AD-DAKHIL SUMBER RIWAYAT AHLI KITAB; ISRA’ILIYAT DALAM TAFSIR IBN KATSIR
Volume 4, Nomor 2Maret 2024
AD-DAKHIL SUMBER RIWAYAT AHLI KITAB;
ISRA’ILIYAT DALAM TAFSIR IBN KATSIR
Mujiburrohman1), Suadi Sa’ad2), Andi Rosa3), Iffan Ahmad Ghufron4)
Mahasiswa Pascasarjana UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten
E-mail: , ,
,
1,2,3,4
ABSTRAK
Tafsir merupakan kajian kritis dalam pemahaman Al-Qur’an, dimana
pendekatan terhadap Israiliyyat menjadi subjek diskusi penting. Dalam
konteks ini, penelitian ini mengeksplorasi pandangin Ad-Dakhil terhadap
Israiliyyat dalam tafsir Ibnu Katsir. Penelitian ini bertujuan untuk
mengidentifikasi dan menganalisis bagaimana Ad-Dakhil mengelola dan
menafsirkan narasi Israiliyyat dalam karyanya secara kualitatif, dengan
memahami pendekatan dan kebermanaknaan yang diberikannya. Penelitian
ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis teks dan literature,
merujuk pada sumber-sumber primer dan sekunder yang relevan. Data
dikumpulkan melalui studi pustaka dan analisis isi tafsir Ibnu Katsir, dengan
pendekatan hermeneutik. Untuk memahami konteks dan interpretasi. Hasil
penelitian ini mengungkapkan bahwa Ad-Dakhil dalam Ibnu Katsir
mengadopsi pendekatan kritis terhadap Israiliyyat, memilahnya berdasarkan
keakuratan dan kesesuaian dengan ajaran Islam serta memberikan penekanan
pada apek-aspek yang mendukung dan menguatkan pesan Al-Qur’an.
Penelitian ini juga menghasilkan sebelas riwayat Israiliyyat dalam enam kisah
dalam Al-Qur’an yang masyhur, diantaranya: Dua riwayat dalam kisah
penciptaan Khalifah dibumi, tiga riwayat dalam kisah Sapi Betina, satu
riwayat dalam kisah Harut dan Marut, dua riwayat dalam kisah Bani Israil
yang tersesat selama empat puluh tahun, satu riwayat dalam kisah tipu daya
saudara-saudara Yusuf as, serta dua riwayat yang terdapat pada kisah Dzul
Qarnain.
Keywords: Al-Qur’an, Tafsir, Ad-Dakhil, Israiliyyat, Ibn Katsir, Ahli Kitab.
249
Volume 4, Nomor 2 Maret 2024
PENDAHULUAN
Al-Qur’an ialah suatu kitab yang berisikan kalam-kalam Allah Swt, yang
diturunkan oleh Tuhan yang Maha segalanya; Allah Swt, diberikan pada
Malaikat yang paling Mulia; Jibril As, lalu di sampaikan kepada Nabi sekaligus
Rasul yang Agung keberadaannya; Muhammad Saw, untuk Umat pilihan
sebelum umat-umat terdahulunya; Umat Islam.1 Al-Qur’an merupakan kitab
penyempurna bagi kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya –Zabur, Taurat, dan
Inzil serta Shuhuf-shuhuf yang diberikan kepada Nabi dan Rasul sebelum nabi
Muhammad Saw–, diturunkan pada bulan yang mulia; Ramadhan, dan waktu
yang amat agung waktu turunnya; Lailatul Qadar. Pada malam itu, Al-Qur’an
diturunkan secara keseluruhan sekaligus pada langit Dunia. Lalu diturunkan
secara berangsur-angsur ke bumi kepada Nabi Muhammad Saw., dalam bahasa
Arab agar umat Islam dapat memahaminya.2 Hal ini selaras dengan Firman-Nya:
ْن
ْ انْع ََربِيْْ ُّمبِي
ْ س
َْ انْالَّذِيْْيلحِ دو
ْ س
َْ َولَقَدْْنَعلَمْْاَنَّهمْْيَقولو
َ نْاِلَي ِْهْاَعجَمِ يْْ َّو ٰهذَاْ ِل
َ نْاِنَّ َماْيعَلِمهْْبَشَرْْ ِل
“Sungguh, Kami benar-benar mengetahui bahwa mereka berkata, “Sesungguhnya AlQur’an hanyalah diajarkan kepada Nabi Muhammad oleh seorang manusia.” Bahasa
orang yang mereka tuduh (bahwa Nabi Muhammad belajar kepadanya) adalah bahasa
ajam (bukan bahasa Arab). Padahal, ini (Al-Qur’an) adalah bahasa Arab yang jelas”.
An-Naḥl [16]:103
Pada redaksi ayat di atas mengandung suatu penekanan (ta’kid), manakala di
lihat dari sudut pandang para pengkaji sastra Arab, kata laqad tersebut berfaidah
mempertegas kepastian (tahqiq) akan Al-Qur’an. Hal tersebut mengindikasikan
bahwa Al-Qur’an juga berfungsi sebagai teks-teks dalam membantah tuduhan
yang tidak sejalan dengan ketentuan-Nya.3 Karenanya, Al-Qur’an yang agung
tak ada satupun wahyu Allah selain dia setelah lenyap atau tercampurnya kitabkitab terdahulu yang di miliki oleh agama Samawi dengan ilmu-ilmu lain yang
di ciptakan manusia merupakan intisari ajaran yang bersifat spesifik dan
universal.4 Allah Swt, berfirman:
1
Usman bin Hasan bin Ahmad As-Syakir Al-Khaubawi, penerjemah: Moh. Syamsyi Hasan,
Durratun Nashihin Fi Al-Wa’dzhi wal Irsyad, Surabaya: Penerbit Amelia: , p. 19.
2
Sebagaimana dalam Kalam-Nya:
ن
َْ اِنَّا ْٓاَنزَل ٰنهْقر ٰانًاْع ََربِيًّاْلَّعَلَّكمْتَعقِلو
Artinya: Sesungguhnya Kami menurunkannya (Kitab Suci) berupa Al-Qur’an berbahasa Arab agar
kamu mengerti. Yusuf [12]:2.
3
Wahbah Az-Zuhaili, Tafsir Al-Munir; Aqidah, Syari’ah, Manhaj, Jilid 7, Jakarta: Gema Insan,
2018, p. 474.
4
Wahbah Az-Zuhaili, Tafsir Al-Munir; Aqidah, Syari’ah, Manhaj, Jilid 1, Jakarta: Gema Insan,
2018, p. 1.
250
Volume 4, Nomor 2 Maret 2024
ْن
َْ نْشَيءْْث َّْمْا ِٰلىْ َر ِب ِهمْْيحشَرو
ْ ِبْم
ِْ َماْفَ َّرطنَاْفِىْال ِك ٰت
“Tidak ada sesuatu pun yang Kami luputkan di dalam kitab, kemudian kepada Tuhannya
mereka dikumpulkan”. QS. Al-An’am [6]:38.
Jadi, tidak ada satu sisi kehidupan pun baik secara spesifik maupun yang bersifat
universal kecuali Al-Qur’an telah memberikan norma, nilai, tatanan, arah, dan
bimbingan dalam hal yang demikian. Karena Al-Qur’an memang di turunkan
oleh Allah untuk menjadi petunjuk bagi semua umat manusia. Untuk
menjadikan Al-Qur’an sebagai kitab Hidayah, umat Islam di himbau untuk
berusaha memahami Al-Qur’an sehingga bisa menangkap pesan-pesannya
dengan baik.
Pesan-pesan yang bersifat spesifik maupun global yang terdapat di balik redaksi
Al-Qur’an tersebut amatlah simple, yakni bagaimana menjaga hubungan
harmonis manusia dengan Allah, manusia dengan manusia lainnya, dan
manusia dengan makhluk alam semesta. Walaupun demikian simple, namun
tidak jarang Al-Qur’an meredaksikan teks-teksnya dengan berbagai ungkapan
dalam bahasa Arab yang bernilai sastra tinggi. Sehingga pesan-pesan Al-Qur’an
yang bisa di pahami dengan mudah, tentu memerlukan adanya penafsiran.5
Secara umum penafsiran terhadap Al-Qur’an terjadi dalam empat fase; Pertama,
masa Pertumbuhan (Abad I-IV H), di mulai pada masa Nabi, sahabat, tabi’in,
tabi’it tabi’in, dan setelahnya. Dekade ini penafsiran dilakukan secara sederhana,
dimana para Ulama amat hati-hati dalam menginterpretasikan Al-Qur’an yakni
penafsiran dilakuan hanya pada kosa kata yang sulit (gharib), sebab turunnya
Al-Qur’an, serta hadits-hadits yang terkait dengan satu ayat. Kedua, masa Gold
(IV-VIII H), yakni setelah tafsir menjadi salah satu cabang studi Islam yang di
dukung oleh cabang ilmu lainnya yang sedang tumbuh pesat, masa ini
menjadikan produk tafsir menjadi ensiklopedis, sehingga orisinalitas produk
tafsir sangat terasa. Diantara produk tafsir masa ini yaitu, Tafsir Ath-Thabari dan
Tafsir Ibnu Katsir.6
Ketiga, masa Stagnasi (VIII-XII H), pada dekade ini penafsiran Al-Qur’an
mengalami kemunduran dalam substansinya, karena produk yang di hasilkan
pada masa ini hanya meringkas ataupun memberikan catatan kecil pada produk
tafsir terdahulu, seperti Tafsir Al-Baidhawi dan Tafsir Al-Khazin. Keempat, masa
Kebangkitan (XII-sekarang), yakni di mulai dari penafsir Muhammad Abduh
5
6
Ahsin Sakho Muhammad, Membumikan Ulumul Qur’an, Jakarta: Penerbit Qaf, 2019, p. 154.
Ahsin Sakho Muhammad, ….., (...truncated)