisinalitas produk tafsir sangat terasa. Diantara produk tafsir masa ini yaitu, Tafsir Ath-Thabari dan Tafsir Ibnu Katsir.6 Ketiga, masa Stagnasi (VIII-XII H), pada dekade ini penafsiran Al-Qur’an mengalami kemunduran dalam substansinya, karena produk yang di hasilkan pada masa ini hanya meringkas ataupun memberikan catatan kecil pada produk tafsir terdahulu, seperti Tafsir Al-Baidhawi dan Tafsir Al-Khazin. Keempat, masa Kebangkitan (XII-sekarang), yakni di mulai dari penafsir Muhammad Abduh 5 6 Ahsin Sakho Muhammad, Membumikan Ulumul Qur’an, Jakarta: Penerbit Qaf, 2019, p. 154. Ahsin Sakho Muhammad, ….., (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: https://jurnal.desantapublisher.com/index.php/desanta/article/download/249/215
Article home page: https://jurnal.desantapublisher.com/index.php/desanta/article/view/249/215

Mujiburrohman Mujiburrohman, Sa’ad Suadi, Rosa Andi, Iffan Ahmad Ghufron. AD-DAKHIL SUMBER RIWAYAT AHLI KITAB; ISRA’ILIYAT DALAM TAFSIR IBN KATSIR, DESANTA (Indonesian of Interdisciplinary Journal), 2024, pp. 249-275,