MANAJEMEN PROGRAM REALITY COMPETITION SHOW DI TELEVISI
Jurnal Common | Volume 4 Nomor 1 | Juni 2020
Website: https://ojs.unikom.ac.id/index.php/common
DOI Jurnal: https://doi.org/10.34010/common
DOI Artikel: https://doi.org/10.34010/common.v4i1.3280
MANAJEMEN PROGRAM REALITY COMPETITION SHOW DI
TELEVISI
Santi Susanti1, Asep Suryana2, I Gusti Wayan Albar Nugraha3
1,2,3
Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, Jl Raya Bandung-Sumedang Km 21, Sumedang 45363
E-Mail:
1, 2
Abstract
This study aims to reveal the management of television entertainment programs in the form of reality competition
shows that succeed in attracting the attention of the audience through seven aspects, namely conflict, duration,
preferences, consistency, energy, timings, and trends. The qualitative method with the case study approach is used
to study people involved in the production of D'Academy and D’Star in Indosiar, namely the production team,
performers and the audience. The results are D'Academy and D'Star fulfilled seven aspects of the success of a
television entertainment program with almost similar treatment as a dangdut competition program. The
production team also carried out the commodification of the two programs, in the form of content commodification
and the commercialization of the audiences relating to the aspects of the success of television entertainment
program on D'Academy and D'Star. which is almost the same for aspects of the success of a program and has
only a few differences that are tailored to the carried innovations.
Keywords: management, entertainment program, reality show, television, rating/share.
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan pengelolaan program hiburan televisi berbentuk reality
competition show yang berhasil menarik perhatian penonton melalui tujuh aspek, yakni konflik, durasi, kesukaan,
konsistensi, energi, timing dan tren. Metode kualitatif pendekatan studi kasus digunakan dengan subjek penelitian
orang-orang yang terlibat dalam produksi D’Academy dan D’Star Indosiar, yaitu tim produksi, pengisi acara dan
penonton. Hasil penelitian menunjukkan, D'Academy dan D'Star memenuhi tujuh aspek keberhasilan program
hiburan dengan treatment yang hampir serupa sebagai suatu program kompetisi dangdut. Tim produksi pun
melakukan komodifikasi pada kedua program tersebut, berupa komodifikasi isi maupun komodifikasi khlayak
yang berhubungan dnegan aspek-aspek keberhasilan program hiburan televisi pada D’Academy dan D’Star.
Kesimpulan penelitian ini, program D’Academy dan D’Star melakukan proses pembentukan yang hampir sama
terhadap aspek-aspek kesuksesan suatu program dan hanya memiliki sedikit perbedaan yang disesuaikan dengan
inovasi yang diusung.
Kata Kunci: manajemen, program hiburan, reality competition show, televisi, rating/share.
92
Jurnal Common | Volume 4 Nomor 1 | Juni 2020
Website: https://ojs.unikom.ac.id/index.php/common
DOI Jurnal: https://doi.org/10.34010/common
DOI Artikel: https://doi.org/10.34010/common.v4i1.3280
mereka dengan nama “Dangdut Academy”
atau biasa disingkat D’Academy. Dangdut
Academy sendiri merupakan pencarian
bakat menyanyi dangdut yang sukses
menarik perhatian masyarakat untuk
melahirkan seorang bintang dangdut muda
di masa sekarang dengan pengemasan yang
lebih bagus dan lebih memasyarakat.
D’Academy meraih kesuksesan yang luar
biasa sehingga dapat bertahan hingga
musim keempat pada tahun 2017 dan
melahirkan program pencarian bakat
dangdut
sejenis
yang
masih
berkesinambungan dengan D’Academy itu
sendiri (Dzulkarnaen, 2014).
Salah satu acara dangdut terbaru milik
Indosiar adalah D’Star. Program ini
memiliki konsep yang serupa dengan acara
dangdut pendahulunya namun bedanya,
peserta dari kontes ini merupakan para
kontestan dari kontes dangdut lain milik
Indosiar serta adanya tantangan dalam
menyanyikan musik dari genre lain serta
juri yang tidak hanya berasal dari musisi
atau penggiat musik dangdut, terdapat para
juri dari genre nondangdut serta produser
musik. Peserta-peserta yang dipilih tidak
hanya berasal dari peserta kontes dangdut
sebelumnya yang gagal menjadi juara,
bahkan pemenang tiap kontesnya ikut diadu
kembali untuk membuktikan siapa yang
paling hebat diantara yang terhebat.
Di jajaran juri pun diisi oleh nama-nama
populer yang sempat meramaikan acara
dangdut lainnya seperti D’Academy yaitu
Inul Daratista, Soimah, Rita Sugiarto,
Nassar, Dewi Perssik, Zaskia Gotik.
Adapun nama-nama baru dari kalangan
nondangdut seperti Ruth Sahanaya, Melly
Goeslaw, Anji, Beby Romeo dan masih
banyak lagi. Tidak lupa dengan pembawa
acara langganan kontes dangdut di Indosiar
seperti Irfan Hakim, Ramzi, Gilang Dirga
dan salah satu mantan peserta D’Academy
Asia asal Thailand Jirayut (Liputan6.com,
2019).
1. Pendahuluan
Televisi sebagai media massa memiliki
fungsi serupa dengan media massa lainnya
seperti surat kabar atau radio, yaitu fungsi
informasi, fungsi pendidikan, fungsi
persuasi dan fungsi hiburan. Fungsi hiburan
paling dominan di antara fungsi-fungsi
lainnya. Tujuan utama khalayak menonton
televisi adalah untuk untuk mendapatkan
hiburan (Ardianto, Komala, & Karlinah,
2007).
Televisi masih dinilai sebagai media
massa yang strategis terlebih bagi
Indonesia yang masih menggelorakan
masyarakat dalam berpartisipasi pada
pembangunan nasional (Darwanto, 2011)
Reality show adalah salah satu jenis
program
televisi
nondrama
yang
menyajikan tayangan mengenai sebuah
situasi
berdasarkan
realitas
yang
sebenarnya. Jenis program ini menyajikan
situasi sebagaimana apa adanya. Dengan
kata lain program ini menyajikan suatu
keadaan nyata sealamiah mungkin tanpa
rekayasa (Morissan, 2013: 228) Jadi,
reality competition show adalah jenis
program televisi yang menggabungkan
situasi apa adanya dengan sebuah
kompetisi meraih kemenangan.
Televisi swasta sejak awal tahun 2000an sudah sering mengadakan ajang
pencarian bakat menyanyi bergenre pop.
Lalu, salah satu televisi swasta TPI,
sekarang dikenal sebagai MNCTV,
mengadakan kontes dangdut bertajuk
Kontes Dangdut Indonesia (sebelumnya
Kontes Dangdut TPI) untuk pertama
kalinya pada tahun 2004.
Pada tahun 2014 Indosiar hadir dengan
kontes serupa membawa suasana baru dan
konsep yang tidak seperti biasanya.
Indosiar sebelumnya sudah terkenal dengan
ajang pencarian bakat dengan nama
“Akademi Fantasi Indosiar” atau sering
disingkat AFI. Istilah akademi digunakan
kembali pada kontes dangdut buatan
92
Jurnal Common | Volume 4 Nomor 1 | Juni 2020
Website: https://ojs.unikom.ac.id/index.php/common
DOI Jurnal: https://doi.org/10.34010/common
DOI Artikel: https://doi.org/10.34010/common.v4i1.3280
Sebuah program televisi tentunya harus
memiliki indikator keberhasilan program.
Salah satunya adalah rating. Rating bagi
stasiun
televisi
berkaitan
dengan
pendapatan utama stasiun televisi tersebut
untuk kelangsungan hidupnya. Rating
digunakan agar bisa menarik pengiklan
untuk memasang iklannya di stasiun
televisi
tersebut.
Pengiklan
pun
membutuhkan rating agar mereka bisa lebih
efisien dalam mengatur biaya operasional.
Pengiklan tentu akan memasang iklan (...truncated)