Kritik Budaya Moralitas Pendidikan Sekolah Prespektif Neil Postman dan Azyumardi Azra

IQRO: Journal of Islamic Education, Jul 2022

This paper contains the results of a study on cultural criticism of school education morality. The school is a complete and structured educational center. The school becomes one of the complete educational centers and structures. As a whole, schools require mutual involvement between teachers and students to achieve certain goals. The integrity of the role is then supported by a structured process, starting from planning, implementation, to the process of monitoring and evaluation. The purpose of this research is to find out the criticism of the moral culture of school education according to Neil Postman and Azyumardi Azra, and to find out the construct of the idea of a culture of morality in school education according to Neil Postman and Azyumardi Azra. This study uses a type of qualitative research literature (Library Research). The method used in this study uses an interpretive approach, the researcher tries to reveal and identify the culture of morality in school education according to the thoughts of Neil Postman and Azyumardi Azra, so that all ideas, and the work of Neil Postman and Azyumardi Azra regarding Morals can be known. Sources of data in this study using two sources, namely, primary data sources and secondary data sources. Therefore, the sources of data collected in this study are documents related to the thoughts of Neil Postman and Azyumardi Azra about school education. The results in this study are that, in criticizing the culture of morality, Postman discusses at least five important things, including: In criticizing morality culture, Postman discusses at least five important things, including: (first) Teachers do not appear as top figures, (second) Children are not given critical thinking space, (thirth) The reality of rapidly developing technology, (four) Schools are only limited to fulfilling profession. Azra's thoughts on morality culture explain how education can liberate humans from physical work that shackles human nature to develop. Azra becomes exposed to his cultural critique of morality into several parts. (first) The orientation of education on the formation of artisans, (second) Education takes place in a schooling system. (thirth) Rigid school formalism.

Article PDF cannot be displayed. You can download it here:

https://ejournal.iainpalopo.ac.id/index.php/iqro/article/download/2820/1823

Kritik Budaya Moralitas Pendidikan Sekolah Prespektif Neil Postman dan Azyumardi Azra

IQRO: Journal of Islamic Education Juli-2022, Vol.5, No.1, hal.33-52 ISSN(P): 2622-2671; ISSN(E): 2622-3201 ©2022 Pendidikan Agama Islam IAIN Palopo. http://ejournal.iainpalopo.ac.id/index.php/iqro Kritik Budaya Moralitas Pendidikan Sekolah Prespektif Neil Postman dan Azyumardi Azra 1Achmad As’ad Abd. Aziz, 2Ach. Nurholis Majid 1Pendidikan Agama Islam, Tarbiyah, Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien Prenduan Email: , Abstract This paper contains the results of a study on cultural criticism of school education morality. Schools require mutual involvement between teachers and students to achieve certain goals. The integrity of the role is then supported by a structured process, starting from planning, implementing, to the supervision and evaluation process. This study aims to find out the cultural critique of school educational morality according to Neil Postman and Azyumardi Azra. This research uses a type of library qualitative research (library research). The method used in this study uses an interpretive approach, the researcher seeks to reveal and identify the culture of morality in school education according to the thoughts of Neil Postman and Azyumardi Azra. The source of the data collected in this study is in the form of documents related to Neil Postman and Azyumardi Azra's thoughts on school education. The results showed that Postman discussed five important things, namely: (a) Teachers do not appear as top figures, (b) Children are not given critical thinking space, (c) The reality of rapidly developing technology, (d) Schools are only limited to fulfilling work. Azra's thinking about the culture of morality explains how education can free people from the physical labors that shackle human nature to thrive. Azra expresses his cultural critique of morality into several parts. (a) Educational orientation on the formation of artisans, (b) Education takes place in a schooling system. (c) Rigid school formalism. Keywords: Culture; Morality; School Education. Abstrak Tulisan ini berisi hasil kajian mengenai kritik budaya moralitas pendidikan sekolah. Sekolah mensyaratkan keterlibatan secara mutual antara guru dan murid untuk mencapai tujuan tertentu. Keutuhan peran tersebut kemudian didukung oleh proses yang terstruktur, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga pada proses pengawasan dan evaluasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kritik budaya moralitas pendidikan sekolah menurut Neil Postman dan Azyumardi Azra. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif pustaka (library research). Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan interpretatif, peneliti berusaha mengungkapkan dan mengidentifikasi budaya moralitas dalam pendidikan sekolah menurut pemikiran Neil Postman dan Azyumardi Azra. Sumber data yang dihimpun dalam penelitian ini berupa dokumen-dokumen yang terkait dengan pemikiran Neil Postman dan Azyumardi Azra tentang pendidikan sekolah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Postman membahas lima hal penting, yaitu: (a) Guru tidak tampil sebagai top figure, (b) Anak tidak diberi ruang berpikir kritis, (c) Realitas teknologi yang berkembang pesat, (d) Sekolah hanya sebatas pemenuhan pekerjaan. Pemikiran Azra mengenai budaya moralitas menjelaskan bagaimana pendidikan bisa membebaskan manusia dari kerja-kerja fisik yang membelenggu fitrah manusia untuk berkembang. Azra mengungkapkan kritik budaya moralitasnya ke dalam beberapa bagian. (a) Orientasi pendidikan pada pembentukan tukang, (b) Pendidikan berlangsung dalam schooling system. (c) Formalisme sekolah yang kaku. Kata Kunci: Budaya, Moralitas, dan Pendidikan Sekolah. 34 | Achmad As’ad dan Ach. Nurholis Majid / IQRO: Journal of Islamic Education Vol. 5, No.1, Juli 2022. 33–52 Pendahuluan Sekolah merupakan salah satu pusat pendidikan yang utuh dan terstruktur.1 Secara utuh, sekolah mensyaratkan keterlibatan secara mutual antara guru dan murid untuk mencapai tujuan tertentu. Keutuhan peran tersebut kemudian didukung oleh proses yang terstruktur, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga pada proses pengawasan dan evaluasi. Idealitas pendidikan sekolah dapat diterjemahkan melalui proses pelaksanaan pendidikan sekolah dengan memainkan peran atau keterlibatan proses kerja sama semua pihak yang ada di sekolah sesuai dengan tugas, peran, dan fungsinya secara proporsional. Dalam artian guru dapat mengajar dengan baik, siswa dapat belajar dengan baik, dan kepala sekolah bisa menjadi pemimpin yang bijak. Gambaran pendidikan sekolah yang ideal meliputi berbagai komponen yang mendukung agar manajemen pendidikan di suatu sekolah dapat berjalan tertib, lancar serta terintegrasi dalam suatu sistem kerja sama untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien. Maka dalam hal ini terdapat tujuh komponen sekolah yang harus dikelola dengan baik diantaranya kurikulum dan program pengajaran, tenaga kependidikan, kesiswaan, keuangan, sarana dan prasarana pendidikan, pengelolaan hubungan sekolah dan masyarakat, serta manajemen pelayanan khusus lembaga pendidikan.2 Pelaksanaan tujuh komponen tersebut dapat meningkatkan prestise lembaga pendidikan sekolah, yang diyakni sebagai lingkungan pendidikan yang mampu mencetak pribadi-pribadi unggul, mulia serta memiliki wawasan yang luas.3 Maka letak kemuliaan pendidikan sekolah senantiasa memfasilitasi manusia untuk berusaha menemukan kesejatiannya sebagai makhluk merdeka yang melakukan sesuatu berdasarkan kesadaran bukan atas dasar paksaan. Kesadaran atas praktik-praktik kemerdekaan, merupakan ladang subur bagi kekuatan moral (moral force). Kekuatan untuk meneladankan hal-hal positif bagi masyarakat dan lingkungannya. Di sekolah, kekuatan tersebut dicapai melalui proses pembentukan pribadi yang arif dan berwawasan luas dalam memahami setiap masalah kehidupan. Faktanya saat ini idealitas-idealitas tersebut berbanding terbalik, sekolah tampak sebagai salah satu potret lembaga pendidikan yang gagal 1M Ramli dkk., “Esensi Bimbingan dan Konseling Pada Satuan Jalur, Jenis, dan Jenjang Pendidikan,” t.t., 37. 2Evelina Satriya Salam, “Manajemen Sekolah Ideal Melalui Pendekatan Sastra,” Didaktika : Jurnal Kependidikan 11, no. 1 (20 Juni 2019): 63–80, doi:10.30863/didaktika.v11i1.155. 3Ridho Al-Hamdi, “Ketika Sekolah Menjadi Penjara: Membongkar Dilema Pendidikan Masyarakat Modern,” The Journal of Society and Media 1, no. 1 (30 April 2017): 11–34, doi:10.26740/jsm.v1n1.p11-34. Achmad As’ad dan Ach. Nurholis Majid / IQRO: Journal of Islamic Education Vol. 5, No.1, Juli 2022. 33–52 | 35 dalam mencapai proses perubahan sikap dan tingkah laku anak didik. Banyak sekali gambaran pendidikan yang berlangsung di sekolah, sangat jauh dari cita-cita yang seharusnya ada dalam pendidikan, yakni sebagai proses terbentuknya individu yang memiliki kekuatan moral dan karakter yang unggul. Salah satu kegagalan yang mengkhawatirkan dalam praktik pendidikan sekolah, adalah kemerosotan figur guru sebagai aktor utama dalam pendidikan. Guru yang seharusnya menjadi transmitt (...truncated)


This is a preview of a remote PDF: https://ejournal.iainpalopo.ac.id/index.php/iqro/article/download/2820/1823
Article home page: https://ejournal.iainpalopo.ac.id/index.php/iqro/article/view/2820/1823

Abd. Aziz Achmad As'ad, Majid Ach. Nurholis. Kritik Budaya Moralitas Pendidikan Sekolah Prespektif Neil Postman dan Azyumardi Azra, IQRO: Journal of Islamic Education, 2022, pp. 33-52,