Pemberdayaan Kader Bina Keluarga Balita Dalam Penanggulangan Stunting Di Desa Bukian, Kecamatan Payangan
JURNAL PARADHARMA 7(1): 17-22
ISSN: 2549-7405
Pemberdayaan Kader Bina Keluarga Balita Dalam Penanggulangan
Stunting Di Desa Bukian, Kecamatan Payangan
1*Luh
Gede Pradnyawati, 2Dewa Ayu Putu Ratna Juwita, 3Ni Made Hegard Sukmawati,
4Anny Eka Pratiwi
1,2,3,4
Bagian Ilmu Kedokteran Komunitas-Ilmu Kedokteran Pencegahan
Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Warmadewa
*Email:
__________________________________________________________________________________
ABSTRAK
Stunting adalah salah satu bentuk gangguan gizi dari segi ukuran tubuh yang ditandai dengan kondisi
tubuh yang pendek melebihi defisit -2SD menurut standar WHO. Berdasarkan hasil Riset Kesehatan
Dasar Provinsi Bali tahun 2007, Kabupaten Gianyar merupakan salah satu kabupaten di Bali dengan
prevalensi stunting yang tinggi. Salah satunya di Desa Bukian, Kecamatan Payangan, Kabupaten
Gianyar. Berdasarkan uraian di atas, terlihat bahwa masalah stunting cukup tinggi. Dari hasil
wawancara dengan kader diperoleh beberapa permasalahan terkait program pencegahan stunting yaitu
minimnya informasi yang diperoleh kader dan rendahnya pengetahuan kader tentang pencegahan
stunting. Mitra yang diberdayakan adalah Kader BKB (Bina Keluarga Balita). Dari hal tersebut maka
pemberdayaan kader sangat diperlukan untuk pencegahan stunting di Kabupaten Payangan. Target
luaran dari kegiatan ini adalah menurunkan stunting di Desa Bukian, Kecamatan Payangan,
Kabupaten Gianyar. Hasil dari kegiatan ini adalah kelompok mitra berperan aktif dalam setiap
kegiatan PKM dengan persentase kehadiran 100% dan partisipasi aktif 100%. Secara umum program
ini dapat dikatakan berhasil karena telah terjadi penurunan angka stunting di Desa Bukian Kecamatan
Payangan. Saran yang dapat disampaikan adalah Kader BKB dapat menjadi ujung tombak
keberlanjutan program penanggulangan stunting secara berkesinambungan di wilayahnya masingmasing sehingga dapat memberdayakan kader untuk mengurangi permasalahan stunting di Kabupaten
Gianyar.
Kata kunci: pemberdayaan, kader, stunting, Bukian
ABSTRACT
Stunting is a form of nutritional disorder in terms of body size characterized by a short body condition
that exceeds a -2SD deficit according to WHO standards. Based on the results of the Basic Health
Research of Bali Province in 2007, Gianyar Regency is one of the regencies with a high prevalence of
stunting. One of them is in Bukian Village, Payangan Subdistrict, Gianyar Regency. Based on the
description above, it appears that the problem of stunting is quite high. From cadre’s interview
results, several problems related to the stunting prevention program were obtained such as the lack of
information socialized by cadres and the low knowledge of cadres about stunting prevention. The
empowered partners are BKB (Bina Keluarga Balita) cadres. From BKB, cadre empowerment is
needed for stunting prevention in Payangan Regency. The target output of this activity is to reduce
stunting in Bukian Village, Payangan District, Gianyar Regency. The activity results that the partners
play an active role in every community service (PKM) activity with a percentage of 100% attendance
and 100% active participation. In general, this is a succeed program because in stunting rates has
been decreasing in Bukian Village, Payangan District. The suggestion can be conveyed is that BKB
cadres’ spearheads for sustainability of the stunting prevention program in their respective areas,
therefore they can empower cadres to reduce stunting problems in Gianyar Regency.
Keywords: empowerment, cadres, stunting, Bukian
17
Jurnal Paradharma – April 2023
JURNAL PARADHARMA 7(1): 17-22
ISSN: 2549-7405
berbagai kondisi lain (Pradnyawati et al, 2019)
yang secara tidak langsung mempengaruhi
kesehatan balita (Pradnyawati and Juwita,
2022). Menurut UNICEF, 37 persen dari anak
- anak balita di Indonesia menderita gizi buruk
dalam bentuk stunting, yang mana ini berarti 1
dari 3 anak di Indonesia menderita stunting.
Anak yang mengalami stunting menghadapi
hambatan belajar di sekolah, berpenghasilan
lebih rendah ketika dewasa dan cenderung
mewariskan siklus kemiskinan antar generasi
(UNICEF, 2014).
Kementerian Kesehatan RI telah
menyusun Rencana Tindak Stunting yang akan
diimplementasi di 160 Kabupaten/ Kota di
seluruh Indonesia pada tahun 2019, salah
satunya adalah Kabupaten Gianyar, yang
terletak di Provinsi Bali (Kemenkes RI, 2016).
Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar
Provinsi Bali tahun 2007, Kabupaten Gianyar
merupakan salah satu kabupaten di Bali
dengan prevalensi stunting yang tinggi
(Balitbangkes, 2008). Salah satu daerah
dengan angka stunting yang tinggi adalah di
Desa
Bukian,
Kecamatan
Payangan,
Kabupaten Gianyar (Dinkes Kabupaten
Gianyar, 2013). Mitra yang diberdayakan
dalam program pemberdayaan ini adalah
Kader BKB (Bina Keluarga Balita) yang
khusus menangani masalah stunting.
Dari hasil wawancara dengan mitra
didapatkan beberapa permasalahan terkait
program pencegahan stunting, antara lain:
a.
Minimalnya informasi yang didapatkan
kader dan ibu rumah tangga yang
memiliki balita tentang pencegahan
stunting. Program pencegahan stunting
ini merupakan wadah bagi para kader
dan ibu rumah tangga yang memiliki
balita untuk mendapatkan informasi
seputar bahaya dari stunting, faktor
risiko, serta cara pencegahannya.
b.
Minimalnya
pengetahuan
kader
mengenai pencegahan stunting tersebut.
Mereka tidak mengetahui apa saja
bahaya dari stunting, faktor risiko, serta
cara pencegahannya.
c.
Sejauh ini para kader dan ibu rumah
tangga yang memiliki balita hanya
pernah mendengar sekilas saja bahkan
tidak tahu tentang stunting. Para kader
dan ibu rumah tangga yang memiliki
balita cenderung sibuk mengurus balita
dan keluarganya.
PENDAHULUAN
Salah satu tujuan pada Sustainable
Development Goals (SDGs) yang mulai
berlaku di seluruh dunia adalah mengentaskan
kelaparan, mencapai keamanan pangan dan
perbaikan gizi, menggalakkan hidup sehat dan
mendukung adanya kesejahteraan untuk semua
usia. Didalamnya terdapat tujuan khusus untuk
mengurangi rasio kematian ibu hamil secara
global, mengakhiri kematian yang dapat
dicegah pada bayi baru lahir dan anak – anak
di bawah usia lima tahun, mengurangi
kematian dini akibat penyakit tidak menular
melalui pencegahan dan pengobatan hingga
sepertiganya serta meningkatkan kesehatan
mental dan kesejahteraan (WHO, 2016).
Stunting merupakan salah satu bentuk
kelainan gizi dari segi ukuran tubuh yang
ditandai dengan keadaan tubuh yang pendek
hingga melampaui defisit -2SD di bawah
standar WHO (WHO, 2010). Kejadian stunting
pada anak balita memerlukan perhatian khusus
karena berkaitan dengan risiko penurunan
kemampuan intelektual, produktivitas dan
peningkatan risiko penyakit degeneratif di
masa mendatang (Eka Kusuma & Nuryanto,
2013). Indonesia termasuk dalam kelompok
negara berkembang dengan tingkat prevalensi
yang tinggi (30-39%) yaitu sebesar 35,6%
(BPS, 2012) (Riskesdas 2010).
Indonesia, masih memiliki masalah
mengenai kesejahteraan penduduk dan
keluarga yang belum memenuhi st (...truncated)