“RATIONAL EMOTIVE BEHAVIOR THERAPY (REBT) DALAM MENANGANI KECEMASAN PASIEN PRA OPERASI GETAH BENING DI RSUP Dr. M. DJAMIL PADANG”

Jurnal At-Taujih : Bimbingan dan Konseling Islam, Dec 2020

Kecemasan yang dialami oleh sebagian besar pasien pra operasi getah bening secara tidak langsung menghambat proses kelancaran operasi yang akan dijalani oleh pasien. Kecemasan tersebut menjadikan pasien bimbang dan ragu hingga pada akhirnya berpikiran negatif terhadap kesehatannya setelah operasi dilakukan. Apalagi masing-masing pasien pra operasi mengaku bahwa sebelumnya belum pernah menjalani tindakan operasi dan belum pernah merasa cemas seperti saat ini. Penelitian ini menjelaskan tentang penerapan teknik rational emotive behavior therapy (REBT) mengatasi kecemasan dan pikiran negatif terhadap dua pasien yang akan menjalani tindakan operasi getang bening di RSUP Dr. M. Djamil Padang. Pemberian bantuan dengan menggunakan REBT diterapkan untuk memperbaiki cara pandang pasien terhadap keadaan yang sedang dihadapi. Penelitian ini berbentuk action research, di mana peneliti memberikan terapi atau perlakuan secara langsung terhadap dua pasien tersebut. Adapun tahapan yang dilakukan: (a) berempati dengan kondisi klien; (b) memberi suasana berkatarsis; (c) mengajak klien membombardir perasaan negatifnya; (d) membuat kontrak. Hasil yang diperoleh bahwa kedua pasien mulai menyadari bahwa apa yang ia cemaskan tidaklah tepat, karena itu tidak akan menyelesaikan persoalan apa-apa. Dengan demikian, penerapan teknik REBT memberikan kontribusi dalam mengubah cara pandang pasien terhadap persoalannya dalam menghilangkan kecemasan pra operasi getah bening.

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

https://jurnal.ar-raniry.ac.id/index.php/Taujih/article/download/8253/7312

“RATIONAL EMOTIVE BEHAVIOR THERAPY (REBT) DALAM MENANGANI KECEMASAN PASIEN PRA OPERASI GETAH BENING DI RSUP Dr. M. DJAMIL PADANG”

RATIONAL EMOTIVE BEHAVIOR THERAPY (REBT) DALAM MENANGANI KECEMASAN PASIEN PRA OPERASI GETAH BENING DI RSUP Dr. M. DJAMIL PADANG Ahmad Putra & Yulia Fitria Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta , Abstract: The anxiety experienced by the majority of preoperative lymph node patients indirectly hampers the smooth process of the surgery that will be undertaken by the patient. This anxiety makes the patient indecisive and doubtful until finally he thinks negatively about his health after the operation. Moreover, each preoperative patient admitted that he had never had surgery before and had never felt as anxious as he is now. This study describes the application of rational emotive behavior therapy (REBT) techniques to overcome anxiety and negative thoughts to two patients who will undergo lymph node surgery at Dr. RSUP. M. Djamil Padang. Providing assistance using REBT is applied to improve the patient's perspective on the situation at hand. This research is in the form of action research, where the researcher provides therapy or treatment directly to the two patients. The steps taken are: (a) empathizing with the client's condition; (b) provide a cathartic atmosphere; (c) invite the client to bombard his negative feelings; (d) make a contract. The results obtained that both patients began to realize that what he was worried about was not right, because it would not solve any problems. Thus, the application of the REBT technique contributes to changing the patient's perspective on the problem in relieving lymph preoperative anxiety. (c) invite the client to bombard his negative feelings; (d) make a contract. The results obtained that both patients began to realize that what he was worried about was not right, because it would not solve any problems. Thus, the application of the REBT technique contributes to changing the patient's perspective on the problem in relieving lymph preoperative anxiety. (c) invite the client to bombard his negative feelings; (d) make a contract. The results obtained that both patients began to realize that what he was worried about was not right, because it would not solve any problems. Thus, the application of the REBT technique contributes to changing the patient's perspective on the problem in relieving lymph preoperative anxiety. 1 | JURNAL AT-TAUJIH BIMBINGAN DAN KONSELING ISLAM Vol. 3 No. 2 Juli-Desember 2020 (http://jurnal.ar-raniry.ac.id/index.php/Taujih) Keywords: REBT, Anxiety, Pre Operation ABSTRAK Kecemasan yang dialami oleh sebagian besar pasien pra operasi getah bening secara tidak langsung menghambat proses kelancaran operasi yang akan dijalani oleh pasien. Kecemasan tersebut menjadikan pasien bimbang dan ragu hingga pada akhirnya berpikiran negatif terhadap kesehatannya setelah operasi dilakukan. Apalagi masing-masing pasien pra operasi mengaku bahwa sebelumnya belum pernah menjalani tindakan operasi dan belum pernah merasa cemas seperti saat ini. Penelitian ini menjelaskan tentang penerapan teknik rational emotive behavior therapy (REBT) mengatasi kecemasan dan pikiran negatif terhadap dua pasien yang akan menjalani tindakan operasi getang bening di RSUP Dr. M. Djamil Padang. Pemberian bantuan dengan menggunakan REBT diterapkan untuk memperbaiki cara pandang pasien terhadap keadaan yang sedang dihadapi. Penelitian ini berbentuk action research, di mana peneliti memberikan terapi atau perlakuan secara langsung terhadap dua pasien tersebut. Adapun tahapan yang dilakukan: (a) berempati dengan kondisi klien; (b) memberi suasana berkatarsis; (c) mengajak klien membombardir perasaan negatifnya; (d) membuat kontrak. Hasil yang diperoleh bahwa kedua pasien mulai menyadari bahwa apa yang ia cemaskan tidaklah tepat, karena itu tidak akan menyelesaikan persoalan apa-apa. Dengan demikian, penerapan teknik REBT memberikan kontribusi dalam mengubah cara pandang pasien terhadap persoalannya dalam menghilangkan kecemasan pra operasi getah bening. Kata Kunci: REBT, Kecemasan, Pra Operasi PENDAHULUAN Salah satu penyebab sekaligus permasalahan psikologis utama yang sering muncul pada pasien yang akan menjalani tindakan operasi yang juga menimbulkan efek buruk bagi kesehatan ialah kecemasan.1 Hal tersebut dinilai hal yang wajar karena memang operasi atau pembedahan adalah sebuah peristiwa yang menegangkan bagi siapa saja, yang dilakukan di ruangan khusus dan membutuhkan pemantauan yang intensif. Di samping itu, tindakan operasi menjadi 1 Iin Patimah, Suryani dan Aan Nuraeni, “Pengaruh Relaksasi Dzikir Terhadap Tingkat Kecemasan Pasien Gagal Ginjal Kronis Yang Menjalani Hemodialisa,” JURNAL KEPERAWATAN BINA SEHAT, Vol. 3, No 1 (April 2015): 19 2 | JURNAL AT-TAUJIH BIMBINGAN DAN KONSELING ISLAM Vol. 3 No. 2 Juli-Desember 2020 (http://jurnal.ar-raniry.ac.id/index.php/Taujih) pengalaman yang sulit dijalankan oleh kebanyakan pasien dan tidak heran jika banyak pasien yang menunjukan sikap yang berlebihan serta mencemaskan keselamatannya.2 Melihat dari berbagai literature yang ada, ditemukan fakta bahwa sebagian orang kadang tidak mampu mengontrol kecemasan yang dihadapi, sehingga terjadi disharmoni dalam tubuh. Hal ini akan berakibat buruk, karena apabila tidak segera diatasi akan meningkatkan tekanan darah dan pernafasan yang dapat menyebabkan pendarahan baik pada saat pembedahan ataupun pasca operasi.3 Maka dengan itu, tahapan-tahapan pada operasi harus dilakukan dengan baik dan benar, terutama pada fase preoperasi karena tahap ini merupakan tahapan awal keperawatan perioperative.4 Istilah kecemasan dalam Bahasa Inggris yaitu anxiety yang berasal dari Bahasa Latin angustus yang memiliki arti kaku, dan ango, anci yang berarti mencekik.5 Steven Schwartz, S mengemukakan kecemasan berasal dari kata Latin anxius, yang berarti penyempitan atau pencekikan. Kecemasan mirip dengan rasa takut tapi dengan fokus kurang spesifik, sedangkan ketakutan biasanya respon terhadap beberapa ancaman langsung, sedangkan kecemasan ditandai oleh kekhawatiran tentang bahaya tidak terduga yang terletak di masa depan. Kecemasan merupakan keadaan emosional negatif yang ditandai dengan adanya firasat dan somatik ketegangan, seperti hati berdetak kencang, berkeringat, kesulitan bernapas.6 Syamsu Yusuf mengemukakan anxiety (cemas) merupakan ketidakberdayaan neurotik, rasa tidak aman, tidak matang, dan ketidakmampuan dalam menghadapi tuntutan realitas (lingkungan), kesulitan dan tekanan kehidupan sehari-hari.7 Dikuatkan oleh Kartini Kartono bahwa cemas adalah bentuk ketidakberanian ditambah kerisauan terhadap hal-hal yang tidak jelas.8 Senada dengan itu, Sarlito Wirawan Sarwono menjelaskan kecemasan merupakan takut yang tidak jelas objeknya dan tidak jelas pula alasannya.9 2 Virgianti Nur Faridah, “Terapi Murottal (Al-Qur’an) Mampu Menurunkan Tingkat Kecemasan Pada Pasien Pre Operasi Laparatomi,” JURNAL KEPERAWATAN, Vol. 6, No 1 (Januari 2015): 64 3 Firman Faradisi, “Efektivitas Terapi Murotal Dan Terapi Musik Klasik Terhadap Penurunan Tingkat Kecem asan Pasi (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: https://jurnal.ar-raniry.ac.id/index.php/Taujih/article/download/8253/7312
Article home page: https://jurnal.ar-raniry.ac.id/index.php/Taujih/article/view/8253/7312

Putra Ahmad. “RATIONAL EMOTIVE BEHAVIOR THERAPY (REBT) DALAM MENANGANI KECEMASAN PASIEN PRA OPERASI GETAH BENING DI RSUP Dr. M. DJAMIL PADANG”, Jurnal At-Taujih : Bimbingan dan Konseling Islam, 2020, pp. 1-19,