Pengaruh Beban Kerja, Kompensasi, dan Lingkungan Kerja Terhadap Semangat Kerja di UMKM Azalea Food
JEMSI (Jurnal Ekonomi, Manajemen, dan Akuntansi)
E-ISSN: 2579-5635, P-ISSN: 2460-5891
Volume 10 (3) Juni Tahun 2024, Hal 1692-1702.
Pengaruh Beban Kerja, Kompensasi, dan Lingkungan Kerja Terhadap Semangat
Kerja di UMKM Azalea Food
Aris Kusnadi
Prodi Manajemen, Universitas Teknologi Digital Bandung, Kota Bandung, Jawa Barat, Indonesia
Siska Fajar Kusuma
Prodi Manajemen, Universitas Teknologi Digital Bandung, Kota Bandung, Jawa Barat, Indonesia
Article’s History:
Received 24 Februari 2024; Received in revised form 27 Februari 2024; Accepted 12 Maret 2024; Published 1 Juni 2024.
All rights reserved to the Lembaga Otonom Lembaga Informasi dan Riset Indonesia (KITA INFO dan RISET).
Suggested Citation:
Kusnandi, A., & Kusuma, S. F. (2024). Pengaruh Beban Kerja, Kompensasi, dan Lingkungan Kerja Terhadap Semangat
Kerja di UMKM Azalea Food. JEMSI (Jurnal Ekonomi, Manajemen, dan Akuntansi). JEMSI (Jurnal Ekonomi, Manajemen,
Dan Akuntansi), 10 (3). 1692-1702. https://doi.org/10.35870/jemsi.v10i3.2429
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh beban kerja, kompensasi dan lingkungan kerja baik secara parsial
maupun secara simultan terhadap semangat kerja pada UMKM Azalea Food. Metode penelitian yang digunakan adalah
metode survey. Dalam pengumpulan data ini menggunakan pengamatan langsung dan penyebaran kuesioner di lapangan
yang berhubungan dengan objek penelitian. Populasi dalam penelitian ini adalah karyawan di UMKM Azalea Food. Sampel
pada penelitian ini adalah seluruh karyawan di UMKM Azalea Food yaitu berjumlah 30 karyawan. Penarikan sampel ini
menggunakan metode sampling jenuh. Hasil penelitian dengan menggunakan analisis jalur diketahui bahwa beban kerja,
kompensasi dan lingkungan baik secara parsial maupun simultan berpengaruh signifikan terhadap semangat kerja
karyawan di UMKM Azalea Food.
Keywords: beban kerja, kompensasi, lingkungan, semangat kerja
Pendahuluan
Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) membentuk pilar penting dalam struktur ekonomi global,
mereka memberikan kontribusi signifikan terhadap penciptaan lapangan kerja dan pemberdayaan pada
masyarakat, UMKM tidak hanya menciptakan lapangan kerja tetapi juga berperan dalam menggerakan roda
ekonomi lokal. Kementerian koperasi dan UKM mencatat terdapat 64,2 juta unit usaha mikro, kecil, dan
menengah (UMKM) di Indonesia pada 2021. Usaha mikro, dengan kriteria omzet maksimal Rp2 miliar
pertahunnya, menjadi yang paling dominan dalam struktur UMKM. Usaha mikro mencapai 63.955.369 unit pada
2021 atau berkontribusi 99,62% dari total unit usaha di Indonesia. Proporsinya tidak banyak berubah dalam 10
tahun terakhir. Data tersebut membuktikan UMKM memiliki kontribusi yang luar biasa untuk perekonomian
nasional dan harus didukung dengan dengan adanya potensi pekerja yang memadai. Sebuah bisnis tidak bisa
lepas dari peran pekerja sebagai penggerak roda operasional. Harus diakui bahwa peran karyawan sebagai aset
berharga dalam mencapai kesuksesan perusahaan. Dalam konteks UMKM, UMKM mungkin menghadapi
tantangan yang unik seperti kebutuhan akan fleksibilitas dan sumber daya yang terbatas sehingga dalam hal ini
semangat kerja karyawan menjadi krusial.
1692
JEMSI (Jurnal Ekonomi, Manajemen, dan Akuntansi)
E-ISSN: 2579-5635, P-ISSN: 2460-5891
Volume 10 (3) Juni Tahun 2024, Hal 1692-1702.
Semangat kerja karyawan merupakan faktor yang dapat mendukung pertumbuhan dan keberlanjutan
perusahaan. Semangat kerja Menurut (Busro, 2018:15) adalah suatu suasana kerja yang terdapat di dalam
suatu organisasi yang menunjukan rasa kegairahan di dalam melaksanakan pekerjaan dan mendorong
karyawan untuk bekerja secara lebih baik dan produktif. Lebih lanjut menurut Hasibuan (dalam Basri, 2021:4),
semangat kerja adalah keinginan atau kesungguhan seseorang mengerjakan pekerjaannya dengan baik,
berdisiplin untuk mencapai prestasi kerja yang maksimal, kemauan, dan kesenangan terhadap kesenangan yang
mendalam terhadap pekerjaan yang dilakukan. Ketika seseorang memiliki semangat kerja yang tinggi, maka
mereka cenderung lebih termotivasi untuk menyelesaikan tugas dengan efisien, bahkan dalam situasi beban
kerja yang tinggi. Sebaliknya, beban kerja yang berlebihan tanpa dukungan atau pengakuan dapat mengurangi
produktivitas. Oleh karena itu, penting untuk menciptakan keseimbangan yang baik antara semangat kerja dan
beban kerja.
Menurut Vanchapo (2020:1), beban kerja merupakan sebuah proses atau kegiatan yang harus segera
diselesaikan oleh seorang pekerja dalam jangka waktu tertentu. Apabila seorang pekerja mampu menyelesaikan
dan menyesuaikan diri terhadap sejumlah tugas yang diberikan, maka hal tersebut tidak menjadi suatu beban
kerja. Beban kerja merupakan aspek kritis dalam lingkungan kerja modern. Tuntutan terhadap produktivitas
individu cenderung meningkat, pekerja sering dihadapkan pada tekanan waktu, tanggung jawab yang kompleks,
dan ekspektasi yang tinggi. Dampaknya dapat dirasakan tidak hanya pada kesejahteraan individu, tetapi juga
pada produktivitas organisasi. Beban kerja seringkali menjadi tantangan utama dalam UMKM. Karyawan UMKM
sering memegang berbagai peran dan tanggung jawab, karena sumber daya dan tim yang terbatas. Para pemilik
UMKM perlu bijaksana dalam mendistribusikan tugas, memprioritaskan pekerjaan, dan mencari cara untuk
meningkatkan efisiensi. Dalam UMKM, hubungan antara beban kerja dan kompensasi juga sangat relevan.
Karyawan UMKM seringkali memegang banyak peran dan tanggung jawab atas berbagai aspek bisnis. Oleh
karena itu, perlu diperhatikan keseimbangan antara beban kerja dan kompensasi yang diterima.
Menurut Sikula (dalam Hasibuan, 2020:199), kompensasi adalah segala sesuatu yang diinstitusikan
atau dianggap sebagai suatu balasan jasa yang ekuivalen. Kompensasi dalam konteks bisnis dan sumber daya
manusia, mencerminkan sistem yang kompleks untuk membalas jasa dan kontribusi karyawan terhadap
organisasi sebagai aspek kritis dalam manajemen sumber daya manusia. Sistem kompensasi di UMKM
mencerminkan tantangan dan kenyataan dari lingkungan bisnis yang seringkali dinamis dan sumber daya
terbatas. Kebanyakan UMKM cenderung memiliki skala operasional yang lebih kecil dibandingkan dengan
perusahaan besar yang mempengaruhi strategi kompensasi. Kompensasi di UMKM seringkali bersifat lebih
fleksibel dan bergantung pada kinerja serta kontribusi individu. Kompensasi yang adil dan memadai dan
menciptakan atmosfir yang positif di lingkungan kerja, Lingkungan kerja yang mendukung dan memberikan
kesempatan untuk pengembangan karir juga memainkan peran penting dalam presepsi karyawan terhadap nilai
kompensasi mereka. Pemilik bisnis dan manajer perlu memastikan bahwa sistem kompensasi sejalan dengan
budaya perusahaan agar menciptakan lingkungan kerja yang positif.
Menurut (Darmadi, 2020:242), lingkungan kerja termasuk sesuatu yang berada pada sekitar para
karyawan sehingga mempengaruhi suatu individu dalam melaksanakan kewajiban yang telah ditugaskan
kepadanya, seperti adanya pendingin udara, pencahayaan yang bagus d (...truncated)