STUDI DESKRIPTIF PENGETAHUAN IBU POSTPARTUM NORMAL MENGENAI MANAJEMEN LAKTASI DI PUSKESMAS PONED KABUPATEN BANJARNEGARA
Medsains Vol. 6 No. 01, Juni 2020 : 16 - 25
STUDI DESKRIPTIF PENGETAHUAN IBU POSTPARTUM NORMAL
MENGENAI MANAJEMEN LAKTASI DI PUSKESMAS PONED
KABUPATEN BANJARNEGARA
Ratih Subekti 1
Dosen Program Studi DIII Kebidanan Politeknik Banjarnegara
Email :
Reni Sumanti2
2
Dosen Program Studi DIII Kebidanan Politeknik Banjarnegara
Email :
1
ABSTRACT
Lactation is the whole process of breastfeeding from breast milk produced to the process of
babies sucking and swallowing breast milk. The success of the breastfeeding process can be achieved
by applying good lactation management. Lactation management starts from pregnancy (antenatal),
immediately after giving birth (natal) and breastfeeding (post-natal). The purpose of this study was to
determine the description of the knowledge of normal postpartum mothers regarding lactation
management at the PONED Community Health Center in Banjarnegara District. This type of research
is quantitative research with a descriptive approach. Sampling using consecutive sampling, the sample
size is 60 normal postpartum mothers. Analysis of the data used is univariate analysis. In this analysis
only produces a frequency distribution. The research instrument used a questionnaire sheet containing
the characteristics of respondents and regarding lactation management which consisted of six
indicators namely knowledge about breastfeeding, breast care, IMD, correct breastfeeding techniques,
breastfeeding on demand and breast milk. The results of this study show a picture of normal
postpartum maternal knowledge about lactation management with good knowledge of 20 people
(33.3%), enough that is 34 people (56.7%) and less than 6 people (10.0%).
Keywords: Knowledge, Normal Postpartum Mothers, Lactation Management.
ABSTRAK
Laktasi adalah keseluruhan proses menyusui mulai dari ASI diproduksi sampai dengan proses
bayi menghisap dan menelan ASI. Keberhasilan proses menyusui dapat dicapai dengan cara
menerapkan manajemen laktasi yang baik. Manajemen laktasi dimulai dari sejak hamil (antenatal),
segera setelah melahirkan (natal) dan masa menyusui (post natal). Tujuan penelitian ini untuk
mengetahui gambaran pengetahuan ibu postpartum normal mengenai manajemen laktasi di Puskesmas
PONED Kabupaten Banjarnegara. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan
pendekatan deskriptif. Pengambilan sampel menggunakan consecutive sampling, besar sampel yaitu 60
ibu postpartum normal. Analisis data yang digunakan adalah analisis univariat. Dalam analisis ini
hanya menghasilkan distribusi frekuensi. Instrumen penelitian menggunakan lembar kuesioner berisi
karakteristik responden dan mengenai manajemen laktasi yang terdiri dari enam indikator yaitu
pengetahuan tentang menyusui, perawatan payudara, IMD, teknik menyusui yang benar, Pemberian
ASI secara on demand dan ASI perah. Hasil penelitian ini menunjukkan gambaran pengetahuan ibu
postpartum normal mengenai manajemen laktasi dengan pengetahuan baik sebanyak 20 orang
(33.3%), cukup yaitu 34 orang (56.7%) dan kurang 6 orang (10.0%).
Kata kunci : Pengetahuan, Ibu Postpartum Normal, Manajemen Laktasi.
16
Medsains Vol. 6 No. 01, Juni 2020 : 16 - 25
PENDAHULUAN
Air Susu Ibu (ASI) adalah suatu emulsi lemak dalam larutan protein, laktosa serta garam-garam
organik yang disekresi oleh kedua kelenjar payudara ibu, yang berguna sebagai makanan utama bagi
bayi. Pemberian ASI dianjurkan dalam jangka waktu 6 bulan secara eksklusif (Haryono, 2014). Proses
pemberian ASI dilakukan melalui kegiatan laktasi. Laktasi adalah keseluruhan proses menyusui mulai
dari ASI diproduksi sampai dengan proses bayi menghisap dan menelan ASI (Prasetyono, 2012).
Proses menyusui secara alami akan membuat bayi mendapatkan asupan gizi yang cukup serta
limpahan kasih sayang yang berguna bagi perkembangannya (Hidajati, 2012). Manajemen laktasi
merupakan segala upaya yang dilakukan untuk membantu ibu mencapai keberhasilan dalam menyusui
bayinya. Usaha ini dilakukan melalui 3 tahap, yaitu pada masa kehamilan (antenatal), selama proses
persalinan sampai keluar rumah sakit (perinatal) dan pada waktu menyusui hingga anak usia 2 tahun
(postnatal) (Kodrat, 2010).
Menurut pendapat Pertiwi (2012), beberapa faktor yang dapat mempengaruhi proses laktasi antara lain;
teknik menyusui, frekuensi menyusui, durasi serta gizi ibu. Apabila manajemen laktasi tidak terlaksana
maka akan berdampak pada penurunan pemberian ASI sehingga dapat terjadi peningkatan angka gizi
buruk dan gizi kurang yang beresiko pada peningkatan angka kesakitan dan kematian bayi
(Prasetyono, 2012).
Kegagalan dalam proses menyusui sering disebabkan karena terdapat masalah pada ibu
maupun bayinya (Roesli, 2011). Alasan beberapa ibu berhenti untuk menyusui bayinya dan melakukan
pemberian susu formula salah satunya adalah para ibu mempunyai persepsi bahwa bayi yang menangis
dan menolak menyusu disebabkan oleh ASI yang tidak cukup, padahal hal tersebut dapat terjadi karena
sebab lain seperti teknik menyusui yang tidak benar, posisi yang tidak nyaman atau perlekatan yang
salah. Masalah lain yang sering menyebabkan ibu berhenti menyusui bayi sehingga pemberian ASI
eksklusif tidak tercapai antara lain terjadinya penyumbatan pada saluran susu, puting susu datar, puting
susu lecet serta pembengkakan pada payudara. Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Hidayah
(2013), menunjukkan hasil pengetahuan ibu tentang manajemen laktasi pada bayi berat lahir rendah
(BBLR) yaitu kategori kurang sebanyak 2 orang (3%), cukup 50 orang (82%), dan baik hanya 9 orang
(15%) dengan menggunakan 3 indikator; 1) pengetahuan tentang ASI, 2) memberi ASI dan menyusui,
3) cara memerah dan menyimpan ASI.
Cakupan pemberian ASI eksklusif pada bayi usia 0-6 bulan di Indonesia pada tahun 2018
adalah sebesar 68,74%, sedangkan di provinsi Jawa Tengah masih 45,21% sementara target pemberian
ASI eklusif secara nasional sebesar 80%. (Kemenkes RI, 2019). Cakupan pemberian ASI eksklusif
pada bayi usia 0-6 bulan di kabupaten Banjarnegara tahun 2018 adalah sebesar 61,00%. Permasalahan
terkait pencapaian ASI eksklusif di kabupaten Banjarnegara antara lain; pemasaran susu formula masih
gencar dilakukan untuk bayi usia 0-6 bulan yang tidak ada masalah medis, masih banyak perusahaan
yang tidak memberikan kesempatan bagi ibu yang memiliki bayi usia 0-6 bulan untuk melaksanakan
pemberian ASI eksklusif dengan bukti bahwa belum tersedianya ruang laktasi dan perangkat
pendukungnya, belum semua desa ada kelas ibu menyusui serta sikap dan perilaku ibu menyusui untuk
memberikan ASI eksklusif masih rendah (DKK Banjarnegara, 2019).
Studi pendahuluan penulis lakukan dengan membagi kuesioner kepada 10 orang ibu nifas,
hasilnya adalah 3 orang tidak mengerti tentang teknik menyusui yang benar, 3 orang tidak mengetahui
ASI perah, 2 orang tidak mengetahui perawatan payudara dan hanya 2 orang yang mengetahui
menyusui, perawatan payudara, IMD, teknik menyusui yang benar, pemberian ASI secara on demand
dan ASI perah. Berdasarkan uraian latar belakang di (...truncated)