Environmental Education to Improve Students' Ecoliteracy
Jurnal Ilmiah Kanderang Tingang
Vol.15 No.1 Januari-Juni 2024
FKIP Universitas Palangka Raya
ISSN 2087-166X (printed)
ISSN 2721-012X (online)
DOI: https://doi.org/10.37304/jikt.v15i1.302
Pendidikan Lingkungan Hidup
Untuk Meningkatkan Ecoliteracy Siswa
Yossita Wisman(1), Joko Santoso(2)
1
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Palangka Raya, Indonesia
2
STAB Boddhi Dharma, Indonesia
Email: ,
Diterima:07-01-2024; Disetujui:08-02-2024; Dipublikasi:11-02-2024
ABSTRAK
Seiring berjalannya waktu pertambahan jumlah penduduk semakin meningkat. Dengan semakin
meningkatnya jumlah penduduk tersebut sehingga menyebabkan masalah lingkungan. Masalah
lingkungan terjadi akibat semakin serakahnya manusia mengeksploitasi alam. Manusia sudah tidak
memikirkan lagi dampak- dampak dari pengeksploitasian yang mereka lakukan. Seiring dengan
terjadinya masalah tersebut maka diadakan pendidikan lingkungan hidup di sekolah. Tujuannya
adalah dengan adanya pendidikan lingkungan hidup ini di harapkan siswa lebih memahami tentang
bagaimana lingkungan mereka, tentang apa dampak yang akan terjadi jika mereka mengeksploitasi
alam secara berlebihan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pendidikan
lingkungan hidup di dalam meningkatkan ecoliteracy. Metode dalam penelitian ini adalah library
research (penelitian kepustakaan). Hasilnya adalah dengan adanya pendidikan lingkungan hidup di
sekolah dapat meningkatkan kompetensi ecoliteracy siswa.
Kata Kunci: Pendidikan, Lingkungan Hidup, Ecoliteracy
PENDAHULUAN
Bumi merupakan planet yang di huni berbagai makhluk hidup, di antara
makhluk hidup di bumi adalah tumbuh-tumbuhan, hewan dan manusia. Segala
kehidupan makhluk yang ada di bumi saling ketergantungan satu sama lain.
Misalnya, manusia dalam mempertahankan hidupnya memerlukan tumbuhan dan
hewan untuk di konsumsi, hewan memerlukan manusia untuk menjaga lingkungan
agar habitat hewan tidak rusak, karena selama ini yang merusak habitat hewan di
hutan adalah manusia. Menurut Barlia (2008:1) “andaikan manusia punah dari
muka bumi, mungkin tidak akan terlalu berpengaruh terhadap spesies makhluk
hidup lain, tetapi kalau tumbuhan dan hewan punah, maka manusia pun ikut
punah”. Dari hal ini kita bisa melihat betapa pentingnya hubungan antara manusia
dan lingkungan alamnya. Jika manusia tidak peduli pada keadaan alamnya maka
manusia akan merugi. Salah satu kerugian yang didapat oleh manusia akibat
mengeksploitasi alam adalah bencana.
Peningkatan jumlah dan kebutuhan penduduk dapat menimbulkan
permasalahan lingkungan hidup. Semakin cepatnya pertumbuhan penduduk yang
disertai dengan perkembangan teknologi serta peningkatan standar kehidupan
menjadi penyebab meningkatnya kebutuhan terhadap sumber daya alam (Kayihan
29
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0
International License. Copyright Ⓒ Author.
Jurnal Ilmiah Kanderang Tingang
Vol.15 No.1 Januari-Juni 2024
FKIP Universitas Palangka Raya
ISSN 2087-166X (printed)
ISSN 2721-012X (online)
DOI: https://doi.org/10.37304/jikt.v15i1.302
dan Tonuk, 2013). Semakin meningkatnya kemampuan manusia untuk melakukan
intervensi terhadap alam, semakin besar pula perubahan yang terjadi pada
lingkungan (Soemarwoto, 2004). Jadi selain karena perilaku manusia, kebutuhan
manusia yang semakin meningkat terhadap sumber daya alam juga berpengaruh
terhadap keseimbangan ekosistem dan akibatnya dapat menyebabkan kerusakan
lingkungan. Berdasarkan hal ini dapat diketahui bahwa kerusakan alam yang
terjadi dalam beberapa dekade terakhir ini sangat dipengaruhi oleh perilaku
manusia dalam mengeksploitasi sumber daya alam untuk memenuhi kebutuhan
hidup dan kesalahan dalam pola pembangunan.
Berhubungan dengan hal tersebut, untuk menjaga keselarasan, keharmonisan
dan kesinambungan dengan alam sungguh terbalik dengan kenyataan yang ada saat
ini. Pada kenyataannya alam saat ini dianggap sebagai obyek kehidupan yang terus
menerus di eksploitasi oleh manusia. Manusia tidak memikirkan akibat yang
ditimbulkan oleh pengeksploitasian mereka terhadap alam akan mengancam
generasi manusia berikutnya. Jika alam rusak, maka tidak ada lagi sumber
penghidupan oleh manusia.
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana
belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan
potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya,
masyarakat, bangsa dan negara (UU Sisdiknas, 2003). Pendidikan merupakan
wahana yang paling tepat dalam memberikan pengetahuan, keterampilan, dan sikap
tentang kepedulian lingkungan kepada manusia.
Menurut Barlia (2008:3) “pendidikan lingkungan hidup harus dapat
mendidik individu-individu yang responsif terhadap laju perkembangan teknologi,
memahami masalah-masalah di biosfer, dan berketerampilan siap guna yang
produktif untuk menjaga dan mempertahankan kelestarian alam”. Hal ini, melalui
proses pendidikan diharapkan dapat membantu setiap siswa sebagai anggota
masyarakat akan kesadaran dan kepekaan terhadap permasalahan lingkungan
hidup. Pendidikan berperan serta dalam menjaga lingkungan, pendidikan
lingkungan hidup melalui pendidikan ditunjukkan dengan adanya kerja sama
antara Kementrian Negara Lingkungan Hidup pada tahun 2006 mencanangkan
Program Adiwiyata sebagai tindak lanjut dari nota kesepahaman (memorandum of
understanding) pada tanggal 3 Juni 2005antara Menteri Negara Lingkungan Hidup
dan Menteri Pendidikan Nasional.
Pendidikan lingkungan hidup (PLH) diperlukan dalam penanganan masalah
tersebut. Dengan diadakannya PLH di sekolah diharapkan akan meningkatkan
kesadaran dan kepedulian siswa dalam menjaga lingkungan hidupnya. PLH dapat
di integrasikan melalui bidang studi di sekolah, dapat dilaksanakan dengan
pendekatan interdisipliner, multidisipliner dan transdisipliner di sekolah (Barlia,
2008:82). PLH mempengaruhi sikap siswa terhadap lingkungan menjadi lebih
baik di sekolah adiwiyata (Aprianto, 2023).
30
Jurnal Ilmiah Kanderang Tingang
Vol.15 No.1 Januari-Juni 2024
FKIP Universitas Palangka Raya
ISSN 2087-166X (printed)
ISSN 2721-012X (online)
DOI: https://doi.org/10.37304/jikt.v15i1.302
PLH memasukkan aspek afektif yaitu tingkah laku, nilai dan komitmen yang
diperlukan untuk membangun masyarakat yang berkelanjutan (sustainable).
Pencapaian tujuan afektif ini biasanya sukar dilakukan. Oleh karena itu, dalam
pembelajaran guru perlu memasukkan metode-metode yang memungkinkan
berlangsungnya klarifikasi dan internalisasi nilai-nilai. Dalam PLH perlu
dimunculkan atau dijelaskan bahwa dalam kehidupan nyata memang selalu
terdapat perbedaan nilai-nilai yang dianut oleh individu. Perbedaan nilai tersebut
dapat mempersulit untuk derive the fact, serta dapat menimbulkan
kontroversi/pertentangan pendapat. Oleh karena itu, PLH perlu memberikan
kesempatan kepada siswa untuk membangun ketrampilan yang dapat
meningkatkan kemampuan memecahkan masalah.
Berdasarkan hal ini penuli (...truncated)