Meta-Analysis: Faktor Risiko Maternal terhadap Kejadian Stunting pada Balita di Indonesia
Jurnal
Kesehatan
Masyarakat.
2024;
13 (1): 50-65
Safutri M / Jurnal
Ilmu Ilmu
Kesehatan
Masyarakat.
2024; 13
(1): 50-65
Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat
(The Public Health Science Journal)
Journal Homepage: http://journals.stikim.ac.id/index.php/jikm
Meta-Analysis: Faktor Risiko Maternal terhadap Kejadian
Stunting pada Balita di Indonesia
Mitha Safutri
Magister Epidemiologi, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Andalas, Padang
Abstrak
Indonesia saat ini masih dihadapkan masalah gizi yang dapat menyebabkan dampak pada kualitas sumber daya manusia
(SDM) yaitu salah satunya permasalahan stunting. Faktor risiko terjadinya stunting telah banyak diteliti sehingga perlu
dilakukan studi meta-analisis untuk memperoleh data yang lebih kuat dan dapat dijadikan acuan pencengahan stunting.
Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis pengaruh faktor risiko maternal terhadap kejadian stunting pada balita
Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode Systematic review dan studi Meta-analisis dengan aplikasi Revman 5.4.
Pencarian artikel studi melalui database PubMed, Google Scholar, dan Science Direct. Diperoleh 20 artikel dengan desain
studi cross-sesctional yang relevan terhadap penelitian ini. Hasil meta-analisis menunjukkan bahwa variabel pendidikan
ibu dengan nilai OR sebesar 2,26 (95% CI 1,59-3,20), umur ibu dengan nilai OR sebesar 1,46 (95% CI 0,84 – 2,53),
status gizi ibu dengan nilai OR sebesar 5,17 (95% CI 1,63 – 16,40), pekerjaan ibu dengan nilai OR sebesar 1,02 (95%
CI 0,70 - 1,48), tinggi badan ibu dengan nilai OR sebesar 2,43 (95% CI 1,74 – 3,39) dan penambahan berat badan ibu
saat hamil dengan nilai OR sebesar 1,43 (95% CI 0,16 – 12,88). Kesimpulan yang diperoleh bahwa faktor risiko maternal
tertinggi yang menjadi penyebab terjadinya stunting pada balita di Indonesia adalah status gizi ibu.
Kata Kunci: Faktor Risiko Maternal, Meta-analisis, Stunting
Abstract
Indonesia is currently still confronted with nutrition problems that can impact the quality of human resources (HR), one of which
is the problem of stunting. Risk factors for stunting have been widely studied so it is necessary to conduct a meta-analysis study
to obtain stronger data and can be used as a reference for stunting prevention. The study was conducted to analyze the effect
of maternal risk factors on the incidence of stunting in Indonesian toddlers. This study used the Systematic review method and
Meta-analysis study with the Revman 5.4 application. Search for study articles through Pubmed, Google Scholar, and Science
Direct databases. 20 articles with a cross-sectional study design relevant to this study were obtained. The results of the metaanalysis showed that maternal education variable with an OR value of 2.26 (95% CI 1.59-3.20), maternal age with an OR value
of 1.46 (95% CI 0.84 - 2.53), maternal nutritional status with an OR value of 5.17 (95% CI 1.63 - 16, 40), maternal occupation
with an OR of 1.02 (95% CI 0.70 - 1.48), maternal height with an OR of 2.43 (95% CI 1.74 - 3.39) and maternal weight
during pregnancy with an OR of 1.43 (95% CI 0.16 - 12.88). It was concluded that the highest maternal risk factor for stunting
among under-fives in Indonesia is maternal nutritional status.
Keywords: Maternal Risk Factors, Meta-analysis, Stunting
Korespondensi*: Mitha Safutri, Magister Epidemiologi, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Andalas, Padang, Jl.
Universitas Andalas, Limau Manis, Kec. Pauh, Kota Padang, Sumatera Barat 25163, E-mail:
https://doi.org/10.33221/jikm.v13i01.2443
Received : 17 April 2023 / Revised : 6 September 2023 / Accepted : 12 Desember 2023
Copyright @ 2024, Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat, p-ISSN:
50 2252-4134, e-ISSN: 2354-8185
Safutri M / Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat. 2024; 13 (1): 50-65
Pendahuluan
Indonesia saat ini masih dihadapkan
masalah gizi yang dapat menyebabkan
dampak pada kualitas sumber daya manusia
(SDM) yaitu salah satunya permasalahan
stunting yaitu pertumbuhan yang tidak
optimal pada anak berakibat anak terlalu
pendek dari umurnya yang disebabkan oleh
kekurangan gizi kronis. Keadaan gizi ibu
dan anak menjadi faktor penting bagi
pertumbuhan anak, hal ini dikarenakan
permasalahan kekurangan gizi dapat
dialami sejak didalam kandungan dan masa
awal setelah kelahiran akan tetapi
permasalahan baru terlihat setelah anak
berusia 2 tahun. Berdasarkan standar
antropomentri anak dikategorikan stunting
yaitu jika indeks tinggi badan berdasarkan
umur berada pada z-score kurang -2 SD
(stunted).1
Berdasarkan data badan Kesehatan
dunia atau WHO, prevalensi stunting di
Indonesia berada pada peringkat ketiga
tertinggi setelah Timor Leste (50,5%) dan
India (38,4%) untuk wilayah Asia
Tenggara. Berdasarkan Riset Kesehatan
Dasar tahun 2018, stunting di Indonesia
sebesar 30,8%.2 Sedangkan dari hasil Studi
Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022
diperoleh 21,6% angka stunting di
Indonesia, jumlah ini telah menurun
dibandingkan dengan hasil SSGI 2021 yaitu
24,4%. Terjadinya penurunan angka
stunting tersebut masih dalam kategori
diatas standar yang ditetapkan oleh WHO
yaitu kurang dari 20%.3 Pada tahun 2024
pemerintah Indonesia diharapkan dapat
menurunkan angka prevalensi stunting
menjadi 14% melalui berbagai strategi.4
Kejadian stunting mencerminkan
terjadinya gangguan pertumbuhan pada
periode pre dan post-natal akibat kurangnya
status gizi dan kesehatan. Berdasarkan
Framework stunting World Health
Organization dalam Kiik dan Nuwa
membagi menjadi 5 kelompok penyebab
stunting, yaitu keluarga dan rumah tangga,
pemberian makanan pendamping yang
tidak mencukupi, pemberian asi, infeksi dan
faktor konstekstual (komunitas dan sosial).5
Hal-hal yang berhubungan dengan keluarga
dan rumah dibagi menjadi ibu dan
lingkungan. Faktor ibu meliputi gizi yang
tidak memadai dimulai dari masa
kehamilan sampai persalinan, tinggi badan
ibu yang rendah, infeksi, kehamilah usia
dini, kesehatan mental, intrauterine growth
restriction (IUGR) dan kelahiran preterm,
jarak kehamilan yang pendek, dan darah
tinggi.6
Pada kejadian stunting faktor yang
memengang peran penting yaitu faktor
maternal. Yang mana terdapat tiga fase
utama yang membutuhkan peran ibu
semaksimal mungkin sehingga anak tidak
mengalami stunting padafase emas. Ketiga
fase tersebut yaitu prakonsepsi, prenatal,
dan bayi-balita. Perbaikan gizi ibu sejak
dini sangat diperlukan sehingga tubuh siap
saat menjalani fase prenatal untuk
perkembangan janin dan berlanjut pada
bayi hingga remaja walaupun pada masa
konsepsi belum terdapat janin. Karena jika
terjadi kekurangan nutrisi pada masa
konsepsi akan bedampak pada pertumbuhan
dan perkembangan janin terganggu dan
berisiko kejadian stunting.7
Stunting
dapat
menyebabkan
terjadinya gangguan, baik jangka pendek
dan jangka panjang selama masa
pertumbuhan dan perkembangan. Dampak
jangka pendeknya yang diakibatkan yaitu
kurangnya kemampuan kognitif serta
menurunnya sistem imunitas sehingga lebih
mudah terjangkit infeksi. Adapun dampak
jangka panjang yang terjadi yaitu pada saat
dewasa akan me (...truncated)