Analisis Akuntabilitas Pengelolaan Keuangan Berlandaskan Konsep Tri Hita Karana Dan Implementasi Green Accounting : (Studi Kasus Pada Subak Pemangket Awen Barat, Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana)
JIMAT (Jurnal Ilmiah Mahasiswa Akuntansi ) Universitas Pendidikan Ganesha (Vol : 14 No :
04 Tahun 2023 )
ANALISIS AKUNTABILITAS PENGELOLAAN KEUANGAN
BERLANDASKAN KONSEP TRI HITA KARANA DAN IMPLEMENTASI
GREEN ACCOUNTING
(Studi Kasus pada Subak Pemangket Awen Barat, Kecamatan Negara,
Kabupaten Jembrana)
Gusti Ayu Made Putri Rinjani Dhipayanti *, Gst. Ayu Rencana Sari Dewi
Jurusan Ekonomi Akuntansi
Universitas Pendidikan Ganesha
Singaraja, Indonesia
e-mail: {, }
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk Mengungkap Akuntabilitas Pengelolaan Keuangan
Berlandaskan Konsep Tri Hita Karana Dan Implementasi Green Accounting,
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Teknik pengumpulan data
menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi yang nantinya akan diproses
melalui analisis data untuk menjawab dari rumusan masalah. Hasil dari penelitian ini
menunjukan bahwa (1) Sistem pengelolaan keuangan Subak Pemangket Awen Barat
sudah berjalan dengan baik. (2) Akuntabilitas pengelolaan Alokasi Dana Subak
Pemangket Awen Barat sudah berdasarkan pada prinsip transparansi maupun
prinsip akuntabilitas. Pengalokasian dana subak sesuai dengan konsep tri hita
karana dimana aliran dana telah disalurkan untuk kepentingan upacara yadnya,
bantuan sosial dan sarana prasarana kebersihan lingkungan. (3) Penerapan green
screen accounting di Subak Pemangket Awen Barat sudah berjalan dengan baik.
Kata kunci: Akuntabilitas Pengelolaan Keuangan, Tri Hita Karana, Green Accounting
Abstract
This study aims to reveal financial management accountability based on the concept
of Tri Hita Karana and implementation of green accounting. This research uses
qualitative methods. Data collection techniques use observation, interviews, and
documentation which will later be processed through data analysis to answer the
problem formulation. The results of this study indicate that (1) the financial
management system of Subak Pemangket Awen Barat has been running well. (2)
Accountability for the management of Subak Pemangket Awen Barat Fund Allocation
is already based on the principles of transparency and accountability. The allocation of
subak funds is in accordance with the concept of tri hita karana where the flow of
funds has been channeled for the purposes of yadnya ceremonies, social assistance
and environmental cleaning infrastructure. (3) The implementation of green screen
accounting in Subak Pemangket Awen Barat has been going well.
Keywords : financial management accountability, Tri Hita Karana, green accounting
PENDAHULUAN
Bali merupakan provinsi yang
memiliki berbagai macam budaya dan
keunikan tersendiri, dan juga tidak
terlepas dari destinasi wisata yang
menjadi daya tarik para wisatawan. Salah
satu
keunikan yang dimiliki
oleh
masyarakat yaitu organisasi tradisional
subak. Subak merupakan organisasi yang
didirikan
untuk
mengelola
sistem
pengairan pertanian masyarakat adat Bali
yang senantiasa diidentikkan dengan
kesederhanaan dan tradisional. Aktivitas
operasional subak tidak hanya terbatas
pengelolaan suber air sawah, tetapi subak
juga melaksanakan kegiatan bersifat
1091
JIMAT (Jurnal Ilmiah Mahasiswa Akuntansi ) Universitas Pendidikan Ganesha (Vol : 14 No :
04 Tahun 2023 )
religious
dan
pembangunan
yang
memerlukan banyak dana. Subak didirikan
secara tradisional yang jauh dari
perkembangan jaman, maka tingkat
pendidikan krama subak juga relatif
rendah. Tetapi, hal tersebut tidak
membuat para krama subak hilang
kepercayaan untuk mengelola sumber
daya yang beragam, baik yang diperoleh
dari krama subak, bantuan, maupun
sumbangan sehingga keberadaan subak
masih tetap eksis dan berkembang hingga
saat ini (Sutawan, 2008).
Subak pada khususnya sebagai
salah satu organisasi publik non
pemerintah dan organisasi nirlaba yang
juga tidak luput dari berbagai kritik dan
tuntutan dari pihak pemberi sumbangan
(pemerintah) dan juga pihak eksternal
lainnya serta dari anggotanya yang
memerlukan keterbukaan penggunaan
dana
dan
pengelolaan
keuangan.
Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan
(PSAK) 45 tahun 2015 tentang pelaporan
keuangan organisasi nirlaba, dimana
entitas nirlaba merupakan entitas yang
tidak berorientasi pada laba namun tetap
memiliki
kewajiban
untuk
mempertanggungjawabkan pemanfaatan
sumber daya yang dikelolanya kepada
penyandang dana dan society. Dalam
suatu organisasi pengelolaan keuangan
harus dipertanggungjawabkan kepada
krama Subak sebagai pihak yang
berkepentingan
dalam
kepengurusan
subak.
Sistem subak merupakan ciri khas
sistem pertanian di Bali. Menurut Pitana
(1997) dalam (Sunaryasa, 2002), subak di
Bali memiliki ciri, yaitu:
1. Subak
merupakan
organisasi
petani pengelola air irigasi yang
memiliki pengurus dan peraturan
organisasi
(awig-awig)
baik
tertulis maupun tidak tertulis.
2. Subak mempunyai suatu sumber
air bersama, berupa bendungan
(empelan ataupun saluran utama
suatu sistem irigasi).
3. Subak mempunyai suatu areal
persawahan.
4. Subak mempunyai otonomi, baik
internal maupun eksternal.
5. Subak mempunyai satu atau lebih
pura yang berhubngan dengan
persubakan.
Hal inilah yang membedakan sistem
pertanian di Bali dengan sistem pertanian
di luar Bali. Konsep kebersamaan dalam
kelompok petani di Bali diaplikasikan
melalui kegiatan gotong royong yang
merupakan ciri yang kuat dari masyarakat
petani Bali. Konsep kebersamaan dalam
kelompok petani di Bali diaplikasikan
melalui kegiatan gotong royong yang
merupakan ciri yang kuat dari masyarakat
petani Bali. Seluruh warisan budaya yang
dikenal di provinsi Bali sudah tentu
memiliki suatu nilai religius yang
merupakan sisi menarik yang senantiasa
ingin kita ketahui. Sama halnya dengan
organisasi subak di Bali, kepentingan
bersama dari subak dipadukan dengan
nilai-nilai agama Hindu, yang menjadikan
organisasi subak mempunyai nilai sosial
yang religius. Dengan kebersamaan dan
sistem gotong royong yang diterapkan
pada organisasi subak, serta ditambah
juga dengan konsep Tri Hita Karana (tiga
penyebab kebahagiaan yang utuh didalam
kehidupan manusia) yang dijunjung tinggi
sebagai
dasar
pelaksanaan
setiap
kegiatan dalam subak, maka para pakar
petani yang merupakan anggota subak
beranggapan bahwa subak mampu
mengambil peran untuk turut serta
melestarikan lingkungan serta membantu
mewujudkan kemajuan di pedesaan. Tri
Hita Karana merupakan konsep dasar
yang dijunjung tinggi dalam subak, oleh
karena itu subak melaksanakan kegiatan
yang
mengacu
pada
parahyangan
(hubungan manusia dengan Tuhan),
pawongan (hubungan manusia dengan
manusia) dan palemahan (hubungan
manusia dengan lingkungan). Dalam
melaksanakan
kegiatan
operasional,
subak memerlukan berbagai jenis sumber
daya kolektif sebagai penunjang. Subak
umumnya mempergunakan sumber daya
yang diperoleh dari kalangan umum maka
penting
bagi
masyarakat
untuk
mengetahui proses pengelolaan sumber
daya tersebut karena sejalan dengan
praktik akuntabilitas yang merupakan
kajian yang marak dibahas.
1092
JIMAT (Jurnal Ilmiah Mahasiswa Akuntansi ) Universitas Pendidikan Ganesha (Vol : 14 No :
04 Tahun 2023 )
Salah satu su (...truncated)