Effect of Prebiotic in Commercial Feed on the Growth of Catfish (Pangasius sp.)

JOURNAL OF DEVELOPING ENGLISH AND LANGUAGE TEACHING, Jan 2017

Length Frequencies of the ladyfish Elops hawaiensis has grouping the ladyfish into the fingerling, young fish and adults fish. The effect of length-weight relationship was negative allometric. This condition revealed that the length growth of the ladyfish more dominant than their weight growth. Analysis of the condition factors showed that the K value was 4.19 for the Kronjo, 4.18 for Mauk and 42.06 for Domas village, respectively. It may be concluded that the environmental factors in the northern coast of Banten Province was suitable for the growth of the ladyfish.

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

https://jurnal.untirta.ac.id/index.php/jpk/article/download/1058/842

Effect of Prebiotic in Commercial Feed on the Growth of Catfish (Pangasius sp.)

Jurnal Perikanan dan Kelautan Vol. 5 No. 2 : 1-9. Desember 2015 PENGARUH HUBUNGAN PANJANG TERHADAP BERAT IKAN PAYUS (Elops hawaiensis) DI WILAYAH PERAIRAN UTARA PROVINSI BANTEN (Effect of Prebiotic in Commercial Feed on the Growth of Catfish (Pangasius sp.)) Nico Sonyenzellnd1), Mustahal1) dan Sakinah Haryati1) Jurusan Perikanan, Fakultas Pertanian Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Jl. Raya Jakarta Km. 4 Pakupatan, Serang Banten Email: 1) ABSTRACT Length Frequencies of the ladyfish Elops hawaiensis has grouping the ladyfish into the fingerling, young fish and adults fish. The effect of length-weight relationship was negative allometric. This condition revealed that the length growth of the ladyfish more dominant than their weight growth. Analysis of the condition factors showed that the K value was 4.19 for the Kronjo, 4.18 for Mauk and 42.06 for Domas village, respectively. It may be concluded that the environmental factors in the northern coast of Banten Province was suitable for the growth of the ladyfish. Keywords : Elops hawaiensis, length and weight relationship, index of plumpness PENDAHULUAN Peranan Provinsi Banten sebagai daerah yang kaya akan suberdaya alam dapat dilihat dari luas wilayah 8.800,83 km2 dan panjang garis pantai 517,42 km, hal tersebut didukung dengan 6 Kabupaten/Kota pesisir, Kecamatan pesisir sebanyak 35 buah dan Desa pesisir sebanyak 123 buah serta pulau-pulau kecil sebanyak 61 buah (Abidin 2009 diacu dalam Mustahal et al. 2013). Kondisi tersebut dapat dibuktikan dari hasil ikan payus (Elops hawaiensis) yang cukup tersedia didaerah perairan Provinsi Banten. Menurut Haryati (2011) menyatakan bahwa ikan payus merupakan bahan baku utama pembuatan produk bontot, hal tersebut yang menjadikan produk tersebut menjadi ciri khas dari desa Domas yang terdapat di Provinsi Banten. Ikan payus merupakan ikan yang mempunyai nilai ekonomis tinggi dan memiliki kandungan gizi yang tinggi (Haryati 2011). Pada penelitian sebelumnya lebih mengarah kepada proses identifikasi morfometrik dan meristik. Namun penelitian yang terkait hubungan panjang dan berat masih bersifat minimum. Mulfizar et al. (2012) menyatakan bahwa analisa hubungan parameter morfometrik dan bobot juga dapat mengetsimasi faktor kondisi atau sering disebut dengan index of plumpness, yang merupakan salah satu hal penting dari pertumbuhan ikan untuk membandingkan kondisi populasi ikan atau individu tertentu. Minimnya informasi tersebut yang menjadikan penghambat dalam usaha pemanfaatan dan pengelolaan ikan payus. Berdasarkan kenyataan Pengaruh hubungan panjang terhadap berat ….. 1 Jurnal Perikanan dan Kelautan Vol. 5 No. 2 : 1-9. Desember 2015 tersebut maka penelitian tentang informasi dasar biologi perikanan seperti sebaran frekuensi panjang, hubungan panjang-berat, dan faktor kondisi perlu dilakukan khususnya di daerah Kronjo, Mauk dan Domas. METODOLOGI Waktu dan Tempat Penelitian ini dilakukan dari bulan Febuari 2013 sampai Juli 2011, pengambilan sampel dilakukan sebanyak 3 kali pada perairan tambak yang berbeda yaitu daerah Kronjo, Mauk Kabupaten Tangerang, Domas Kabupaten Serang, dan diidentifikasi pada laboratorium Teknologi Pengolahan Hasil Perikanan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Alat dan Bahan Alat yang digunakan dalam pengambilan sampel ikan adalah pancing dan jaring gill net. Alat yang digunakan dalam laboratorium meliputi kertas label, pengaris ukuran 30-50cm, alat tulis, sarung tangan, tisu, dan lemari es. Bahan yang digunakan adalah ikan payus dengan berbagai ukuran yang didapatkan pada perairan Kronjo, Mauk, dan Domas. Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah experimental fishing (uji coba penangkapan). Pengambilan sampel ikan dilakukan dengan cara acak sebanyak 3 kali dengan daerah yang berbeda dengan ulangan sebanyak 3 kali pada bulan yang berbeda. Sampel ikan ditangkap dipetakan tambak bandeng yang sudah memasuki fase pemanenan dan perairan estuary. Sampel tersebut dibawa ke Laboratorium TPHP, Jurusan perikanan, Fakultas Pertanian, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Banten dan dimasukkan ke dalam Freezer. Ikan diamati lebih lanjut tentang pengaruh hubungan panjang - berat. Hasil data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif. HASIL DAN PEMBAHASAN Jumlah Tangkapan Jumlah ikan payus (Elops hawaiensis) yang diteliti dari bulan Febuari 2013 sampai dengan bulan Juli 2013 di perairan utara Provinsi Banten berjumlah 147 ekor. Komposisi ulangan dan frekuensi ikan yang tertangkap selama pengamatan dapat dilihat pada Tabel 1. Pola pada hasil Tabel 1 menggambarkan bahwa daerah pangamatan Kronjo dan Mauk memiliki intensitas ikan payus tertinggi pada bulan Maret. Hal tersebut serupa dengan penelitian McBride et al. (2001) yang menyatakan bahwa antara bulan Febuari sampai dengan April ikan payus mengalami kelimpahan dibulan Maret. Jalur distribusi Elops hawaiensis didaerah indopasifik mengalami 2 Sonyenzellnd et al. Jurnal Perikanan dan Kelautan Vol. 5 No. 2 : 1-9. Desember 2015 kelimpahan pada bulan Febuari-Mei didaerah pesisir pantai, adapun kelimpahan tersebut mengalami fluktuasi yang berbeda-beda (Adams et al. 2013). Tabel 1. Komposisi ulangan dan frekuensi ikan sampel selama pengamatan. Waktu Daerah Sampel Febuari Maret April F Panjang (cm) Berat (g) F Panjang (cm) Berat (g) F Panjang (cm) Berat (g) Kronjo 12 39,6±15 510±170 18 36,8±17,7 408±180 15 19,8±17,5 210±180 Mauk 14 37±23,5 450±250 19 28,3±17,8 288±190 10 27,2±11,9 280±120 Domas 22 22±11,9 270±125 20 34,5±17,5 350±290 17 29,9±18,6 300±200 Pada daerah Domas memiliki perbedaan frekuensi yang cukup signifikan dengan pola menurun dari bulan Febuari frekuensi. Pola menurun di daerah Domas diduga oleh intensitas penangkapan di daerah Domas tinggi, hal tersebut dapat dibuktikan oleh kebutuhan ikan payus yang dijadikan bahan baku produk bontot semakin meningkat. Bontot adalah salah satu produk gel ikan (fish gel product) yang khas di Provinsi Banten dengan bahan baku utama ikan payus (Elops hawaiensis) (Haryati 2010). Mustahal et al. (2013) menerangkan bahwa daerah Domas merupakan daerah pengahasil bontot, daerah tersebut sering mengalami kendala terkait kontinuitas ikan payus. Hal tersebut yang menyebabkan frekuensi ikan payus didaerah Domas pada bulan April memiliki kecendrungan menurun dari setiap bulan pengamatan. Jumlah frekuensi pada Tabel 3 menjelaskan bahwa daerah Mauk memiliki frekuensi terendah dengan jumlah 43 ekor. Frekuensi tertinggi terdapat pada daerah Domas dengan jumlah 59 ekor. Hal tersebut diduga terkait kondisi lingkungan pada pengamatan didaerah Mauk yang kurang mendukung peningkatan populasi ikan payus. Dibuktikan oleh kondisi hutan mangrove (Nursery ground) didaerah tersebut cukup memprihatinkan akibat degradasi lingkungan. Dominguez et al. (2012) diacu dalam Jukri et al. (2013) menyatakan bahwa jika adanya tekanan antropogenik di wilayah estuari dan pesisir dapat menyebabkan terjadinya degradasi habitat yang akan mempenga (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: https://jurnal.untirta.ac.id/index.php/jpk/article/download/1058/842
Article home page: https://jurnal.untirta.ac.id/index.php/jpk/article/view/1058/842

Nico Sonyenzellnd, Mustahal Mustahal, Haryati Sakinah. Effect of Prebiotic in Commercial Feed on the Growth of Catfish (Pangasius sp.), JOURNAL OF DEVELOPING ENGLISH AND LANGUAGE TEACHING, 2017,