ANALISIS FAKTOR RISIKO KEJADIAN STUNTING PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KARANGANYAR I KABUPATEN DEMAK

Mar 2024

Abstrak: Analisis Faktor Risiko Kejadian Stunting Pada Balita Di Wilayah Kerja Puskesmas Karanganyar I Kabupaten Demak. Nilai prevalensi balita stunting di wilayah kerja Puskesmas Karanganyar I kabupaten Demak tahun 2018 adalah 4,26% balita stunting. Pada tahun 2019 nilai prevalensi stunting yaitu 3,91%. Pada tahun 2020 prevalensi stunting 3,72%, dan pada tahun 2021 mengalami angka yang fluktuatif yaitu 3,77%. Penelitian ini adalah menganalisis faktor risiko kejadian stunting pada balita di Wilayah Kerja Puskesmas Karanganyar I Kabupaten Demak. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain case control. Sampel kasus 45 balita stunting dan kontrol 45 balita tidak stunting. Pengambilan data menggunakan data primer, sekunder, wawancara dengan responden menggunakan kuesioner. Hubungan variabel bebas dan terikat serta faktor risikonya diketahui melalui uji chi square dan uji regresi logistik. Menganalisis faktor yang memiliki hubungan terhadap kejadian stunting adalah status gizi ibu saat hamil (P-value 0,000), pemberian ASI sampai dua tahun (P-value 0,000), Pendapatan (P-value 0,006), Pendidikan Ibu (P-value 0,000), Sanitasi lingkungan (P-value 0,003). Tidak terdapat hubungan antara Usia ibu saat hamil (p-value 1,000), Tinggi badan ibu (P-value 0,831), dan status imunisasi dengan kejadian stunting pada balita. Faktor yang paling berpengaruh terhadap kejadian stunting adalah pemberian ASI sampai dua tahun P-value 0,000 OR 34, 472; (95% CI 4,485 – 184,062). Mayoritas di wilayah kerja Puskesmas Karanganyar I Kabupaten Demak balita stunting tidak mendapatkan ASI sampai usia dua tahun, faktor risiko yang paling berpengaruh diantara variabel lain yaitu pemberian ASI sampai dua tahun dengan faktor risiko 34,472 kali.

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

https://ejurnalmalahayati.ac.id/index.php/kesehatan/article/download/10600/pdf

ANALISIS FAKTOR RISIKO KEJADIAN STUNTING PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KARANGANYAR I KABUPATEN DEMAK

Page 430 of 10 pISSN:2355-7583 | eISSN:2549-4864 http://ejurnalmalahayati.ac.id/index.php/kesehatan ANALISIS FAKTOR RISIKO KEJADIAN STUNTING PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KARANGANYAR I KABUPATEN DEMAK Jihan Putri Adhani1*, Aisyah Lahdji2, Chamim Faizin3 Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Semarang Staf Pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Semarang 1 2,3 Email Korespondensi: __________________________________________________________________ *) Abstract: Analysis of Risk Factors for Stunting in Toddlers in The Work Area of Karanganyar I Public Health Center Demak Regency. In 2018, the prevalence of stunting in children under the age of five was 4.26 percent in the Karanganyar I Health Center's working area in Demak district. In 2019, the prevalence of stunting was 3.91 percent. In 2020, the prevalence of stunting was 3.72 percent, but fluctuated to 3.77 percent in 2021. of this study was to determine the risk factors for stunting in children under the age of five living in Demak Regency's Karanganyar I Public Health Center. This study is an analytic observational study with a case-control design. The case sample was 45 stunted toddlers and 45 non stunting controls. Collecting data using primary, and secondary data, interviews with respondents using questionnaires. The relationship between independent and dependent variables and their risk factors was known through the chi-square test and logistic regression test. The results indicated that the nutritional status of the mother during pregnancy (P-value 0.000), breastfeeding for up to two years (P-value 0.000), maternal income (P-value 0.006), and maternal education all had a relationship with the incidence of stunting (P-value 0.006). 0.000), sanitation of the environment (Pvalue 0.003). There is no association between maternal age during pregnancy (pvalue 1,000), maternal height (P-value 0.831), or immunization status and stunting in children under the age of five. Breastfeeding for up to two years had the greatest impact on stunting incidence. 0.000 OR 34.472; (95% CI 4,485–184,062). The majority in the working area of Karang Anyar Health Center I, Demak Regency, stunting toddlers do not receive breast milk until they reach the age of two; the most influential risk factor among other variables is breastfeeding for up to two years with a risk factor of 34,472 times. Keywords: Breastfeeding, Environmental Sanitation, Mother's Nutritional Status, Income, Education Abstrak: Analisis Faktor Risiko Kejadian Stunting Pada Balita Di Wilayah Kerja Puskesmas Karanganyar I Kabupaten Demak. Nilai prevalensi balita stunting di wilayah kerja Puskesmas Karanganyar I kabupaten Demak tahun 2018 adalah 4,26% balita stunting. Pada tahun 2019 nilai prevalensi stunting yaitu 3,91%. Pada tahun 2020 prevalensi stunting 3,72%, dan pada tahun 2021 mengalami angka yang fluktuatif yaitu 3,77%. Penelitian ini adalah menganalisis faktor risiko kejadian stunting pada balita di Wilayah Kerja Puskesmas Karanganyar I Kabupaten Demak. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain case control. Sampel kasus 45 balita stunting dan kontrol 45 balita tidak stunting. Pengambilan data menggunakan data primer, sekunder, wawancara dengan responden menggunakan kuesioner. Hubungan variabel bebas dan terikat serta faktor risikonya diketahui melalui uji chi square dan uji regresi logistik. Menganalisis faktor yang memiliki hubungan terhadap kejadian stunting adalah status gizi ibu saat hamil (P-value 0,000), pemberian ASI sampai dua tahun (P-value 0,000), Pendapatan (Pvalue 0,006), Pendidikan Ibu (P-value 0,000), Sanitasi lingkungan (P-value 0,003). Tidak terdapat hubungan antara Usia ibu saat hamil (p-value 1,000), Tinggi badan ibu (P-value 0,831), dan status imunisasi dengan kejadian stunting pada balita. Faktor yang paling berpengaruh terhadap kejadian stunting adalah pemberian ASI sampai dua Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan, Vol. 11, No. 2, Februari 2024 430 pISSN:2355-7583 | eISSN:2549-4864 http://ejurnalmalahayati.ac.id/index.php/kesehatan tahun P-value 0,000 OR 34, 472; (95% CI 4,485 – 184,062). Mayoritas di wilayah kerja Puskesmas Karanganyar I Kabupaten Demak balita stunting tidak mendapatkan ASI sampai usia dua tahun, faktor risiko yang paling berpengaruh diantara variabel lain yaitu pemberian ASI sampai dua tahun dengan faktor risiko 34,472 kali. Kata Kunci: ASI, Sanitasi Lingkungan, Status Gizi Ibu, Pendapatan, Pendidikan. PENDAHULUAN Stunting merupakani keadaan anak yang mengalami panjang badan maupun tinggi badani yangi kurang apabila dibandingkani dengan umur. Keadaan tersebut diukur menggunakan panjang badan maupun tinggi badan kurang dari normal <-2 standar deviasi. Stunting tergolong masalah gizi kurang atau kronik yang diakibatkan dari banyak faktor diantaranya status gizi pada ibu selama hamil, keaadaan atau kondisi sosial ekonomi, bayi kurang iasupan gizi, dani bayi imengalami kesakitan. Stunting padai balita diimasa mendatang iakan mengakibatkan kurang optimal tercapainya perkembangan fisik dan kognitif (Kemenkes RI, 2018). Nilai prevalensi anak stunting yang terkumpul pada pada tahun 2018 oleh World iHealth iOrganization (WHO), Indonesia tergolong prevalensii tertinggi padai asia tenggara masuk dalam Negara ketiga atau (SEAR) South East Asia Regional. Rata-rata angka prevalensi pada anak yang mengalami stunting tahun 2005 hingga tahun 2017 di Indonesia yaitu 36,4 persen. Prevalensii stunting padai tahun 2017 yaitu 150,8 juta anaki berusia 5 tahun kebawah atau sekitar 22,2%. iPada anak usiai dibawah 5 itahun idi Asia yaitu sekitar 55% anak mengalami stunting, dan di Afrika prevalensi stunting yaitu 39%..Prevalensi stuntingi di iIndonesia termasuk tertinggii di regional iAsia Tenggara yaitu masuk urutan ketiga dengan nilai prevalensi stunting pada tahun 2005 sampai tahun 2017 di Indonesia yaitu 36,4%. Berdasarkani hasil Riseti Kesehatan iDasar (RISKERDAS) 2018, anaki usia 24-59 bulani yang mengalamii stunting dii Indonesia berkisari 30,8%. Stuntingi masih tetap menjadi masalahi kesehatan masyarakatt di Indonesiai karena imenurut teori, stunting dii kategorikan berati bila prevalensii balita pendeki sebesar 30 – 39% dani kategori seriusi bila prevalensi pendek ≥ 40% (Kemenkes RI, 2018). Pada Riskesdas Dasar tahun 2018 yang sedang dilaksanakan oleh Kementerian Kesehatan membuktikan hasil nilai prevalensi anak di Provinsi Jawa Tengan pada anak stunting yang sangat pendek yaitu pada anak berusia 0 sampai dengan 59 bulan dengan nilai prevalensi yaitu 31,15%, pada anak yang pendek yaitu 20,06%. Prevalensi angka stunting pada tahun 2017 di wilayah Kabupaten Demak yaitu 27%, sedangkan prevalensi angka stunting pada tahun 2019 yaitu sebesar 50%, termasuk prevalensi angka yang tinggi, dan masuk dalam urutan nomor tujuh di Jawa Tengah, oleh karena itu di tahun 2018 permasalahan stunting pada balita harus segera teratasi, dan angka prevalensi stunting harus dapat ditu (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: https://ejurnalmalahayati.ac.id/index.php/kesehatan/article/download/10600/pdf
Article home page: https://ejurnalmalahayati.ac.id/index.php/kesehatan/article/view/10600/pdf

Adhani Jihan Putri, Lahdji Aisyah, Faizin Chamim. ANALISIS FAKTOR RISIKO KEJADIAN STUNTING PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KARANGANYAR I KABUPATEN DEMAK, 2024, pp. 430 - 439,