Menyoal Pembangunan Hunian Modern di Kota Bekasi Dalam Perspektif Etika Pembangunan
p-issn : 2087-8923
e-issn : 2549-9319
Jurnal Administrasi Publik (JAP)
MENYOAL PEMBANGUNAN HUNIAN MODERN DI KOTA BEKASI DALAM
PERSPEKTIF ETIKA PEMBANGUNAN
Anisa Pramitasari
Universitas Krisnadwipayana
Kampus Unkris Jatiwaringin-Pondok Gede Jakarta Timur 13077
Email:
ABSTRAK
Urbanisasi dan mobilisasi yang sangat tinggi di perkotaan meningkatkan permintaan hunian atau tempat tinggal.
Rencana tata ruang dan wilayah sebuah kota harus dibuat sedemikian rupa agar dampak yang ditimbulkan tidak
bertentangan nilai-nilai keadilan sosial sebagai bagian dari etika pembangunan. Penelitian ini akan membahas
beberapa kasus pembangunan hunian di Kota Bekasi dalam perspektif etika pembangunan. Metode penelitian yang
digunakan adalah kualitatif deskriptif. Analisis dari penelusuran beberapa data dan informasi yang telah penulis
dapatkan menunjukkan bahwa perkembangan hunian berupa apartemen dan perumahan di Kota Bekasi belum
sepenuhnya merepresentasikan kondisi ideal yang diharapkan oleh seluruh lapisan masyarakat. Ijin pembangunan
diberikan, namun di beberapa kasus tidak melibatkan masyarakat sekitar dalam proses pengambilan keputusan.
Protes serta kerugian lingkungan adalah dampak yang dirasakan oleh kelompok masyarakat di sekitar lokasi
pembangunan.
Kata Kunci : Etika Pembangunan, Keadilan Sosial, Pembangunan Hunian Modern
ABSTRACT
Urbanization and high mobilization increases demand for housing. Spatial and territorial plan of a city must be
design in such a way to resulting impacts do not conflict with the values of social justice as part of development
ethics. This research will discuss several cases of residential development in Bekasi City from the perspective of
development ethics. The research method used descriptive. The analysis from tracing some of the data and
information that the author has obtained shows that the development of housing form of apartmens and housing in
Bekasi City has not fully represented the ideal conditions expected by the community. The development permits
granted in some cases do not involve local communities in the decision-making process. As a result, protest and
environmental loses are felt by community groups around the construction sit.
Keywords: Development Etics, Social Justice, Development of Modern Housing
manusia
PENDAHULUAN
Kehidupan masyarakat saat ini telah
cenderung
meninggalkan
lingkungan alam. 40% penduduk memilih
banyak meninggalkan pedesaan dan pindah
tinggal
ke kota. Daya tarik perkotaan membuat
urbanisasi pulau jawa, tahun 1996 tercatat
kehidupan pertanian di desa tidak lagi
54,6 juta jiwa; tahun 2018 naik menjadi
menarik bagi sebagian orang. Fenomena
146,9 juta jiwa; tahun 2035 diprediksi akan
abad 21 semakin menunjukkan bahwa
tumbuh sebesar 11,82% menjadi 167,3 juta
67
di
perkotaan.
Seperti
populasi
p-issn : 2087-8923
e-issn : 2549-9319
Jurnal Administrasi Publik (JAP)
jiwa atau naik sebesar 3 kali lipat dari tahun
1974-1978.
1996 (Deliyanto dan Sumartono, 2018).
dilaksanakan melalui sistem regionalisasi
Perserikatan
(PBB)
atau perwilayahan, dengan kota-kota utama
menyatakan bahwa 54% penduduk dunia
sebagai kutub atau pusat pertumbuhan.
tinggal di perkotaan dan akan naik di tahun
Tujuan
2050 menjadi 80% (United Nation, 2014).
pertumbuhan
Bangsa-Bangsa
Berkembangnya wilyah perkotaan
Pembangunan
dari
nasional
pembangunan
pusat
diharapkan
dapat
menyebarkan kemajuan di seluruh wilayah
menimbulkan persoalan yang serius jika
atau
dapat
diartikan
sebagai
upaya
tidak dilakukan perencanaan pembangunan
menciptakan pemerataan pembangunan.
yang matang. Perkembangan kota yang
Salah satu kota di Indonesia yang
semakin padat akan memberikan dampak
ditetapkan sebagai kutub pusat pertumbuhan
kecenderungan pada pinggiran kota. Hal
adalah Jakarta. sebagai pusat pertumbuhan,
tersebut disebabkan karena perkotaan hanya
kepadatan penduduk Jakarta memicu banyak
dijadikan tempat transit untuk aktifitas
masalah
perdagangan dan industrialisasi. Setelah
disampaikan di muka. Intruksi Presiden
kegiatan tersebut selesai sebagian besar dari
No.13
mereka kembali ke tempat tinggal mereka di
pengembangan wilayah Jakarta, Bogor,
pinggiran kota.
Depok,
Persoalan yang kemudian tidak dapat
perkotaan
bulan
seperti
Juli
yang
1976,
Tangerang
telah
diadakanlah
dan
Bekasi
(Jabodetabek) untuk meringankan tekanan
terbantahkan adalah berkurangnya lahan
penduduk
terbuka
membina pola pemukiman perkotaan dan
akibat
tingginya
kebutuhan
permukiman, penyempitan jalan, kemacetan,
degradasi
kualitas
lingkungan,
Jakarta
yakni
dengan
cara
penyebaran kesempatan kerja.
krisis
Praktik
pembangunan
infrastruktur, resiko bencana dan dalam
pertumbuhan
derajat tertentu aparat pemerintah terlihat
ketergantungan yang cukup tinggi bagi
belum memiliki kesiapan dalam menghadapi
wilayah di sekitarnya terutama dalam bidang
kompleksitas
ekonomi.
permasalahan
yang
ditimbulkan.
Sejarah
pembangunan
Hirscman
penggagas
mencatat
di
bahwa
sistem
Indonesia
telah
mengakibatkan
pusat
teori
menjelaskan
sebagai
pusat
adanya
derajat
ilmuan
pertumbuhan
ketidakseimbangan
dalam pembangunan pusat pertumbuhan
dicanangkan sejak REPELITA II tahun
(1958).
68
Secara
geografis,
Hirscman
p-issn : 2087-8923
e-issn : 2549-9319
Jurnal Administrasi Publik (JAP)
menambahkan
bahwa
pertumbuhan
ekonomi pasti tidak seimbang.
synder1989),
Dalam
tekanan,
menimbulkan
Berdasarkan survey di atas, Kota
tekanan-
ketegangan-ketegangan,
(Lhust,
dalam Malla Paruntung, 2004).
selalu dapat dilihat bahwa kemajuan disuatu
(titik)
akses
1997), kondisi lingkungan (Drabkin, 1980
proses pertumbuhan yang tidak seimbang
tempat
kemudahan
Bekasi menempati posisi kedua setelah
dan
Tanggerang sebagai kota pilihan tempat
dorongan-dorongan kearah perkembangan
tinggal penduduk sekitar Jakarta. Penelitian
pada tempat-tempat (titik-titik) berikutnya.
yang dilakukan oleh Purbosari dan Hendarto
Secara empiris, kelemahan atas teori
(2012) menunjukkan bahwa Kecenderungan
pusat-pinggiran terjadi di Indonesia dimana
kaum urban memilih bertempat tinggal di
Jakarta sebagai pusat dan kota-kota di
Bekasi disebabkan oleh faktor ketersediaan
sekitarnya
pinggiran/penyangga.
fasilitas umum yang memadai, harga rumah
telah
menawarkan
yang ditawarkan, pendapatan dan kondisi
kebutuhan lapangan kerja cukup tinggi.
lingkungan. Sementara aksesibilitas tidak
Kondisi tersebut mendorong kota-kota lain
menjadi
yang akhirnya menjadi pilihan tempat
bertempat tinggal di Kota Bekasi. Tidak
tinggal
heran jika investasi yang berkembang di
Jakarta
sebagai
dianggap
bagi
penduduk
Jakarta
yang
berpenghasilan rendah.
indikator
bagi
mereka
untuk
Kota Bekasi saat ini didominasi oleh
Survey yang dilakukan oleh 123.com
investasi hunian modern, pusat hiburan dan
tahun 2017 menunjukkan terdapat empat
pasar modern (radarbekasi.go.id, 25 Agustus
kota lain di sekitar Jakarta sebagai pilihan
2018).
t (...truncated)