ISLAM LIBERAL DI INDONESIA: TINJAUAN SOSIOLOGI
JIA/Juni 2017/Th.18/Nomor 1
ISSN: 2443-0919
ISLAM LIBERAL DI INDONESIA: TINJAUAN SOSIOLOGI
Kamaruddin
Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Raden Fatah Palembang
Abstract :. Liberal Islam Network (JIL), is an organization that carries liberal ideas,
encompassing Pluralism, anti-theocracy, supporting democracy and guaranteeing women's
rights. JIL emphasizes individual freedom, opens the door of ijtihad in its widest manner by
promoting an understanding of context rather than text, and liberates from oppressive social
and political structures. JIL discourse is a lot of lurking controversy in Indonesia. JIL
discourse is considered to have undermined the understanding of established Islamic teaching
(qath'i). Practically, this movement of thought does not see the problems comprehensively.
This paper will look at the understanding of JIL in formulating the discourse in terms of the
Sociology approach. Conclusively JIL tends to use the Conflict Theory to address the
established traditions. This theory is built on three basic assumptions, one of which is the
regularity contained in society simply because of pressure or coercion of power from the
ruling class, represented by the establishment of the tradition itself.
Keywords: JIL, conflict theory, liberalism
Abstrak : Jaringan Islam Liberal (JIL), merupakan organisasi yang mengusung ide liberal,
yang mencangkup Pluralisme, anti teokrasi, mendukung demokrasi dan menjamin hak-hak
perempuan. JIL menekankan pada kebebasan individu, membuka pintu ijtihad selebarlebarnya dengan mengedepankan pemahaman konteks daripada teks, dan pembebasan dari
struktur sosial politik yang menindas. Wacana-wacana JIL tersebut banyak mengundang
kontoversi di tengah umat Islam di Indonesia. Wacana JIL dianggap telah merusak
pemahaman umat Islam yang selama ini telah mapan dan qath`i. Dalam praktiknya gerakan
pemikiran ini tidak melihat persoalan-persoalan secara komprehensif. Tulisan ini akan melihat
pemahaman JIL dalam merumuskan wacana ditinjau dari pendekatan Sosiologi.
Kesimpulannnya JIL cenderung menggunakan Teori Konflik untuk menyikapi kemapanankemapanan tradisi. Teori ini dibangun atas tiga asumsi dasar, yang salah satunya adalah
keteraturan yang terdapat dalam masyarakat hanya disebabkan karena adanya tekanan atau
pemaksaaan kekuasaaan dari golongan yang berkuasa, yang direpresentasikan oleh
kemapanan tradisi itu sendiri.
Kata kunci : jil, teori konflik, liberalisme
105
JIA/Desember 2017/Th.18/Nomor 1
ISSN: 2443-0919
A. Pendahuluan
Fenomena Islam Liberal di Indonesia cukup menyedot perhatian publik. Wacanawacana yang digulirkannya tentang Islam dalam beberapa aspeknya seringkali berbeda
bahkan bertolak beakang dengan mindset mayoritas umat lainnya. Sebab itu, sebagai salah
satu bentuk gerakan pemikiran, tak heran jika keberadaannya yang kontroversial mengundang
reaksi pro dan kontra masyarakat Islam Indonesia.
Bagi mereka yang pro, apa yang dilakukan oleh Jaringan Islam Liberal (selanjutnya di
sebut JIL) –motor pengerak pemikiran Islam Liberal di Indonesia – merupakan suau bentuk
ijtihad keagamaan. Ijtihad diperlukan untuk menyikapi perkembangan zaman. Menghadapi
perubahan di berbagai bidang kehidupan, rekonstruksi, bahkan dekonstruksi terhadap apa
yang yang selama ini dianggap established (mapan) adalah suatu keniscayaan. Namun bagi
yang kontra, pekerjaan JIL ini dianggap berbahaya. Relativitas kebenaran yang ditawarkan
JIL dapat memicu muncul ekses-ekses negatif lainnya, terutama sekali pendangkalan
keyakinan seseorang. Penilaian semacam ini akan muncul jika melihat ide mereka mengenai
pluralisme agama. Seperti diketahui, ide ini merupakan salah satu pokok ajaran JIL.
Makalah ini akan berusaha mengupas gerakan Islam Liberal di Indonesia (JIL),
sebagai sebuah fenomena sosial-keagamaan. Pembahasan akan terfokus pada definisi, sekilas
tentang JIL, JIL dan pluralisme agama ditinjau dari sudut pandang sosiologi. Meskipun
demikian, tidak berarti informasi-informasi di luar fokus-fokus bahasan tersebut dibiarkan
begitu saja. Informasi-informasi tersebut akan tetap ditapaki selama dianggap relevan dengan
tema pembahasan.
B. Pembahasan
1. Apa itu Islam Liberal?
Definition is negotiable. Definisi itu bisa dinegosiasikan. Ungkapan ini merupakan
suatu hal yang debatable, dalam arti bisa diperdebatkan. Terlepas dari benar tidaknya
ungkapan di atas, bagaimana pun, definisi adalah satu hal yang penting. Definisi, paling tidak,
memberikan gambaran awal bagi segala sesuatu menjadi objek penelitian. Atau dengan kata
lain, ia bisa menjadi starting point (titik tolak) yang signifikan dalam mengkaji sesuatu apa
pun.
Kembali kepada persoalan semula, apa definisi dari Islam Liberal? Frase Islam Liberal
terdiri dari dua kata, yakni Islam dan Liberal. Secara sederhana, Islam adalah seperangkat
aturan hidup yang bersumber dari wahyu Allah yang diturunkan kepada Muhammad Saw dan
menjadi pedoman hidup bagi kebahagiaan dunia dan akhirat.
106
JIA/Juni 2017/Th.18/Nomor 1
ISSN: 2443-0919
Adapun mengenai liberal, Ensiklopedia Wikipedia menyebutkan bahwa Liberal atau
Liberalisme adalah sebuah ideology, pandangan filsafat, dan tradisi politik yang didasarkan
pada pemahaman bahwa kebebasan adalah nilai politik yang utama. Secara umum, liberalisme
mencita-citakan suatu masyarakat yang bebas bercirikan kebebasan berpikir bagi setiap orang.
Liberalisme menolak adanya pembatasan, terutama dari pemeritah dan agama. Liberalisme
menghendaki adanya pertukaran gagasana yang bebas, ekonomi pasar yang mendukung usaha
pribadi (private enterprise) yang relatif bebas, dan suatu sistem pemerintahan yang
transparan,
menolak
adanya
pembatasan
terhadap
pemikian
individu.
(http://id.wikipedia.org/wiki/Liberlasme)
Sekilas definisi di atas memperlihatkan pertentangan liberalisme terhadap agama. Oleh
sebab itu, tak jarang keduanya seringkali berbenturan karena liberalisme menghendaki
penisbian dari semua tata nilai, bahkan dari agama sekalipun. Meski dalam prakteknya
berbeda-beda di setiap Negara. Tetapi, secara umum, liberalisme menganggap agama adalah
pengekang terhadap potensi akal manusia. (http://id.wikipedia.org/wiki/Liberlasme)
Dalam memaknai kata liberal, Charles Kurzman, dalam bukunya Liberal Islam: a
Source Book, sebagaimana dikutip Adnin Armas, mengemukakan lima makna liberal.
Pertama, para penulis dalam bukunya tidak menganggap dirinya sebagai kaum liberal; kedua,
para penulis mungkin tidak mendukung seluruh aspek ideologi liberal; ketiga, istilah liberal
mengandung konotasi negatif bagi sebagian dunia Islam, karena istilah liberal biasanya
diasosiasikan dengan dominasi asing, kapitalisme tanpa batas, kemunafikan yang
mendewakan kebenaran, serta permusuhan terhadap Islam; keempat, konsep Islam Liberal
harus dilihat sebagai sebuah alat bantu analisis, bukan kategori yang mutlak; kelima, “saya
(Kurzman) tidak membuat klaim apa pun mengenai kebenaran interpretasi liberal terhadap
lslam”. “Saya, lanjut Kurzman, tidak memiliki kualifikasi untuk terlibat dalam per (...truncated)