HUBUNGAN ANTARA KEBIASAAN SARAPAN DAN KEBIASAAN JAJAN DENGAN STATUS GIZI ANAK SEKOLAH DASAR DI KECAMATAN PEDURUNGAN KOTA SEMARANG

Journal of Nutrition College, Jan 2013

Latar Belakang: Meningkatnya prevalensi obesitas pada anak perlu menjadi perhatian publik. Obesitas pada anak-anak dan remaja dapat berlangsung hingga dewasa dan dapat menjadi faktor risiko dari berbagai penyakit degeneratif. Meninggalkan sarapan dan mengkonsumsi makanan jajanan tinggi kalori dapat menyebabkan obesitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kebiasaan sarapan dan kebiasaan jajan dengan status gizi dan besar risiko terhadap kejadian obesitas dan kegemukan pada anak sekolah dasar. Metode : Penelitian dilakukan di 2 SD di kecamatan Pedurungan kota Semarang. Desain penelitian kasus kontrol dengan jumlah subyek sebesar 64 yang terdiri dari 32 kasus dan 32 kontrol. Pemilihan sampel penelitian menggunakan simple random sampling pada anak kelas 3 sampai dengan kelas 6. Data kebiasaan sarapan dan kebiasaan jajan diperoleh dari wawancara secara langsung menggunakan metode Food Recall selama seminggu. Hasil : Prevalensi overweight dan obesitas sebesar 11,7% dan 8%. Pada penelitian ini ditemukan 13 subjek (40,62%) pada kelompok kasus dan 15 subjek (46,87%) pada kelompok kontrol yang tidak biasa sarapan dan tidak terdapat hubungan antara kebiasaan sarapan dengan status gizi (p=0.614; OR=0,636; CI= 0.479-3.470). Hasil penelitian juga menunjukkan 29 subjek (90,65%) kelompok kasus dan 17 subjek (53,15%) kelompok kontrol biasa jajan dan terdapat hubungan antara kebiasaan jajan terhadap kejadian obesitas dan kegemukan (p=0.001; OR= 7.012; CI=2.153-33.788). Terdapat 28 subjek (43,76%) yang tidak biasa sarapan tetapi biasa jajan, dan tidak terdapat subjek yang tidak biasa sarapan tetapi tidak biasa jajan. Terdapat hubungan yang bermakna antara kebiasaan sarapan dengan kebiasaan jajan (p=0,000; OR=1.500; CI=0.361-0.693) Simpulan : Kebiasaan sarapan berhubungan dengan kebiasaan jajan. Tidak biasa sarapan dapat meningkatkan risiko biasa jajan sebesar 1,5 kali. Kebiasaan jajan berhubungan dengan status gizi. Biasa jajan meningkatkan risiko terjadinya status gizi lebih sebesar 7 kali.

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

https://ejournal3.undip.ac.id/index.php/jnc/article/download/2108/2128

HUBUNGAN ANTARA KEBIASAAN SARAPAN DAN KEBIASAAN JAJAN DENGAN STATUS GIZI ANAK SEKOLAH DASAR DI KECAMATAN PEDURUNGAN KOTA SEMARANG

Journal of Nutrition College, Volume 2, Nomor 1, Tahun 2013, Halaman 207-213 Journal of Nutrition College, Volume 2, Nomor 1, Tahun 2013, Halaman 207 Online di : http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/jnc HUBUNGAN ANTARA KEBIASAAN SARAPAN DAN KEBIASAAN JAJAN DENGAN STATUS GIZI ANAK SEKOLAH DASAR DI KECAMATAN PEDURUNGAN KOTA SEMARANG Yuni Yanti Mariza, Aryu Candra Kusumastuti*) Program Studi Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Jl.Dr.Sutomo No.14, Semarang, Telp (024) 8453708, Email : ABSTRACT Background : The increasing prevalence of obesity in children need to become a public concern. Obesity in children and adolescents can ongoing process to adulthood and can be risk factor of degenerative diseases. Breakfast skipping habit and consuming more energy dense snack might be associated with obesity. This study aims to determine the relationship of breakfast consumption habit and snacking habit with nutritional status and the incidence of obesity and overweight among elementary school students. Methods: The study was conducted in 2 elementary schools in Pedurungan sub-district. This is Case-control study with 64 subjects consisting 32 cases and 32 controls. Selection of sample by simple random sampling of classes 3 until 6. Data breakfast consumption habit and snacking habit obtained from a food recall for a week. Results: The prevalence of overweight and obesity are 11.7% and 8% respectively. This study found 13 subject ( 40,62 % ) in cases and 15 subject ( 46,87 % ) in control group which is not habitually breakfast and breakfast habit has not effect with nutritional status (p=0.614; OR=0,636; CI= 0.479-3.470).The result also shows 29 subject cases group (90,65%) and 5 subjects (53,15%) control group habitually snacking and snacking has relationship with obesity and overweight (p=0.001; OR= 7.012; CI=2.153-33.788). There were 28 subjects (43,76) which is not habitually breakfast but snacking, and there is no subject which is not habitually breakfast but not snacking (0%) and there is a significant relationship between the snacking habbit with breakfast (p=0,000; OR=1.500; CI=0.3610.693). Conclusion: There is a relationship between the breakfast habbit with snacking habbit. Skipping breakfast can increase the risk of snacking 1,5 times . There is a relationship between the snacking habbit with overnutrition. Snacking habbit also can increase the risk of overnutrition 7 times. Key words: breakfast; snacking habbit; nutritional status ABSTRAK Latar Belakang: Meningkatnya prevalensi obesitas pada anak perlu menjadi perhatian publik. Obesitas pada anakanak dan remaja dapat berlangsung hingga dewasa dan dapat menjadi faktor risiko dari berbagai penyakit degeneratif. Meninggalkan sarapan dan mengkonsumsi makanan jajanan tinggi kalori dapat menyebabkan obesitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kebiasaan sarapan dan kebiasaan jajan dengan status gizi dan besar risiko terhadap kejadian obesitas dan kegemukan pada anak sekolah dasar. Metode : Penelitian dilakukan di 2 SD di kecamatan Pedurungan kota Semarang. Desain penelitian kasus kontrol dengan jumlah subyek sebesar 64 yang terdiri dari 32 kasus dan 32 kontrol. Pemilihan sampel penelitian menggunakan simple random sampling pada anak kelas 3 sampai dengan kelas 6. Data kebiasaan sarapan dan kebiasaan jajan diperoleh dari wawancara secara langsung menggunakan metode Food Recall selama seminggu. Hasil : Prevalensi overweight dan obesitas sebesar 11,7% dan 8%. Pada penelitian ini ditemukan 13 subjek (40,62%) pada kelompok kasus dan 15 subjek (46,87%) pada kelompok kontrol yang tidak biasa sarapan dan tidak terdapat hubungan antara kebiasaan sarapan dengan status gizi (p=0.614; OR=0,636; CI= 0.479-3.470). Hasil penelitian juga menunjukkan 29 subjek (90,65%) kelompok kasus dan 17 subjek (53,15%) kelompok kontrol biasa jajan dan terdapat hubungan antara kebiasaan jajan terhadap kejadian obesitas dan kegemukan (p=0.001; OR= 7.012; CI=2.153-33.788). Terdapat 28 subjek (43,76%) yang tidak biasa sarapan tetapi biasa jajan, dan tidak terdapat subjek yang tidak biasa sarapan tetapi tidak biasa jajan. Terdapat hubungan yang bermakna antara kebiasaan sarapan dengan kebiasaan jajan (p=0,000; OR=1.500; CI=0.361-0.693) Simpulan : Kebiasaan sarapan berhubungan dengan kebiasaan jajan. Tidak biasa sarapan dapat meningkatkan risiko biasa jajan sebesar 1,5 kali. Kebiasaan jajan berhubungan dengan status gizi. Biasa jajan meningkatkan risiko terjadinya status gizi lebih sebesar 7 kali. Kata kunci : Kebiasaan sarapan; kebiasaan jajan; status gizi *) Penulis Penanggungjawab Journal of Nutrition College, Volume 2, Nomor 1, Tahun 2013, Halaman 208 PENDAHULUAN Visi Indonesia Sehat 2015 bertujuan untuk mensejahterakan rakyat dalam peningkatan kesehatan termasuk gizi. Undang-undang nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan pasal 141 ayat 1 menyatakan bahwa upaya perbaikan gizi masyarakat ditujukan untuk peningkatan mutu gizi perseorangan dan masyarakat.1 Salah satu upaya peningkatan kesehatan adalah perbaikan gizi terutama pada usia sekolah khususnya 6-12 tahun. Makan pagi atau sarapan adalah kegiatan mengkonsumsi makanan yang mengandung gizi seimbang dan memenuhi 20%25% dari kebutuhan energi total dalam sehari yang dilakukan pada pagi hari sebelum kegiatan belajar di sekolah.2 Sarapan pagi pada anak sekolah bertujuan untuk mencukupi kebutuhan energi selama beraktivitas di sekolah serta dapat meningkatkan konsentrasi dan daya ingat anak. Kebiasaan sarapan juga termasuk dalam salah satu 13 pesan dasar gizi seimbang.3 Sarapan sebaiknya mengandung makanan sumber karbohidrat, protein, tinggi serat, dan rendah lemak.4 Melewatkan sarapan dapat berisiko untuk menjadi obesitas dan memiliki gangguan kesehatan.5 Obesitas dapat terjadi karena ketika anak tersebut melewatkan sarapan dan merasa lapar maka mereka akan mengkonsumsi makanan berkalori lebih tinggi yang didapatkan dari makanan jajanan. 5,6 Penelitian di Amerika Serikat menunjukkan bahwa anak-anak dan remaja yang terbiasa melewatkan sarapan akan memiliki risiko 3 kali lebih tinggi untuk ngemil dan sulit mengontrol nafsu makan mereka sehingga dapat menyebabkan obesitas. 7 Penelitian yang dilakukan Triyanti di SD Citarum 01,02,03, dan 04 Semarang menunjukkan masih terdapat 34,83% anak SD jarang sarapan dan terdapat hubungan antara kebiasaan makan pagi dengan prestasi belajar.8 Survey yang dilakukan Pergizi Pangan Indonesia tahun 2010 pada 35 ribu anak usia sekolah dasar menunjukkan 44,6% anak yang sarapan memperoleh asupan energi kurang dari 15% kebutuhannya. Kelaparan saat di sekolah akan menyebabkan anak jajan di sekolah, apalagi hanya sekitar 5% dari anak-anak tersebut membawa bekal dari rumah, sehingga kemungkinan untuk membeli makanan jajanan lebih tinggi.9 BPOM RI tahun 2009 dalam Pangan Jajanan Anak Sekolah menunjukkan bahwa makanan jajanan memberikan kontribusi masing-masing sebesar 31,1%, dan 27,4% terhadap keseluruhan asupan energi dan protein anak sekolah dasar (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: https://ejournal3.undip.ac.id/index.php/jnc/article/download/2108/2128
Article home page: https://ejournal3.undip.ac.id/index.php/jnc/article/view/2108/2128

Mariza Yuni Yanti, Kusumastuti Aryu Candra. HUBUNGAN ANTARA KEBIASAAN SARAPAN DAN KEBIASAAN JAJAN DENGAN STATUS GIZI ANAK SEKOLAH DASAR DI KECAMATAN PEDURUNGAN KOTA SEMARANG, Journal of Nutrition College, 2013, pp. 207-213,