HUBUNGAN KARAKTERISTIK BATUAN DASAR TERHADAP KADAR Ni PADA ZONA LATERIT DI DAERAH WULU, KABUPATEN BUTON TENGAH, SULAWESI TENGGARA
Jurnal Ilmiah Geologi Pangea Vol. 9 No. 2, Agustus-Desember 2022
p-ISSN
2356-024X
ISSN 2356-024X
e-ISSN 2987-100X
1
HUBUNGAN KARAKTERISTIK BATUAN DASAR TERHADAP
KADAR Ni PADA ZONA LATERIT DI DAERAH WULU,
KABUPATEN BUTON TENGAH, SULAWESI TENGGARA
Richelin Eksa J1), Sutarto1), Jatmika Setiawan1), Faried Ardian P2)
Prodi Teknik Geologi, Fakultas Teknologi Mineral, UPN “Veteran” Yogyakarta
Jl. SWK (104) Lingkar Utara, Condongcatur, Depok, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, 55283
2)
PT. Arga Morini Indah
1)
Sari – Daerah penelitian ini terletak di Pulau Kabaena yang merupakan suatu pulau yang kaya akan sumber
daya nikel. Daerah penelitian masuk ke dalam formasi kompleks ultramafik yag terdiri dari batuan-batuan
ultramafik, seperti peridotite, dunite dan serpentinite. Pada daerah penelitian yang merupakan daerah
pertambangan ditemukannya kadar nikel yang berbeda-beda pada tiap bukaan tambang (pit) sehingga
menyebabkan terjadinya perbedaan kadar nikel pada saat dilakukannya ore getting. Didapatkan hasil dari kadar
nikel yang termasuk low grade hingga high grade, dari adanya perbedaan kadar tersebut menyebabkan adanya
beberapa tumpukan material dari ore getting memiliki kadar yang kecil sehingga tidak dapat untuk dikirim ke
smelter. Salah satu faktor yang mempengaruhi kadar nikel adalah batuan dasar. Tujuan dari penelitian ini adalah
untuk mengetahui pengaruh karakteristik batuan dasar terhadap kadar nikel pada endapan nikel laterit.
Metode yang digunakan pada penelitian kali ini adalah dengan melakukan survey lapangan secara
langsung mencakup pengambilan data litologi dan data hasil pemboran dari daerah penelitian. Data pemboran
yang digunakan berjumlah 5 titik bor pada tiap daerah dengan jenis batuan dasar yang berbeda. Penelitian ini
menggunakan analisis petrografi dan analisis geokimia menggunakan XRF (X-Ray Fluorescence).
Daerah penelitian memiliki tiga satuan batuan yang berumur Kapur Awal (79 – 137 jtl) yaitu, Satuan
Dunite Wulu, Satuan Peridotite Wulu, dan Satuan Serpentinite Wulu. Dari hasil analisis geokimia adanya unsurunsur geokimia utama (major) seperti Ni, Fe, SiO2, dan MgO. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa batuan
dasar dunite memiliki kadar Ni paling tinggi dibandingkan dengan batuan dasar peridotite dan serpentinite
dengan kadar Ni pada zona limonit 0,95%, pada zona saprolit sebesar 1,60% dan pada zona batuan dasar sebesar
0,54%, dengan kadar Ni tertinggi pada daerah berlitologi dunite yang pernah didapat sebesar 2,71%. Pada
batuan dasar peridotite didapatkan pada zona limonit mengandung Ni sebesar 0,92%, pada zona saprolit sebesar
1,29% dan pada zona batuan dasar sebesar 0,53%. Pada batuan dasar serpentinite didapatkan pada zona limonit
mengandung Ni sebesar 0,86%, pada zona saprolit sebesar 1.23% dan pada zona batuan dasar sebesar 0,49%.
Dari hasil penelitian ini menunjukan bahwa batuan dasar memiliki peranan penting dalam tinggi-rendahnya
kadar Ni, sehingga dengan batuan dasar yang berbeda maka kadar Ni yang terbentuk juga akan berbeda.
Kata Kunci : Geologi, Laterit, Batuan Dasar, Kadar Ni, Pulau Kabaena
PENDAHULUAN
Indonesia memberikan sumbangsi produksi nikel di dunia sebesar 15% yang membuat Indonesia termasuk
kedalam tiga negara yang mempunyai produksi bahan galian logam nikel terbesar di dunia (Fitrian, 2011).
Nikel Laterit adalah produk residual pelapukan kimia pada batuan ultramafik. Proses ini berlangsung selama
jutaan tahun dimulai ketika batuan ultramafik tersingkap di permukaan bumi. Salah satu faktor yang
mempengaruhi pembentukan endapan nikel laterit adalah batuan dasar. Selain mempengaruhi pembentukan
endapan nikel, batuan dasarjuga sangat berpengaruh terhadap kadar dari endapan nikel laterit (Adi Kurniadi,
2018).
Permasalahan yang melatarbelakangi penelitian ini adalah ditemukannya kadar Ni yang berbeda-beda pada tiap
bukaan tambang (pit) pada daerah penelitian sehingga menyebabkan terjadinya kesenjangan kadar nikel pada
saat dilakukannya ore getting . Pada saat ore getting terdapat hasil dari kadar nikel yang termasuk low grade
hingga high grade, dari adanya perbedaan kadar tersebut menyebabkan adanya beberapa tumpukan material dari
ore getting tersebut memiliki kadar yang kecil sehingga tidak dapat untuk dikirim ke smelter. Untuk mencegah
terjadinya kesenjangan kadar nikel pada saat ore getting, maka saya melakukan penelitian tentang faktor apa
yang mempengaruhi kadar nikel pada bukaan tambang yang satu dengan yang lainnya memiliki kadar nikel
yang berbeda-beda, salah satu faktor pembentukan nikel laterit yang berkaitan dengan kadar nikel adalah batuan
dasarnya, sehingga saya ingin mengetahui hubungan dari karakteristik tiap batuan dasar terhadap kadar nikel
pada daerah penelitian.
2
Richelin Eksa J, Sutarto, Jatmika Setiawan, Faried Ardian P
Daerah penelitian yang merupakan bagian lengan Sulawesi Tenggara yang memiliki beragam batuan ultramafik
seperti dunite, peridotite, dan serpentinite sebagai batuan dasar penghasi nikel, sehingga dengan keberagaman
tersebut sangat menarik untuk diteliti pengaruhnya terhadap kadar nikel yang dihasilkan.
KAJIAN PUSTAKA
Geologi
Daerah penelitian yang berada di Pulau Kabaena secara stratigrafi dari yang termuda hingga tertua, terdiri atas :
a. Aluvium (Qa), merupakan endapan paling muda berumur Holosen terdiri atas lumpur, lempung, pasir,
kerikil, dan kerakal.
b. Formasi Langkowala (Tml), berumur Miosen terdiri atas konglomerat, batupasir, serpih, dan setempat
kalkarenit.
c. Komplek Pompangeo (Mtpm), berumur Kapur – Paleosen terdiri atas sekis mika, sekis glokofan, sekis
amfibolit, sekis klorit, rijang berlapis sekis genesan, pualam,dan batugamping malih.
d. Formasi Matano (Km), berumur Kapur terdiri dari batugamping terhablur ulang dan terdaunkan, rijang
radiolaria, dan batusabak.
e. Komplek Ultramafik (Ku), merupakan batuan tertua berumur Kapur terdiri atas harsburgit, dunit, wherlite
serpentinit, gabro, basal, dolerit, diorit, mafik malih, amfibiolit magnesit, dan setempat rodingit
Gambar 1. Geologi Regional Pulau Kabaena, Simandjuntak dkk.(1993)
Batuan Dasar Endapan Nikel Laterit
Batuan Ultrabasa hadir dalam bumi sebagai komponen utama penyusun mantel atas di bawah kerak benua atau
kerak samudera (Kadarusman, 2009). Secara sederhana batuan beku ultramafik adalah batuan beku yang secara
kimia mengandung kurang dari 45% SiO2 dari komposisinya. Kandungan mineralnya didominasi oleh mineralmineral berat dengan kandungan unsur-unsur seperti Fe dan Mg (Ahmad, 2006).
Batuan ultramafik merupakan batuan yang menjadi sumber bagi endapan nikel laterit dan nikel sulfida. Selain
sebagai sumber nikel, batuan ultramafik juga dapat menjadi induk dari kromit, logam dasar, kelompok logam
platinum (PGM), intan, dan bijih besi laterit (Kadarusman, 2009).
Contoh batuan ultramafik adalah dunite, piroksenit, hornblendit, serpentinite, dan peridotit, namun dalam
kaitannya dengan nikel laterit, dari beberapa batuan ultramafik tersebut hanya ada beberapa batuan yang dapat
menjadi batuan dasar dari endapan nikel (...truncated)