KESANTUNAN BERBAHASA INDONESIA SISWA DI LINGKUNGAN SMP Negeri 10 KENDARI
Jurnal Bastra
[KESANTUNAN BERBAHASA INDONESIA SISWA DI LINGKUNGAN
SMP Negeri 10 KENDARI]
KESANTUNAN BERBAHASA INDONESIA SISWA DI LINGKUNGAN
SMP Negeri 10 KENDARI
Reski Lestari 1
2
Marwati
ABSTRAK
Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan kesantunan berbahasa
Indonesia siswa di lingkungan SMP Negeri 10 Kendari.Penelitian ini
menggunakan metode deskriptif kualitatif bertujuan untuk mengungkap sebuah
fakta empiris secara objektif ilmiah dengan berlandaskan pada logika keilmuan,
prosedur dan didukung oleh metodologi dan teoritis yang kuat sesuai disiplin
keilmuan yang ditekuni.Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan
dengan Metode rekam yaitu teknik yang digunakan untuk merekam percakapan
seluruh pembicaraan informan dilingkunganSMP Negeri 10 Kendari.Teknik
simak yaitu cara yang digunakan untuk memperolehdata dengan menyimak
penggunaan bahasa dari percakapan sedangkan catat yaitu teknik yang digunakan
dengan cara mencatat percakapan informan untuk mendapatkan data
tambahan.Dari hasil penelitian yang dilakukan mengenaiKesantunan Berbahasa
Indonesia di Lingkungan SMP Negeri 10 Kendari maka penulis dapat
disimpulkan bahwa kesantunan berbahasa di lingkungan SMP 10 Kendari
menggunakan Prinsip kesantunanyang dikembangkan oleh Leech. Prinsip
kesantunan yang dimaksud yaitu maksim kebijaksanaan, maksim kedermawanan,
maksim penghargaan, maksim kesederhanaan, maksim kesimpatian dan maksim
pertimbangan yang terdapat di Lingkungan SMP Negeri 10 Kendari. Prinsip
kesantunan tidak selalu diterapkan dalam percakapan karena dalam
lingkunganSMP 10 Kendari yang dijadikan penelitian tidak memperhatikan
prinsip-prinsip kesantunan pada saat berbicara antara penutur dan mitra tutur
dengan konteks dan situasinya.
Kata Kunci: Kesantunan, Berbahasa Indonesia, Lingkungan Sekolah.
PENDAHULUAN
Dalam masyarakat ada komunikasi atau saling hubungan antar anggota.
Untuk keperluan itu dipergunakan suatu wahana yang dinamakan bahasa. Dengan
demikian setiap masyarakat dipastikan memiliki dan menggunakan alat
komunikasi sosial tersebut. Tidak ada masyarakat tanpa bahasa, dan tidak ada
pula bahasa tanpa masyarakat (Soeparno, 2002: 5).
Bahasa memegang peranan penting dalam kehidupan kita, karena setiap
hari kita berkomunikasi menggunakan bahasa. Para pakar lingustik deskriptif
1
2
Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP UHO
Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP UHO
Jurnal Bastra Volume 1 Nomor 4 Maret 2017 1
Jurnal Bastra
[KESANTUNAN BERBAHASA INDONESIA SISWA DI LINGKUNGAN
SMP Negeri 10 KENDARI]
biasanya mendefinisikan bahasa sebagai “satu sistem lambang bunyi yang bersifat
mana suka (arbiter), yang kemudian lazim ditambah dengan “yang digunakan oleh
sekelompok anggota masyarakat untuk berinteraksi dan mengidentifikasikan diri.”
(Chaer, 2003: 32).
Permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimanakah kesantunan
berbahasa Indonesia siswa di lingkungan SMP Negeri 10 Kendari?
Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan
kesantunan berbahasa Indonesia siswa di lingkungan SMP Negeri 10 Kendari.
Penelitian ini membahas tentang kesantunan berbahasa Indonesia siswa di
lingkungan SMP Negeri 10 Kendari. Peneliti mengharapkan hasil penelitian ini
dapat memberikan gambaran yang rinci dan mendalam tentang kesantunan
berbahasa Indonesia sehingga dapat memberikan sumbangan pengkajian
pragmatik.
Selain itu manfaat lain yang diharapkan peneliti dalam penelitian ini
adalah:
1. Sebagaiinformasidanmasukankepadasiswamaupunmasyarakattentangkesantun
anberbahasa Indonesia siswa di lingkungan SMP Negeri 10 Kendari.
2. Sebagai bahan rujukan atau perbandingan bagi peneliti selanjutnya yang
relevan dengan penelitian ini.
Dalam penelitian ini terdapat batasan istilah agar tidak terjadi kesalahan dalam
mengartikan istilah, yakni sebagai berikut.
1. Kesantunan berbahasa adalah kesopanan dan kehalusan dalam
menggunakan bahasa ketika berkomuniksi.
2. Maksim adalah kaidah kebahasaan di dalam interaksi lingual; kaidahkaidah yang mengatur tindakannya, penggunaan bahasanya dan
interprestasi-interpretasinya terhadap tindakan dan ucapan lawan tuturnya.
KAJIAN PUSTAKA
Pengertian Bahasa
Bahasa dipergunakan sebagai alat komunikasi atau sarana pergaulan
sesama manusia. Bahasa menjadi ciri identitas suatu bangsa. Melalui bahasa,
orang dapat mengidentifikasi kelompok masyarakat, bahkan dapat mengenali
perilaku dan kepribadian masyarakat penuturnya. Oleh karena itu, masalah
kebahasaan tidak terlepas dari kehidupan masyarakat penuturnya. Menurut
Sukmawati dkk, (2008: 1), bahasa sebagai alat komunikasi verbal merupakan
suatu sistem lambang bunyi yang bersifat arbiter. Artinya tidak ada hubungan
wajib antara lambang sebagai hal yang menandai yang berwujud kata dengan
benda atau konsep yang ditandai yaitu referen dari kata tersebut.
Bahasa Indonesia mempunyai kedudukan yang sangat penting, seperti
tercantum pada ikrar ketiga Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 yang berbunyi
“Kami Putra Putri Indonesia Menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa
indonesia”. Artinya bahasa Indonesia berkedudukan sebagai bahasa nasional yang
kedudukannya berada di atas bahasa-bahasa daerah. Rahardi, (2009: 8).
Pragmatik
Levinson (dalam Tarigan, 2009:31), mengungkapkan bahwa pragmatik
merupakan telaah mengenai relasi antara bahasa dan konteks yang merupakan
Jurnal Bastra Volume 1 Nomor 4 Maret 2017 2
Jurnal Bastra
[KESANTUNAN BERBAHASA INDONESIA SISWA DI LINGKUNGAN
SMP Negeri 10 KENDARI]
dasar bagi suatu catatan atau laporan pemahaman bahasa, dengan kata lain telaah
mengenai kemampuan pemakai bahasa menghubungkan serta penyerasian
kalimat-kalimat dan konteks secara tepat.Berarti pragmatik adalah bidang
linguistik yang mengkaji telaah tuturan bahasa dari segi makna. Pragmatik
menelaah ucapan-ucapan khusus dalam situasi-situasi khusus dan memusatkan
perhatian pada aneka ragam cara yang merupakan wadah aneka konteks sosial.
Dengan demikian pragmatik sangat erat dengan tindak tutur.Tuturan tersebut
memiliki makna, maksud atau tujuan, sehingga perlu dikaji dengan bidang
pragmatik.Terjadinya sebuah tindak ujar atau tuturan tentu karena adanya situasi
ujaran.
Paker (dalam Rahardi, 2005: 22) menjelaskan bahwa pragmatik adalah
cabang ilmu bahasa yang mempelajari struktur bahasa secara eksternal.Adapun
yang dimaksud dengan hal ini adalah bagaimana satuan lingual tertentu digunakan
dalam komunikasi yang sebenarnya.Pakar ini membedakan pragmatik dengan
studi tata bahasa yang dianggapnya sebagai studi tata bahasa yang dianggapnya
sebagai studi seluk-beluk bahasa secara internal.Menurutnya, studi tata bahasa
tidak perlu dikaitkan dengan konteks, sedangkan studi pragmatik mutlak dikaitkan
dengan konteks.
Dapat diketahui bahwa pragmatik sebagai salah satu disiplin ilmu bahasa
yang memiliki peranan cukup penting.Dengan mempelajari dan menguasainya,
seseorang tidak hanya memahami struktur formal sebuah bahasa tetapi juga
struktur fungsional yang menyangkut bagaimana unsur-unsur formal itu berfungsi
dalam tindak (...truncated)