The Effect of Variations in the Addition of Vitamin C Doses in Urine on Glucose Levels with the Benedict Method
Vol. 4, No. 3, Desember 2022, pp 463-469
https://doi.org/10.36590/jika.v4i3.361
http://salnesia.id/index.php/jika
, p-ISSN: 2337-9847, e-ISSN: 2686-2883
Penerbit: Sarana Ilmu Indonesia (salnesia)
ARTIKEL PENELITIAN
Pengaruh Variasi Penambahan Dosis Vitamin C pada Urine terhadap
Kadar Glukosa dengan Metode Benedict
The Effect of Variations in the Addition of Vitamin C Doses in Urine
on Glucose Levels with the Benedict Method
Achmadi 1*, Aina Chumairoh2, Septiani3
Prodi Teknologi Laboratorium Medis, Universitas Binawan, Jakarta Timur, Indonesia
3
Prodi Gizi, Universitas Binawan, Jakarta Timur, Indonesia
1,2
Abstract
Urine glucose or glucosuria detected by Benedict's method is a pathological condition found to
be falsely positive in healthy individuals while consumption of vitamin C during the pandemic
can also interfere with urinalysis results. This study aimed to determine the effect of variations
in the dose of vitamin C added to urine samples on glucose levels. Pre-experimental research
was conducted on 15 healthy student urine samples using a purposive sampling technique.
Urine glucose levels were checked using Benedict's method for further intervention with 250
mg, 500 mg, and 1000 mg of vitamin C added to the urine of 25 ml each. Data were analyzed by
the Kruskal Wallis test and the Mann Whitney follow-up test it was significant if p < 0,05. The
results of the urine glucose examination were found to be positive in Benedict's method with the
addition of a dose of vitamin C. Kruskal Wallis analysis showed that the variation in the dose of
vitamin C had an effect on Benedict's method with a p-value of 0,000 and the Mann Whitney test
showed that the three doses of vitamin C were different in each Urine glucose results on
Benedict's method.
Keywords: benedict, glucose urine, vitamin C
Article history:
PUBLISHED BY:
Sarana Ilmu Indonesia (salnesia)
Address:
Jl. Dr. Ratulangi No. 75A, Baju Bodoa, Maros Baru,
Kab. Maros, Provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia
Submitted 23 Agustus 2022
Accepted 20 Desember 2022
Published 31 Desember 2022
Email:
,
Phone:
+62 85255155883
463
Jurnal Ilmiah Kesehatan (JIKA)
Vol. 4, No. 3, Desember 2022
Abstrak
Pemeriksaan glukosa urine atau glukosuria yang di deteksi dengan metode benedict adalah
kondisi patologis yang ditemukan positif palsu pada individu yang sehat, adapun konsumsi
vitamin C selama pandemi juga dapat mengganggu hasil urinalisis. Penelitian bertujuan untuk
mengetahui pengaruh variasi dosis vitamin C yang ditambahkan pada sampel urine terhadap
kadar glukosa. Penelitian pre experimental dilakukan terhadap 15 sampel urine mahasiswa sehat
dengan teknik sampling yaitu purposive sampling. Kadar glukosa urine di periksa dengan
metode benedict untuk selanjutnya di Intervensi dengan vitamin C dosis 250 mg, 500 mg dan
1000 mg yang ditambahkan pada urine masing masing 25 ml. Data dianalisis dengan uji
Kruskall Wallis dan uji lanjut Mann Whitney bermakna apabila p<0,05. Hasil pemeriksaan
glukosa urine di temukan positif pada metode benedict dengan penambahan dosis vitamin C.
Analisis Kruskall Wallis menunjukkan variasi dosis vitamin C berpengaruh pada metode
benedict dengan p-value 0,000 dan uji lanjut Mann Whitney menunjukkan dari ketiga dosis
vitamin C yang dilakukan memiliki perbedaan pada tiap hasil glukosa urine pada metode
benedict.
Kata Kunci: benedict, glukosa urine, vitamin C
*Penulis Korespondensi:
Achmadi, email:
This is an open access article under the CC–BY license
PENDAHULUAN
Glukosuria merupakan suatu istilah yang mendefinisikan adanya gula
pereduksi dalam urine. Sebagian besar glukosuria dapat disebabkan karena terjadinya
peningkatan kadar glukosa di dalam darah plasma sehingga kemampuan tubulus untuk
dapat menyerap glukosa terganggu. Hal ini dapat terjadi pada penderita diabetes
mellitus. Namun Beberapa kasus glukosuria ditemukan pada individu sehat seperti
yang terjadi pada glukosuria renal yaitu kondisi langka yang menunjukkan
ditemukannya glukosa di dalam urine meskipun kadar glukosa di dalam darahnya
normal atau tidak terjadinya peningkatan (Liman MNP, 2022).
Pemeriksaan glukosa urine merupakan salah satu parameter pemeriksaan urine
rutin. Pemeriksaan glukosa urine dapat dilakukan dengan metode reduksi benedict.
Hasil Pemeriksaan glukosa positif tidak bisa digunakan sebagai penegakkan diagnosis
namun akan di evaluasi lebih lanjut dengan kadar glukosa di dalam darah, plasma,
riwayat pasien dan sebagainya (Mundt, 2016). Pemeriksaan glukosa urine dengan
metode benedict di dasarkan pada kemampuan glukosa sebagai zat pereduksi untuk
mengubah tembaga sulfat (cuprisulfat) menjadi tembaga oksida (cupro). Tes benedict
termasuk uji glukosa yang tidak spesifik karena zat pereduksi yang hadir didalam urine
selain glukosa dapat direduksi oleh metode ini seperti galaktosa, laktosa, formalin.
Dengan membutuhkan jumlah sampel urine yang sedikit dan biaya yang digunakan
pun terhitung cukup murah serta pengujian yang mudah dilakukan menjadikan metode
benedict masih banyak di manfaatkan untuk analisis glukosa urine (Gandasoebrata,
2013).
Faktor faktor pengganggu hasil urinalisis, vitamin C adalah faktor yang
menjadi perhatian khusus. Vitamin C adalah vitamin yang dapat larut dalam air dengan
sifat kelarutan (300g/L pada 20◦ C) dan vitamin C tidak dapat larut pada larutan
kloroform, eter dan benzena. Vitamin C lebih stabil secara kimia dalam suasana kering
Penerbit : Sarana Ilmu Indonesia (salnesia)
p-ISSN: 2337-9847, e-ISSN: 2686-2883 464
Achmadi1 et al.
Vol. 4, No. 3, Desember 2022
berbentuk kristal putih. Umumnya sumber vitamin C didapatkan dari buah atau sayur
(Yussif, 2019). Vitamin C bekerja sebagai antioksidan dengan mereduksi radikal bebas
untuk mencegah terjadinya kerusakan sel (Wibawa et al., 2020).
Di masa pandemi, terjadi peningkatan penggunaan dan penjualan vitamin C.
menurut LEK.com di Amerika Serikat pada bulan Februari 2020 peningkatan
penjualan vitamin C mencapai 3,8 kali di bandingkan bulan Januari (Evan et al.,
2020). Di Indonesia peningkatan penggunaan vitamin C pun terjadi menurut riset dari
Neurosensum pada tahun 2021 menyebutkan 73% masyarakat Indonesia
mengkonsumsi suplemen dan 94% dari responden mengkonsumsi vitamin C selama
pandemi (Neurosensum, 2021). Fenomena ini mengindikasikan bahwa setiap orang
ingin menjaga dan meningkatkan daya tahan tubuhnya. Namun, mengkonsumsi
vitamin C yang berlebih nantinya dapat beresiko gangguan pada tubuh diantaranya
keluhan gastrointestinal, diare, batu ginjal dan produksi zat besi berlebih yang dapat
mengancam pada kematian (Pacier and Martirosyan, 2015; Alfin Septia Putri et al.,
2019). Menurut Kementerian Kesehatan angka kecukupan vitamin C untuk orang
dewasa yaitu sekitar 75 – 90 mg, bagi ibu hamil sekitar 85 mg, bagi anak anak adalah
45 mg dan untuk bayi sekitar 40 mg (AKG, 2019). Tentunya jumlah asupan vitamin C
perlu dioptimalkan agar vitamin C dapat bekerja dengan baik di dalam tubuh dan tidak
terlalu berlebih. Hal ini dapat bervariasi setiap orang deng (...truncated)