Kritik Budaya Moralitas Pendidikan Sekolah Prespektif Neil Postman dan Azyumardi Azra
IQRO: Journal of Islamic Education
Juli-2022, Vol.5, No.1, hal.33-52
ISSN(P): 2622-2671; ISSN(E): 2622-3201
©2022 Pendidikan Agama Islam IAIN Palopo. http://ejournal.iainpalopo.ac.id/index.php/iqro
Kritik Budaya Moralitas Pendidikan Sekolah
Prespektif Neil Postman dan Azyumardi Azra
1Achmad
As’ad Abd. Aziz, 2Ach. Nurholis Majid
1Pendidikan
Agama Islam, Tarbiyah, Institut Dirosat Islamiyah Al-Amien Prenduan
Email: ,
Abstract
This paper contains the results of a study on cultural criticism of school education morality.
Schools require mutual involvement between teachers and students to achieve certain goals.
The integrity of the role is then supported by a structured process, starting from planning,
implementing, to the supervision and evaluation process. This study aims to find out the
cultural critique of school educational morality according to Neil Postman and Azyumardi
Azra. This research uses a type of library qualitative research (library research). The method
used in this study uses an interpretive approach, the researcher seeks to reveal and identify the
culture of morality in school education according to the thoughts of Neil Postman and
Azyumardi Azra. The source of the data collected in this study is in the form of documents
related to Neil Postman and Azyumardi Azra's thoughts on school education. The results
showed that Postman discussed five important things, namely: (a) Teachers do not appear as
top figures, (b) Children are not given critical thinking space, (c) The reality of rapidly
developing technology, (d) Schools are only limited to fulfilling work. Azra's thinking about the
culture of morality explains how education can free people from the physical labors that
shackle human nature to thrive. Azra expresses his cultural critique of morality into several
parts. (a) Educational orientation on the formation of artisans, (b) Education takes place in a
schooling system. (c) Rigid school formalism.
Keywords: Culture; Morality; School Education.
Abstrak
Tulisan ini berisi hasil kajian mengenai kritik budaya moralitas pendidikan sekolah. Sekolah
mensyaratkan keterlibatan secara mutual antara guru dan murid untuk mencapai tujuan
tertentu. Keutuhan peran tersebut kemudian didukung oleh proses yang terstruktur, mulai dari
perencanaan, pelaksanaan, hingga pada proses pengawasan dan evaluasi. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui kritik budaya moralitas pendidikan sekolah menurut Neil
Postman dan Azyumardi Azra. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif pustaka
(library research). Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan
interpretatif, peneliti berusaha mengungkapkan dan mengidentifikasi budaya moralitas dalam
pendidikan sekolah menurut pemikiran Neil Postman dan Azyumardi Azra. Sumber data yang
dihimpun dalam penelitian ini berupa dokumen-dokumen yang terkait dengan pemikiran Neil
Postman dan Azyumardi Azra tentang pendidikan sekolah. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa Postman membahas lima hal penting, yaitu: (a) Guru tidak tampil sebagai top figure,
(b) Anak tidak diberi ruang berpikir kritis, (c) Realitas teknologi yang berkembang pesat, (d)
Sekolah hanya sebatas pemenuhan pekerjaan. Pemikiran Azra mengenai budaya moralitas
menjelaskan bagaimana pendidikan bisa membebaskan manusia dari kerja-kerja fisik yang
membelenggu fitrah manusia untuk berkembang. Azra mengungkapkan kritik budaya
moralitasnya ke dalam beberapa bagian. (a) Orientasi pendidikan pada pembentukan tukang,
(b) Pendidikan berlangsung dalam schooling system. (c) Formalisme sekolah yang kaku.
Kata Kunci: Budaya, Moralitas, dan Pendidikan Sekolah.
34 | Achmad As’ad dan Ach. Nurholis Majid / IQRO: Journal of Islamic Education Vol. 5, No.1, Juli 2022. 33–52
Pendahuluan
Sekolah merupakan salah satu pusat pendidikan yang utuh dan
terstruktur.1 Secara utuh, sekolah mensyaratkan keterlibatan secara mutual
antara guru dan murid untuk mencapai tujuan tertentu. Keutuhan peran
tersebut kemudian didukung oleh proses yang terstruktur, mulai dari
perencanaan, pelaksanaan, hingga pada proses pengawasan dan evaluasi.
Idealitas pendidikan sekolah dapat diterjemahkan melalui proses
pelaksanaan pendidikan sekolah dengan memainkan peran atau keterlibatan
proses kerja sama semua pihak yang ada di sekolah sesuai dengan tugas,
peran, dan fungsinya secara proporsional. Dalam artian guru dapat mengajar
dengan baik, siswa dapat belajar dengan baik, dan kepala sekolah bisa
menjadi pemimpin yang bijak.
Gambaran pendidikan sekolah yang ideal meliputi berbagai komponen
yang mendukung agar manajemen pendidikan di suatu sekolah dapat
berjalan tertib, lancar serta terintegrasi dalam suatu sistem kerja sama untuk
mencapai tujuan secara efektif dan efisien. Maka dalam hal ini terdapat tujuh
komponen sekolah yang harus dikelola dengan baik diantaranya kurikulum
dan program pengajaran, tenaga kependidikan, kesiswaan, keuangan, sarana
dan prasarana pendidikan, pengelolaan hubungan sekolah dan masyarakat,
serta manajemen pelayanan khusus lembaga pendidikan.2
Pelaksanaan tujuh komponen tersebut dapat meningkatkan prestise
lembaga pendidikan sekolah, yang diyakni sebagai lingkungan pendidikan
yang mampu mencetak pribadi-pribadi unggul, mulia serta memiliki
wawasan yang luas.3 Maka letak kemuliaan pendidikan sekolah senantiasa
memfasilitasi manusia untuk berusaha menemukan kesejatiannya sebagai
makhluk merdeka yang melakukan sesuatu berdasarkan kesadaran bukan
atas dasar paksaan.
Kesadaran atas praktik-praktik kemerdekaan, merupakan ladang subur
bagi kekuatan moral (moral force). Kekuatan untuk meneladankan hal-hal
positif bagi masyarakat dan lingkungannya. Di sekolah, kekuatan tersebut
dicapai melalui proses pembentukan pribadi yang arif dan berwawasan luas
dalam memahami setiap masalah kehidupan.
Faktanya saat ini idealitas-idealitas tersebut berbanding terbalik,
sekolah tampak sebagai salah satu potret lembaga pendidikan yang gagal
1M
Ramli dkk., “Esensi Bimbingan dan Konseling Pada Satuan Jalur, Jenis, dan Jenjang
Pendidikan,” t.t., 37.
2Evelina Satriya Salam, “Manajemen Sekolah Ideal Melalui Pendekatan Sastra,”
Didaktika :
Jurnal
Kependidikan
11,
no.
1
(20
Juni
2019):
63–80,
doi:10.30863/didaktika.v11i1.155.
3Ridho Al-Hamdi, “Ketika Sekolah Menjadi Penjara: Membongkar Dilema Pendidikan
Masyarakat Modern,” The Journal of Society and Media 1, no. 1 (30 April 2017): 11–34,
doi:10.26740/jsm.v1n1.p11-34.
Achmad As’ad dan Ach. Nurholis Majid / IQRO: Journal of Islamic Education Vol. 5, No.1, Juli 2022. 33–52
| 35
dalam mencapai proses perubahan sikap dan tingkah laku anak didik. Banyak
sekali gambaran pendidikan yang berlangsung di sekolah, sangat jauh dari
cita-cita yang seharusnya ada dalam pendidikan, yakni sebagai proses
terbentuknya individu yang memiliki kekuatan moral dan karakter yang
unggul.
Salah satu kegagalan yang mengkhawatirkan dalam praktik pendidikan
sekolah, adalah kemerosotan figur guru sebagai aktor utama dalam
pendidikan. Guru yang seharusnya menjadi transmitt (...truncated)