Peningkatan Motivasi dan Hasil Belajar Melalui Metode Buzz Group
IQRO: Journal of Islamic Education
Desember 2019, Vol.2, No.2, hal.187 -206
ISSN(P): 2622-2671; ISSN(E): 2622-3201
©2019 Pendidikan Agama Islam IAIN Palopo. http://ejournal.iainpalopo.ac.id/index.php/iqro
Peningkatan Motivasi dan Hasil Belajar Melalui
Metode Buzz Group
Hardyanti Bahning
Prodi Pendidikan Agama Islam, IAIN Palopo
Email:
Abstract
This research supported by the lack of motivation and learning outcomes islamic education
students educated at. vocational schoolThe purpose of this research to know the learning
methods he continued to buzz can increase motivation and learning outcomes in learning.
islamic educationThis study research the act of class ( class room action research conducted ).
cycle as much asThe subject is the muslim students xi route tourism state 1 integrated luwu
ponrang 24. as the southData collection techniques used is, observation the survey and by using
an instrument shaped double. about choiceData analyzed using analysis. descriptiveThe analysis
of data observation students at cycle i obtained the average percentage of the students only
50.044 % ( low ) increased to percent of high 82.22 in cycle II. The spread of chief motivation
students on cycle i obtained the average the percentage motivation students only of 59,75 % (
being ) increased to 71.5 % ( high in cycle ii .Next based on hasi analysis student learning test
study results obtained the average students on pre cycle of 62.167 ( less of the total value 1492
with the ketuntasan klasikal is only 29.17 % , you are an increase of cycle i with the average score
of 67.667 ( less ) while the up 37.5
Keywords: Motivation, Learning outcomes, Buzz Group
Abstrak
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya motivasi dan hasil belajar pendidikan agama
Islam siswa yang menempuh pendidikan di sekolah kejuruan. Tujuan penelitian ini untuk
mengetahui Metode Pembelajaran Buzz dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar dalam
belajar pendidikan agama Islam. Penelitian ini penelitian tindakan kelas (Class Room Action
Research) yang dilaksanakan sebanyak dua siklus. Subjeknya siswa muslim Kelas XI Jurusan
Pariwisata SMK Negeri 1 Terpadu Luwu Ponrang Selatan yang berjumlah 24 orang. Teknik
pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, Angket dan dengan menggunakan
instrumen soal berbentuk pilihan ganda. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis
deskriptif. Hasil analisis data observasi siswa pada siklus I diperoleh rata-rata persentase
aktivitas siswa hanya sebesar 50.044% (rendah) mengalami peningkatan menjadi sebesar
82.22% (tinggi) pada siklus II. Penyebaran angket motivasi siswa pada siklus I diperoleh ratarata persentase motivasi siswa hanya sebesar 59,75% (sedang) mengalami peningkatan
menjadi 71.5% (tinggi) di siklus II. Selanjutnya berdasarkan hasi analisis tes belajar siswa
diperoleh rata-rata hasil belajar siswa pada pra siklus sebesar 62.167 (kurang) dari total nilai
1492 dengan persentase ketuntasan klasikal hanya sebesar 29.17%, selanjutnya mengalami
peningkatan pada siklus I dengan skor rata-rata sebesar 67.667 (kurang) dan persentase
ketuntasan klasikal 37.5.
Kata Kunci: Motivasi, Hasil Belajar, Buzz Group.
188 | Hardyanti Bahning / IQRO: Journal of Islamic Education Vol. 2, No.2, Desember 2019. 187–206
Pendahuluan
Seiring dengan perkembangan zaman orientasi pendidikan pun
berubah. Pendidikan sebelumnya hanya menitik beratkan pada penguasaan
materi semata dengan pembelajaran satu arah yaitu guru sebagai subjek
pembelajaran yakni pembelajaran yang berpusat
pada guru (Teacher
Centered Aproach). Sekarang sedikit demi sedikit proses pembelajaran seperti
itu mulai diubah. Di masa sekarang bukan lagi proses pembelajaran yang
berpusat pada guru, sehingga siswa tidak merasa bosan ketika belajar.
Dengan adanya inovasi pembelajaran seperti itu, maka mulai muncul
pemikiran bahwa siswa sebagai objek pembelajaran sekaligus dapat menjadi
subjek pembelajaran. Dalam hal ini, guru hanya menjadi fasilitator dalam
pembelajaran, siswa yang banyak berperan aktif dalam kegiatan
pembelajaran. Oleh karena itu, guru sebagai fasilitator dalam proses
pembelajaran harus pintar dalam memilih metode dan sarana pembelajaran.
Pemilihan tersebut harus sesuai dengan materi bahan ajar dan kondisi siswa
itu sendiri. Sehingga siswa akan merasa nyaman dan termotivasi dalam belajar
dan mampu meningkatkan hasil belajar siswa.
Selama proses pembelajaran, anak memerlukan motivasi. Peran
motivasi dalam memperjelas tujuan belajar, erat kaitannya dengan
pemaknaan belajar. Anak akan tertarik untuk belajar sesuatu jika yang
dipelajari itu sedikitnya sudah dapat diketahui dan dinikmati manfaatnya bagi
anak. Seorang anak yang telah termotivasi untuk belajar sesuatu, akan
berusaha mempelajarinya dengan baik dan tekun, dengan harapan
memperoleh hasil yang baik. Dalam hal itu, tampak motivasi untuk belajar
menyebabkan seseorang tekun belajar. Sebaliknya, apabila seseorang kurang
atau tidak memiliki motivasi untuk belajar, maka dia tidak tahan dalam
belajar. Dia mudah tergoda untuk mengerjakan hal yang lain dan bukan
belajar. Itu berarti motivasi sangat berpengaruh terhadap ketahanan dan
ketekunan belajar.1
Di zaman modernisasi seperti sekarang ini, dalam dunia pendidikan
membutuhkan seorang guru yang berkualitas yang tidak hanya memiliki
kemampuan dalam mengajar namun mereka juga mampu memberikan
motivasi jika siswa kurang termotivasi dalam belajar, khususnya dalam
proses belajar mengajar pendidikan agama Islam.
Pendidikan Agama khususnya Pendidikan Agama Islam (PAI)
merupakan suatu sumber nilai, sekaligus menjadi salah satu bidang studi yang
ditawarkan dalam lembaga-lembaga pendidikan, baik dalam lembaga
1
h.28-29
Abu Ahmadi dan Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan. (Cet II; Jakarta: Rineka Cipta, 2001),
189 | Hardyanti Bahning / IQRO: Journal of Islamic Education Vol. 2, No.2, Desember 2019. 187–206
pendidikan umum maupun lembaga pendidikan kejuruan terlebih dalam
lembaga pendidikan Islam.
Pendidikan Agama Islam (PAI) memegang peran penting dalam
pembangunan nilai-nilai Islam , oleh karena itu ada beberapa hal yang menjadi
komponen di dalamnya, yakni guru pendidikan agama Islam sebagai agent of
value (pembawa nilai), ilmu Islam sebagai nilai itu sendiri dan siswa sebagai
messenger (penerjemah) dari nilai-nilai Islam dari seorang guru.2 Akan tetapi,
sektor pendidikan yang merupakan alat untuk mencapai cita-cita saat ini
terus mengalami berbagai persoalan yang mengakibatkan kemunduran
dalam dunia pendidikan khususnya dalam pendidikan Agama Islam.
Berbagai masalah terus bermunculan dan menggerogoti khususnya masalah
rendahnya motivasi siswa dalam belajar agama Islam.
Mengingat pentingnya pendidikan agama Islam, maka sudah
sewajarnya pendidikan agama Islam harus dikembangkan dan
diperhatikan disetiap jenjang pendidikan. Namun dikalangan siswa telah
beredar pemahaman bahwasanya Pendidikan Agama Islam merupakan
mata pelajaran yang dianggap tidak penting khusuusnya siswa yang
mengambil sekolah kejuruan.
Berdasarka (...truncated)