Analisis Kemampuan Berpikir Kritis Matematis menggunakan Pendekatan Blended Learning pada Siswa Kelas VIIB Di SMP Negeri 6 Lembor
P-ISSN : 2579-9185
E-ISSN : 2656-0852
Jurnal Ilmiah Pendidikan Matematika Al-Qalasadi
Vol. 8, No. 1, Juni 2024, pp. 102-112
doi: 10.32505/qalasadi.v8i1.7574
ANALISIS KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS MATEMATIS
MENGGUNAKAN PENDEKATAN BLENDED LEARNING PADA SISWA
KELAS VIIB DI SMP NEGERI 6 LEMBOR
Laurensius Jangko1; Timbul Yuwono2
1,2 Universitas
PGRI Kanjuruhan Malang, Jl. S. Supriadi 48, Malang, Indonesia
Email: (Corresponding Author)
Received: 12 Desember 2023
Accepted: 3 Juni 2024
Published: 30 Juni 2024
Abstrak
Latar belakang penelitian ini berdasarkan observasi di siswa SMP Negeri 6 Lembor, Nusa Tenggara
Timur ditemukan kemampuan berfikir kritis matematis yang masih rendah. Teknik pengumpulan data
berupa hasil tes, wawancara, dan dokumentasi. Pengumpulan data ini menggunakan tes kemampuan
berfikir kritis dan wawancara dari dua puluh siswa dari kelas 7B semester genap tahun ajaran
2021/2022. Teknik analisis data menggunakan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan
kemampuan berpikir kritis siswa dalam memecahkan masalah matematika menggunakan pendekatan
Blended Learning. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa berkemampuan berpikir kritis dalam
kategori rendah hanya mampu memenuhi 1 indikator bahkan tidak memenuhi semuanya yang
disebabkan karena belum mampu memahami maksud permasalahan, merumuskan konsep, menulis
solusi dan menarik kesimpulan. Siswa dengan mempunyai kemampuan berpikir kritis tingkat sedang
mampu memenuhi 2 sampai 3 indikator hal ini dikarenakan siswa hanya mampu memilih strategi
solusi yang tepat namun masih keliru dan melakukan kesalahan dalam perhitungannya, dan
sedangkan siswa berkemampuan berpikir kritis tingkat tinggi memenuhi semua indikator kemampuan
berpikir kritis. karena siswa mampu memilih strategi solusi dan memberikan alasan terkait strategi
yang dipilih dengan benar dan lengkap. Sehingga dapat disimpulkan sebanyak 80% berkemampuan
berpikir kritis kategori rendah, sebanyak 10% berkemampuan berpikir kritis kategori sedang dan 10%
berkemampuan berpikir kritis kategori tinggi.
Kata Kunci: Kemampuan Berpikir Kritis Matematis, Blended Learning
Abstract
The background to this research is based on observations of students at SMP Negeri 6 Lembor, East
Nusa Tenggara, where mathematical critical thingking abilities were still low. Data collection
techniques include test results, interviews, and documentation. This data collection used critical
thingking ability tests and interviews with twenty students from class 7B, even during the semester of
the 2021/2022 academic year. Data analysis techniques use data reduction, data presentation, and
concluding students' critical thinking skills in solving mathematical problems using the Blended
Learning approach. The results showed that students with critical thinking skills in the low category
were only able to fulfill one indicator and did not fulfill all of them because they had not been able to
understand the meaning of the problem, formulate concepts, write solutions, and draw conclusions
properly and correctly. Students with medium critical thinking skills can meet 2 to 3 indicators because
they can only choose the right solution strategy but are still wrong and make mistakes in their
calculations. In contrast, students with high critical thinking skills meet all ability indicators-critical
thinking. Because students can choose a solution strategy and give reasons related to the chosen strategy
wholly and correctly, it can be concluded that as many as 80% can think critically in the low category,
as much as 10% can think critically in the medium category, and 10% can think critically in the high
category.
Keywords: Mathematical Critical Thinking Ability, Blended Learning
This is an open access article distributed under the Creative Commons Attribution License, which permits unrestricted use, distribution, and
reproduction in any medium, provided the original work is properly cited. ©2019 by author.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
102
103
Jurnal Ilmiah Pendidikan Matematika Al-Qalasadi, Vol. 8, No. 1, Juni 2024, pp. 102-112
Pendahuluan
Matematika merupakan mata pelajaran sangat diperlukan siswa untuk melatih
keterampilan berpikir kritisnya dalam memahami masalah, merencanakan pemecahan
masalah, menyelesaikan model matematika, serta menjelaskan solusi yang telah diperoleh.
Berpikir kritis merupakan keahlian perorangan untuk benar-benar mendeskripsikan sebuah
perbuatan dan tindakan yang diperolehnya. Hal ini bisa membantu individu dalam
mengevaluasi setiap tindakan dan keputusan yang mereka kerjakan sehingga dalam tindakan
yang dikerjakan tidak mengalami kesalahan (Imamuddin et al., 2019). Berpikir Kritis
Matematis adalah sebuah dasar dalam proses berpikir untuk mendeskripsikan argumentasi
sehingga menghasilkan suatu produk berupa ide-ide bermakna dalam mengembangkan pola
pikir yang logis (Hidyat & Prabawanto, 2018).
Selain kemampuan berpikir kritis, kemampuan memecahkan masalah juga harus
dimiliki seorang siswa. Kusmanto (2014) mengatakan bahwa kemampuan pemecahan
masalah matematis dapat mempengaruhi kemampuan berpikir kritis siswa. Pola berpikir
kritis yang telah terbentuk pada diri siswa dapat memudahkannya dalam memproses setiap
tahapan pemecahan masalah matematika. Harapannya adalah dengan adanya kemampuan
berpikir kritis, siswa mampu memecahkan masalah dan bertahan menghadapi kelajuan
perkembangan teknologi yang semakin meningkat saat ini di Indonesia 4.0 (Tresnawati et al.,
2017). Dengan demikian, guru diharapkan memanfaatkan salah satu model pembelajaran dan
pendekatan yang efektif dalam pembelajaran matematika salah satunya dengan
menggunakan pendekatan Blended Learning.
Blended Learning adalah kombinasi dua lingkungan belajar, yaitu pembelajaran tatap
muka dalam lingkungan tradisional, dan pembelajaran terdistribusi yang mulai tumbuh dan
berkembang secara eksponensial sebagai teknologi baru yang kemungkinan akan diperluas
untuk berbagi komunikasi dan interaksi (Sudrajat et al., 2018). Proses pembelajaran di
Indonesia lewat dunia internet terbagi menjadi dua yaitu online dan offline, artinya
digunakan bersama di dalam kelas (Aziz et al., 2020). Ciri khasnya adalah pembelajaran
dilakukan tidak hanya di dalam kelas seperti biasa tetapi dipadukan dengan dunia maya atau
disebut kelas virtual. Perpaduan antara pembelajaran di dunia nyata dan dunia maya inilah
yang kemudian dikenal dengan istilah hybrid learning atau blended learning (Sulistiono, 2019).
Blended learning bentuk pembelajaran yang menggabungkan pembelajaran tatap muka
dan pembelajaran jarak jauh menggunakan sumber belajar online. Menurut Al Aslamiyah et
al (2019) blended learning merupakan media yang mampu dengan baik dalam menggabungkan
pembelajaran offline dan online. Penerapan blended learning mampu mengurangi masalah
pembelajaran umum yang kurang memberikan karakteristik siswa yang beragam. Blended
learning juga mampu mempers (...truncated)