HUBUNGAN ANTARA KEBIASAAN SARAPAN DAN KEBIASAAN JAJAN DENGAN STATUS GIZI ANAK SEKOLAH DASAR DI KECAMATAN PEDURUNGAN KOTA SEMARANG
Journal of Nutrition College, Volume 2, Nomor 1, Tahun 2013, Halaman 207-213
Journal of Nutrition College, Volume 2, Nomor 1, Tahun 2013, Halaman 207
Online di : http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/jnc
HUBUNGAN ANTARA KEBIASAAN SARAPAN DAN KEBIASAAN JAJAN DENGAN STATUS
GIZI ANAK SEKOLAH DASAR DI KECAMATAN PEDURUNGAN KOTA SEMARANG
Yuni Yanti Mariza, Aryu Candra Kusumastuti*)
Program Studi Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro
Jl.Dr.Sutomo No.14, Semarang, Telp (024) 8453708, Email :
ABSTRACT
Background : The increasing prevalence of obesity in children need to become a public concern. Obesity in
children and adolescents can ongoing process to adulthood and can be risk factor of degenerative diseases.
Breakfast skipping habit and consuming more energy dense snack might be associated with obesity. This study aims
to determine the relationship of breakfast consumption habit and snacking habit with nutritional status and the
incidence of obesity and overweight among elementary school students.
Methods: The study was conducted in 2 elementary schools in Pedurungan sub-district. This is Case-control study
with 64 subjects consisting 32 cases and 32 controls. Selection of sample by simple random sampling of classes 3
until 6. Data breakfast consumption habit and snacking habit obtained from a food recall for a week.
Results: The prevalence of overweight and obesity are 11.7% and 8% respectively. This study found 13 subject (
40,62 % ) in cases and 15 subject ( 46,87 % ) in control group which is not habitually breakfast and breakfast habit
has not effect with nutritional status (p=0.614; OR=0,636; CI= 0.479-3.470).The result also shows 29 subject cases
group (90,65%) and 5 subjects (53,15%) control group habitually snacking and snacking has relationship with
obesity and overweight (p=0.001; OR= 7.012; CI=2.153-33.788). There were 28 subjects (43,76) which is not
habitually breakfast but snacking, and there is no subject which is not habitually breakfast but not snacking (0%)
and there is a significant relationship between the snacking habbit with breakfast (p=0,000; OR=1.500; CI=0.3610.693).
Conclusion: There is a relationship between the breakfast habbit with snacking habbit. Skipping breakfast can
increase the risk of snacking 1,5 times . There is a relationship between the snacking habbit with overnutrition.
Snacking habbit also can increase the risk of overnutrition 7 times.
Key words: breakfast; snacking habbit; nutritional status
ABSTRAK
Latar Belakang: Meningkatnya prevalensi obesitas pada anak perlu menjadi perhatian publik. Obesitas pada anakanak dan remaja dapat berlangsung hingga dewasa dan dapat menjadi faktor risiko dari berbagai penyakit
degeneratif. Meninggalkan sarapan dan mengkonsumsi makanan jajanan tinggi kalori dapat menyebabkan obesitas.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kebiasaan sarapan dan kebiasaan jajan dengan status gizi dan
besar risiko terhadap kejadian obesitas dan kegemukan pada anak sekolah dasar.
Metode : Penelitian dilakukan di 2 SD di kecamatan Pedurungan kota Semarang. Desain penelitian kasus kontrol
dengan jumlah subyek sebesar 64 yang terdiri dari 32 kasus dan 32 kontrol. Pemilihan sampel penelitian
menggunakan simple random sampling pada anak kelas 3 sampai dengan kelas 6. Data kebiasaan sarapan dan
kebiasaan jajan diperoleh dari wawancara secara langsung menggunakan metode Food Recall selama seminggu.
Hasil : Prevalensi overweight dan obesitas sebesar 11,7% dan 8%. Pada penelitian ini ditemukan 13 subjek
(40,62%) pada kelompok kasus dan 15 subjek (46,87%) pada kelompok kontrol yang tidak biasa sarapan dan tidak
terdapat hubungan antara kebiasaan sarapan dengan status gizi (p=0.614; OR=0,636; CI= 0.479-3.470). Hasil
penelitian juga menunjukkan 29 subjek (90,65%) kelompok kasus dan 17 subjek (53,15%) kelompok kontrol biasa
jajan dan terdapat hubungan antara kebiasaan jajan terhadap kejadian obesitas dan kegemukan (p=0.001; OR=
7.012; CI=2.153-33.788). Terdapat 28 subjek (43,76%) yang tidak biasa sarapan tetapi biasa jajan, dan tidak
terdapat subjek yang tidak biasa sarapan tetapi tidak biasa jajan. Terdapat hubungan yang bermakna antara
kebiasaan sarapan dengan kebiasaan jajan (p=0,000; OR=1.500; CI=0.361-0.693)
Simpulan : Kebiasaan sarapan berhubungan dengan kebiasaan jajan. Tidak biasa sarapan dapat meningkatkan
risiko biasa jajan sebesar 1,5 kali. Kebiasaan jajan berhubungan dengan status gizi. Biasa jajan meningkatkan
risiko terjadinya status gizi lebih sebesar 7 kali.
Kata kunci : Kebiasaan sarapan; kebiasaan jajan; status gizi
*)
Penulis Penanggungjawab
Journal of Nutrition College, Volume 2, Nomor 1, Tahun 2013, Halaman 208
PENDAHULUAN
Visi Indonesia Sehat 2015 bertujuan untuk
mensejahterakan rakyat dalam peningkatan
kesehatan termasuk gizi. Undang-undang nomor
36 Tahun 2009 tentang Kesehatan pasal 141 ayat 1
menyatakan bahwa upaya perbaikan gizi
masyarakat ditujukan untuk peningkatan mutu gizi
perseorangan dan masyarakat.1
Salah satu upaya peningkatan kesehatan
adalah perbaikan gizi terutama pada usia sekolah
khususnya 6-12 tahun. Makan pagi atau sarapan
adalah kegiatan mengkonsumsi makanan yang
mengandung gizi seimbang dan memenuhi 20%25% dari kebutuhan energi total dalam sehari yang
dilakukan pada pagi hari sebelum kegiatan belajar
di sekolah.2 Sarapan pagi pada anak sekolah
bertujuan untuk mencukupi kebutuhan energi
selama beraktivitas di sekolah serta dapat
meningkatkan konsentrasi dan daya ingat anak.
Kebiasaan sarapan juga termasuk dalam salah satu
13 pesan dasar gizi seimbang.3
Sarapan sebaiknya mengandung makanan
sumber karbohidrat, protein, tinggi serat, dan
rendah lemak.4 Melewatkan sarapan dapat berisiko
untuk menjadi obesitas dan memiliki gangguan
kesehatan.5 Obesitas dapat terjadi karena ketika
anak tersebut melewatkan sarapan dan merasa
lapar maka mereka akan mengkonsumsi makanan
berkalori lebih tinggi yang didapatkan dari
makanan jajanan. 5,6 Penelitian di Amerika Serikat
menunjukkan bahwa anak-anak dan remaja yang
terbiasa melewatkan sarapan akan memiliki risiko
3 kali lebih tinggi untuk ngemil dan sulit
mengontrol nafsu makan mereka sehingga dapat
menyebabkan obesitas. 7
Penelitian yang dilakukan Triyanti di SD
Citarum 01,02,03, dan 04 Semarang menunjukkan
masih terdapat 34,83% anak SD jarang sarapan dan
terdapat hubungan antara kebiasaan makan pagi
dengan prestasi belajar.8 Survey yang dilakukan
Pergizi Pangan Indonesia tahun 2010 pada 35 ribu
anak usia sekolah dasar menunjukkan 44,6% anak
yang sarapan memperoleh asupan energi kurang
dari 15% kebutuhannya.
Kelaparan
saat
di
sekolah
akan
menyebabkan anak jajan di sekolah, apalagi hanya
sekitar 5% dari anak-anak tersebut membawa bekal
dari rumah, sehingga kemungkinan untuk membeli
makanan jajanan lebih tinggi.9 BPOM RI tahun
2009 dalam Pangan Jajanan Anak Sekolah
menunjukkan bahwa makanan jajanan memberikan
kontribusi masing-masing sebesar 31,1%, dan
27,4% terhadap keseluruhan asupan energi dan
protein anak sekolah dasar (...truncated)