GAMBARAN HISTOPATOLOGI KARTILAGO SENDI LUTUT TIKUS WISTAR SETELAH PEMBERIAN SIPROFLOKSASIN
GAMBARAN HISTOPATOLOGI KARTILAGO SENDI LUTUT
TIKUS WISTAR SETELAH PEMBERIAN SIPROFLOKSASIN
Poppy M Lintong
Carla Kairupan
Mulyadi Saul
Laboratorium Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran
Universitas Sam Ratulangi Manado
e-mail:
Abstract: Ciprofloxacin is a kind of antibiotic which belongs to the fluoroquinolone group. It
is very effective against microbes, but has several side effects in bones, joints, and tendons,
especially for individuals under 18 years. The purpose of this study was to find out the side
effects of ciprofloxacin on wistar rats’ knee joints. This was an experimental and descriptive
study, using 12 wistar rats as samples, which were grouped in 4 groups: 3 treated, 1 control.
The treated groups were given different total daily oral doses of ciprofloxacin (2 mg, 6 mg,
and 18 mg) for 14 days. On the 15th day, all the samples were terminated, and their right back
knees were examined pathologically, focusing on the knee cartilages. Wistar rats treated with
18 mg ciprofloxacin showed foci of cartilage matrix edema and degradation of chondrocytes.
This study concluded that 18 mg doses of ciprofloxacin daily caused destruction of the matrix
and chondrocytes of the wistar rats’ knee joint cartilages.
Keywords: ciprofloxasin, knee joint, matrix edema, chondrocytes’ degradation
Abstrak: Siprofloksasin adalah antibiotik golongan fluorokuinolon yang sangat efektif untuk
mengobati infeksi, namun dapat menimbulkan beberapa efek samping, antara lain gangguan
pada tulang, sendi, dan tendon, terutama pada yang berusia dibawah 18 tahun. Tujuan
penelitian ini untuk mengetahui efek siprofloksasin pada sendi lutut tikus. Penelitian ini
bersifat eksperimental deskriptif dengan menggunakan sampel 12 ekor tikus wistar yang
dibagi atas empat kelompok (3 kelompok perlakuan dan 1 kelompok kontrol). Pada kelompok
perlakuan diberikan siprofloksasin per oral dengan dosis 2mg, 6 mg, dan 18 mg setiap hari
selama 14 hari. (Dosis ini pada manusia dengan berat badan rata rata 50 kg setara dengan
dosis 1000 mg, 3000 mg, dan 9000 mg per hari). Pada hari ke15, tikus kontrol dan perlakuan
diterminasi kemudian sendi lutut di eksisi dan dilakukan pemeriksaan histopatologi.
Pemeriksaan histopatologi sendi lutut difokuskan pada jaringan kartilago hialin. Tikus kontrol
dan tikus perlakuan dengan pemberian siprofloksasin dosis 2 mg dan 6 mg memperlihatkan
jaringan kartilago normal; sedangkan pada tikus perlakuan dengan dosis 18 mg terlihat fokusfokus pembengkakan matriks tulang rawan dan degradasi kondrosit. Dari hasil penelitian ini
dapat disimpulkan bahwa pemberian siprofloksasin pada tikus wistar dengan dosis 18 mg
(setara dengan 9000 mg pada manusia) per hari selama 14 hari telah menimbulkan kelainan
fokal pada kartilago berupa pembengkakan matriks dan degradasi kondrosit.
Kata kunci: siprofloksasin, sendi lutut, pembengkakan matriks, degradasi kondrosit
45
46 Jurnal Biomedik, Volume 1, Nomor 1, Maret 2009 hlm. 45-54
Siprofloksasin merupakan antibiotik golongan fluorokuinolon turunan kuinolon.
Disebut demikian karena adanya atom
fluor pada posisi 6 dalam struktur molekulnya. Daya antibiotiknya lebih kuat
dari golongan kuinolon sebelumnya.
Siprofloksasin efektif pada penanggulangan infeksi berat, khususnya yang
disebabkan oleh kuman gram negatif
misalnya E.coli, klebsiela, enterobacter,
proteus,
H.influenzae,
providensia,
serratia, salmonella, N.meningitidis, N.
gonorhoeae, B.catarralis, dan yersinia
enterocolitica. Terhadap kuman gram
positif, daya anti bakterinya kurang
kuat.1
Obat ini dapat di berikan dalam
bentuk oral atau intravena. Dosis untuk
anak-anak: oral: 20-30/mg/kg/hari dalam
2 dosis, dosis maksimum1,5g/hari.
Dalam bentuk IV: 20-30/kg/hari setiap
12 jam, dosis maksimum 800/mg/hari.
Dosis untuk orang dewasa; oral: 250-750
mg setiap 12 jam, IV:200-400 mg setiap
12 jam.2
Siprofloksasin umumnya diberikan secara oral, tetapi dapat diberikan
juga secara parenteral. Siprofloksasin
dan golongan fluorokuinolon lainnya dapat diabsorbsi dengan baik melalui traktus gastrointestinalis, dan memiliki masa
paruh eleminasi yang panjang dalam tubuh sehingga pemberian obat cukup 2
kali sehari. Bioavailabilitasnya pada
pemberian oral sama dengan parenteral.
Penyerapan siprofloksasin dan mungkin
juga fluorokuinolon lainnya terhambat
bila diberikan bersama dengan antasida.
Obat ini terdistribusi dengan baik pada
berbagai organ tubuh. Dalam urin siprofloksasin mencapai kadar yang melampaui kadar hambat minimal untuk kebanyakan kuman patogen selama minimal
12 jam. Salah satu kelebihan obat ini dibanding golongan fluorokuinolon lainnya adalah obat ini dapat mencapai ka-
dar tinggi dalam cairan cerebrospinalis
pada meningitis. Siprofloksasin dimetabolisme di hati dan diekskresi melalui
ginjal. Sebagian obat akan dikeluarkan
melalui empedu. Hemodialisis hanya sedikit mengeluarkan obat ini dari tubuh
sehingga penambahan dosis tidak diperlukan.1
Siprofloksasin bekerja dengan
menghambat enzim topoisomerase II
pada kuman. Enzim ini berfungsi menimbulkan terjadinya relaksasi DNA
yang mengalami positive supercoiling
(pilinan positif yang berlebihan) pada
waktu transkripsi dalam proses replikasi
DNA.1
Keamanan dan keefektifan siprofloksasin pada pasien anak dan remaja
(kurang dari 18 tahun) belum ditetapkan.
Siprofloksasin mempunyai efek samping
antara lain: mual, muntah, halusinasi,
kejang, delirium, kardiotoksisitas, disglikemia, fototoksisitas, dan ruptur tendon.3
Siprofloksasin juga dapat menimbulkan
komplikasi berupa gangguan pada
tulang, sendi, dan tendon (muskuloskeletal) pada yang berusia kurang dari
18 tahun. Gangguan tersebut dapat berupa erosi pada tulang dengan tandatanda pembengkakan matriks, kehilangan proteoglikan, dan munculnya celah
horizontal pada sendi.4-11
Pemberian siprofloksasin dosis
tinggi dapat menyebabkan kepincangan
pada anjing usia muda dan belum dewasa. Pemeriksaan histopatologi pada
sendi yang menahan beban pada anjing
percobaan memperlihatkan adanya erosi
kartilago. Obat golongan kuinolon lainnya juga menyebabkan erosi kartilago
dari sendi yang menahan beban dan
tanda-tanda artropati lain pada berbagai
spesies hewan yang belum dewasa.3,5
Efek samping yang lain mencakup gangguan gastrointestinal, kerusakan tubulus
ginjal (pengendapan kuinolon), reaksi
Lintong, Kairupan, Saul: Gambaran Histopatologi Kartilago Sendi Lutut…47
alergi dan eksantema, fotosensibilitas,
reaksi neurotoksik (antagonis GABA),
serta yang jarang-jarang berupa tendonitis, sindroma hemolisis, dan trombositopeni.1,12
Berdasarkan hal-hal tersebut di-atas
maka dilakukan penelitian yang bertujuan untuk melihat efek siprofloksasin
pada kartilago sendi lutut tikus wistar.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan dengan
metode eksperimental deskriptif bertempat di Laboratorium Riset Biomedik dan
Patologi Anatomi selama 3 bulan. Sampel yang digunakan adalah 12 ekor tikus
wistar muda berusia 3 bulan yang dibagi
atas 4 kelompok, masing-masing terdiri
dari 3 ekor tikus. Tikus di pelihara dalam
wadah yang ditabu (...truncated)