HUBUNGAN KARAKTERISTIK BATUAN DASAR TERHADAP KADAR Ni PADA ZONA LATERIT DI DAERAH WULU, KABUPATEN BUTON TENGAH, SULAWESI TENGGARA

Jurnal Ilmiah Geologi pangea, Dec 2022

Daerah penelitian ini terletak di Pulau Kabaena yang merupakan suatu pulau yang kaya akan sumber daya nikel. Daerah penelitian masuk ke dalam formasi kompleks ultramafik yag terdiri dari batuan-batuan ultramafik, seperti peridotite, dunite dan serpentinite. Pada daerah penelitian yang merupakan daerah pertambangan ditemukannya kadar nikel yang berbeda-beda pada tiap bukaan tambang (pit) sehingga menyebabkan terjadinya perbedaan kadar nikel pada saat dilakukannya ore getting. Didapatkan hasil dari kadar nikel yang termasuk low grade hingga high grade, dari adanya perbedaan kadar tersebut menyebabkan adanya beberapa tumpukan material dari ore getting memiliki kadar yang kecil sehingga tidak dapat untuk dikirim ke smelter. Salah satu faktor yang mempengaruhi kadar nikel adalah batuan dasar. Tujuan dari penelitian ini adalahuntuk mengetahui pengaruh karakteristik batuan dasar terhadap kadar nikel pada endapan nikel laterit. Metode yang digunakan pada penelitian kali ini adalah dengan melakukan survey lapangan secara langsung mencakup pengambilan data litologi dan data hasil pemboran dari daerah penelitian. Data pemboran yang digunakan berjumlah 5 titik bor pada tiap daerah dengan jenis batuan dasar yang berbeda. Penelitian ini menggunakan analisis petrografi dan analisis geokimia menggunakan XRF (X-Ray Fluorescence). Daerah penelitian memiliki tiga satuan batuan yang berumur Kapur Awal (79 – 137 jtl) yaitu, Satuan Dunite Wulu, Satuan Peridotite Wulu, dan Satuan Serpentinite Wulu. Dari hasil analisis geokimia adanya unsur-unsur geokimia utama (major) seperti Ni, Fe, SiO2, dan MgO. Hasilpenelitian ini menunjukan bahwa batuan dasar dunite memiliki kadar Ni paling tinggi dibandingkan dengan batuan dasar peridotite dan serpentinite dengan kadar Ni pada zona limonit 0,95%, pada zona saprolit sebesar 1,60% dan pada zona batuan dasar sebesar 0,54%, dengan kadar Ni tertinggi pada daerah berlitologi dunite yang pernah didapat sebesar 2,71%. Pada batuan dasar peridotite didapatkan pada zona limonit mengandung Ni sebesar 0,92%, pada zona saprolit sebesar 1,29% dan pada zona batuan dasar sebesar 0,53%. Pada batuan dasar serpentinite didapatkan pada zona limonit mengandung Ni sebesar 0,86%, pada zona saprolit sebesar 1.23% dan pada zona batuan dasar sebesar 0,49%. Dari hasil penelitian ini menunjukan bahwa batuan dasar memiliki peranan penting dalam tinggi-rendahnya kadar Ni, sehingga dengan batuan dasar yang berbeda maka kadar Ni yang terbentuk juga akan berbeda.Kata Kunci : Geologi, Laterit, Batuan Dasar, Kadar Ni, Pulau Kabaena

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

http://jurnal.upnyk.ac.id/index.php/jig/article/download/9502/5440

HUBUNGAN KARAKTERISTIK BATUAN DASAR TERHADAP KADAR Ni PADA ZONA LATERIT DI DAERAH WULU, KABUPATEN BUTON TENGAH, SULAWESI TENGGARA

Jurnal Ilmiah Geologi Pangea Vol. 9 No. 2, Agustus-Desember 2022 p-ISSN 2356-024X ISSN 2356-024X e-ISSN 2987-100X 1 HUBUNGAN KARAKTERISTIK BATUAN DASAR TERHADAP KADAR Ni PADA ZONA LATERIT DI DAERAH WULU, KABUPATEN BUTON TENGAH, SULAWESI TENGGARA Richelin Eksa J1), Sutarto1), Jatmika Setiawan1), Faried Ardian P2) Prodi Teknik Geologi, Fakultas Teknologi Mineral, UPN “Veteran” Yogyakarta Jl. SWK (104) Lingkar Utara, Condongcatur, Depok, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, 55283 2) PT. Arga Morini Indah 1) Sari – Daerah penelitian ini terletak di Pulau Kabaena yang merupakan suatu pulau yang kaya akan sumber daya nikel. Daerah penelitian masuk ke dalam formasi kompleks ultramafik yag terdiri dari batuan-batuan ultramafik, seperti peridotite, dunite dan serpentinite. Pada daerah penelitian yang merupakan daerah pertambangan ditemukannya kadar nikel yang berbeda-beda pada tiap bukaan tambang (pit) sehingga menyebabkan terjadinya perbedaan kadar nikel pada saat dilakukannya ore getting. Didapatkan hasil dari kadar nikel yang termasuk low grade hingga high grade, dari adanya perbedaan kadar tersebut menyebabkan adanya beberapa tumpukan material dari ore getting memiliki kadar yang kecil sehingga tidak dapat untuk dikirim ke smelter. Salah satu faktor yang mempengaruhi kadar nikel adalah batuan dasar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh karakteristik batuan dasar terhadap kadar nikel pada endapan nikel laterit. Metode yang digunakan pada penelitian kali ini adalah dengan melakukan survey lapangan secara langsung mencakup pengambilan data litologi dan data hasil pemboran dari daerah penelitian. Data pemboran yang digunakan berjumlah 5 titik bor pada tiap daerah dengan jenis batuan dasar yang berbeda. Penelitian ini menggunakan analisis petrografi dan analisis geokimia menggunakan XRF (X-Ray Fluorescence). Daerah penelitian memiliki tiga satuan batuan yang berumur Kapur Awal (79 – 137 jtl) yaitu, Satuan Dunite Wulu, Satuan Peridotite Wulu, dan Satuan Serpentinite Wulu. Dari hasil analisis geokimia adanya unsurunsur geokimia utama (major) seperti Ni, Fe, SiO2, dan MgO. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa batuan dasar dunite memiliki kadar Ni paling tinggi dibandingkan dengan batuan dasar peridotite dan serpentinite dengan kadar Ni pada zona limonit 0,95%, pada zona saprolit sebesar 1,60% dan pada zona batuan dasar sebesar 0,54%, dengan kadar Ni tertinggi pada daerah berlitologi dunite yang pernah didapat sebesar 2,71%. Pada batuan dasar peridotite didapatkan pada zona limonit mengandung Ni sebesar 0,92%, pada zona saprolit sebesar 1,29% dan pada zona batuan dasar sebesar 0,53%. Pada batuan dasar serpentinite didapatkan pada zona limonit mengandung Ni sebesar 0,86%, pada zona saprolit sebesar 1.23% dan pada zona batuan dasar sebesar 0,49%. Dari hasil penelitian ini menunjukan bahwa batuan dasar memiliki peranan penting dalam tinggi-rendahnya kadar Ni, sehingga dengan batuan dasar yang berbeda maka kadar Ni yang terbentuk juga akan berbeda. Kata Kunci : Geologi, Laterit, Batuan Dasar, Kadar Ni, Pulau Kabaena PENDAHULUAN Indonesia memberikan sumbangsi produksi nikel di dunia sebesar 15% yang membuat Indonesia termasuk kedalam tiga negara yang mempunyai produksi bahan galian logam nikel terbesar di dunia (Fitrian, 2011). Nikel Laterit adalah produk residual pelapukan kimia pada batuan ultramafik. Proses ini berlangsung selama jutaan tahun dimulai ketika batuan ultramafik tersingkap di permukaan bumi. Salah satu faktor yang mempengaruhi pembentukan endapan nikel laterit adalah batuan dasar. Selain mempengaruhi pembentukan endapan nikel, batuan dasarjuga sangat berpengaruh terhadap kadar dari endapan nikel laterit (Adi Kurniadi, 2018). Permasalahan yang melatarbelakangi penelitian ini adalah ditemukannya kadar Ni yang berbeda-beda pada tiap bukaan tambang (pit) pada daerah penelitian sehingga menyebabkan terjadinya kesenjangan kadar nikel pada saat dilakukannya ore getting . Pada saat ore getting terdapat hasil dari kadar nikel yang termasuk low grade hingga high grade, dari adanya perbedaan kadar tersebut menyebabkan adanya beberapa tumpukan material dari ore getting tersebut memiliki kadar yang kecil sehingga tidak dapat untuk dikirim ke smelter. Untuk mencegah terjadinya kesenjangan kadar nikel pada saat ore getting, maka saya melakukan penelitian tentang faktor apa yang mempengaruhi kadar nikel pada bukaan tambang yang satu dengan yang lainnya memiliki kadar nikel yang berbeda-beda, salah satu faktor pembentukan nikel laterit yang berkaitan dengan kadar nikel adalah batuan dasarnya, sehingga saya ingin mengetahui hubungan dari karakteristik tiap batuan dasar terhadap kadar nikel pada daerah penelitian. 2 Richelin Eksa J, Sutarto, Jatmika Setiawan, Faried Ardian P Daerah penelitian yang merupakan bagian lengan Sulawesi Tenggara yang memiliki beragam batuan ultramafik seperti dunite, peridotite, dan serpentinite sebagai batuan dasar penghasi nikel, sehingga dengan keberagaman tersebut sangat menarik untuk diteliti pengaruhnya terhadap kadar nikel yang dihasilkan. KAJIAN PUSTAKA Geologi Daerah penelitian yang berada di Pulau Kabaena secara stratigrafi dari yang termuda hingga tertua, terdiri atas : a. Aluvium (Qa), merupakan endapan paling muda berumur Holosen terdiri atas lumpur, lempung, pasir, kerikil, dan kerakal. b. Formasi Langkowala (Tml), berumur Miosen terdiri atas konglomerat, batupasir, serpih, dan setempat kalkarenit. c. Komplek Pompangeo (Mtpm), berumur Kapur – Paleosen terdiri atas sekis mika, sekis glokofan, sekis amfibolit, sekis klorit, rijang berlapis sekis genesan, pualam,dan batugamping malih. d. Formasi Matano (Km), berumur Kapur terdiri dari batugamping terhablur ulang dan terdaunkan, rijang radiolaria, dan batusabak. e. Komplek Ultramafik (Ku), merupakan batuan tertua berumur Kapur terdiri atas harsburgit, dunit, wherlite serpentinit, gabro, basal, dolerit, diorit, mafik malih, amfibiolit magnesit, dan setempat rodingit Gambar 1. Geologi Regional Pulau Kabaena, Simandjuntak dkk.(1993) Batuan Dasar Endapan Nikel Laterit Batuan Ultrabasa hadir dalam bumi sebagai komponen utama penyusun mantel atas di bawah kerak benua atau kerak samudera (Kadarusman, 2009). Secara sederhana batuan beku ultramafik adalah batuan beku yang secara kimia mengandung kurang dari 45% SiO2 dari komposisinya. Kandungan mineralnya didominasi oleh mineralmineral berat dengan kandungan unsur-unsur seperti Fe dan Mg (Ahmad, 2006). Batuan ultramafik merupakan batuan yang menjadi sumber bagi endapan nikel laterit dan nikel sulfida. Selain sebagai sumber nikel, batuan ultramafik juga dapat menjadi induk dari kromit, logam dasar, kelompok logam platinum (PGM), intan, dan bijih besi laterit (Kadarusman, 2009). Contoh batuan ultramafik adalah dunite, piroksenit, hornblendit, serpentinite, dan peridotit, namun dalam kaitannya dengan nikel laterit, dari beberapa batuan ultramafik tersebut hanya ada beberapa batuan yang dapat menjadi batuan dasar dari endapan nikel (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: http://jurnal.upnyk.ac.id/index.php/jig/article/download/9502/5440
Article home page: http://jurnal.upnyk.ac.id/index.php/jig/article/view/9502/5440

Jeremiarta Richelin Eksa, Jatmika Setiawan, P. Faried Ardian. HUBUNGAN KARAKTERISTIK BATUAN DASAR TERHADAP KADAR Ni PADA ZONA LATERIT DI DAERAH WULU, KABUPATEN BUTON TENGAH, SULAWESI TENGGARA, Jurnal Ilmiah Geologi pangea, 2022, pp. 1-9,