Meta-Analysis: Faktor Risiko Maternal terhadap Kejadian Stunting pada Balita di Indonesia

Jan 2024

Indonesia saat ini masih dihadapkan masalah gizi yang dapat menyebabkan dampak pada kualitas sumber daya manusia (SDM) yaitu salah satunya permasalahan stunting. Faktor risiko terjadinya stunting telah banyak diteliti sehingga perlu dilakukan studi meta-analisis untuk memperoleh data yang lebih kuat dan dapat dijadikan acuan pencengahan stunting. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis pengaruh faktor risiko maternal terhadap kejadian stunting pada balita Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode Systematic review dan studi Meta-analisis dengan aplikasi Revman 5.4. Pencarian artikel studi melalui database PubMed, Google Scholar, dan Science Direct. Diperoleh 20 artikel dengan desain studi cross-sesctional yang relevan terhadap penelitian ini. Hasil meta-analisis menunjukkan bahwa variabel pendidikan ibu dengan nilai OR sebesar 2,26 (95% CI 1,59-3,20), umur ibu dengan nilai OR sebesar 1,46 (95% CI 0,84 – 2,53), status gizi ibu dengan nilai OR sebesar 5,17 (95% CI 1,63 – 16,40), pekerjaan ibu dengan nilai OR sebesar 1,02 (95% CI 0,70 - 1,48), tinggi badan ibu dengan nilai OR sebesar 2,43 (95% CI 1,74 – 3,39) dan penambahan berat badan ibu saat hamil dengan nilai OR sebesar 1,43 (95% CI 0,16 – 12,88). Kesimpulan yang diperoleh bahwa faktor risiko maternal tertinggi yang menjadi penyebab terjadinya stunting pada balita di Indonesia adalah status gizi ibu.

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

https://journals.stikim.ac.id/index.php/jikm/article/download/2443/1230

Meta-Analysis: Faktor Risiko Maternal terhadap Kejadian Stunting pada Balita di Indonesia

Jurnal Kesehatan Masyarakat. 2024; 13 (1): 50-65 Safutri M / Jurnal Ilmu Ilmu Kesehatan Masyarakat. 2024; 13 (1): 50-65 Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat (The Public Health Science Journal) Journal Homepage: http://journals.stikim.ac.id/index.php/jikm Meta-Analysis: Faktor Risiko Maternal terhadap Kejadian Stunting pada Balita di Indonesia Mitha Safutri Magister Epidemiologi, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Andalas, Padang Abstrak Indonesia saat ini masih dihadapkan masalah gizi yang dapat menyebabkan dampak pada kualitas sumber daya manusia (SDM) yaitu salah satunya permasalahan stunting. Faktor risiko terjadinya stunting telah banyak diteliti sehingga perlu dilakukan studi meta-analisis untuk memperoleh data yang lebih kuat dan dapat dijadikan acuan pencengahan stunting. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis pengaruh faktor risiko maternal terhadap kejadian stunting pada balita Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode Systematic review dan studi Meta-analisis dengan aplikasi Revman 5.4. Pencarian artikel studi melalui database PubMed, Google Scholar, dan Science Direct. Diperoleh 20 artikel dengan desain studi cross-sesctional yang relevan terhadap penelitian ini. Hasil meta-analisis menunjukkan bahwa variabel pendidikan ibu dengan nilai OR sebesar 2,26 (95% CI 1,59-3,20), umur ibu dengan nilai OR sebesar 1,46 (95% CI 0,84 – 2,53), status gizi ibu dengan nilai OR sebesar 5,17 (95% CI 1,63 – 16,40), pekerjaan ibu dengan nilai OR sebesar 1,02 (95% CI 0,70 - 1,48), tinggi badan ibu dengan nilai OR sebesar 2,43 (95% CI 1,74 – 3,39) dan penambahan berat badan ibu saat hamil dengan nilai OR sebesar 1,43 (95% CI 0,16 – 12,88). Kesimpulan yang diperoleh bahwa faktor risiko maternal tertinggi yang menjadi penyebab terjadinya stunting pada balita di Indonesia adalah status gizi ibu. Kata Kunci: Faktor Risiko Maternal, Meta-analisis, Stunting Abstract Indonesia is currently still confronted with nutrition problems that can impact the quality of human resources (HR), one of which is the problem of stunting. Risk factors for stunting have been widely studied so it is necessary to conduct a meta-analysis study to obtain stronger data and can be used as a reference for stunting prevention. The study was conducted to analyze the effect of maternal risk factors on the incidence of stunting in Indonesian toddlers. This study used the Systematic review method and Meta-analysis study with the Revman 5.4 application. Search for study articles through Pubmed, Google Scholar, and Science Direct databases. 20 articles with a cross-sectional study design relevant to this study were obtained. The results of the metaanalysis showed that maternal education variable with an OR value of 2.26 (95% CI 1.59-3.20), maternal age with an OR value of 1.46 (95% CI 0.84 - 2.53), maternal nutritional status with an OR value of 5.17 (95% CI 1.63 - 16, 40), maternal occupation with an OR of 1.02 (95% CI 0.70 - 1.48), maternal height with an OR of 2.43 (95% CI 1.74 - 3.39) and maternal weight during pregnancy with an OR of 1.43 (95% CI 0.16 - 12.88). It was concluded that the highest maternal risk factor for stunting among under-fives in Indonesia is maternal nutritional status. Keywords: Maternal Risk Factors, Meta-analysis, Stunting Korespondensi*: Mitha Safutri, Magister Epidemiologi, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Andalas, Padang, Jl. Universitas Andalas, Limau Manis, Kec. Pauh, Kota Padang, Sumatera Barat 25163, E-mail: https://doi.org/10.33221/jikm.v13i01.2443 Received : 17 April 2023 / Revised : 6 September 2023 / Accepted : 12 Desember 2023 Copyright @ 2024, Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat, p-ISSN: 50 2252-4134, e-ISSN: 2354-8185 Safutri M / Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat. 2024; 13 (1): 50-65 Pendahuluan Indonesia saat ini masih dihadapkan masalah gizi yang dapat menyebabkan dampak pada kualitas sumber daya manusia (SDM) yaitu salah satunya permasalahan stunting yaitu pertumbuhan yang tidak optimal pada anak berakibat anak terlalu pendek dari umurnya yang disebabkan oleh kekurangan gizi kronis. Keadaan gizi ibu dan anak menjadi faktor penting bagi pertumbuhan anak, hal ini dikarenakan permasalahan kekurangan gizi dapat dialami sejak didalam kandungan dan masa awal setelah kelahiran akan tetapi permasalahan baru terlihat setelah anak berusia 2 tahun. Berdasarkan standar antropomentri anak dikategorikan stunting yaitu jika indeks tinggi badan berdasarkan umur berada pada z-score kurang -2 SD (stunted).1 Berdasarkan data badan Kesehatan dunia atau WHO, prevalensi stunting di Indonesia berada pada peringkat ketiga tertinggi setelah Timor Leste (50,5%) dan India (38,4%) untuk wilayah Asia Tenggara. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar tahun 2018, stunting di Indonesia sebesar 30,8%.2 Sedangkan dari hasil Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022 diperoleh 21,6% angka stunting di Indonesia, jumlah ini telah menurun dibandingkan dengan hasil SSGI 2021 yaitu 24,4%. Terjadinya penurunan angka stunting tersebut masih dalam kategori diatas standar yang ditetapkan oleh WHO yaitu kurang dari 20%.3 Pada tahun 2024 pemerintah Indonesia diharapkan dapat menurunkan angka prevalensi stunting menjadi 14% melalui berbagai strategi.4 Kejadian stunting mencerminkan terjadinya gangguan pertumbuhan pada periode pre dan post-natal akibat kurangnya status gizi dan kesehatan. Berdasarkan Framework stunting World Health Organization dalam Kiik dan Nuwa membagi menjadi 5 kelompok penyebab stunting, yaitu keluarga dan rumah tangga, pemberian makanan pendamping yang tidak mencukupi, pemberian asi, infeksi dan faktor konstekstual (komunitas dan sosial).5 Hal-hal yang berhubungan dengan keluarga dan rumah dibagi menjadi ibu dan lingkungan. Faktor ibu meliputi gizi yang tidak memadai dimulai dari masa kehamilan sampai persalinan, tinggi badan ibu yang rendah, infeksi, kehamilah usia dini, kesehatan mental, intrauterine growth restriction (IUGR) dan kelahiran preterm, jarak kehamilan yang pendek, dan darah tinggi.6 Pada kejadian stunting faktor yang memengang peran penting yaitu faktor maternal. Yang mana terdapat tiga fase utama yang membutuhkan peran ibu semaksimal mungkin sehingga anak tidak mengalami stunting padafase emas. Ketiga fase tersebut yaitu prakonsepsi, prenatal, dan bayi-balita. Perbaikan gizi ibu sejak dini sangat diperlukan sehingga tubuh siap saat menjalani fase prenatal untuk perkembangan janin dan berlanjut pada bayi hingga remaja walaupun pada masa konsepsi belum terdapat janin. Karena jika terjadi kekurangan nutrisi pada masa konsepsi akan bedampak pada pertumbuhan dan perkembangan janin terganggu dan berisiko kejadian stunting.7 Stunting dapat menyebabkan terjadinya gangguan, baik jangka pendek dan jangka panjang selama masa pertumbuhan dan perkembangan. Dampak jangka pendeknya yang diakibatkan yaitu kurangnya kemampuan kognitif serta menurunnya sistem imunitas sehingga lebih mudah terjangkit infeksi. Adapun dampak jangka panjang yang terjadi yaitu pada saat dewasa akan me (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: https://journals.stikim.ac.id/index.php/jikm/article/download/2443/1230
Article home page: https://journals.stikim.ac.id/index.php/jikm/article/view/2443/1230

Mitha Safutri. Meta-Analysis: Faktor Risiko Maternal terhadap Kejadian Stunting pada Balita di Indonesia, 2024, pp. 50-65,