“RATIONAL EMOTIVE BEHAVIOR THERAPY (REBT) DALAM MENANGANI KECEMASAN PASIEN PRA OPERASI GETAH BENING DI RSUP Dr. M. DJAMIL PADANG”
RATIONAL EMOTIVE BEHAVIOR THERAPY (REBT) DALAM MENANGANI
KECEMASAN PASIEN PRA OPERASI GETAH BENING DI RSUP Dr. M. DJAMIL
PADANG
Ahmad Putra & Yulia Fitria
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta
,
Abstract: The anxiety experienced by the majority of preoperative lymph node patients
indirectly hampers the smooth process of the surgery that will be undertaken by the patient.
This anxiety makes the patient indecisive and doubtful until finally he thinks negatively about
his health after the operation. Moreover, each preoperative patient admitted that he had never
had surgery before and had never felt as anxious as he is now. This study describes the
application of rational emotive behavior therapy (REBT) techniques to overcome anxiety and
negative thoughts to two patients who will undergo lymph node surgery at Dr. RSUP. M.
Djamil Padang. Providing assistance using REBT is applied to improve the patient's perspective
on the situation at hand. This research is in the form of action research, where the researcher
provides therapy or treatment directly to the two patients. The steps taken are: (a) empathizing
with the client's condition; (b) provide a cathartic atmosphere; (c) invite the client to bombard
his negative feelings; (d) make a contract. The results obtained that both patients began to
realize that what he was worried about was not right, because it would not solve any problems.
Thus, the application of the REBT technique contributes to changing the patient's perspective on
the problem in relieving lymph preoperative anxiety. (c) invite the client to bombard his
negative feelings; (d) make a contract. The results obtained that both patients began to realize
that what he was worried about was not right, because it would not solve any problems. Thus,
the application of the REBT technique contributes to changing the patient's perspective on the
problem in relieving lymph preoperative anxiety. (c) invite the client to bombard his negative
feelings; (d) make a contract. The results obtained that both patients began to realize that what
he was worried about was not right, because it would not solve any problems. Thus, the
application of the REBT technique contributes to changing the patient's perspective on the
problem in relieving lymph preoperative anxiety.
1 | JURNAL AT-TAUJIH BIMBINGAN DAN KONSELING ISLAM
Vol. 3 No. 2 Juli-Desember 2020 (http://jurnal.ar-raniry.ac.id/index.php/Taujih)
Keywords: REBT, Anxiety, Pre Operation
ABSTRAK
Kecemasan yang dialami oleh sebagian besar pasien pra operasi getah bening secara tidak
langsung menghambat proses kelancaran operasi yang akan dijalani oleh pasien. Kecemasan
tersebut menjadikan pasien bimbang dan ragu hingga pada akhirnya berpikiran negatif terhadap
kesehatannya setelah operasi dilakukan. Apalagi masing-masing pasien pra operasi mengaku
bahwa sebelumnya belum pernah menjalani tindakan operasi dan belum pernah merasa cemas
seperti saat ini. Penelitian ini menjelaskan tentang penerapan teknik rational emotive behavior
therapy (REBT) mengatasi kecemasan dan pikiran negatif terhadap dua pasien yang akan
menjalani tindakan operasi getang bening di RSUP Dr. M. Djamil Padang. Pemberian bantuan
dengan menggunakan REBT diterapkan untuk memperbaiki cara pandang pasien terhadap
keadaan yang sedang dihadapi. Penelitian ini berbentuk action research, di mana peneliti
memberikan terapi atau perlakuan secara langsung terhadap dua pasien tersebut. Adapun tahapan
yang dilakukan: (a) berempati dengan kondisi klien; (b) memberi suasana berkatarsis; (c)
mengajak klien membombardir perasaan negatifnya; (d) membuat kontrak. Hasil yang diperoleh
bahwa kedua pasien mulai menyadari bahwa apa yang ia cemaskan tidaklah tepat, karena itu
tidak akan menyelesaikan persoalan apa-apa. Dengan demikian, penerapan teknik REBT
memberikan kontribusi dalam mengubah cara pandang pasien terhadap persoalannya dalam
menghilangkan kecemasan pra operasi getah bening.
Kata Kunci: REBT, Kecemasan, Pra Operasi
PENDAHULUAN
Salah satu penyebab sekaligus permasalahan psikologis utama yang sering muncul pada
pasien yang akan menjalani tindakan operasi yang juga menimbulkan efek buruk bagi kesehatan
ialah kecemasan.1 Hal tersebut dinilai hal yang wajar karena memang operasi atau pembedahan
adalah sebuah peristiwa yang menegangkan bagi siapa saja, yang dilakukan di ruangan khusus
dan membutuhkan pemantauan yang intensif. Di samping itu, tindakan operasi menjadi
1
Iin Patimah, Suryani dan Aan Nuraeni, “Pengaruh Relaksasi Dzikir Terhadap Tingkat Kecemasan Pasien
Gagal Ginjal Kronis Yang Menjalani Hemodialisa,” JURNAL KEPERAWATAN BINA SEHAT, Vol. 3, No 1 (April
2015): 19
2 | JURNAL AT-TAUJIH BIMBINGAN DAN KONSELING ISLAM
Vol. 3 No. 2 Juli-Desember 2020 (http://jurnal.ar-raniry.ac.id/index.php/Taujih)
pengalaman yang sulit dijalankan oleh kebanyakan pasien dan tidak heran jika banyak pasien
yang menunjukan sikap yang berlebihan serta mencemaskan keselamatannya.2
Melihat dari berbagai literature yang ada, ditemukan fakta bahwa sebagian orang kadang
tidak mampu mengontrol kecemasan yang dihadapi, sehingga terjadi disharmoni dalam tubuh.
Hal ini akan berakibat buruk, karena apabila tidak segera diatasi akan meningkatkan tekanan
darah dan pernafasan yang dapat menyebabkan pendarahan baik pada saat pembedahan ataupun
pasca operasi.3 Maka dengan itu, tahapan-tahapan pada operasi harus dilakukan dengan baik dan
benar, terutama pada fase preoperasi karena tahap ini merupakan tahapan awal keperawatan
perioperative.4
Istilah kecemasan dalam Bahasa Inggris yaitu anxiety yang berasal dari Bahasa Latin
angustus yang memiliki arti kaku, dan ango, anci yang berarti mencekik.5 Steven Schwartz, S
mengemukakan kecemasan berasal dari kata Latin anxius, yang berarti penyempitan atau
pencekikan. Kecemasan mirip dengan rasa takut tapi dengan fokus kurang spesifik, sedangkan
ketakutan biasanya respon terhadap beberapa ancaman langsung, sedangkan kecemasan ditandai
oleh kekhawatiran tentang bahaya tidak terduga yang terletak di masa depan. Kecemasan
merupakan keadaan emosional negatif yang ditandai dengan adanya firasat dan somatik
ketegangan, seperti hati berdetak kencang, berkeringat, kesulitan bernapas.6
Syamsu Yusuf mengemukakan anxiety (cemas) merupakan ketidakberdayaan neurotik,
rasa tidak aman, tidak matang, dan ketidakmampuan dalam menghadapi tuntutan realitas
(lingkungan), kesulitan dan tekanan kehidupan sehari-hari.7 Dikuatkan oleh Kartini Kartono
bahwa cemas adalah bentuk ketidakberanian ditambah kerisauan terhadap hal-hal yang tidak
jelas.8 Senada dengan itu, Sarlito Wirawan Sarwono menjelaskan kecemasan merupakan takut
yang tidak jelas objeknya dan tidak jelas pula alasannya.9
2
Virgianti Nur Faridah, “Terapi Murottal (Al-Qur’an) Mampu Menurunkan Tingkat Kecemasan Pada
Pasien Pre Operasi Laparatomi,” JURNAL KEPERAWATAN, Vol. 6, No 1 (Januari 2015): 64
3
Firman Faradisi, “Efektivitas Terapi Murotal Dan Terapi Musik Klasik Terhadap Penurunan Tingkat
Kecem asan Pasi (...truncated)