STUDI POTENSI DAN PROBLEMATIKA DESA TERTINGGAL DI KABUPATEN KONAWE SELATAN
ISSN: 2775-7145 (Online)
JIPPM (Jurnal Ilmiah Penyuluhan dan
Pengembangan Masyarakat)
2023: 3 (Special Issue): 59 – 67
https://ojs.uho.ac.id/index.php/JIPPM
doi: http://dx.doi.org/10.56189/jippm.v3i0.46307
STUDI POTENSI DAN PROBLEMATIKA DESA TERTINGGAL
DI KABUPATEN KONAWE SELATAN
Peribadi1*, Muhammad Arsya1, Samsul1, La Ode Marhini1, La Patuju1, Iwan P.1
1 Universitas
Halu Oleo, Kendari, Sulawesi Tenggara, Indonesia
* Corresponding Author:
To cite this article:
Peribadi, P., Arsya, M., Samsul, S., Marhini, L. O., Patuju, L., & Iwan, P. (2023). Studi Potensi dan Problematika
Desa Tertinggal di Kabupaten Konawe Selatan. JIPPM (Jurnal Ilmiah Penyuluhan dan Pengembangan
Masyarakat), 3 (Special Issue), 59 – 67. http://dx.doi.org/10.56189/jippm.v3i0.46307
Received: 10 Juli 2023; Accepted: 25 Oktober 2023; Published: 28 November 2023
ABSTRACT
Analysis of all types of resources from the perspective of the Village Development Index (IDM), will clearly
show all potential resources as strengths and as opportunities for future development. On the other hand, various
life problems are also revealed as weaknesses and challenges that can be anticipated and must even be turned
into opportunities for developing disadvantaged village communities. The research aims to describe the various
potentials and at the same time the various problems contained in rural areas categorized as Disadvantaged
Villages in South Konawe Regency. In this context, the resource potential within the scope of the Social Resilience
Index, Economic Resilience and Environmental Resilience is studied from the perspective of the Regulation of the
Minister of Villages, Development of Disadvantaged Regions and Transmigration of the Republic of Indonesia
Number 2 of 2016 concerning the Developing Village Index. The research uses a qualitative approach which
focuses on descriptive studies and phenomenological studies. All components of South Konawe society that are
deemed worthy of providing information can be used as primary data sources. Primary data was carried out using
participant observation, surveys, deep interviews and Focus Group Discussions. Analysis of the Village
Development Index (IDM) through a process of weighting and ranking rural resource potential. The results of the
research show that there is a rural area that is classified as a Very Disadvantaged Village (Pritama Village),
because it is in the value range of less than 0.4907 and the existence of an area that is in the Disadvantaged
Village category because it has a value of less than 0.599. Such conditions indicate vulnerability to natural
disasters, economic shocks and social conflicts, so that villages experience difficulties in managing and utilizing
the potential of their social, economic and ecological resources. The portrait of rural areas referred to as
underdeveloped and very underdeveloped villages depicts the worst condition of resources according to the
provisions of the 2016 Minister of Village Regulation, so that it appears very problematic in developing its existence
towards developing villages, developed villages and up to independent villages. The existence of underdeveloped
and very underdeveloped villages appears on the one hand to have sufficient resource potential to support the
development of a rural area and develop the socio-economic welfare of its people. Although on the other hand, it
was not able to achieve a score according to the provisions of the 2016 Minister of Village Regulation. In this
context, for example, in the education dimension, high points were achieved, but the achievement in the social
capital dimension appeared to be very low.
Keywords: Potential, Problems, Underdeveloped Villages.
PENDAHULUAN
Keberadaan desa sebanyak 336 desa dan 15 kelurahan di wilayah Pemerintahan Kabupaten
Konawe Selatan, tampak masih dominan berada pada posisi Desa Berkembang dan Desa Tertinggal. Kemudian
pada beberapa wilayah perdesaan yang sudah dikategorikan dalam statusnya sebagai Desa Mandiri oleh
CONTACT Peribadi
Vol 3. Special Issue. November 2023
Jurnal Ilmiah Penyuluhan dan Pengembangan Masyarakat
60
Pemerintah Kabupaten Konsel, namun setelah dianalisis dengan menggunakan instrumen Kementrian No. 2
Tahun 2016 ternyata masih dalam status sebagai Desa Maju. Begitu pula beberapa wilayah perdesaan yang
sudah diklaim sebagai Desa Maju, ternyata masih juga tergolong sebagai Desa Berkembang (Peribadi et al.,
2021). Hal ini tampak bertentangan dengan Hasil Keputusan Pemerintah Kabupaten Konawe Selatan No. 4
410/510 Tahun 2021 tentang Penetapan Klasifikasi Tingkat Perkembanngan Desa Kabupaten Konawe Selatan
yang di dalamnya menyebutkan sebanyak 11 desa yang tergolong sebagai desa tertinggal, tanpa keberadaan
desa-desa sangat tertinggal.
Upaya membangun dan mengembankan wilayah pedesaan yang kategori sebagai “Desa Tertinggal dan
Desa Sangat Tertinggal” menuju Desa Berkembang, Desa Maju dan Desa Mandiri, adalah sangat
dibutuhkan pendekatan yang proporsional dan intervensi kebijakan yang konstruktif serta strategi pembangunan
wilayah pedesaan berbasis kultural dan spiritual. Hal itu sangat penting, karena tampak demikian fenomenal
aneka persoalan yang dialami oleh desa-desa tertinggal dan desa sangat tertinggal. Hal itu, mulai dari masalah
terbatasnya sumber daya alam, rendahnya sumber daya manusia, kurangnya prasarana dan sarana transportasi,
komunikasi, kesehatan, pendidikan, sampai pada masalah kepemimpinan dan rendahnya partisipasi
masyarakat, sehingga sangat dibutuhkan sebuah formulasiv kebijakan program pembangunan yang tepat
sasaran (Albab, 2019; Hidayati, 2021; Xaverius, 2021).
Strategi pembangunan wilayah pedesaan seharusnya diarahkan kepada upaya peningkatan
kesejahteraan masyarakat melalui pemberdayaan masyarakat untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya
Manusia (SDM), terutama dalam membentuk perilaku warga masyarakatnya. Sedangkan untuk mengurangi
jumlah desa tertinggal serta berupaya meningkatkan jumlah desa maju dan desa mandiri, maka problem utama
yang harus diselesaikan oleh pemerintah adalah berupaya mengembangkan Program Penanggulangan
Kemiskinan (Pronangkis) secara terpadu. Demikian pula pemerintah dan masyarakat pada desa yang kategori
tertinggal itu, pun harus berusaha sungguh-sungguh dan maksimal dalam memanfaatkan semua jenis sumber
daya yang ada di sekitarnya.
Atas dasar pemikiran itu, maka penelitian ini diarahkan pada upaya mengkaji Potensi dan Problematika
Desa Tertinggal di Wilayah Pedesaan Kabupaten Konawe Selatan. Analisis atas semua jenis sumber daya dalam
perspektif Indeks Desa Membangun (IDM), akan terlihat dengan terang benderang semua potensi sumber daya
sebagai kekuatan (strength) dan sebagai peluang untuk ditumbuhkembangkan ke depan. Demikian sebaliknya,
juga terungkap aneka problematika kehidupan sebagai kelemahan (weakness) dan tantangan (threats) yang dapat
diantisipasi dan bahkan harus dirubah menjadi peluang dalam membangun masyarakat desa tertinggal. Dalam
perspektif analisis SWOT dit (...truncated)