Difabel Merajut Asa Berdaya: Pendekatan Strategis Pemberdayaan Difabel oleh Yayasan Pensil Waja Banua Kota Banjarmasin
Huma: Jurnal Sosiologi
Volume 02, Nomor 1 (Juni, 2023)
DIFABEL MERAJUT ASA BERDAYA: PENDEKATAN STRATEGIS
PEMBERDAYAAN DIFABEL OLEH YAYASAN PENSIL WAJA BANUA
KOTA BANJARMASIN
Yuni Yemima1 , Ismar Hamid²
¹ Program Studi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Lambung Mangkurat,
Banjarmasin, Indonesia,
²
Program Studi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Lambung Mangkurat,
Banjarmasin, Indonesia,
ARTICLE INFO
ABSTRAK
Keywords:
disability empowerment;
empowerment strategy;
empowerment principle;
Pensil Waja Banua Foundation
Yayasan Pensil Waja Banua merupakan sebuah lembaga yang menjalankan
program pemberdayaan bagi kaum difabel di Kota Banjarmasin. Penelitian
ini bertujuan untuk menganalisis pendekatan strategis yang diterapkan
oleh Yayasan Pensil Waja Banua, serta keberhasilan-keberhasilan yang
dicapai. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis
penelitian studi kasus. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi
partisipan, wawancara mendalam dan dokumentasi. Hasil penelitian
menunjukan bahwa difabel yang menjadi sasaran program Yayasan Pensil
Waja Banua belum mencapai tingkat berdaya yang sepenuhnya, atau
masih berada pada proses merajut asa berdaya. Pendekatan strategis yang
diterapkan oleh Yayasan Pensil Waja Banua telah mencakup lingkup
enabling, empowering dan protecting. Wujud enabling terlihat pada:
penggalian dan motivasi pengembangan potensi difabel; serta, program
sahabat difabel, program video layanan dan pendidikan kesehatan seksual
dan reproduksi (kespro) bagi anak difabel. Sedangkan wujud empowering
terlihat pada program pelatihan bahasa isyarat dan pelatihan
kewirausahaan. Adapun protecting diwujudkan melalui pendampingan
pada difabel. Program-program pemberdayaan yang dilakukan telah
mampu berkontribusi pada peningkatan kepercayaan diri dan
keterampilan para difabel yang diperlukan untuk mengembangkan usaha,
serta telah berimplikasi pada peningkatan pendapatan pada sebagian
difabel yang diberdayakan. Namun masih terdapat kelemahan, yakni
kurangnya program tindak lanjut dan monitoring pasca program pada
difabel yang menjadi sasaran program. Dari segi penerapan prinsip
pemberdayaan, Yayasan Pensil Waja Banua telah berupaya menerapkan
prinsip kesetaraan dan partisipatif, namun dominasi fasilitator belum
mampu dihindari sepenuhnya, terutama pada tahap perencanaan
program. Sehingga difabel yang diberdayakan masih cenderung
mendudukkan dirinya sebatas sasaran program, atau belum menunjukkan
adanya inisiatif pada aspek-aspek tertentu yang merupakan fondasi dalam
mewujudkan masyarakat berdaya.
Corresponding author:
How to Cite:
Yemima, Y., & Hamid, I.
(2023). Difabel Merajut Asa
Berdaya:
Pendekatan
Strategis
Pemberdayaan
Difabel oleh Yayasan Pensil
Waja
Banua
Kota
Banjarmasin. Huma: Jurnal
Sosiologi, 2(1), 31-41.
Article History:
Received: February 9, 2023
Accepted: March 9, 2023
Copyright © 2023 by
Huma: Jurnal Sosiologi
ABSTRACT
The Yayasan Pensil Waja Banua is an organization that runs an empowerment
program for people with disabilities in the city of Banjarmasin. This study
aims to analyze the strategic approach adopted by the Yayasan Pensil Waja
Banua, as well as the successses achieved. This study uses a qualitative
approach with a case study type of research. Data collection techniques using
31
Huma: Jurnal Sosiologi
Volume 02, Nomor 1 (Juni, 2023)
participant observation, in-depth interviews and documentation. The results
of the study show that the disabled who are the targets of the Yayasan Pensil
Waja Banua program have not reached the full level of empowerment, or are
still in the process of building a sense of empowerment. The strategic
approach implemented by the Yayasan Pensil Waja Banua includes the scope
of enabling and empowering, while the scope of protecting is not so visible.
The enabling form can be seen in: exploring and motivating the development
of the potential of the disabled; as well as, the disabled friends program,
video services and sexual and reproductive health education (Kespro)
programs for children with disabilities. Meanwhile, the form of empowering
can be seen in sign language training programs and entrepreneurship
training. Meanwhile, protecting is manifested through assistance to persons
with disabilities. The empowerment programs carried out have been able to
contribute to increasing the confidence and skills of people with disabilities
needed to develop businesses, and have had implications for increasing the
income of some people with disabilities who are empowered. However, there
are still weaknesses, namely the lack of follow-up programs and postprogram monitoring of persons with disabilities who are the program's
target. In terms of applying the principles of empowerment, the Yayasan
Pensil Waja Banua has tried to apply the principles of equality and
participation, but the dominance of the facilitator has not been completely
avoided, especially at the program planning stage. So that people with
disabilities who are empowered still tend to position themselves only as
program targets, or have not shown any initiative in certain aspects which
are the foundation in creating an empowered society.
A. PENDAHULUAN
Pada dasarnya, Tuhan menciptakan manusia sebagai mahkluk yang paling
sempurna. Tubuh manusia dilengkapi dengan berbagai organ untuk digunakan dalam
melakukan aktivitas sehari-hari. Namun, ada beberapa diantaranya yang memiliki
keterbatasan fisik sejak masa perkembangannya, yang dikenal dengan sebutan
penyandang disabilitas. Belakangan sebutan penyandang disabilitas berubah menjadi
difabel, sebagai wujud pengakuan terhadap kemampuan berbeda yang dimiliki oleh
penyandang disabilitas. Difabel adalah singkatan dari different ability people, yang artinya
orang-orang yang memiliki kemampuan berbeda. Perubahan penyebutan tersebut secara
langsung mengubah stereotip terhadap penyandang disabilitas menjadi apresiasi atau
pengakuan atas kemampuan lebih yang dimilikinya.
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang
Disabilitas Pasal 4 ayat (1), disebutkan bahwa ragam orang berkebutuhan khusus, terdiri
dari: 1) disabilitas fisik, yaitu individu yang mengalami kelainan fisik; 2) disabilitas sensorik,
yaitu individu yang mengalami gangguan dari salah satu fungsi panca indera; 3) disabilitas
mental, yaitu individu yang memiliki gangguan fungsi pikir, emosi dan perilaku; dan, 4)
disabilitas intelektual, yaitu individu yang mengalami kelainan fungsi pikir karena tingkat
kecerdasan di bawah rata-rata (Halalia: 2016). Husaini (2020), mengemukakan bahwa
pada tahun 2018 jumlah penyandang disabilitas di Kota Banjarmasin mencapai angka
lebih dari 3.000 orang, yang terdiri dari: 1) 1.568 penyandang disabilitas fisik, yaitu
individu yang memiliki keterbatasan akibat gangguan pada fungsi tubuh; 2) 861
32
Huma: Jurnal Sosiologi
Volume 02, Nomor 1 (Juni, 2023)
penyandang disabilitas mental, yaitu individu yang memiliki keterbatasan akibat
gang (...truncated)