Dampak Ekonomi Dan Sosial Budaya Perkembangan Hotel Di Prawirotaman II
Edutourism Journal of Tourism Research
p-ISSN: 2686-4746
e-ISSN: 2721-1371
Dampak Ekonomi Dan Sosial Budaya Perkembangan Hotel
Di Prawirotaman II
Luluk Nihayati1*, Edouard Aryadi2*
1,2
Pariwisata, Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarrukmo Yogyakarta, 55198, Indonesia
Email:
ABSTRACT
Prawirotaman atau yang dikenal dengan Kampung Bule berkembang
menjadi kawasan pariwisata sejak era 90-an. Keberadaan Hotel melati dan
guest house berbaris rapi di sepanjang jalan. Usaha akomodasi tersebut
merupakan milik warga setempat dan dikelola secara pribadi. Namun,
sejak tahun 2014 silam muncul hotel bintang di kawasan tersebut yang
berdampak pada kondisi lingkungan sekitar, terutama usaha hotel melati.
Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini membahas dampak ekonomi dan
sosial budaya yang ditimbulkan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
mengetahui dampak ekonomi dan sosial budaya yang ditimbulkan akibat
perkembangan hotel bintang terhadap lingkungan sekitar terutama usaha
akomodasi lain. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif
kualitatif. Data penelitian dikumpulkan dengan in-depth interview dan
observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkembangan hotel
bintang di Prawirotaman menimbulkan dampak negatif berupa
persaingan harga sewa kamar, menurunnya tingkat hunian kamar, dan
dampak dalam kehidupan sehari-hari seperti kemacetan, gangguan siaran
televisi, dan polusi suara. Dampak positif yang terjadi berupa
meningkatnya kualitas pelayanan dan perawatan hotel serta
meningkatnya promosi hotel melalui jalur online.
1.
ARTICLE HISTORY
Submitted:24-11-2023
Revised: 30-11-2023
Accepted:02-12-2023
Online first:05-12-2023
KEYWORDS
Pariwisata, hotel melati,
dampak pariwisata
Pendahuluan
Pariwisata merupakan sektor ekonomi penting di Indonesia yang tidak dapat berdiri sendiri.
Keberadaannya harus didukung oleh aspek-aspek lainnya seperti sumber daya alam, sumber
daya manusia yang mumpuni, serta industri yang sehat. Berdasarkan [1] kepariwisataan
merupakan pembangunan nasional yang dilakukan secara sistematis, terencana terpadu,
berkelanjutan dan bertanggung jawab dengan tetap memberikan perlindungan terhadap
nilai-nilai agama, budaya yang hidup dalam masyarakat, kelestarian dan mutu lingkungan
Vol 05 No 2 - 2023
Page 158 of 171
Edutourism Journal of Tourism Research
p-ISSN: 2686-4746
e-ISSN: 2721-1371
hidup, serta kepentingan nasional. Pariwisata berkaitan dengan perjalanan, liburan, dan
kegiatan rekreasi yang dilakukan oleh orang-orang saat mereka bepergian ke tempat-tempat
yang berbeda, baik dalam negeri maupun ke luar negeri
Pembangunan kepariwisataan berperanan penting dalam penyerapan tenaga kerja,
pemerataan kesempatan berusaha, pemerataan pembangunan nasional, dan memberi
kontribusi dalam penerimaan devisa negara yang dihasilkan dari kunjungan wisatawan
mancanegara. Perkembangan industri pariwisata terjadi sangat cepat. Di sisi lain, pariwisata
merupakan hal yang paling cepat terdampak atas gejala sosial maupun lingkungan yang
terjadi baik secara mikro maupun mikro. Seperti masalah global yang melanda dunia sejak
2020
silam yaitu pandemi Covid-19 (Coronavirus Disease 2019) . Pariwisata mengalami
perubahan dalam tiga tahun terakhir sebagai imbas adanya pandemi COVID-19 (Coronavirus
Disease 2019). COVID-19 merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh coronavirus,.
Virus tersebut pertama kali ditemukan di Wuhan, Cina, pada bulan Desember 2019 [2]. Virus
ini diperkirakan mulai masuk ke wilayah Indonesia pada awal bulan Maret 2020. Berbagai
pembatasan kegiatan masyarakat diterapkan sebagai salah satu kebijakan untuk mencegah
penyebaran virus tersebut dan akibatnya pariwisata menjadi salah satu sektor yang paling
terdampak oleh krisis akibat pandemi. Namun sejak tahun 2022, kondisi pariwisata di
Indonesia khususnya Yogyakarta perlahan mulaimenunjukkan pergerakan. Seiring dengan
terealisasinya program Vaksin Covid-19 dan kelonggaran kebijakan oleh pemerintah,
masyarakat mulai melakukan kegiatan wisata. Pertumbuhan bisnis akomodasi berperan
besar dalam pemenuhan kebutuhan wisatawan di suatu destinasi. [3] Akomodasi adalah
suatu yang disediakan untuk memenuhi kebutuhan misalnya tempat menginap atau tempat
tinggal sementara bagi orang yang berpergian Hal tersebut yang terjadi di Yogyakarta dalam
kurun waktu kurang lebih 13 tahun terakhir. Hotel-hotel berdiri silih berganti dengan
beragam kelas. Berdasarkan data [4] jumlah hotel di Yogyakarta hingga 2022 tercatat 1.833
unit, terdiri atas 172 unit hotel berbintang dan 1.661 unit hotel nonbintang. Sektor inipun
berkontribusi sangat signifikan, hingga mencapai rata-rata 21 persen dari Produk Domestik
Regional Bruto Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Sejak era 90-an Prawirotaman terkenal akan hotel-hotel melati dan guest house dengan harga
murah, namun sejak tahun 2009 terakhir kawasan tersebut mulai dijejali hotel-hotel bintang
yang dikhawatirkan akan mengancam eksistensi hotel melati. Pembangunan hotel-hotel
Vol 05 No 2 - 2023
Page 159 of 171
Edutourism Journal of Tourism Research
p-ISSN: 2686-4746
e-ISSN: 2721-1371
bintang tersebut bermula dari ketersediaan izin, yang merupakan wewenang Dinas Perizinan
dalam pemberian sekaligus pencabutan izin operasi hotel. Maraknya perkembangan hotel di
Yogyakarta khususnya Kawasan Prawirotaman sejalan dengan fokus kebijakan daerah pada
pengembangan sektor wisata. Di sisi lain, pengembangan Hotel yang tidak terkendali justru
dapat merusak karakteristik budaya dan membuat kota Yogyakarta semakin tidak nyaman.
Terlebih untuk pengusaha kecil hotel melati yang merasa pasarnya terancam. Berdasarkan
keresahan tersebut penelitian ini dilakukan guna mengetahui dampak ekonomi dan sosial
budaya yang ditimbulkan akibat perkembangan hotel bintang di Prawirotaman. Tidak hanya
berpacu dengan keberadaan hotel bintang, hotel melati juga harus berjibaku dengan era new
normal akibat pandemi Covid-19.
2. Metode Penelitian
Peneilitian ini merupakan penelitian kualitatif, yang merupakan penelitian dengan maksud
untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subyek penelitian dengan cara
deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah
dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah [5]. Metode penelitian kualitatif dilakukan
dalam kondisi alamiah, instrumennya adalah peneliti itu sendiri dengan teknik pengumpulan
data bersifat triangulasi dan analisis data yang dilakukan bersifat induktif berdasarkan fakta
yang ditemukan di lapangan [6]. Lokasi Penelitian ini dilakukan di kawasan Prawirotaman,
Kelurahan Brontokusuman, Kecamatan Mergangsan, Kota Yogyakarta. Secara spesifik hotel
melati dan hotel bintang di sepanjang Jl. Gerilya atau lebih dikenal dengan sebutan
Prawirotaman II dijadikan objek dalam penelitian ini. Lokasi tersebut meliputi 3 hotel bintang
yaitu Greenhost Boutiqe Hotel, Gallery Prawirotaman, dan hotel Adhistana serta 3 hotel
melati yaitu hotel Metro, hotel Makuta, dan hotel Cristalit. Lokasi ini dipilih karena mampu
merepresentasikan (...truncated)