Improvisasi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Pada Masa Transisi
IQRO: Journal of Islamic Education
Desember 2020, Vol.3, No.2, hal.119-134
ISSN(P): 2622-2671; ISSN(E): 2622-3201
©2020 Pendidikan Agama Islam IAIN Palopo. http://ejournal.iainpalopo.ac.id/index.php/iqro
Improvisasi Pembelajaran Pendidikan Agama
Islam
Dinil Abrar Sulthani
Universitas Islam Jakarta
Abstract
This article was written to explain the importance of improvising learning during the transition
period. The transition period brings changes in all lines of human life, including in the field of
education. Educational institutions need to organize interesting learning and creations for students.
The effort made is learning improvisation. In learning Islamic Religious Education, teachers need
to improvise learning so that teaching materials are accepted by students easily. This article aims
to review various improvisations that can be carried out by education providers. This thought
writing uses the literature method with a qualitative descriptive analysis approach. The results of
this study emphasize; 1) Islamic Religious Education means the concept of religious teachings that
every student needs to learn, 2) Islamic Religious Education material should be made attractive
during the transition period, and 3) Learning Islamic Religious Education requires the meaning of
evaluation which is oriented towards the study and analysis of the teaching and learning process.
The conclusion of this article that learning improvisation can be carried out by; 1) Packaging the
material simply, 2) Providing learning feedback, and 3) Confirming the learning process of students.
Keywords: Transition periode, improvisation, Islamic Religious Education, Student
Abstrak
Tulisan pikiran ini dibuat untuk menjelaskan pentingnya improvisasi pembelajaran pada
masa transisi. Masa transisi membawa pengaruh perubahan bagi semua lini kehidupan
manusia, termasuk dalam bidang pendidikan. Lembaga pendidikan perlu menyelenggarakan
pembelajaran yang menarik dan kreasi bagi peserta didik. Upaya yang dilakukan adalah
improvisasi pembelajaran. Dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam, guru perlu
melakukan improvisasi pembelajaran agar materi ajar diterima peserta didik dengan mudah.
Tulisan ini bertujuan untuk mengulas berbagai improvisasi yang dapat dilaksanakan oleh
penyelenggara pendidikan. Tulisan pikiran ini menggunakan metode kepustakaan dengan
pendekatan kualitatif analisis deskripsi. Hasil dari kajian ini menekankan pada; 1)Pendidikan
Agama Islam bermakna pada konsep ajaran agama yang perlu dipelajari oleh setiap peserta
didik, 2)Materi Pendidikan Agama Islam hendaknya dibuat menarik pada masa transisi, dan
3)Pembelajaran Pendidikan Agama Islam mensyaratkan makna evaluasi yang berorientasi
pada kajian dan analisis dari proses belajar mengajar. Kesimpulan tulisan ini improvisasi
pembelajaran dapat dilaksanakan dengan; 1)Mengemas materi dengan sederhana,
2)Memberikan feed-back pembelajaran, dan 3) Mengonfirmasi proses belajar mengajar
peserta didik.
Kata Kunci: Masa transisi, Improvisasi, Pendidikan Agama Islam, Peserta didik
120 |Dinil Abrar Sulthani/ IQRO: Journal of Islamic Education Vol. 3, No.2, Desember 2020. 119–134
Pendahuluan
Indonesia pada masa sekarang sedang berproses pada masa transisi
atau kenormalan baru. Perihal ini disebabkan wabah Covid-19 yang tengah
dihadapi seluruh negara di dunia. Adanya wabah ini menyebabkan seluruh
aktivitas kehidupan berubah total. Masyarakat yang biasanya dengan bebas
melakukan aktivitasnya, namun sekarang harus menjaga diri dari bahaya
covid-19. Secara khusus, pada aspek pendidikan juga mengalami perubahan
yang drastis. Perubahan arah dan arah proses pelaksanaan pembelajaran.
Pembelajaran yang biasanya disampaikan dengan tatap muka secara langsung
sempat berganti melalui media sosial.
Sebelumnya peserta didik datang ke sekolah, namun setelah wabah
covid-19 mereka tetap di rumah. Semua anggota masyarakat menjaga
kesehatan diri dan berupaya tidak menjadi bagian menularkan penyakit
kepada orang lain. Rencana masa transisi yang diterapkan pemerintah adalah
upaya untuk mengembalikan rutinitas kehidupan dengan secara perlahan.
Tentu, protokol kesehatan tetap dijalankan dalam penerapan regulasi
tersebut. Begitu juga dalam bidang pendidikan, regulasi dan instruksi yang
dikeluarkan instansi pendidikan harus tetap sejalan dengan program
pemerintah.
Optimasi program ini menjadi salah satu agar proses pembelajaran
tetap berlangsung. Karena, pada dasarnya akses pendidikan harus tetap
diberikan kepada semua peserta didik. Akses terhadap pendidikan
memberikan informasi kepada publik tentang berapa banyak anak yang dapat
memanfaatkan fasilitas penddikan yang dibangun pemerintah dan
masyarakat.1 Upaya pemberian dan pelayanan pendidikan ini sejalan dengan
cita-cita luhur bangsa. Visi pendidikan Idonesia yang terdepan adalah
mencerdaskan kehidupan bangsa. Maka apapun situasi dan kondisi
pendidikan harus tetap berlanjut. Pendidikan harus berimprovisasi. Istilah
improvisasi adalah upaya untuk menyesuaikan gerak dan aktivitas dalam
proses belajar mengajar. Aktivitas yang dilakukan penyelenggara pendidikan
harus bisa mencari jalan keluar dari tantangan yang dihadapi.
Tentu, para penyelenggara pendidikan harus mengatur strategi dan
pola pelaksanaan belajar-mengajarnya. The teacher in giving the material of
learning, must be pointing out ways during the teaching process called learning
strategy.2 Secara khusus, dalam memaksimalkan peran Pendidikan Agama
Islam dalam masa transisi. Pendidikan Agama Islam yang menjadi bahasan di
sini adalah proses pelaksanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam di
setiap lembaga pendidikan. Pendidikan Agama Islam di Indonesia adalah
bersifat krusial atau penting. Agama di Indonesia cukup beragam, maka
peserta didik yang berasal dari berbagai penganut agama harus bisa
mendapatkan pelajaran agama dengan baik. Karena, pembelajaran agama
adalah pelajaran utama yang harus tertanam pada setiap peserta didik.
Indra Bastian, Akuntansi Pendidikan (Jakarta: Erlangga, 2006).
Abrar Sulthani, “Learning Strategy of Islamic Education in Upgrade of Learning
Quality,” Ta’dib: Jurnal Pendidikan Islam 6, no. 1 (2017): 147.
1
2 Dinil
Dinil Abrar Sulthani/ IQRO: Journal of Islamic Education Vol. 3, No.2, Desember 2020. 119–134 |121
Di dalam ajaran agama ditanamkan berbagai nilai-nilai kehidupan
yang dapat menjadi bekal peserta didik menjadi pribadi unggul. Pribadi unggul
adalah pribadi yang baik, mampu melakukan interaksi bersama-sama teman
sebaya atau kepada yang lebih tua dengan penuh etika dan kesopanan,
menyikapi segala persoalan dengan penuh pertimbangan dan menjalankan
segala sesuatu dengan penuh percaya diri dan menghindari hal-hal yang dapat
merugikan orang lain maupun dirinya.3 Semakin seseorang kuat pemahaman
agamanya maka akan semakin bagus akhlak budinya kepada yang lain.
Tujuan utama bersekolah bukan hanya sekedar menambah
pengetahuan. Tetapi juga menguatkan kepribadian diri sesuai dengan agama
yang dianutnya. Pendidikan Islam bukan hanya sekeda (...truncated)