Effect of Prebiotic in Commercial Feed on the Growth of Catfish (Pangasius sp.)
Jurnal Perikanan dan Kelautan Vol. 5 No. 2 : 1-9. Desember 2015
PENGARUH HUBUNGAN PANJANG TERHADAP
BERAT IKAN PAYUS (Elops hawaiensis) DI WILAYAH PERAIRAN
UTARA PROVINSI BANTEN
(Effect of Prebiotic in Commercial Feed on the Growth of Catfish (Pangasius sp.))
Nico Sonyenzellnd1), Mustahal1) dan Sakinah Haryati1)
Jurusan Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Sultan Ageng Tirtayasa,
Jl. Raya Jakarta Km. 4 Pakupatan, Serang Banten
Email:
1)
ABSTRACT
Length Frequencies of the ladyfish Elops hawaiensis has grouping the ladyfish into the
fingerling, young fish and adults fish. The effect of length-weight relationship was negative
allometric. This condition revealed that the length growth of the ladyfish more dominant
than their weight growth. Analysis of the condition factors showed that the K value was
4.19 for the Kronjo, 4.18 for Mauk and 42.06 for Domas village, respectively. It may be
concluded that the environmental factors in the northern coast of Banten Province was
suitable for the growth of the ladyfish.
Keywords : Elops hawaiensis, length and weight relationship, index of plumpness
PENDAHULUAN
Peranan Provinsi Banten sebagai daerah yang kaya akan suberdaya alam
dapat dilihat dari luas wilayah 8.800,83 km2 dan panjang garis pantai 517,42 km,
hal tersebut didukung dengan 6 Kabupaten/Kota pesisir, Kecamatan pesisir
sebanyak 35 buah dan Desa pesisir sebanyak 123 buah serta pulau-pulau kecil
sebanyak 61 buah (Abidin 2009 diacu dalam Mustahal et al. 2013). Kondisi
tersebut dapat dibuktikan dari hasil ikan payus (Elops hawaiensis) yang cukup
tersedia didaerah perairan Provinsi Banten. Menurut Haryati (2011) menyatakan
bahwa ikan payus merupakan bahan baku utama pembuatan produk bontot, hal
tersebut yang menjadikan produk tersebut menjadi ciri khas dari desa Domas yang
terdapat di Provinsi Banten. Ikan payus merupakan ikan yang mempunyai nilai
ekonomis tinggi dan memiliki kandungan gizi yang tinggi (Haryati 2011).
Pada penelitian sebelumnya lebih mengarah kepada proses identifikasi
morfometrik dan meristik. Namun penelitian yang terkait hubungan panjang dan
berat masih bersifat minimum. Mulfizar et al. (2012) menyatakan bahwa analisa
hubungan parameter morfometrik dan bobot juga dapat mengetsimasi faktor
kondisi atau sering disebut dengan index of plumpness, yang merupakan salah satu
hal penting dari pertumbuhan ikan untuk membandingkan kondisi populasi ikan
atau individu tertentu. Minimnya informasi tersebut yang menjadikan penghambat
dalam usaha pemanfaatan dan pengelolaan ikan payus. Berdasarkan kenyataan
Pengaruh hubungan panjang terhadap berat …..
1
Jurnal Perikanan dan Kelautan Vol. 5 No. 2 : 1-9. Desember 2015
tersebut maka penelitian tentang informasi dasar biologi perikanan seperti sebaran
frekuensi panjang, hubungan panjang-berat, dan faktor kondisi perlu dilakukan
khususnya di daerah Kronjo, Mauk dan Domas.
METODOLOGI
Waktu dan Tempat
Penelitian ini dilakukan dari bulan Febuari 2013 sampai Juli 2011,
pengambilan sampel dilakukan sebanyak 3 kali pada perairan tambak yang berbeda
yaitu daerah Kronjo, Mauk Kabupaten Tangerang, Domas Kabupaten Serang, dan
diidentifikasi pada laboratorium Teknologi Pengolahan Hasil Perikanan
Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.
Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam pengambilan sampel ikan adalah pancing dan
jaring gill net. Alat yang digunakan dalam laboratorium meliputi kertas label,
pengaris ukuran 30-50cm, alat tulis, sarung tangan, tisu, dan lemari es. Bahan yang
digunakan adalah ikan payus dengan berbagai ukuran yang didapatkan pada
perairan Kronjo, Mauk, dan Domas.
Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah experimental fishing (uji coba
penangkapan). Pengambilan sampel ikan dilakukan dengan cara acak sebanyak 3
kali dengan daerah yang berbeda dengan ulangan sebanyak 3 kali pada bulan yang
berbeda. Sampel ikan ditangkap dipetakan tambak bandeng yang sudah memasuki
fase pemanenan dan perairan estuary. Sampel tersebut dibawa ke Laboratorium
TPHP, Jurusan perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa
Banten dan dimasukkan ke dalam Freezer. Ikan diamati lebih lanjut tentang
pengaruh hubungan panjang - berat. Hasil data yang diperoleh dianalisis secara
deskriptif.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Jumlah Tangkapan
Jumlah ikan payus (Elops hawaiensis) yang diteliti dari bulan Febuari 2013
sampai dengan bulan Juli 2013 di perairan utara Provinsi Banten berjumlah 147
ekor. Komposisi ulangan dan frekuensi ikan yang tertangkap selama pengamatan
dapat dilihat pada Tabel 1.
Pola pada hasil Tabel 1 menggambarkan bahwa daerah pangamatan Kronjo
dan Mauk memiliki intensitas ikan payus tertinggi pada bulan Maret. Hal tersebut
serupa dengan penelitian McBride et al. (2001) yang menyatakan bahwa antara
bulan Febuari sampai dengan April ikan payus mengalami kelimpahan dibulan
Maret. Jalur distribusi Elops hawaiensis didaerah indopasifik mengalami
2
Sonyenzellnd et al.
Jurnal Perikanan dan Kelautan Vol. 5 No. 2 : 1-9. Desember 2015
kelimpahan pada bulan Febuari-Mei didaerah pesisir pantai, adapun kelimpahan
tersebut mengalami fluktuasi yang berbeda-beda (Adams et al. 2013).
Tabel 1. Komposisi ulangan dan frekuensi ikan sampel selama pengamatan.
Waktu
Daerah
Sampel
Febuari
Maret
April
F
Panjang
(cm)
Berat (g)
F
Panjang
(cm)
Berat (g)
F
Panjang
(cm)
Berat (g)
Kronjo
12
39,6±15
510±170
18
36,8±17,7
408±180
15
19,8±17,5
210±180
Mauk
14
37±23,5
450±250
19
28,3±17,8
288±190
10
27,2±11,9
280±120
Domas
22
22±11,9
270±125
20
34,5±17,5
350±290
17
29,9±18,6
300±200
Pada daerah Domas memiliki perbedaan frekuensi yang cukup signifikan
dengan pola menurun dari bulan Febuari frekuensi. Pola menurun di daerah Domas
diduga oleh intensitas penangkapan di daerah Domas tinggi, hal tersebut dapat
dibuktikan oleh kebutuhan ikan payus yang dijadikan bahan baku produk bontot
semakin meningkat. Bontot adalah salah satu produk gel ikan (fish gel product)
yang khas di Provinsi Banten dengan bahan baku utama ikan payus (Elops
hawaiensis) (Haryati 2010). Mustahal et al. (2013) menerangkan bahwa daerah
Domas merupakan daerah pengahasil bontot, daerah tersebut sering mengalami
kendala terkait kontinuitas ikan payus. Hal tersebut yang menyebabkan frekuensi
ikan payus didaerah Domas pada bulan April memiliki kecendrungan menurun dari
setiap bulan pengamatan.
Jumlah frekuensi pada Tabel 3 menjelaskan bahwa daerah Mauk memiliki
frekuensi terendah dengan jumlah 43 ekor. Frekuensi tertinggi terdapat pada daerah
Domas dengan jumlah 59 ekor. Hal tersebut diduga terkait kondisi lingkungan pada
pengamatan didaerah Mauk yang kurang mendukung peningkatan populasi ikan
payus. Dibuktikan oleh kondisi hutan mangrove (Nursery ground) didaerah tersebut
cukup memprihatinkan akibat degradasi lingkungan. Dominguez et al. (2012) diacu
dalam Jukri et al. (2013) menyatakan bahwa jika adanya tekanan antropogenik di
wilayah estuari dan pesisir dapat menyebabkan terjadinya degradasi habitat yang
akan mempenga (...truncated)