ANALISIS FAKTOR RISIKO KEJADIAN STUNTING PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KARANGANYAR I KABUPATEN DEMAK
Page 430 of 10
pISSN:2355-7583 | eISSN:2549-4864
http://ejurnalmalahayati.ac.id/index.php/kesehatan
ANALISIS FAKTOR RISIKO KEJADIAN STUNTING PADA BALITA
DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KARANGANYAR I KABUPATEN DEMAK
Jihan Putri Adhani1*, Aisyah Lahdji2, Chamim Faizin3
Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Semarang
Staf Pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Semarang
1
2,3
Email Korespondensi:
__________________________________________________________________
*)
Abstract: Analysis of Risk Factors for Stunting in Toddlers in The Work Area
of Karanganyar I Public Health Center Demak Regency. In 2018, the
prevalence of stunting in children under the age of five was 4.26 percent in the
Karanganyar I Health Center's working area in Demak district. In 2019, the
prevalence of stunting was 3.91 percent. In 2020, the prevalence of stunting was
3.72 percent, but fluctuated to 3.77 percent in 2021. of this study was to determine
the risk factors for stunting in children under the age of five living in Demak Regency's
Karanganyar I Public Health Center. This study is an analytic observational study with
a case-control design. The case sample was 45 stunted toddlers and 45 non stunting
controls. Collecting data using primary, and secondary data, interviews with
respondents using questionnaires. The relationship between independent and
dependent variables and their risk factors was known through the chi-square test and
logistic regression test. The results indicated that the nutritional status of the mother
during pregnancy (P-value 0.000), breastfeeding for up to two years (P-value 0.000),
maternal income (P-value 0.006), and maternal education all had a relationship with
the incidence of stunting (P-value 0.006). 0.000), sanitation of the environment (Pvalue 0.003). There is no association between maternal age during pregnancy (pvalue 1,000), maternal height (P-value 0.831), or immunization status and stunting
in children under the age of five. Breastfeeding for up to two years had the greatest
impact on stunting incidence. 0.000 OR 34.472; (95% CI 4,485–184,062). The
majority in the working area of Karang Anyar Health Center I, Demak Regency,
stunting toddlers do not receive breast milk until they reach the age of two; the most
influential risk factor among other variables is breastfeeding for up to two years with
a risk factor of 34,472 times.
Keywords: Breastfeeding, Environmental Sanitation, Mother's Nutritional Status,
Income, Education
Abstrak: Analisis Faktor Risiko Kejadian Stunting Pada Balita Di Wilayah
Kerja Puskesmas Karanganyar I Kabupaten Demak. Nilai prevalensi balita
stunting di wilayah kerja Puskesmas Karanganyar I kabupaten Demak tahun 2018
adalah 4,26% balita stunting. Pada tahun 2019 nilai prevalensi stunting yaitu 3,91%.
Pada tahun 2020 prevalensi stunting 3,72%, dan pada tahun 2021 mengalami angka
yang fluktuatif yaitu 3,77%. Penelitian ini adalah menganalisis faktor risiko kejadian
stunting pada balita di Wilayah Kerja Puskesmas Karanganyar I Kabupaten Demak.
Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain case
control. Sampel kasus 45 balita stunting dan kontrol 45 balita tidak stunting.
Pengambilan data menggunakan data primer, sekunder, wawancara dengan
responden menggunakan kuesioner. Hubungan variabel bebas dan terikat serta
faktor risikonya diketahui melalui uji chi square dan uji regresi logistik. Menganalisis
faktor yang memiliki hubungan terhadap kejadian stunting adalah status gizi ibu saat
hamil (P-value 0,000), pemberian ASI sampai dua tahun (P-value 0,000), Pendapatan (Pvalue 0,006), Pendidikan Ibu (P-value 0,000), Sanitasi lingkungan (P-value 0,003).
Tidak terdapat hubungan antara Usia ibu saat hamil (p-value 1,000), Tinggi badan ibu
(P-value 0,831), dan status imunisasi dengan kejadian stunting pada balita. Faktor
yang paling berpengaruh terhadap kejadian stunting adalah pemberian ASI sampai dua
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan, Vol. 11, No. 2, Februari 2024
430
pISSN:2355-7583 | eISSN:2549-4864
http://ejurnalmalahayati.ac.id/index.php/kesehatan
tahun P-value 0,000 OR 34, 472; (95% CI 4,485 – 184,062). Mayoritas di wilayah
kerja Puskesmas Karanganyar I Kabupaten Demak balita stunting tidak mendapatkan
ASI sampai usia dua tahun, faktor risiko yang paling berpengaruh diantara variabel
lain yaitu pemberian ASI sampai dua tahun dengan faktor risiko 34,472 kali.
Kata Kunci: ASI, Sanitasi Lingkungan, Status Gizi Ibu, Pendapatan, Pendidikan.
PENDAHULUAN
Stunting merupakani keadaan anak
yang mengalami panjang badan maupun
tinggi badani yangi kurang apabila
dibandingkani dengan umur. Keadaan
tersebut diukur menggunakan panjang
badan maupun tinggi badan kurang dari
normal <-2 standar deviasi. Stunting
tergolong masalah gizi kurang atau
kronik yang diakibatkan dari banyak
faktor diantaranya status gizi pada ibu
selama hamil, keaadaan atau kondisi
sosial ekonomi, bayi kurang iasupan gizi,
dani bayi imengalami kesakitan. Stunting
padai balita diimasa mendatang iakan
mengakibatkan
kurang
optimal
tercapainya perkembangan fisik dan
kognitif (Kemenkes RI, 2018).
Nilai prevalensi anak stunting yang
terkumpul pada pada tahun 2018 oleh
World iHealth iOrganization (WHO),
Indonesia tergolong prevalensii tertinggi
padai asia tenggara masuk dalam Negara
ketiga atau (SEAR) South East Asia
Regional. Rata-rata angka prevalensi
pada anak yang mengalami stunting
tahun 2005 hingga tahun 2017 di
Indonesia yaitu 36,4 persen. Prevalensii
stunting padai tahun 2017 yaitu 150,8
juta anaki berusia 5 tahun kebawah atau
sekitar 22,2%. iPada anak usiai dibawah
5 itahun idi Asia yaitu sekitar 55% anak
mengalami stunting, dan di Afrika
prevalensi
stunting
yaitu
39%..Prevalensi stuntingi di iIndonesia
termasuk tertinggii di regional iAsia
Tenggara yaitu masuk urutan ketiga
dengan nilai prevalensi stunting pada
tahun 2005 sampai tahun 2017 di
Indonesia yaitu 36,4%. Berdasarkani
hasil
Riseti
Kesehatan
iDasar
(RISKERDAS) 2018, anaki usia 24-59
bulani yang mengalamii stunting dii
Indonesia berkisari 30,8%. Stuntingi
masih tetap menjadi masalahi kesehatan
masyarakatt
di
Indonesiai
karena
imenurut teori, stunting dii kategorikan
berati bila prevalensii balita pendeki
sebesar 30 – 39% dani kategori seriusi
bila
prevalensi
pendek
≥
40%
(Kemenkes RI, 2018).
Pada Riskesdas Dasar tahun 2018
yang
sedang
dilaksanakan
oleh
Kementerian Kesehatan membuktikan
hasil nilai prevalensi anak di Provinsi
Jawa Tengan pada anak stunting yang
sangat pendek yaitu pada anak berusia 0
sampai dengan 59 bulan dengan nilai
prevalensi yaitu 31,15%, pada anak
yang pendek yaitu 20,06%. Prevalensi
angka stunting pada tahun 2017 di
wilayah Kabupaten Demak yaitu 27%,
sedangkan prevalensi angka stunting
pada tahun 2019 yaitu sebesar 50%,
termasuk prevalensi angka yang tinggi,
dan masuk dalam urutan nomor tujuh di
Jawa Tengah, oleh karena itu di tahun
2018 permasalahan stunting pada balita
harus segera teratasi, dan angka
prevalensi
stunting
harus
dapat
ditu (...truncated)