Peningkatan Teknik Gerak Senam Ritmik Nomor Hoop Melalui Metode Bermain Pada Siswa
Volume 3 Nomor 1November 2022
JURNAL DUNIA PENDIDIKAN
https://jurnal.stokbinaguna.ac.id/index.php/JURDIP
E-ISSN: 2746-8674
Peningkatan Teknik Gerak Senam Ritmik Nomor Hoop Melalui Metode Bermain
Pada Siswa
Suriah Hanafi1, Hikmad Hakim2, Sahabuddin3
1,2,3Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Makassar
Jl. Wijaya Kusuma Raya No. 14 (Kampus FIK Banta-Bantaeng) Makassar, Sulawesi
Selatan 90222
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan teknik gerak senam ritmik nomor hoop melalui
metode bermain. Penelitian ini adalah penelitian tindakan olahraga. Subjek penelitian adalah siswa
kelas VIII.3 di SMP Negeri 2 Makassar, yang berjumlah 30 orang terdiri dari 11 orang siswa laki-laki
dan 11 orang perempuan. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif. Hasil
penelitian menyimpulkan bahwa: ada peningkatan teknik gerak senam ritmik nomor hoop melalui
metode bermain. Selanjutnya penelitian ini menyimpulkan bahwa melalui metode bermain dapat
meningkatkan teknik gerak senam ritmik nomor hoop pada siswa kelas VII.2 di SMP Negeri 2
Makassar.
Kata Kunci:Senam Ritmik, Hoop, Metode Bermain
PENDAHULUAN
Senam merupakan aktifitas fisik yang dapat membantu secara mengoptimalkan
perkembangan anak(Morni et al., 2016). Gerakan-gerakan senam sangat sesuai untuk
mendapat penekanan di dalam program pendidikan jasmani, terutama karena tuntutan
fisik yang dipersyaratkannya(G. W. Setiawan, 2013). Di samping itu, senam juga besar
sumbangannya pada perkembangan gerak dasar fundamental yang penting bagi aktifitas
fisik cabang olahraga lain, terutama dalam hal bagaimana mengontrol sikap dan gerak
efektif dan efesien(Arifin, 2018).Dalam senam kependidikan, anak belajar pada
tingkatannya masing-masing, untuk mengembangkan pengertian dan keterampilan dalam
menerapkan konsep-konsep gerak(Wulandari, 2014). Berbeda dengan senam kompetetif,
senam kependidikan tidak terlalu terpaku pada penguasaan keterampilan formal yang ada
dalam salah satu disiplin senam(Titting, Fellyson, Hidayah, Taufik, Pramono, 2016). Semua
keterampilan itu hanya dipakai untuk meningkatkan penguasaan anak pada tubuhnya
sendiri. Dengan demikian, senam yang dilaksanakan di luar dari proses kependidikan
secara formal, berarti arahnya lebih pada pencapaian prestasi(Priyambada et al.,
24
Peningkatan Teknik Gerak Senam Ritmik Nomor Hoop Melalui Metode Bermain Pada Siswa
Suriah Hanafi1, Hikmad Hakim2, Sahabuddin3
2016).Senam merupakan cabang olahraga yang dicirikan oleh kemampuan gerak yang
sangat unik. Dilihat dari taksonomi gerak umum, senam bisa secara lengkap diwakili oleh
gerak-gerak dasar yang membangun pola gerak yang lengkap, dari mulai pola gerak
lokomotor, nonlokomotor, sekaligus manipulatif(Semarayasa, 2010). Sedangkan bila
ditinjau dari klasifikasi keterampilannya, senam bisa dimasukkan menjadi keterampilan
diskrit sekaligus serial jika sudah berupa rangkaian(Prasetyo & Sunarti, 2016).
Hakekat karakteristik dan struktur geraknya, senam dianggap kegiatan fisik yang
sangat cocok untuk mengembangkan kualitas motorik dan kualitas fisik anak secara
sekaligus(Widowati & Rasyono, 2013). Ini dilihat dari kandungan pola gerak lokomotor, yang
dianggap mampu meningkatkan aspek kekuatan, kecepatan, power, serta sekaligus daya tahan
umum dan khusus, di samping tentu saja membangun kelincahan serta keseimbangan
dinamis(Sahabuddin & Hakim, 2019). Dihubungkan dengan pola gerak nonlokomotor yang
dikandungnya, senam mampu meningkatkan aspek kekuatan, kelentukan dan keseimbangan
statis(Sari et al., 2018). Dari banyaknya anak terlibat dalam kegiatan-kegiatan manipulatif
seperti melempar dan menangkap, anak juga dibangun kemampuan koordinasi serta potensi
pengolahan rangsangan pada pusat kesadarannya(Nisa & Suwardi, 2019).
Dari penguraian dan penjelasan dapat menjadi permasalahan; apakah siswa yang
ada di sekolah dapat melakukan sebuah gerakan pada senam dengan baik? Bagaimana pula
dengan adanya gerakan yang baru pada senam? Benarkah bahwa kemampuan gerak dasar
yang dimiliki setiap siswa dapat memiliki kontribusi yang baik terhadap senam yang
dilakukan?
Secara analisa bahwa senam merupakan cabang olahraga yang sangat memerlukan
kemampuan atau kualitas motorik(Hadjarati & Haryanto, 2020). Bayangkan jika pesenam
tidak memiliki kemampuan mendeteksi tubuhnya, pasti akibatnya fatal karena bisa jadi
akan mendarat salah salto dengan kepalanya, bukan dengan kakinya. Demikian pula dalam
penampilannya di nomor alat, dimana harus menangkap kembali alat yang dipegangnya
setelah melakukan putaran di udara(Syahrial, 2015). Jika dirinya tidak dapat mengontrol
kesadarannya, akan dapat saja gagal melakukannya, yang berakibat pada gagalnya gerakan
yang dilakukan, disamping bisa juga menyebabkan cedera(Siswanto, 2013).
Senam
ritmik
merupakan
senam
yang
menggunakan
berupa
alat
dan
musik(Sulistyowati, 2020). Salah satu nomor alat yang ada pada senam ritmik adalah alat
25
Peningkatan Teknik Gerak Senam Ritmik Nomor Hoop Melalui Metode Bermain Pada Siswa
Suriah Hanafi1, Hikmad Hakim2, Sahabuddin3
hoop (simpai)(Afni et al., 2018). Dan alat hoop tersebut telah dilaksanakan di sekolahsekolah(Mubin, 2018). Oleh karena itu, guru perlu memiliki sebuah proses pembelajaran
yang lebih efektif untuk memahami teknik gerak pada alat tersebut(Asri et al., 2022). Salah
satu metode pembelajaran yang perlu dilaksanakan agar setiap siswa merasa senang dan
gembira untuk bergerak adalah metode pembelajaran bermain(As’andira et al., 2021).
Pendekatan bermain adalah salah satu bentuk dari sebuah pembelajaran jasmani
yang dapat diberikan di segala jenjang pendidikan. Hanya saja, porsi dan bentuk
pendekatan bermain yang akan diberikan, harus disesuaikan dengan aspek yang ada dalam
kurikulum. Selain itu harus dipertimbangkan juga faktor usia, perkembangan fisik, dan
jenjang pendidikan yang sedang dijalani oleh mereka(Sahabuddin et al., 2022). Model
pembelajaran bermain erat kaitannya dengan perkembangan imajinasi perilaku yang
sedang bermain, karena melalui daya imajinasi, maka permainan yang akan berlangsung
akan jauh lebih meriah(Kurniawan & Hartati, 2016). Oleh karena itu sebelum melakukan
kegiatan, maka guru pendidikan jasmani, sebaiknya memberikan penjelasan terlebih
dahulu kepada siswinya majinasi tentang permainan yang akan dilakukannya(Lesmana,
2018). Pendekatan model bermain adalah suatu proses penyampaian pengajaran dalam
bentuk bermain tanpa mengabaikan materi inti(Bismar & Sahabuddin, 2019). Bermain
yang dimaksukan disini adalah kegiatan atau aktifitas yang materinya disesuaikan dengan
standar kompetensi dalam kurikulum(Gunawan, 2016). Pembelajaran model bermain
dapat digunakan untuk mengajar atletik, senam dan permainan olahraga lainnya yang ada
hubunganya dengan pendidikan jasmani di dalam kurikulum yang dirancang melalui
rencana pengajaran(Maulana et al., 2020).
Pelajaran pendidikan jasmani di sekolah bukan mengejar prestasi (aspek skill) tetapi
menyalurkan dorongan-dorongan untuk aktif bermain(Saputra et al., 2018). Pendidikan
(...truncated)