Analisis Kemampuan Berpikir Kritis Matematis menggunakan Pendekatan Blended Learning pada Siswa Kelas VIIB Di SMP Negeri 6 Lembor

Jurnal Ilmiah Pendidikan Matematika Al Qalasadi, Jun 2024

The background to this research is based on observations of students at SMP Negeri 6 Lembor, East Nusa Tenggara, where mathematical critical thingking abilities were still low. Data collection techniques include test results, interviews, and documentation. This data collection used critical thingking ability tests and interviews with twenty students from class 7B, even during the semester of the 2021/2022 academic year. Data analysis techniques use data reduction, data presentation, and concluding students' critical thinking skills in solving mathematical problems using the Blended Learning approach. The results showed that students with critical thinking skills in the 'low' category were only able to fulfill one indicator and did not fulfill all of them because they had not been able to understand the meaning of the problem, formulate concepts, write solutions, and draw conclusions properly and correctly. Students with 'medium' critical thinking skills can meet 2 to 3 indicators because they can only choose the right solution strategy but are still wrong and make mistakes in their calculations. In contrast, students with 'high' critical thinking skills meet all ability indicators—critical thinking. Because students can choose a solution strategy and give reasons related to the chosen strategy wholly and correctly, it can be concluded that as many as 80% can think critically in the 'low' category, as much as 10% can think critically in the 'medium' category, and 10% can think critically in the 'high' category.

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

https://journal.iainlangsa.ac.id/index.php/qalasadi/article/download/7574/3110

Analisis Kemampuan Berpikir Kritis Matematis menggunakan Pendekatan Blended Learning pada Siswa Kelas VIIB Di SMP Negeri 6 Lembor

P-ISSN : 2579-9185 E-ISSN : 2656-0852 Jurnal Ilmiah Pendidikan Matematika Al-Qalasadi Vol. 8, No. 1, Juni 2024, pp. 102-112 doi: 10.32505/qalasadi.v8i1.7574 ANALISIS KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS MATEMATIS MENGGUNAKAN PENDEKATAN BLENDED LEARNING PADA SISWA KELAS VIIB DI SMP NEGERI 6 LEMBOR Laurensius Jangko1; Timbul Yuwono2 1,2 Universitas PGRI Kanjuruhan Malang, Jl. S. Supriadi 48, Malang, Indonesia Email: (Corresponding Author) Received: 12 Desember 2023 Accepted: 3 Juni 2024 Published: 30 Juni 2024 Abstrak Latar belakang penelitian ini berdasarkan observasi di siswa SMP Negeri 6 Lembor, Nusa Tenggara Timur ditemukan kemampuan berfikir kritis matematis yang masih rendah. Teknik pengumpulan data berupa hasil tes, wawancara, dan dokumentasi. Pengumpulan data ini menggunakan tes kemampuan berfikir kritis dan wawancara dari dua puluh siswa dari kelas 7B semester genap tahun ajaran 2021/2022. Teknik analisis data menggunakan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan kemampuan berpikir kritis siswa dalam memecahkan masalah matematika menggunakan pendekatan Blended Learning. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa berkemampuan berpikir kritis dalam kategori rendah hanya mampu memenuhi 1 indikator bahkan tidak memenuhi semuanya yang disebabkan karena belum mampu memahami maksud permasalahan, merumuskan konsep, menulis solusi dan menarik kesimpulan. Siswa dengan mempunyai kemampuan berpikir kritis tingkat sedang mampu memenuhi 2 sampai 3 indikator hal ini dikarenakan siswa hanya mampu memilih strategi solusi yang tepat namun masih keliru dan melakukan kesalahan dalam perhitungannya, dan sedangkan siswa berkemampuan berpikir kritis tingkat tinggi memenuhi semua indikator kemampuan berpikir kritis. karena siswa mampu memilih strategi solusi dan memberikan alasan terkait strategi yang dipilih dengan benar dan lengkap. Sehingga dapat disimpulkan sebanyak 80% berkemampuan berpikir kritis kategori rendah, sebanyak 10% berkemampuan berpikir kritis kategori sedang dan 10% berkemampuan berpikir kritis kategori tinggi. Kata Kunci: Kemampuan Berpikir Kritis Matematis, Blended Learning Abstract The background to this research is based on observations of students at SMP Negeri 6 Lembor, East Nusa Tenggara, where mathematical critical thingking abilities were still low. Data collection techniques include test results, interviews, and documentation. This data collection used critical thingking ability tests and interviews with twenty students from class 7B, even during the semester of the 2021/2022 academic year. Data analysis techniques use data reduction, data presentation, and concluding students' critical thinking skills in solving mathematical problems using the Blended Learning approach. The results showed that students with critical thinking skills in the low category were only able to fulfill one indicator and did not fulfill all of them because they had not been able to understand the meaning of the problem, formulate concepts, write solutions, and draw conclusions properly and correctly. Students with medium critical thinking skills can meet 2 to 3 indicators because they can only choose the right solution strategy but are still wrong and make mistakes in their calculations. In contrast, students with high critical thinking skills meet all ability indicators-critical thinking. Because students can choose a solution strategy and give reasons related to the chosen strategy wholly and correctly, it can be concluded that as many as 80% can think critically in the low category, as much as 10% can think critically in the medium category, and 10% can think critically in the high category. Keywords: Mathematical Critical Thinking Ability, Blended Learning This is an open access article distributed under the Creative Commons Attribution License, which permits unrestricted use, distribution, and reproduction in any medium, provided the original work is properly cited. ©2019 by author. ------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- 102 103 Jurnal Ilmiah Pendidikan Matematika Al-Qalasadi, Vol. 8, No. 1, Juni 2024, pp. 102-112 Pendahuluan Matematika merupakan mata pelajaran sangat diperlukan siswa untuk melatih keterampilan berpikir kritisnya dalam memahami masalah, merencanakan pemecahan masalah, menyelesaikan model matematika, serta menjelaskan solusi yang telah diperoleh. Berpikir kritis merupakan keahlian perorangan untuk benar-benar mendeskripsikan sebuah perbuatan dan tindakan yang diperolehnya. Hal ini bisa membantu individu dalam mengevaluasi setiap tindakan dan keputusan yang mereka kerjakan sehingga dalam tindakan yang dikerjakan tidak mengalami kesalahan (Imamuddin et al., 2019). Berpikir Kritis Matematis adalah sebuah dasar dalam proses berpikir untuk mendeskripsikan argumentasi sehingga menghasilkan suatu produk berupa ide-ide bermakna dalam mengembangkan pola pikir yang logis (Hidyat & Prabawanto, 2018). Selain kemampuan berpikir kritis, kemampuan memecahkan masalah juga harus dimiliki seorang siswa. Kusmanto (2014) mengatakan bahwa kemampuan pemecahan masalah matematis dapat mempengaruhi kemampuan berpikir kritis siswa. Pola berpikir kritis yang telah terbentuk pada diri siswa dapat memudahkannya dalam memproses setiap tahapan pemecahan masalah matematika. Harapannya adalah dengan adanya kemampuan berpikir kritis, siswa mampu memecahkan masalah dan bertahan menghadapi kelajuan perkembangan teknologi yang semakin meningkat saat ini di Indonesia 4.0 (Tresnawati et al., 2017). Dengan demikian, guru diharapkan memanfaatkan salah satu model pembelajaran dan pendekatan yang efektif dalam pembelajaran matematika salah satunya dengan menggunakan pendekatan Blended Learning. Blended Learning adalah kombinasi dua lingkungan belajar, yaitu pembelajaran tatap muka dalam lingkungan tradisional, dan pembelajaran terdistribusi yang mulai tumbuh dan berkembang secara eksponensial sebagai teknologi baru yang kemungkinan akan diperluas untuk berbagi komunikasi dan interaksi (Sudrajat et al., 2018). Proses pembelajaran di Indonesia lewat dunia internet terbagi menjadi dua yaitu online dan offline, artinya digunakan bersama di dalam kelas (Aziz et al., 2020). Ciri khasnya adalah pembelajaran dilakukan tidak hanya di dalam kelas seperti biasa tetapi dipadukan dengan dunia maya atau disebut kelas virtual. Perpaduan antara pembelajaran di dunia nyata dan dunia maya inilah yang kemudian dikenal dengan istilah hybrid learning atau blended learning (Sulistiono, 2019). Blended learning bentuk pembelajaran yang menggabungkan pembelajaran tatap muka dan pembelajaran jarak jauh menggunakan sumber belajar online. Menurut Al Aslamiyah et al (2019) blended learning merupakan media yang mampu dengan baik dalam menggabungkan pembelajaran offline dan online. Penerapan blended learning mampu mengurangi masalah pembelajaran umum yang kurang memberikan karakteristik siswa yang beragam. Blended learning juga mampu mempers (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: https://journal.iainlangsa.ac.id/index.php/qalasadi/article/download/7574/3110
Article home page: https://journal.iainlangsa.ac.id/index.php/qalasadi/article/view/7574/3110

Jangko Laurensius, Yuwono Timbul. Analisis Kemampuan Berpikir Kritis Matematis menggunakan Pendekatan Blended Learning pada Siswa Kelas VIIB Di SMP Negeri 6 Lembor, Jurnal Ilmiah Pendidikan Matematika Al Qalasadi, 2024, pp. 102-112,